Connect with us

Lifestyle

Begini Cara Membuat Minyak Kelapa yang Efisien & Hemat

Published

on

Ilustrasi Minyak Kelapa

Minyak kelapa banyak dipikirkan oleh sebagian masyarakat untuk menggantikan minyak goreng yang kini tengah mahal dipasaran setelah beberapa waktu lalu keberadaannya sempat langka.

Mulai ramai netizen di media sosial yang membagikan cara pembuatan minyak goreng dari kelapa. Prinsip untuk membuat minyak goreng kelapa ini dengan memanaskan santan dari kelapa yang sudah tua, mengutip dari laman Dinas Pertanian Kulonprogo pada Minggu (20/3/2022).

Berikut langkah-langkah dalam membuat minyak goreng kelapa:

-Pertama, kupas kelapa dari sabutnya, kemudia pecahkan dan ambil dagingnya
-Lalu daging kelapa dicuci bersih, setelah itu parut kelapa sampai tuntas
-Kemudian campur parutan kelapa memakai air kelapa
-Setelah itu peras parutan kelapa tersebut dengan cara masukkan parutan ke kain untuk diambil santannya
-Selanjutnya, panaskan santan kelapa hingga minyak terpisah dari endapan agak kekuningan (blendo)
-Jika sudah dingin lakukan penyaringan dan minyak siap digunakan.

Baca Juga:

  1. 5 Manfaat Daun Pandan untuk Kesehatan
  2. Bahan Alami yang Dapat Cegah Penuaan pada Kulit Wajah
  3. Wajib Tahu! Ini 3 Minyak Alami untuk Tebalkan Alis

Sebaiknya gunakan tungku kayu dengan bahan bakar sabut dan batok kelapa dari kelapa untuk membuatnya agar dalam proses pembuatannya menjadi lebih hemat. Selain itu juga gunakan kelapa yang sudah tua dengan berusia sekitar 11-12 bulan untuk membuat minyak tersebut.

Rendemen minyak yang tinggi bisa dihasilkan dari penggunaan kelapa yang sudah tua itu. Bagi kalian yang bingung mencari tahunya kelapa yang tua bagaimana caranya cukup mudah, yaitu dengan melihat sabut yang telah berwarna cokelat.

Minyak kelapa pun diyakini memiliki berbagai manfaat, yaitu seperti bisa membantu mengurangi stres pada seseorang. Selain itu juga bisa dimanfaatkan untuk membuat rambut berkilau dan baik untuk kesehatan kulit.

Advertisement

Lifestyle

Kopi Pakesang Khas Ternate Terpilih Jadi Kopi Rempah Terbaik se-Nusantara

Published

on

Umi Salama dan Ayub Assagaf

Melalui perlombaan kopi rempah dan original terenak yang berlangsung di IPB International Convention Center, Sabtu (21/5/2022), Kopi Rempah Pakesang dari Ternate dan Kopi Gamalama, Maluku Utara, terpilih sebagai kopi terbaik se-nusantara.

Festival dengan tema “Semarak Jelajah Kopi Rempah Nusantara dalam Menunjang Industri Kreatif Desa” ini digelar oleh Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Pertanian IPB University di IPB International Convention Center Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (21/5/2022).

Dalam festival tersebut, ada 59 peserta yang lulus terpilih berkompetisi mewakili setiap provinsi di Indonesia. Kopi Paksesang khas Ternate, Kopi Gamalala, dan Kopi Buli Halmahera Timur terpilih mewakili Provinsi Maluku Utara.

Baca Juga:

  1. Gandeng Pemprov DKI, WIR Group Kembangkan Metaverse Jakarta
  2. Gali Masa Depan Dunia, Indosat Lebarkan Sayap ke Metaverse
  3. Rusia Uji Coba Rudal Antar Benua, Putin: Musuh Pasti Bakal Was-Was

Kopi Pakesang tersebut adalah produk yang dibuat oleh Umi Salama. Sementara Kopi Gamalama milik Ayub Assagaf, dan Kopi Buli dari Halmahera Timur.

“Sebenarnya ada empat dengan Kopi Dabe dari Tidore, tapi berhalangan jadi tidak bisa ikut. Ini kita dikirim link dari panitia dan mendaftar, akhirnya terpilih dan Alhamdulillah Kopi Pakesang dan Gamalama menjadi juara 1 terbaik,” ucap Burhanuddin Syamsi Rope, perwakilan Kopi Pakesang dalam kegiatan tersebut.

Menurut Bur, dalam festival tersebut, ada beberapa hal yang dilombakan, mulai dari kemasan, higienis, rasa, hingga aroma.

“Jadi, ada kategori kopi rempah dan ada juga original. Pakesang mewakili kopi rempah dan kopi Gamalama mewakili original. Keduanya mengungguli 59 peserta se-nusantara dari 2 kategori itu,” katanya.

“Terima kasih dewan juri yang begitu objektif dalam penilaian, ini menguatkan kita sebagai Kota Rempah layak dipertahankan,” pungkas dia.

Continue Reading

Lifestyle

Apa Itu Hustle Culture yang Sering Melanda Kaum Milenial?

Published

on

ilustrasi bekerja

“Kerja keras akan selalu terbayar, kesuksesan harus dibayar dengan rasa sakit, atau kamu baru bisa bersenang-senang ketika kamu sukses.” Seberapa sering kamu mendengar kata-kata usang yang tidak berguna solah-olah menjadi dorongan ketika kamu merasa penat? 

Rata-rata seseorang bahkan mendengar itu setidaknya dua kali di hidup mereka, tidak peduli terucap dari teman atau lingkungan keluarga.

Kalimat ini diyakini benar dan dapat memotivasi milenial atau gen Z untuk terus-terusan bekerja menggapai mimpi mereka.

Motivasi inilah yang juga menghasilkan budaya hustle culture di kalangan anak muda. Sayangnya terlalu banyak mendengarkan motivasi baik justru sebenarnya buruk?

Riset dari Taylor’s College Malaysia yang dimuat dalam website mereka menunjukkan banyak salah kaprah terkait hustle culture.

Dalam standar modern, hustle culture dapat didefinisikan sebagai keadaan terlalu banyak bekerja dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

Tidak ada satu hari pun dalam hidup di mana kamu tidak mengerahkan kemampuan terbaik untuk bekerja dan berujung tidak memiliki kehidupan pribadi.

Menurut kamus, kata hustle memang didefinisikan sebagai tindakan yang penuh energi. Namun, apakah hustle menjadi berbahaya sebagai gaya hidup?

Selama bertahun-tahun, terlalu banyak bekerja dianggap sebagai modernitas sampai kini dianggap sebagai hustle culture seperti apa yang tertulis dalam buku-buku yang dijual di toko, sosial media, atau pengusaha terkenal.

Baca Juga:

  1. Pekerja Rentan Mengalami Kecemasan, Begini Tips Mengatasinya
  2. Waspada Post Holiday Syndrome, Penyakit Parah Usai Libur Lebaran
  3. Crab Mentality, Sikap Dengki Terhadap Kesuksesan Orang Lain

Elon Musk yang juga pendiri Tesla berkicau di Twitter, bahwa tidak ada orang yang bisa mengubah dunia hanya dengan bekerja 40 jam per minggu. Kamu harus bekerja 80 jam secara berkelajutan atau bahkan 100 jam.

Banyak anak muda menjadikan berbagai buku, media sosial, dan pengusaha sebagai inspirasi ketika mengejar kesuksesan mereka sendiri.

Sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang secara ambisius bekerja untuk mecapai goals, tidak mengherankan jika orang-orang secara tidak sadar menjadi korban dari hustle culture.  

Bagaimana hustle culture bisa menjadi budaya berbahaya

Setelah gagasan tentang mencapai kesuksesan menjadi prominen dalam pola pikir masyarakat, lama-kelamaan kamu akan bertanya apa yang salah dengan bekerja keras untuk mencapai kesuksesan.

Pertama, bekerja keras tidak sama dengan sukses. Tidak peduli seberapa keras kamu bekerja, ada beragam faktor yang memengaruhi kesuksesan termasuk lingkungan kerja.

Selain itu, ada faktor-faktor seperti kesempatan, waktu, dan faktor-faktor lain yang tidak bisa kamu kendalikan.

Bekerja keras memang baik, namun bekerja dengan terburu-buru justru menjadi sesuatu yang buruk. Dari sini berhentilah untuk bekerja keras yang mengarah pada mengerjakan semua hal, yang lebih baik justru fokuslah pada tujuan personal dan hal-hal yang mengarah untuk mencapainya.

Terlihat sibuk juga dipresepsikan sebagai hal yang baik. Namun, jika kamu selalu menjadi orang yang hanya punya sedikit waktu beristirahat dan menganggapnya sebagai buang-buang waktu, itu adalah kebiasaan yang tidak sehat.

Namun, jika dilihat kembali, apakah beberapa hal yang dilakukan benar-benar berkontribusi pada produktivitas atau hanya akan membuatmu terlihat sibuk.

Budaya sibuk mendorong masyarakat untuk menciptakan ketidakseimbangan dalam hidup, di mana pekerjaan menjadi hidup dan hal-hal lain yang dilakukan mulai tidak memiliki tujuan.

Continue Reading

Lifestyle

Lebih dari 25 Ribu Orang Menekan Petisi Anjing yang Tewas di Pet Shop

Published

on

By

Lebih dari 25 Ribu Orang Menekan Petisi Anjing yang Tewas di Pet Shop

Saat ini telah ditandatangani oleh lebih dari 25 orang untuk petisi yang menuntut proses hukum atas kematian anjing Maxi, di salah satu pet shop.

Di mana petisi itu berisikan kalimat yang berbunyi, “Kami menuntut kepada Pemkot Tangerang Selatan atas pencabutan izin usahan Holy Pet Shop sesuai dengan UUD Pasal 302 KUHP atas penganiayaan hewan dan hukuman penjara 9 bulan kepada pihak pemilik atas kelalaiannya sehingga menghilangkan nyawa hewan kami.”

Telah ada setidaknya 25.358 yang telah menekan pestisi tersebut. Hal ini berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com pada Sabtu (21/5/2022).

Diketahui anjing Maxi dititipkan di Pet Shop selama 11 hari dengan biaya perawatan penuh, berdasarkan petisi itu. Namun pemiliki kaget saat melihat kondisi anjing tersebut dengan kaki dan testis terjepit di kandang besi yang sangat kecil, kala dirinya akan menjemput Maxi.

Baca Juga:

  1. Ayo Pelihara, 7 Hewan Ini Bisa Bantu Kita Jaga Kesehatan Mental
  2. Begini Tips Bawa Hewan Peliharaan ke Apartemen
  3. 5 Pilihan Hewan yang Mudah Kamu Pelihara di Rumah

Atas hal itu, berarti selama 11 hari pihak pet shop dikatakan tidak merawat Maxim dengan baik. Anjing bulldog itu padahal awalnya mereka janjikan untuk memberikan kandang yang besar.

Anjing Maxim yang mengalami penyiksaan ini membuatnya harus kehilangan testis dan jarinya hingga berujung kematian. Kepada pihak pet shop pun pemilik Maxim sudah meminta penjelasan terkait hal yang terjadi.

Akan tetapi pemilik pet shop justru menyangkalnya serta mengatakan telah dipindahkan ke kandang yang lebih besar untuk maxim. Kemudian karyawan pet shop lalu mengaku bahwa anjing tersebut tidak dikeluarkan selama 11 hari dari kandang kecil, usai diminta penjelasan secara tegas oleh pemilik Maxim.

Selain itu, pemilik pet shop pun mengakui selama 11 hari mereka tidak mengontrol Maxim. Sehingga atas hal tersebut, pemilik Maxim meminta Pemkot Tangerang agar izin usaha pet shop itu dicabut serta diproses secara hukum.

Continue Reading

Trending