Connect with us

COVID-19Update

Berburu Cuan dari Alat Tes Covid-19: Rakyat Buntung, Siapa Untung?

Published

on

Ir. R. Haidar Alwi, MT

Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mendiagnosa apakah seseorang terpapar Covid-19 atau tidak. Mulai dari Real Time – Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), Tes Cepat Molekuler (TCM), serta Rapid Test Antibodi dan Rapid Test Antigen.

Tes Cepat atau Rapid Test diperlukan sebagai langkah deteksi awal atau ‘skrining’. Bila hasilnya reaktif, maka dilanjutkan dengan RT-PCR yang memiliki tingkat keakuratan lebih tinggi.

Metode yang paling umum dan populer digunakan di Indonesia adalah Rapid Test Antibodi, Rapid Test Antigen dan RT-PCR. Bahkan di setiap kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat yang dilakukan oleh Pemerintah, selalu mensyaratkan hasil diagnosa salah satu metode tersebut. Untuk mendapatkannya, masyarakat harus merogoh kocek antara Rp 250 ribu sampai Rp 275 ribu untuk Rapid Test Antigen dan maksimal Rp 900 ribu untuk RT-PCR. 

Baca Juga :

  1. Pemkot Depok: Bukti Pembayaran PBB Beralih ke Digital
  2. Inilah 10 Perbedaan Antara Pinjaman Online Resmi & Bodong
  3. Ganjil & Genap Mulai Berlaku Hari Ini di Jakarta

Sejumlah pihak menilai, aturan yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan itu masih terlalu mahal bila dibandingkan dengan yang berlaku di negara lain. Di New Delhi India misalnya, Pemerintah setempat berkali-kali menurunkan biaya tes Covid-19 agar dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Terakhir diumumkan oleh Chief Minister Arvin Kejriwal pada 4 Agustus 2021.

Untuk Rapid Test Antigen dipatok biaya sebesar 300 Rupee atau setara Rp 58 ribu. Sedangkan untuk RT-PCR berkisar antara 300 Rupee sampai 500 Rupee atau senilai Rp 58 ribu sampai Rp 97 ribu. Sedangkan untuk RT-PCR ‘home service’ sedikit lebih mahal yakni 700 Rupee atau Rp 135 ribu.

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Andi Khomeini Takdir, biaya murah seperti di India merupakan keistimewaan yang dimiliki oleh negara-negara yang mampu memproduksi sendiri alat tes Covid-19.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Pada kisaran Maret-April 2020 lalu, BUMN Bio Farma menyatakan bahwa pihaknya mampu memproduksi alat tes RT-PCR antara 200 ribu sampai 400 ribu unit setiap bulan. Kemudian, pada Juli 2020, Menteri BUMN Erick Thohir menargetkan Bio Farma untuk memproduksi 2 juta alat tes RT-PCR per bulannya.

Ada pula Indofarma yang merakit sendiri alat tes RT-PCR di fasilitas produksi milik perusahaannya. Belum termasuk yang diselesaikan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan yang disuplai oleh industri manufaktur lokal. Oleh karena itu, Pemerintah sempat sesumbar tidak akan lagi menggunakan alat tes RT-PCR impor.

Presiden Jokowi pada Juli 2020 dengan tegas telah melarang jajarannya untuk membeli alat tes Covid-19 dari luar negeri. Baik alat Rapid Test maupun RT-PCR. Alasannya, Indonesia tidak lagi memerlukan impor alat-alat tersebut karena sudah mampu memproduksi sendiri. Bahkan, Presiden Jokowi meminta para Menteri untuk mempercepat penyerapan anggaran dengan cara membeli produk buatan lokal.

Namun, pada akhir September 2020 atau dua bulan setelah arahan Presiden Jokowi, Kepala BPPT, Hammam Riza membuat pengakuan bahwa Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Covid-19 masih menggunakan alat tes RT-PCR impor.

Padahal, saat itu telah tersedia alat tes RT-PCR buatan lokal termasuk yang dikembangkan oleh BPPT. Berdasarkan pengujian, alat tes RT-PCR buatan BPPT memiliki efektivitas 100 persen dan sensitivitas di atas 95 persen. Angka ini sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan WHO sebagai organisasi kesehatan dunia.

Data di atas menjadi bukti bahwa Indonesia mampu memproduksi sendiri alat tes Covid-19 seperti India. Pertanyaannya, kenapa biaya di Indonesia masih jauh lebih mahal ketimbang di India bahkan setelah satu tahun berlalu? Apakah karya anak bangsa sengaja ditenggelamkan untuk memberi keleluasaan pada produk impor? Jangan-jangan, ada mafia yang sengaja meraup keuntungan dari impor alat tes Covid-19? 

Penulis:

Ir. R. Haidar Alwi, MT

Dia merupakan pemilik dari HAIDAR ALWI INSTITUTE yang bergerak dalam bidang pendidikan. Dia juga pemilik Yayasan HAIDAR ALWI CARE yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan.

COVID-19Update

Kasus Omicron Pertama Tanpa Perjalanan ke Luar Negeri Ditemukan di Jerman

Published

on

Covid-19 Jerman
Covid-19 Jerman

Pemerintah Jerman melaporkan satu kasus Covid-19 varian Omicron tanpa riwayat perjalanan. Pasien yang terpapar varian ini diketahui tak melakukan perjalanan ke luar negeri dalam beberapa pekan terakhir.

Seperti dinukil dari CNN International, Selasa (30/11/2021), orang yang terpapar Varian Omicron adalah pria berusia 39 tahun. Dia tinggal di wilayah Leipzig, Jerman Timur.

Pria ini menjadi kasus varian Omicron pertama di Jerman yang terkonfirmasi tidak memiliki riwayat perjalanan. Direktur Departemen Kesehatan Leipzig, Regine Krause-Doring, menyebut pria 39 tahun itu diketahui tidak bepergian ke luar negeri dalam beberapa waktu terakhir dan tidak juga melakukan kontak dekat dengan siapapun yang baru saja pergi ke luar negeri.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Hingga kini Departemen Kesehatan Jerman belum mengetahui secara pasti penularan Varian Omicron pada kasus terbaru ini. Di sisi lain, ini menjadi kasus keempat Varian Omicron yang ditemukan di wilayah Jerman.

Dua kasus varian Omicron lainnya adalah merupakan kasus varian Omicron pertama di Jerman. Kasus ini terdeteksi di Munich dan satu kasus lainnya terdeteksi di wilayah Hesse.

Baik dua orang yang terinfeksi varian Omicron di Munich maupun satu orang yang terinfeksi varian Omicron di Hesse sama-sama diketahui baru tiba dari Afrika Selatan.

Usai mendeteksi kasus varian Omicron di wilayahnya, otoritas Jerman mengklasifikasikan Afrika Selatan sebagai ‘area varian virus’ dan memberlakukan pembatasan perjalanan udara dari negara tersebut mulai Minggu (28/11/2021) waktu setempat.

Itu berarti maskapai-maskapai penerbangan hanya bisa menerbangkan warga negara Jerman saja untuk pulang dari Afrika Selatan, dengan mereka yang baru tiba diwajibkan menjalani karantina selama 14 hari.

Continue Reading

COVID-19Update

Varian Covid-19 Omicron Hantui Dunia, Ini Strategi Jokowi

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Dunia saat ini dihantui oleh varian baru Cvid-19 bernama Omicron. Terkait hal itu, Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), menegaskan semua pihak untuk waspada.

“Kita harus tetap waspada karena pandemi belum berakhir dan di tahun 2022, pandemi COVID-19 masih menjadi ancaman dunia dan juga ancaman bagi negara kita Indonesia,” kata Jokowi dalam kegiatan penyerahan DIPA dan Buku Daftar Alokasi Transfer ke Daerah dan Desa Tahun 2022 seperti ditayangkan di akun YouTube Sekretariat Presiden, Senin (29/11/2021).

Jokowi juga menyadari sejumlah negara yang telah ditemukan varian Omicron. Jokowi meminta penanganan dilakukan sedini mungkin agar varian tersebut tak masuk ke Indonesia.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Selain varian lama, di beberapa negara telah muncul varian baru, varian Omicron yang harus menambah kewaspadaan kita. Antisipasi dan mitigasi perlu disiapkan sedini mungkin agar tidak mengganggu kesinambungan reformasi struktural yang sedang kita lakukan, serta program pemulihan ekonomi nasional yang sedang kita laksanakan,” ujar Jokowi.

Jokowi berpesan agar seluruh elemen tetap bersiap diri menghadapi risiko pandemi COVID-19. Semua negara di seluruh dunia masih dibayangi pandemi.

“Ketidakpastian di bidang kesehatan dan perekonomian harus menjadi basis kita dalam membuat perencanaan dan melaksanakan program,” Jokowi mengakhiri.

Continue Reading

COVID-19Update

WHO Soroti Kasus Covid-19 di DKI Jakarta, Ada Apa?

Published

on

logo WHO

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti kasus Covid-19 di DKI Jakarta. Ada apa?

Pada laporan yang dirilis Rabu (24/11/2021), WHO menyoroti kenaikan kasus yang cukup tinggi terhadap pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Laporan WHO menyebutkan ada kenaikan 10% dalam kurun waktu sepekan pada kasus rawat indap hingga 21 November.

“Pada 21 November, jumlah kasus Covid-19 yang dilaporkan dirawat di rumah sakit di DKI Jakarta adalah 200, sedikit meningkat dari 180 kasus satu minggu sebelumnya,” demikian keterangan dari WHO.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Meski ada kenaikan pada pasien rawat inap, dalam laporan yang sama disebutkan jumlah kasus isolasi mengalami penurunan. Jumlahnya pun menurun cukup signifikan dari 514 kasus menjadi 296 kasus di minggu ini.

“Pada saat yang sama periode waktu, jumlah kasus yang dilaporkan dalam isolasi diri menurun dari 514 menjadi 296 kasus,” kata WHO.

Bukan hanya di DKI Jakarta, WHO juga memperingatkan wilayah lain yang juga mengalami kenaikan signifikan. Terdapat kenaikan kasus di beberapa titik karena ada peningkatan mobilitas masyarakat.

Peningkatan signifikan terjadi di seluruh provinsi Pulau Jawa yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten.

“Peningkatan signifikan dalam mobilitas masyarakat di ritel dan rekreasi diamati di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Banten, di mana tingkat mobilitas pra-pandemi telah tercapai,” jelas WHO.

Angka positivity rate Indonesia dilaporkan konsisten di bawah 2% selama sembilan minggu terakhir. Artinya laju penularan virus masih berada pada risiko terendah.

Seluruh provinssi Indonesia juga masih ada di level 1 dalam pemantauan hingga 15 November lalu, ungkap WHO.

WHO mengingatkan untuk Indonesia bisa mempertahankan standar testing. Yakni sebanyak 1:1.000 populasi, dengan begitu dapat melihat risiko penularan.

Continue Reading

Trending