NETWORK : RakyatPos | ValoraNews | KupasOnline | TopSumbar | BanjarBaruKlik | TopOne | Kongkrit | SpiritSumbar | Basangek | MenaraInfo | Medikita | AcehPortal | MyCity | Newsroom | ReportasePapua | RedaksiPos | WartaSehat JetSeo
Bandara Paro Bhutan Berada di Lembah dan Bukit-bukit Tinggi - mycity.co.id
Connect with us

CityView

Bandara Paro Bhutan Berada di Lembah dan Bukit-bukit Tinggi

Published

on

Bandara Paro di Bhutan  berada di lembah dan sekitaran bukit. Foto: YouTube

Bandara Paro di Bhutan berada di lembah dan sekitaran bukit. Foto: YouTube

mycity.co.id – Bhutan, negara kecil di Asia Selatan saat ini memiliki empat bandara, tetapi hanya ada satu yang menyandang bandara internasional dan itu berada di lembah yang dalam di tepi Sungai Paro Chhu.

Ini adalah Bandara Internasional Paro yang juga adalah pangkalan utama bagi maskapai Druk Air. Dengan letaknya berada di lembah yang dalam, Bandara Paro dikelilingi bukit-bukit yang memiliki ketinggian kurang lebih 5.500 meter.

Ini jugalah yang membuatnya dianggap sebagai salah satu bandara paling menantang di dunia. Bahkan sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari wikipedia, kurang dari dua lusin pilot bersertifikat yang bisa mendara di bandara ini.

Uniknya lagi tidak ada penerbangan di malam hari dan hanya dibolehkan ketika cuaca dalam kondisi baik dari matahai terbit hingga matahari terbenam. Dari sejarahnya di tahun 1968, Organisasi Jalan Perbatasan India membangun landasan terbang di lembah Paro.

Ini dulunya digunakan untuk operasi helikopter oleh Angkatan Bersenjata India atas nama Pemerintah Kerajaan Bhutan. Kemudian Druk Air didirikan Royal Charter pada 5 April 1981. Memiliki landasan pacu sepanjang 1.200 meter, dan ada syarat pesawat yang akan dioperasikan dari Paro.

Mereka membutuhkan pesawat STOL 18–20 kursi dengan kemampuan operasi yang mencakup langit-langit layanan tinggi, tingkat pendakian yang tinggi, dan kemampuan manuver yang tinggi. Persyaratan utama untuk pesawat adalah harus mampu terbang Kolkata – Paro – Kolkata, perjalanan pulang pergi sejauh 1.200 km, tanpa pengisian bahan bakar, karena infrastruktur yang tersedia di Paro sangat minim.

Tiga jenis pesawat dipertimbangkan setelah uji terbang yang telah dilakukan di India dan Bhutan antara tahun 1978 dan 1980, namun, tidak ada yang dianggap cocok. Ketika Druk Air beroperasi 11 Februari 1983, pada saat itu Bandara Paro sudah memiliki landasan pacu, kontrol lalu lintas udara (ATC) dengan dua gedung dan ruang tunggu keberangkatan di halaman.

Sebelum pembentukan Departemen Penerbangan Sipil pada Januari 1986, Druk Air bertanggung jawab atas pengoperasian dan pemeliharaan infrastruktur bandara. Pada tahun 1990, landasan pacu di Bandara Paro diperpanjang dari 1.402 menjadi 1.964 meter dan diperkuat untuk pesawat yang lebih berat.

Lalu sepanjang hanggar dibangun untuk pesawat, yang didanai oleh pemerintah India sebagai bagian dari Proyek Pengembangan Bandara Paro. Hingga akhirnya kini memiliki landasan pacu tunggal sepanjang 2.265 meter dan ada satu gedung terminal yang diresmikan pada tahun 1999. Pada tahun 2021, interiornya dirubah, menambahkan banyak karya seni.

CityView

Banjir Pakistan Rusak Kota Kuno Mahenjo-daro

Published

on

Situs Mohenjo-daro di Pakistan/CNN


Situs Mohenjo-daro di Pakistan/CNN

mycity.co.id Salah satu permukiman manusia tertua di dunia rusak parah oleh hujan deras hingga banjir yang melanda Pakistan. Sebagian museum juga digunakan untuk tempat tinggal sementara warga.

Moenjodaro (juga disebut Mohenjo-daro), sebuah situs Warisan Dunia di Lembah Sungai Indus 508 kilometer dari Karachi, dibangun pada Zaman Perunggu, sekitar 5.000 tahun yang lalu.

“Sayangnya yang terjadi adalah penghancuran massal di situs itu,” bunyi surat dari Departemen Kebudayaan, Pariwisata, & Purbakala negara bagian Singh yang dikirim ke UNESCO dan ditandatangani oleh kurator Ihsan Ali Abbasi dan arsitek Naveed Ahmed Sangah, seperti dikutip dari CNN, SEnin (6/2/2022).

Surat itu juga menyebut bahwa kawasan kuno itu digunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya terendam banjir. Banjir yang melanda Pakistan kali ini memang dahsyat. Tercatat sebagai banjir terburuk dalam sejarahnya.

“Atas dasar kemanusiaan, kami memberi mereka perlindungan di tempat tinggal kami, area parkir, toko (dan) lantai dasar museum,” surat itu menjelaskan.

Saat ini, diperkirakan sepertiga dari Pakistan terendam air setelah hujan monsun dikombinasikan dengan air dari gletser yang mencair.

Sebagian besar bangunan Moenjodaro yang ditemukan pada tahun 1920-an berada di atas tanah dan rentan terhadap kerusakan lingkungan. Gambar yang disertakan dalam surat dari penjaga situs menunjukkan dinding bata yang runtuh dan lapisan lumpur menutupi situs.

Surat tersebut menjelaskan beberapa tindakan segera yang telah diambil oleh tim lokasi untuk mengurangi kerusakan akibat banjir, seperti membawa pompa air, memperbaiki tembok bata, dan membersihkan saluran air.

Abbasi dan Sangah mengakhiri surat mereka dengan meminta 100 juta rupee Pakistan atau sekitar Rp 668, 25 miliar untuk menutupi biaya perbaikan. Situasi itu sangat disayangkan sebab para ahli konservasi Moenjodaro telah mengetahui sejak lama bahwa banjir dapat menimbulkan risiko serius bagi situs tersebut.

Daftar resmi UNESCO mencatat bahwa negara bagian Singh, yang secara resmi ditugaskan untuk memelihara Moenjodaro, telah menandai masalah ini sebelumnya dan memperingatkan bahwa “adanya kesalahan pada bendungan di hulu akan menyebabkan kerusakan besar.”

Signifikansi Moenjodaro sebagai situs sejarah dan arsitektur tidak bisa diremehkan. Ketika ditambahkan ke daftar UNESCO pada tahun 1980, organisasi tersebut menulis bahwa Moenjodaro “memberikan kesaksian luar biasa tentang peradaban Indus,” yang terdiri dari “kota terencana paling kuno di anak benua India.”

Pada masa kejayaannya, kota ini merupakan kota metropolitan yang ramai. Ada pasar, pemandian umum, sistem pembuangan kotoran, dan stupa Buddha, sebagian besar dibangun dari batu bata yang dibakar matahari.

Dalam surat mereka, Abbasi dan Sangah menyatakan keprihatinannya bahwa Moenjodaro dapat ditambahkan ke daftar situs UNESCO dalam bahaya, yang diperbarui oleh badan pelestarian secara berkala untuk menyoroti tempat-tempat bersejarah yang berisiko tinggi mengalami kehancuran.

Situs yang saat ini ada dalam daftar ini termasuk Taman Nasional Everglades Florida, yang menghadapi tantangan lingkungan yang signifikan, dan kota Liverpool, Inggris, yang pusat kota bersejarahnya dianggap berisiko dari urbanisasi.

Continue Reading

CityView

Nonton F1H2O di Danau Toba, Sekalian Cicipi 5 Makanan Khas Sumatera Utara

Published

on

F1H2O di Danau Toba/Net

F1H2O di Danau Toba/Net

mycity.co.idMeyaksikan F1H2O di bulan Maret mendatang menjadi salah satu pilihan bagi Anda untuk melepas penat sekaligus berwisata di Danau Toba.

F1H2O yang digelar di Danau Toba ini adalah sebuah acara kelas dunia dimana mencari pembalap terbaik dari perahu air yang kecepatannya setara dengan F1.

Anda yang berminat menyaksika F1H2O di Danau Toba, tidak ada salahnya untuk mencoba juga kuliner yag ada di Sumatera Utara.

Anda bisa menikmati berbagai makanan khas Sumatera Utara di daerah Danau Toba tempat dilaksanakannya F1H2O.

Jika Anda bingung kuliner apa saja yang menjadi khas di Danau Toba ini, berikut kami sajikan 5 daftar makanan yang cocok Anda nikmati jika mengunjungi Sumatera Utara untuk menyaksikan F1H2O.

1. Dekke Na Niarsik

Hidangan ini mirip dengan ikan pindang yang ada di Jawa Barat.

Bedanya Dekke Na Niarsik sudah memakai bumbu yang bermacam-macam

Dekke Na Niarsik juga jadi makanan khusus dalam pesta adat suku adat toba

2. Napinadar

Napinadar adalah makanan yang dibuat dari daging atau ikan panggang yang dicampur dengan bumbu.

Tidak berbeda dengan bumbu Dekke Na Niarsik, hanya saja di tambahkan dengan rasa asam dari jeruk.

Rasa dari makanan Napinadar dominan pedas.

3. Dekke Na Ni Ura

Ikan Na Ni Ura adalah jenis makanan yag bisa dimakan tanpa di masak.

Tidak jauh berbeda dengan makanan khas Jepang, meski tidak di goreng Dekke Na Ni Ura memiliki rasa gurih dan nikmat.

Sekarang Dekke Na Ni Ura menjadi makanan kesukaan masyarkaat Batak Toba.

4. Namartoga atau Saksang

Sebenarnya makanan ini dibuat dengan pemasakan bersama darah hewan.

Warnanya tampak agak merah tua.

Bahan dasarnya daging babi ataupun anjing.

5. Dali Ni Horbo

Sebenarnya makanan Dali Ni Horbo adalah susu kerbau yang sudah dikentalkan.

Warnanya kuning diakibatkan adanya kunyit yang digunakan untuk bumbunya.

Bentuknya seperti tahu dan makanan ini cukup mudah ditemukan di warung nasi sekitar Danau Toba.

Continue Reading

CityView

Pantai Lovina, Healing Sambil Main Bersama Lumba-Lumba

Published

on

Pantai Lovina/Tribun Travel

Pantai Lovina/Tribun Travel

Mycity.co.id – Pantai Lovina dikenal sebagai salah satu pantai yang banyak dikunjungi lumba-lumba di Indonesia. Kemunculan lumba-lumba menjadi salah satu daya tarik utama pantai ini.

Jika kalian menyukai lumba-lumba, kunjungan ke Pantai Lovina adalah tempat yang tepat untuk. Sebab ada lebih dari ratusan lumba-lumba yang tersedia untuk diajak bermain.

Untuk melihat lebih dekat, sewa perahu dan pergi ke laut sebelum matahari terbit. Lumba-lumba biasanya muncul sekitar satu kilometer dari bibir pantai. Waktu yang tepat adalah 06.00-08.00 pagi.

Untuk menyewa perahu cukup membayar Rp150 ribu per orang. Perahu ini dapat menampung lima orang dan waktu penggunaan dua jam. Pemandu atau tukang perahu akan membawa kalian langsung untuk melihat lumba-lumba.

Pantai Lovina terletak di Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Pantai Lovina berjarak kurang lebih sepuluh kilometer dari kota Singaraja, atau sekitar 20 menit dengan mobil.

Jika berangkat dari Kuta, perjalanan memakan waktu dua jam 53 menit atau sekitar 89 kilometer. Selain itu, dibutuhkan waktu dua jam 31 menit dari Denpasar ke Pantai Lovina atau sekitar 81 kilometer.

Untuk rutenya, bila berangkat dari Singaraja, kalian bisa mengambil Jalan Ahmad Yani pergi ke Jalan Singaraja kemudian ke Seririt. Setelah itu akan menemukan papan nama jalan yang bertuliskan Pantai Lovina.

Kalian akan senang mengunjungi Pantai Lovina kapan saja untuk melihat lumba-lumba bebas. Karena tidak ada biaya alias gratis untuk mengunjungi pantai Lovina yang indah ini. Pantai ini pun juga buka 24 jam sehari. Sehingga cityzen selalu bisa menikmati suasana pantai.

Continue Reading
Advertisement

Trending