Connect with us

Teknologi

Badai PHK Melanda Indosat

Published

on

Badai PHK melanda Indosat. (Indosat)

mycity.co.id – Gelombang PHK kembali melanda beberapa perusahaan raksaksa di Indonesia. Kini, PT. Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) yang menaungi Tri dan Indosat juga melakukan hal serupa.

Bersama dengan 16 perusahaan lainnya, Director & Chief of Human Resources Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Irsyad Sahroni mengungkapkan bahwa keputusan melakukan PHK diambil guna meningkatkan pertumbuhan perusahaan yang sesuai dengan tuntutan pasar yang berkembang saat ini.

Baca Juga :  Garmin Ungkap Data Tingkat Stres dan Kesehatan Orang Indonesia Selama Pandemi Covid-19

“Diharapkan dapat menjadi langkah strategis yang membawa Indosat Ooredoo Hutchison menjadi perusahaan telekomunikasi digital paling dipilih di Indonesia,” ujarnya, dikutip pada Kamis (24/11/2022).

Namun demikian, dikutip dari suara, ia tidak menjelaskan secara rinci divisi apa saja dan berapa karyawan yang mengalami PHK.

Baca Juga :  Metaverse Bakal Punya Mall 100 Lantai di Akhir 2022

Ia mengatakan bahwa pihaknya dengan seluruh karyawan sudah menjalani komunikasi secara terbuka dan transparan.

Irsyad menambahkan bahwa para karyawan yang di PHK mendapatkan kompensasi rata-rata 37 kali upah, dimana karyawan yang mendapatkan kompensasi tertinggi yaitu sebesar 75 kali gaji.

Baca Juga :  Gali Masa Depan Dunia, Indosat Lebarkan Sayap ke Metaverse

“Paling tinggi menerima Rp 4,3 miliar rupiah gross,” kata SVP Head of Corporate Communications Indosat Ooredoo Hutchison Steve Saeran.

Teknologi

AS Resmi Larang Impor dan Penjualan Produk Elektronik Huawai dan ZTE

Published

on

bendera Amerika Serikat, Amerika Serikat, bendera, Juli 4, Amerika, Dom

Mycity.co.id – Pemerintahan AS di bawah kepemimpinan Joe Biden resmi melarang izin penjualan atau impor peralatan elektronik baru, dari lima pabrikan elektronik China, karena alasan keamanan negara. Regulator telekomunikais AS (Federal Communications Commission/FCC) pada Jumat (25/11/2022) mengatakan telah memberlakukan aturan baru tersebut.

Ada lima perusahaan elektronik China yang dilarang menjual produk-produk mereka di AS. Kelima perusahaan elektronik China yang dilarang FCC untuk berjualan di “Negeri Paman Sam” terdiri dari Huawei Technology, ZTE, Dahua Technology, Hikvision Digital Technology, dan Hytera Communications.

Baca Juga :  Data Anggotanya Dibobol Hacker Asal Brasil, Ini Tanggapan Polri

Selain itu, FCC juga bakal melarang berbagai barang impor buatan kelima perusahaan tersebut untuk masuk dan beredar di AS. Menurut FCC, kelima perusahaan ini dianggap berbahaya karena berpotensi mengancam keamanan nasional AS. FCC juga khawatir perusahaan-perusahaan ini menyisipkan beragam teknologi di perusahaan China lainnya demi memata-matai warga negara AS.

Baca Juga :  Gali Masa Depan Dunia, Indosat Lebarkan Sayap ke Metaverse

Adapun larangan ini merupakan sebuah aturan bisnis terbaru yang disahkan FCC pada Jumat (25/11/2022) waktu setempat, dan sudah disetujui oleh beberapa komisioner dan pejabat FCC sejak bulan lalu.

“Aturan-aturan baru ini merupakan upaya kami untuk melindungi warga negara AS dari ancaman-ancaman keamanan nasional yang melibatkan perangkat telekomunikasi,” ujar ketua FCC Jessica Rossenworcel dalam sebuah pernyataan, dari Reuters, Sabtu (26/11/2022).

Baca Juga :  Menkominfo Pastikan Informasi Seputar Vaksin Covid-19 di Indonesia Sudah Akurat

Dengan adanya aturan terbaru ini, produk-protuk terbaru buatan Huawei, ZTE, Dahua, Hikvision, dan Hytera tak bisa lagi masuk ke AS. Baik Huawei dan ZTE, begitu juga Dahua, Hikvision, dan Hytera tampaknya belum menanggapi langkah terbaru pemerintah AS ini.

Continue Reading

Teknologi

Aplikasi Edit Foto FacePlay Ramai di TikTok dan Instagram, Apa Itu?

Published

on

Tampilan aplikasi FacePlay yang memiliki fitur utama untuk mengganti objek wajah.(KOMPAS.com/Zulfikar Hardiansyah)

Beberapa waktu belakangan, aplikasi FacePlay tampak tengah ramai dicari oleh pengguna di mesin pencari Google (Google Search). Terpantau di Google Search, terdapat lebih dari 5.000 pencarian “FacePlay” per 25 November 2022, sekitar pukul 12.00 WIB. Maraknya penggunaan aplikasi FacePlay sejatinya bukan terjadi baru-baru ini. Informasi penggunaan aplikasi FacePlay telah ramai dibagikan di media sosial seperti Instagram dan TikTok, sejak awal tahun 2022.

Kendati mungkin telah ramai dicari atau digunakan, namun bukan berarti semua pengguna telah memahami aplikasi FacePlay untuk apa. Oleh karena itu, berikut adalah penjelasan mengenai apa itu FacePlay beserta cara menggunakannya.

Baca Juga :  Data Anggotanya Dibobol Hacker Asal Brasil, Ini Tanggapan Polri

Apa itu FacePlay?

FacePlay adalah aplikasi yang memiliki fitur utama untuk mengubah atau mengganti wajah pengguna di foto dengan wajah orang lain dari tokoh atau karakter tertentu, misalnya anime.

Fitur dari FacePlay juga bisa berlaku sebaliknya. Jadi, pengguna bisa memilih templat foto atau video yang tersedia di FacePlay untuk diubah agar menggunakan wajah pribadi. Dengan kemampuan itu, FacePlay biasa disebut juga dengan aplikasi pengganti wajah.

Baca Juga :  Lego Saham, Indosat Kantongi Dana Segar Senilai Rp1,104 Triliun

FacePlay didukung dengan teknologi face recognition (pengenalan wajah). Dengan teknologi itu, FacePlay mampu menyeleksi objek wajah dari foto yang diunggah pengguna ke aplikasi. Setelah terseleksi, wajah tersebut akan menggantikan wajah di templat.

Faceplay bisa didapatkan secara mudah. Untuk download FacePlay, caranya silakan kunjungi toko aplikasi di masing-masing ponsel, Google Play Store (untuk ponsel Android) atau App Store (untuk iPhone).

Download FacePlay di kedua toko aplikasi tersebut tidak membutuhkan biaya pembelian alias gratis. Kendati mengunduhnya gratis, namun FacePlay menawarkan biaya langganan di aplikasi untuk meningkatkan akun menjadi premium.

Baca Juga :  Mobil WiFi, Solusi Belajar Siswa di Tengah Pandemi Covid-19

Akun premium FacePlay didaftarkan dengan harga langganan mulai Rp 39.000 per minggu. Akun premium FacePlay menawarkan beberapa kelebihan daripada akun biasa yang gratis. Contohnya, seperti bebas akses templat foto atau video dan bebas iklan.

Itulah penjelasan mengenai apa itu FacePlay dan kegunaannya. Lantas, aplikasi FacePlay apakah aman untuk digunakan?

Continue Reading

Teknologi

Film Dokumenter Connecting the Island Diluncungkan di CSD Forum

Published

on

mycity.co.id – Konektivitas dewasa ini menjadi hal yang paling penting. Pasalnya tanpa konektivitas, semua hal akan sulit terhubung. Bahkan daerah terpencil pun saat ini mulai mendapatkan konektivitas yang stabil agar bisa terhubung dengan kota besar atau kota sekitarnya.

Huawei baru saja merilis film dokumenter berjudul Connecting the Islands yang menangkap beberapa cerita lokal tentang transformasi digital dan dinikmati oleh penduduk di daerah terpencil di seluruh Indonesia. Film ini diluncurkan pada perhelatan CSD Forum 2022 dengan tema, “Connectivity+: Innovate for Impact.”

Film yang menampilkan kisah pribadi dari berbagai penduduk desa ini bercerita tentang bagaimana konektivitas telah mengubah hidup mereka menjadi lebih baik dan menciptakan lebih banyak makna. Hal itu mencontohkan bagaimana infrastruktur telekomunikasi memungkinkan anak sekolah mengakses materi pembelajaran dengan lebih mudah, petani dan pengrajin semakin terkoneksi dengan pasar, dan berbagai cerita warga lain yang menikmati konektivitas berkualitas.

Pemutaran global film dokumenter yang secara khusus menceritakan kisah Indonesia ini, juga mewujudkan komitmen jangka panjang Huawei kepada Indonesia dan bagi Indonesia untuk mendukung Indonesia dalam membangun konektivitas bagi 17 ribu pulau di nusantara dan memberikan kontribusi berkelanjutan dalam teknologi nirkabel, optik dan cloud, terutama untuk daerah terpencil.

Selama lebih dari 22 tahun, Huawei Indonesia telah mengatasi berbagai medan berat dan segala tantangan untuk memastikan pengiriman peralatan dan pemasangan jaringan telekomunikasi dilakukan dengan baik. Jun Zhang, Vice President, Public Affairs and Communications Department, Huawei Asia Pacific, menggarisbawahi pentingnya pengembangan konektivitas menuju inklusi digital dan transformasi masyarakat informasi.

Baca Juga :  Menkominfo Pastikan Informasi Seputar Vaksin Covid-19 di Indonesia Sudah Akurat

“Dalam 30 tahun terakhir, kapasitas jaringan nirkabel telah berkembang 10 ribu kali lipat. Konektivitas jaringan semakin menjadi listrik baru yang tak seorang pun dapat hidup tanpanya. Namun, masih banyak orang yang tidak dapat menggunakan jaringan seluler dasar di daerah terpencil di Indonesia. Kesenjangan digital bahkan menjadi tantangan kritis bagi setiap negara. Hampir 3 miliar orang, atau 37 persen dari populasi global, masih belum memiliki akses ke Internet,” kata Jun Zhang.

Dia mengatakan, sebagian besar dari mereka tinggal di daerah terpencil. Didorong oleh komitmen Huawei I Do, Huawei selalu memiliki misi untuk menghadirkan digital ke setiap orang, rumah, dan organisasi untuk dunia yang sepenuhnya terhubung dan cerdas. Senada dengan itu, Lai Chaosen, Vice President, Delivery & Service, Huawei Indonesia, menegaskan kembali komitmen membangun konektivitas
bagi Indonesia.

“Pandemi telah menjadi batu ujian bahwa konektivitas menjadi kebutuhan untuk transformasi digital di Indonesia. Pemulihan dan transformasi ekonomi yang lebih cepat di semua dimensi kehidupan dimungkinkan berkat infrastruktur digital yang lebih baik,” ujar Lai Chaosen.

Baca Juga :  Signal Saat Ini Mengalami Kewalahan karena Diserbu Pengguna WhatsApp

Lai menambahkan, ke depannya, Huawei akan mendorong peningkatan konektivitas yang berkualitas untuk seluruh ekosistem digital Indonesia sehingga ekosistem digital menjadi mesin utama ekonomi digital yang terintegrasi dengan seluruh perekonomian nasional. Menurut data yang dimiliki oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), setidaknya 20 persen masyarakat Indonesia belum terkoneksi dengan internet.

Mereka belum bisa menikmati layanan internet broadband karena mayoritas tinggal di wilayah Indonesia yang kondisi geografisnya sangat sulit. Sementara itu, James Sun, Vice President, Director of the Board, Business Environment, Huawei Indonesia mengatakan, sebagai penyedia solusi TIK global terkemuka, Huawei selalu mencari terobosan dan inovasi teknologi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi.

“Huawei akan terus memperluas inklusi digital untuk menghubungkan masyarakat yang selama ini sulit dijangkau layanan internet melalui berbagai solusi Huawei, termasuk solusi Huawei Rural Star yang telah diterapkan di banyak negara di dunia. Kami melihat solusi ini sangat cocok untuk diterapkan untuk menciptakan konektivitas antar pulau di Indonesia,” kata James Sun.

Pada tahun 2021, Huawei dan mitra operator menguji coba solusi broadband nirkabel Rural Star Pro dengan fitur utama LTE untuk backhaul di daerah terpencil di Pulau Kalimantan. Huawei Rural Star merupakan terobosan dalam desain stasiun pangkalan radio dengan kemampuan untuk mengintegrasikan pita dasar, peralatan transmisi radio, dan secara bersamaan LTE untuk backhaul nirkabel, dalam
satu modul.

Baca Juga :  Indosat dan Tri Mundur dari Lelang Frekuensi 2,3 GHz

Dengan konsep LTE untuk backhaul, spektrum operator yang biasanya hanya digunakan untuk akses radio ke perangkat pengguna atau akses radio juga dapat digunakan untuk menyediakan akses antar stasiun pangkalan radio (backhaul). Fitur ini mampu menekan biaya sewa
transmisi yang sebelumnya dikeluarkan oleh operator seperti penggunaan microwave dan satelit. Saat ini, solusi tersebut telah diterapkan di lebih dari 60 negara yang melayani 50 juta populasi.

“Bekerja sama dengan mitra operator, Huawei berupaya untuk memaksimalkan semua potensi dan peluang dengan berbagi praktik terbaik dan berfokus pada cara-cara baru untuk memperluas infrastruktur yang ada untuk menciptakan masyarakat digital yang benar-benar inklusif. Kita dapat menunjukkan betapa efektif, produktif, dan cerdasnya dunia kitanantinya di masa depan,” tambah James Sun.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Huawei dengan lebih dari 1000 ilmuwan terkemuka dunia selama 3 tahun terakhir, Huawei
memperkirakan bahwa pada tahun 2030, akan ada 200 miliar perangkat yang terhubung ke internet di seluruh dunia, dengan lebih dari 1 YB data dihasilkan setiap tahunnya, 23 kali lebih banyak dari volume data yang dihasilkan pada tahun 2020.

Continue Reading
Advertisement

Trending