Connect with us

Kesehatan-Kecantikan

Begini 4 Cara Menggunakan Parfum yang Tepat

Published

on

Cara Menggunakan Parfum yang Tepat

Dalam menunjang penampilan, parfum dikatakan menjadi hal yang penting. Aroma khas parfum yang mencerminkan kepribadian seseorang membuatnya memiliki ciri khas tersendiri.

Namun, tahukah kalian? ternyata ada tips dalam menggunakan parfum agar aromanya tahan lama lho. Dengan menggunakan cara ini aroma yang dihasilkan pun akan lebih maksimal.

Berikut mycity telah merangkum 4 cara menggunakan parfum dengan tepat:

Bersihkan badan terlebih dahulu

Pertama, cara memakai parfum yang tepat yaitu kalian haru membersihkan badan terlebih dulu dengan mandi misalnya. Sebab pori-pori kulit akan terbuka lebar setelah mandi. Sehingga hal ini memudahkan cairan parfum terserap tubuh. Parfum akan lebih meresap sempurna tanpa kontaminasi keringat yang berlebih.

Semprot parfum ke titik-titik nadi

Selanjutnya, cara jitu membuat aroma parfum tahan lama adalah dengan menyemprotkannya ke titik-titik nadi. Hal itu dikarenakan bagian kulit ini cenderung menghasilkan panas yang lebih tinggi. Dengan begitu, aroma parfum akan otomatis tersebarkan ke seluruh tubuh.

Baca Juga:

  1. Make Up ‘Nyebrang’ Sunburn Blush, Sempat Trending bikin Rias Wajah Makin Natural
  2. Sejarah Kayu Cendana, Primadona Aroma Segala Aroma
  3. Mudah! Ini Cara Buat Air Mawar Di Rumah

Titik-titik nadi itu antara lain seperti pergelangan tangan, belakang telinga, dibelakang siku, belakang lutut, dan diantara payudara.

Semprot berulang kali

Dengan menyeprotkan parfum secara berulang kali juga merupakan cara ampuh membuat aromanya tahan lama. Kalian bisa menyemprotkannya sebanyak 2-3 kali. Oleh sebab itu tidak perlu ragu atau khawatir parfum kalian jadi cepat habis jika ingin aromanya bertahan lama di tubuh.

Teliti ketika menyimpan parfum

Saat ditaruh di tempat yang secara langsung terkena sinar matahari atau benda berbau tajam, molekul-molekul kasat mata penghasil aroma wangi dalam parfum bisa saja menguap dan hilang. Atas hal itu lah parfum juga perlu disimpan pada tempat yang aman.

Kesehatan-Kecantikan

Kenali Stunting, Kekerdilan pada Anak yang Harus Dicegah Sekarang Juga

Published

on

ilustrasi bayi

Stunting (kekerdilan) pada anak dapat dicegah jika orang tua mengambil langkah-langkah penting dalam dua tahun pertama kehidupan seorang anak.

Jika anak tidak mendapatkan makanan dan perawatan yang tepat selama waktu khusus itu, akan memberikan efek berbahaya kepada anak.

Data Kementerian Kesehatan tahun 2018 menyebutkan, hampir setengah dari kematian anak di seluruh Indonesia mencapai 7,8 juta dari 23 juta balita.

Stunting adalah gangguan pertumbuhan kronis pada anak akibat kekurangan nutrisi dalam waktu lama.

Anak dalam kondisi stunting umumnya bertubuh lebih pendek dibanding anak seusianya.

Seorang anak yang bertahan dengan kondisi ini, cenderung memiliki kemampuan belajar yang rendah dan lebih rentan terhadap penyakit.

Menurut Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, stunting dianggap sebagai kondisi yang sering tidak diakui di masyarakat.

Di mana kondisi ukuran tubuh pendek adalah sesuatu yang normal dan sering kali tidak menjadi perhatian di dalam perawatan kesehatan primer.

Hal sederhana yang dicontohkan mantan Bupati Kulonprogo ini adalah pola pengukuran badan anak yang benar. Terutama, yang belum pernah diukur oleh tenaga medis ketika masih di bawah usia lima tahun.

Caranya adalah dengan dibaringkan dan bukan dalam posisi berdiri. Karena dengan dibaringkan akan terukur sempurna dan akan bisa terpantau bentuk struktur tulang penyangga tubuh.

Dokter spesialis kandungan ini menyebutkan metode pengukuran sederhana dengan membaringkan badan si anak lebih efektif dan harus menjadi acuan bagi para tenaga medis di klinik dan puskesmas.

Saat ini, pada kenyataannya, pertumbuhan tinggi seorang anak berfungsi sebagai penanda berbagai kelainan patologis yang terkait dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas.

Begitu pula hilangnya potensi pertumbuhan fisik dan  penurunan perkembangan saraf. Di samping itu ada potensi menurunnya fungsi kognitif serta peningkatan risiko penyakit kronis di masa dewasa.

Seperti dikutip dari laman Program Pencegahan Stunting Kemenkes RI, ada sejumlah penyebab stunting, yaitu:

1. Asupan nutrisi ibu.

Penyebab stunting yang pertama dipengaruhi oleh asupan nutrisi ibu hamil. Ibu hamil yang kurang mengkonsumsi makanan bergizi seperti asam folat, protein, kalsium, zat besi, dan omega-3 cenderung melahirkan anak dengan kondisi kurang gizi.

Kemudian saat lahir, anak tidak mendapat ASI eksklusif dalam jumlah yang cukup dan makanan pendamping ASI (MPASI) dengan gizi yang seimbang ketika berusia 6 bulan ke atas.

2. Kurangnya asupan makanan sehat dan bergizi sebagai MPASI.

Pemberian makanan pendamping yang tidak cukup dan kekurangan nutrisi penting di samping asupan kalori murni adalah salah satu penyebab pertumbuhan pada anak terhambat.

Baca Juga:

  1. Anak Mengalami Fobia Sosial? Simak Cara Mengatasinya
  2. Sudahkah Kota Kita Ramah Anak?
  3. Instagram Kini Punya Fitur untuk Awasi Anak Main Medsos

Anak-anak perlu diberi makanan yang memenuhi persyaratan minimum dalam hal frekuensi dan keragaman makanan untuk mencegah kekurangan gizi.

3. Kebersihan lingkungan.

Ada kemungkinan besar hubungan antara pertumbuhan linier anak-anak dan praktik sanitasi rumah tangga.

Kontaminasi jumlah besar bakteri fecal coliform oleh anak-anak ketika meletakkan jari-jari kotor atau barang-barang rumah tangga di mulut mengarah ke infeksi usus.

Kondisi ini memengaruhi status gizi anak karena mengurangi nafsu makan, mengurangi penyerapan nutrisi dan meningkatkan kehilangan nutrisi.

Penyakit-penyakit yang berulang seperti diare dan infeksi cacing usus (helminthiasis) yang keduanya terkait dengan sanitasi yang buruk telah terbukti berkontribusi terhadap terhambatnya petumbuhan anak. 

Dampak Stunting pada Anak

Umumnya stunting adalah gangguan yang sering ditemukan pada balita, khususnya usia 1-3 tahun. Lalu, bagaimana kita bisa mengenali apakah anak mengalami gejala stunting atau tidak.

Tips dari dr Hasto Wardoyo berikut ini bisa dijadikan acuan, antara lain:

1. Pertumbuhan tinggi dan berat anak terganggu.

Stunting adalah salah satu dari berbagai penyebab anak lebih pendek dibandingkan dengan rata-rata anak seusianya. Berat badannya pun cenderung jauh di bawah rata-rata anak sebayanya.

2. Tumbuh kembang anak tidak optimal.

Stunting juga bisa terlihat pada tumbuh kembang anak di mana anak menjadi terlambat jalan atau kemampuan motoriknya kurang optimal.

3. Mempengaruhi kecerdasan dan kemampuan anak ketika menangkap pelajaran.

Stunting telah menjadi salah satu faktor yang ikut berpengaruh terhadap pekembangan kecerdasan kognitif (Intelligence Quotient) anak lebih rendah dibanding anak seusianya. Anak akan sulit belajar dan berkonsentrasi akibat kekurangan gizi.

4. Mudah terserang penyakit.

Anak dengan gejala stunting akan mudah terserang penyakit. Si anak ketika dewasa juga berisiko terkena berbagai penyakit seperti diabetes, jantung, kanker, dan stroke. Bahkan stunting pada anak juga bisa berujung pada kematian usia dini.

Stunting juga bisa meningkatkan risiko kematian janin saat dilahirkan. Ini bisa terjadi jika ibu hamil ternyata mempunyai riwayat stunting.

Ibu yang memiliki riwayat stunting umumnya berciri tinggi badan di bawah normal.

Sehingga cenderung memiliki ukuran panggul yang kecil, dan akhirnya kondisi ini mempersempit jalan lahir bagi si bayi.

Dengan proporsi ukuran yang tidak sesuai ini mengakibatkan ibu dengan postur tubuh yang pendek sulit untuk melakukan persalinan normal.

Jika pun dipaksakan, kondisi ini bisa meningkatkan risiko kematian dan gangguan kesehatan pada bayi dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Membedakan Stunting dan Kurus

Secara kasat mata sulit membedakan antara stunting dengan anak kurus (wasting). Padahal ini adalah dua bentuk malnutrisi yang memerlukan penanganan berbeda untuk pencegahan dan pengobatannya.

Akan tetapi, kedua bentuk malnutrisi ini memiliki hubungan yang erat dan sering terjadi bersama dalam populasi yang sama, dan kerap pada anak yang sama.

Keduanya dikaitkan dengan peningkatan mortalitas, terutama ketika keduanya hadir pada anak yang sama.

Menurut Hasto Wardoyo, massa otot yang berkurang merupakan karakteristik dari kondisi balita kurus yang parah. Tetapi ada bukti tidak langsung bahwa itu juga terjadi pada stunting.

Berkurangnya massa otot meningkatkan risiko kematian selama infeksi dan juga dalam banyak situasi patologis lainnya.

Berkurangnya massa otot dapat mewakili mekanisme umum yang menghubungkan wasting dan stunting.

Hal ini menunjukkan bahwa untuk mengurangi angka kematian terkait gizi buruk, intervensi harus bertujuan untuk mencegah wasting dan stunting, yang sering kali memiliki penyebab yang sama.

Hal ini menunjukkan bahwa intervensi pengobatan harus fokus pada anak-anak yang wasting dan stunting yang memiliki defisit terbesar dalam massa otot, daripada berfokus pada kekurangan gizi saja.

Penurunan massa lemak sering terjadi tetapi tidak konsisten dalam stunting. Lemak mengeluarkan banyak hormon, termasuk leptin, yang mungkin memiliki efek stimulasi pada sistem kekebalan tubuh.

Perlu diketahui juga bahwa leptin memiliki efek pada pertumbuhan tulang. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa anak-anak kurus dengan simpanan lemak rendah berdampak pada tinggi badannya yang tetap rendah.

Ini juga dapat menjelaskan keterkaitan stunting yang sering dikaitkan dengan wasting. Bagaimanapun, stunting dapat terjadi tanpa adanya wasting dan bahkan pada anak-anak yang kelebihan berat badan.

Dengan demikian, suplementasi makanan harus digunakan dengan hati-hati dalam populasi di mana stunting tidak terkait dengan wasting dan simpanan rendah lemak. 

Pencegahan Anak Stunting

Menurut Firmansyah Chatab, dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Permata Depok, pencegahan anak stunting bisa dimulai sejak dalam kandungan atau ketika si ibu sedang hamil.

Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting pada ibu hamil:

  1. Memperbaiki pola makan dan mencukupi kebutuhan gizi selama kehamilan.
  2. Memperbanyak konsumsi makanan yang mengandung zat besi dan asam folat (folic acid) untuk mencegah cacat tabung saraf.
  3. Memastikan anak mendapat asupan gizi yang baik khususnya pada masa kehamilan hingga usia 1000 hari anak.
  4. Selain itu stunting adalah gangguan yang juga dapat dicegah dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan meningkatkan akses air bersih di lingkungan rumah.
  5. Hal penting yang harus dipahami, tidak ada solusi sederhana untuk mencegah stunting. Namun, berfokus pada rentang waktu antara kehamilan ibu dan ketika anak berusia dua tahun menjadi kunci untuk memastikan perkembangan anak yang sehat.

Continue Reading

Kesehatan-Kecantikan

Dilegalkan di Thailand, Ini Ragam Efek Ganja bagi Tubuh

Published

on

By

Ganja

Kini ganja telah menjadi barang legal di Thailand. Seusai pelegalan itu, bahkan Bangkok menggelar pameran ganja dan rami 360 derajat untuk Rakyat di Sirkuit Internasional Chang, Provinsi Buri Ram.

Namun, bagaimana dengan efek ganja itu sendiri bagi tubuh? Diketahui, ganja ternyata juga memiliki manfaat dalam kesehatan, seperti untuk pengobatan di beberapa macam penyakit.

Peneliti mengatakan menghasilakan sejumlah orang jadi jarang datang ke dokter, untuk berobat jika penggunaan ganja untuk mengobati kondisi medis. Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menyetujui untuk menghapus ganja dari kategori obat paling berbahaya di dunia pada akhri 2020 lalu. Hal ini sebagaimana yang direkomendasikan oleh rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Selain itu, ganja juga bisa dipakai untuk keperluan medis. Di mana kandungan Tetrahidrokanabinol (THC) bertanggung jawab pada kondisi mental seseorang atas efek ganja.

Akan tetapi berdasarkan Pusat Nasional untuk Kesehatan Komplementer dan Integratif Inggris, sejumlah tanaman ganja mengandung sangat sedikt THC. Ganja pun turut mengandung dronabinol yang dapat digunakan untuk mengobatau rasa mual dan muntah akibat pasien menjalani kemoterapi kanker.

Baca Juga:

  1. Peran Ganja untuk Pengobatan Kanker Payudara
  2. Siswa Diduga Tewas Akibat Overdosis, Thailand Larang Remaja Konsumsi Ganja
  3. Resmi Jadi Barang Legal, Warga Thailand Borong Minuman sampai Permen Ekstrak Ganja

Tak hanya itu saja, dalam mengobati kehilangan nafsu makan dan penurunan berat badan pada penyintas HIV/AIDS, dronabinol ini juga dapat dipergunakan. Ganja juga dikatakan bisa mengurangi rasa cemas dan depresi atau gangguan mental umum pada seseorang.

Untuk pengobatan depresi dan kecemasan itu telah dikenal kandungan CBD. Komponen tertentu dari mariyuana, termasuk CBD ini bertanggung jawab atas efek penghilang rasa sakit. Hal ini pun telah ditemukan oleh para ilmuwan.

Kemudian, CBD diketahui juga membantu mengurangi nyeri kronis dengan memengaruhi aktivitas reseptor endocannabinoid, mengurangi peradangan, dan berinteraksi dengan neurotransmitter. Ini diungkapkann oleh penelitian yang diunggah di National Library of Medicine.

Di sisi lain jika disalah gunakan, ganja dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan. Di mana bisa menyebabkan gangguan otak dan lain sebagainya.

Peneliti terbaru memperkirakan bahwa “kira-kira 3 dari 10 orang yang menggunakan ganja memiliki gangguan penggunaan ganja,” semacam ketergantungan. Hal ini menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Oleh sebab itu harus berdasarkan resep dokter dan dipantau oleh dokter yang berwenang untuk penggunaan ganja secara medis tersebut. Dikarenakan berpotensi mengakibatkan ketergantungan serta penyalahgunaan, penggunaan ganja ini tidak dapat sembarangan dan tanpa kontrol medis.

Maka dari itu pejabat Thailand sendiri khawatir ganja disalahgunakan oleh masyarakatkan, terutama kaum muda. Di mana ganja malah digunakan hanya untuk keperluan rekreasi.

Hal tersebut dinilai dapat menghambat kinerja otak dalam belajar, sehingga remaja menjadi bodoh. Sebab itu, kepada kelompok usia di bawah 25 tahun diperingatkan oleh Direktur Jenderal Departemen Pelayanan Kesehatan Thailand Somsak Akksilp bahwa ganja tidak dipakai untuk keperluan rekreasi.

Continue Reading

Kesehatan-Kecantikan

Peran Ganja untuk Pengobatan Kanker Payudara

Published

on

By

Peran Ganja sebagai Pengobatan Kanker Payudara

Diketahui, Thailand kini telah melegalkan ganja di negeranya. Hal ini pun disambut begitu baik oleh para pasien kanker payudara.

Mendengar undang-undang legalitas ganja di negara itu mereka sangat senang dan antusias. Ini berarti menjadi jauh lebih murah untuk ketersediaan produk pengurang rasa sakit yang mereka gunakan

Penderita kanker payudara, Jiratti Kuttanam menyampaikan pengakuan tersebut. Seperti yang diberitakan Reuters, di mana ia harus membayar mahal beberapa obat pengurang rasa sakit termasuk dari ganja pada sebelumnya.

Selain itu, ia juga mengungkapkan terapi pengobatan ekstrak ganja menjadi murah dan mudah terjamah untuknya atas kebijakan pemerintah tersebut. Tentu hal tersebut sangat membatu dirinya dalam melawan kanker payudara.

Baca Juga:

  1. Siswa Diduga Tewas Akibat Overdosis, Thailand Larang Remaja Konsumsi Ganja
  2. Thailand Legalkan Ganja, 4 warga Overdosis & 1 Orang Tewas
  3. Resmi Jadi Barang Legal, Warga Thailand Borong Minuman sampai Permen Ekstrak Ganja

“Saya rutin mengonsumsi ganja sehingga tak merasakan sakit (akibat kanker payudara),” tuturnya.

Sebagai terapi pengobatan meredakan rasa sakit, Jiratti biasa menyeduh ganja kering untuk dijadikan teh. Tanaman ini menjadi solusi terbaik bagi pasien kanker payudara, yakni untuk menghilangkan rasa sakit mereka yang menjalani kemoterapi.

“Saya pikir kita butuh edukasi. Kita butuh studi soal penggunaannya secara tepat,” kata Jiratti.

Sementara itu, diketahui pada lima tahun yang lalu Jiratti didiagnosis menderita kanker payudara tingkat lanjutan.

Ketika dua tahun kemudian untuk meredakan sakit, mual-mual, dan kecemasan berlebihan setelah menjalani kemoterapi ia pun menggunakan minyak ganja dan produk turunan lainnya. Dengan begitu, ganja memiliki peran yang penting dalam pengobatan pasien kanker payudara.

Continue Reading

Trending