Connect with us

Histori

Asmara di Tengah Konflik: Kisah Cinta Para Pejuang di Masa Revolusi Fisik

Published

on

ilustrasi kisah asmara

“Dari mana datangnja linta Dari sawah toeroen kepadi Dari mana datangnja tjinta Dari mata toeroen di hati”.

Diberlakukannya politik etis sejak awal abad ke-20 memberikan kesempatan kepada kaum Bumiputra untuk menikmati pendidikan modern. Tersedianya akses pendidikan menjadi pintu bagi sebagian elite pribumi untuk meraih kemajuan yang diperkenalkan oleh peradaban Barat.

Dibukanya sekolah-sekolah dengan sistem pendidikan Barat memungkinkan terjadinya pergaulan yang lebih bebas antara lelaki dan perempuan Bumiputra untuk bergaul secara akrab.

Hal itu juga kemudian menyebabkan semakin banyak tempat-tempat perkumpulan pemuda seperti tempat olah raga, kesenian, rekreasi dan lain-lain yang memungkinkan mereka untuk lebih sering berinteraksi.

Pendidikan modern membuat mereka bertemu dengan gagasan-gagasan baru, salah satunya kebebasan memilih pasangan hidup. Dalam kehidupan kaum bumiputra di periode sebelumnya, dominasi orang tua berperan sangat besar terhadap pilihan hidup anak-anaknya termasuk urusan jodoh.

Pergaulan antara lelaki dan perempuan juga sangatlah dibatasi, mereka hanya tinggal menunggu orang tua mencarikan suami atau istri.

Beriringan dengan terbentuknya gagasan persatuan meraih kemerdekaan, muncul pula hasrat dalam diri kaum muda terutama orang-orang yang sudah berpendidikan untuk mencari dan menemukan cinta mereka atas kehendak sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun termasuk orang tua.

Pada titik ini orang-orang pergerakan, sampai batas tertentu, melakukan perlawanan terhadap struktur sosial yang dominan pada masa itu. Fenomena tersebut banyak direkam oleh sumber-sumber sezaman.

Oleh karena itu, pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana karya-karya sastra sezaman menangkap persoalan percintaan pada masa pergerakan nasional? Apa gagasan atau kritik yang ingin disuarakan oleh para pengarang itu? Bagaimana semangat memperjuangkan kemerdekaan bangsa turut memengaruhi idealisme tokoh-tokoh pergerakan nasional dalam mencari pasangan hidup?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, marilah mendasarkan pemikiran kita pada pembacaan karya sastra sezaman baik dari terbitan Balai Pustaka misalnya novel-novel Abdoel Moeis yang berjudul Pertemuan Jodoh dan Salah Asuhan, novel Marah Rusli berjudul Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai, novel-novel Hamka seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah, kemudian St. Takdir Alisjahbana dengan karyanya Layar Terkembang serta penulis-penulis lain yang hidup pada periode pergerakan nasional.

Selain itu juga dilakukan pembacaan atas karya-karya sastra terbitan non-Balai Pustaka seperti Student Hidjo karangan Mas Marco Kartodikromo dan Hikayat Kadiroen karangan Semaoen.

Suara penulis novel berbahasa Sunda yaitu Moh. Ambri yang menulis Lain Eta turut menambah keragaman pada penggunaan sumber karya sastra sezaman dalam penelitian ini.

Dari pembacaan terhadap karya sastra yang terbit pada masa pergerakan nasional dapat ditemukan gambaran kondisi sosial dan budaya pada masa itu, dari situ dapat dianalisis suara-suara para pengarang yang sering mencurahkan gagasan atau pun kritik mereka melalui media sastra.

Mereka mengangkat persoalan rasialisme, perlawanan terhadap adat, serta ketimpangan struktural yang menjadi permasalahan-permasalahan pada masa kolonial ke dalam karya sastra.

Atas dasar itu, karya-karya sastra sezaman dapat dijadikan salah satu sumber sejarah, sebab dari sana dapat ditemukan fakta mental.

Dilakukan juga pembacaan atas memoar dan autobiografi orang-orang yang hidup pada masa kebangkitan nasional, sehingga kesaksian tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti S.K. Trimurti, Soekarno, atau dr. Soetomo mengenai pengalaman cinta mereka serta pengamatan mereka terhadap kondisi masyarakat di masa itu bisa memberikan gambaran nyata kisah asmara saat itu.

Kemudian, berbagai artikel dari surat kabar Sin Po menjadi perwakilan dari suara kaum peranakan Tionghoa.

Terakhir, artikel dari surat kabar Doenia Bergerak menjadi pelengkap untuk suara Mas Marco Kartodikromo dalam dua media yang berbeda yaitu surat kabar dan karya sastra.

Ini menunjukkan bahwa pergerakan kebangsaan tidak hanya bekerja di bidang politik, tetapi juga memengaruhi ranah privat yaitu urusan percintaan, serta menunjukkan pula bahwa cinta mampu mendobrak batas-batas adat, kelas, ataupun ras.

Asal Mula Tumbuhnya Cinta

Bertemunya perempuan dan lelaki di sekolah modern tidaklah lazim bagi masyarakat tradisional yang terbiasa membangun benteng amat tinggi pada pergaulan dua jenis kelamin yang berbeda.

Kaum kolot mempercayai jika cinta akan tumbuh sendirinya setelah terikat perkawinan sehingga mereka tidak memerlukan pacaran atau bertunangan.

Mereka hanya perlu menerima apapun keadaan dan kepribadian dari pasangan yang dipilihkan oleh orang tua.

Baca Juga:

  1. Bertentangan dengan Hukum Islam, Ini Empat Sultan Wanita yang Pernah Memimpin Aceh
  2. Ernest Douwes Dekker, Bapak Nasionalisme Indonesia
  3. Siti Rohana Kudus: Nyala Kebangkitan Pergerakan Perempuan di Minangkabau

Pada awal abad ke-20, ketika modernitas semakin memengaruhi banyak aspek dalam kehidupan, lahir pola-pola baru dalam mencari cinta.

Kaum pribumi di masa pergerakan mulai mendapat kesempatan untuk mengalami proses penemuan cinta dengan beragam cara; mereka bisa jatuh cinta sejak kali pertama bertemu dan bisa pula melalui proses pertemanan yang karib sampai akhirnya saling mencintai.

Tidak lagi sekadar dijodohkan oleh orang tua atau dipaksa kawin dengan pilihan orang tua. Berbagai macam karya sastra pada masa pergerakan nasional mengangkat tema cinta pada pandangan pertama.

Misalnya Swan Pen dalam novelnya yang berjudul Melati Van Agam membuka ceritanya dengan dengan sebuah pantun yang dapat menerangkan bahwa cinta bisa lahir hanya dari tatapan mata.

Kemudian seorang penulis peranakan Tionghoa bernama Thio Tjin Boen dalam novel Cerita Nyai Soemirah atawa Peruntungan Manusia Jilid 1 menggambarkan proses terlahirnya cinta pandangan pertama.

Thio Tjin Boen dalam novelnya itu mengatakan “Kalu dibilang orang punya mata ada punya kekuatan penarik”.

Kalimat tersebut merupakan pengantar dari cerita tokoh Soemirah dan Bi Liang yang tidak sengaja bertemu di sebuah hajatan seorang kopral oppas di Sumedang.

Sejak kedatangan Soemirah yang turut bergabung ke tengah-tengah para tamu, Bi Liang tidak mau melepaskan pandangannya pada Soemirah yang dinilainya sangat cantik.

Soemirah merasa gelisah karena sejak lama dia merasakan ada yang memperhatikan dirinya. Lalu gadis itu melayangkan pandangan ke sekitar, dari situlah Soemirah dan Bi Liang beradu tatap.

Pada generasi sebelumnya, mengirim surat percintaan dan mengajak perempuan untuk pelesiran tentu tidak mudah dilakukan sebab urusan jodoh menjadi otoritas orang tua, ruang bergaul antara perempuan dan lelaki masih sangat terbatas sehingga sulit bagi mereka untuk pacaran berdua-duaan.

Kalau kita cermati memanglah novel-novel pada masa pergerakan nasional banyak menampilkan tokoh-tokoh terpelajar yang tidak sungkan lagi melakukan pendekatan pada orang yang mereka suka.

Untuk berbalas-balasan surat dibutuhkan kemampuan menulis dan membaca, bangsa pribumi maupun Timur asing yang pernah menempuh sekolah modern akan memiliki akses untuk berbalas-balasan surat percintaan sebab mereka mampu menulis dan membaca bahkan pintar berbahasa Belanda.

Sekolah merupakan tempat mutasi pola pikir dan perilaku menuju modernitas bagi orang-orang pribumi yang berusaha menyelami cara berpikir Barat, terutama golongan priyayi dan kalangan atas karena merekalah yang pertama kali mendapat kesempatan belajar di sekolah-sekolah modern kemudian menyebar ke semua kalangan pribumi.

Dengan dibukanya sekolah-sekolah bagi pribumi maka antara perempuan dan lelaki mulai bisa bercampur gaul secara akrab dan bebas, kesempatan untuk menemukan pasangan tanpa otoritas orang tua ataupun keluarga menjadi lebih terbuka.

Selain cinta pada pandangan pertama, cinta terlahir pula dari sebuah persahabatan. Sepasang manusia bisa saling tertarik satu sama lain ketika kedekatan di antara keduanya semakin rapat, setelah bergaul cukup lama mereka mampu memahami karakter masing-masing.

Misalnya, seorang sahabat yang pada awalnya hanya teman berdebat atau bertukar pikiran dapat bertransformasi menjadi sepasang kekasih bahkan teman hidup.

Semuanya berawal dari rasa hormat dan kekaguman atas pemikiran-pemikiran yang dilontarkan oleh kawan debatnya.

Kasus ini dialami oleh Surastri Karma Trimurti dan Sayuti Melik yang keduanya merupakan tokoh pergerakan nasional. Percintaan antara S.K. Trimurti dan Sayuti Melik terjalin dengan tidak diduga-duga oleh mereka.

Sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh S.K. Trimurti kalau teman berdebatnya akan menjadi pasangan hidup. Mereka sering terlibat diskusi mengenai siasat perjuangan dan menghadapi perdebatan sengit karena pandangan mereka tidak selalu sama.

Ajakan menikah keluar begitu saja dari mulut Sayuti saat mereka berdebat soal politik, lelaki itu berkata “Kelihatannya kita bisa bekerja sama. Bagaimana kalau kau menjadi istri saya?”.

Dari perkataan Sayuti Melik dapat kita lihat sosok pribumi terpelajar yang tidak bersikap patriarki, alih-alih melarang pasangannya berhenti bekerja ataupun merasa tersaingi dengan kesibukan perempuan di dunia pergerakan justru Sayuti Melik menginginkan pasangannya bisa bergerak bersama melalui jalur politik.

Meskipun S.K. Trimurti sangat terkejut dengan lamaran yang spontan keluar dari mulut Sayuti Melik, pada akhirnya dia menerima lamaran tersebut karena sosok seperti Sayuti merupakan pasangan yang dia idam-idam sejak lama.

S.K. Trimurti ingin sekali menikah dengan lelaki yang mampu berjuang bersama dalam pergerakan bumiputra, sehingga tidak sulit bagi keduanya untuk saling memahami mimpi masing-masing.

S.K Trimurti dan Sayuti Melik akhirnya menikah di Solo pada tahun 1938. S.K. Trimurti menyadari bahwa tujuan hidupnya semata-mata hanya untuk pergerakan kebangsaan sehingga ketika dia menemukan sahabat yang cocok dari segi semangat perjuangan, dia dengan mudah menerima lamaran lelaki tersebut.

Bersama pasangan yang pikiran dan cita-citanya selaras tentu lebih memudahkan seseorang untuk menempuh tujuan hidupnya, itulah pertimbangan-pertimbangan ketika memutuskan untuk mencintai sahabat sendiri.

Apa yang dialami oleh S.K. Trimurti mencerminkan realitas orang-orang pada masa pergerakan terutama tokoh-tokoh politik menjadi lebih idealis ketika memilih pasangan hidup, mereka menginginkan pasangan yang mampu mengiringinya menggapai cita-cita.

Kasus lain dari tokoh pergerakan nasional yang menemukan cintanya melalui proses pertemanan yaitu kisah cinta Soetomo dengan Everdina Broering.

Semua bermula ketika Everdina menjadi suster rumah sakit zending di Blora pada tahun 1917. Soetomo sebagai seorang dokter yang praktek di sana sering melihat Everdina menampakkan wajah murung. Dia memberanikan diri untuk bertanya soal kesedihan suster itu.

Kelembutan sikap Soetomo membuat Everdina mau menceritakan pengalaman hidupnya, ternyata perempuan itu telah kehilangan suami yang sangat dicintainya ketika masih tinggal di Belanda.

Benih-benih cinta tumbuh dalam persahabatan mereka karena Soetomo mampu menghibur kesedihan Everdina.

Setelah mereka memutuskan untuk menikah, Everdina berjanji akan selalu berada di samping Soetomo suka maupun duka.

Everdina bahkan melarang suaminya untuk mempersamakan hak-hak dengan orang Belanda karena dia memahami bahwa Soetomo mempunyai harapan besar untuk pergerakan bangsanya.

Sikap Everdina yang melarang suaminya melakukan gelijkstelling dengan bangsa Eropa memiliki makna bahwa Everdina tidak mau suaminya melanggar cita-cita perjuangan bumiputra untuk melawan kolonialisme.

Apabila Soetomo sampai mempersamakan hak-haknya dengan bangsa Eropa artinya sama saja dengan melanggengkan praktik rasialisme di Hindia Belanda.

Kisah cinta Soetomo dan Everdina menunjukkan bahwa percintaan yang dibangun atas persahabatan karib mampu meruntuhkan batas-batas rasial, dalam suasana perkawinan mereka telah tercipta kesetaraan antara satu ras dengan ras lainnya.

Histori

Tumpah Darah Demi Merdeka, Peristiwa Mandor di Kalimantan Barat

Published

on

ilustrasi tentara

Pembunuhan massal yang dilakukan tentara Jepang berawal dari sebuah desas-desus yang terdengar oleh pihak Jepang. Semua karena sebuah kecurigaan dimana Tokkeitai (Polisi Rahasia Kaigun) mencium adanya suatu persekongkolan untuk melawan Jepang.

Tentunya upaya perlawanan ini berangkat dari kondisi kehidupan yang kian susah dan perlakuan kejam Jepang terhadap rakyat.

Berdasarkan informasi yang beredar pada April 1942, Sultan Pontianak Syarif Muhammad Al-Kadri mengundang seluruh kepala swapraja, dalam hal ini Sultan dan Panembahan di seluruh Kalimantan Barat ke Keraton Kadriyah.

Inti dari undangan ini sebenarnya membicarakan kondisi kehidupan terkini. Secara bulat para pemimpin kesultanan ini akhirnya satu pendapat bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan rakyat itu ialah dengan mengenyahkan Jepang.

Jepang kemudian mendirikan Nissinkai, semacam organisasi politik yang mendapatkan restu dari Syuutizityo Minseibu Izumi dan Letnan Kolonel Yamakawa.

Organisasi ini sebagai satu- satunya wadah yang legal menurut Jepang untuk menyalurkan ide-ide politis yang tentu saja harus sejalan dengan kepentingan mereka.

Akan tetapi sekuat apapun Jepang mencoba menyetir organisasi ini agar menjadi pendukung mereka, namun di dalamnya justru berhimpun orang-orang yang mengidamkan kebebasan.

Dikemudian hari kelompok aristokrat yang ingin melawan Jepang sebagaimana disebutkan sebelumnya semakin besar dengan bergabungnya sejumlah tokoh-tokoh politik Nissinkai.

Orang-orang tersebut antara lain J.E Pattiasina (Kepala Urusan Umum Kantor Syuutizityo), Notosoedjono (tokoh Parindra), dan Ng Nyap Sun (Kepala Urusan Orang Asing/Kakyo Toseikatyo).

Karena gerakan ini bersifat rahasia dan bergerak secara bawah tanah, tidak ada yang mengetahui secara pasti apa nama kelompok perlawanan tersebut.

Pemimpin kelompok politik tersebut bahkan tidak diketahui secara pasti pemimpinnya. Kelompok rahasia ini lebih sering disebut Gerakan Enam Sembilan karena berjumlah enam puluh sembilan anggota.

Keenam puluh sembilan orang tersebut tidak pernah diketahui siapa saja orangnya, barangkali Jepang sendirilah yang menentukan nama-namanya. Masuk dalam daftar Jepang kala itu sama saja dengan masuk dalam daftar orang yang akan dicabut nyawanya. Suatu perlawanan akhirnya memang terjadi, namun bukan di Kalimantan Barat melainkan di Kalimantan Selatan.

Mantan Gubernur Borneo pada masa Belanda, Dr. Bauke Jan Haga diketahui melakukan perlawanan terhadap Jepang dengan didukung ratusan pengikutnya, sebagian besar orang Belanda di Banjarmasin.

Sayangnya pemberontakan ini gagal, Jepang menjatuhkan hukuman mati kepada 25 pemimpinnya termasuk Gubernur Haga, ditambah tewasnya 250 orang-orang Belanda di interniran.

Komplotan Gubernur Haga tersebut direncanakan melaksanakan aksi pada Januari 1943 dengan dibantu 800 orang. Pemberontakan di Kalimantan Selatan dapat menjadi suatu inspirasi untuk melaksanakan hal serupa di Kalimantan Barat. Hal ini menjadi kekhawatiran besar bagi mereka.

Baca Juga:

  1. Ukraina Optimis Akhir Tahun Perang Lawan Rusia akan Berakhir
  2. Mengorek Luka Lama, Riset Perang Indonesia-Belanda dan Narasi Kejahatan Perang Pejuang Indonesia
  3. Asmara di Tengah Konflik: Kisah Cinta Para Pejuang di Masa Revolusi Fisik

Untuk itu Jepang memutuskan untuk melakukan langkah-langkah pencegahan. Secara bertahap mulai dilakukan penangkapan terhadap pihak-pihak yang dicurigai dari berbagai kalangan.

Pada 23 Oktober 1943, gelombang penangkapan dimulai dengan menahan penguasa swapraja, tokoh masyarakat, kaum cerdik pandai, dan menahannya di markas Tokkeitai.

Beberapa kerabat dan tokoh-tokoh lain juga ditangkap dan tidak pernah kembali.

Selanjutnya pada 24 Mei 1944 konferensi Nissinkai di Pontianak berubah menjadi ajang penangkapan akbar. Seluruh peserta yang hadir ditangkap, yang lainnya diciduk di rumah masing-masing pada dini hari.

Pada hari Sabtu 1 Sitigatu 2604 atau 1 Juli 1944 koran Borneo Shinbun dalam halaman depannya mewartakan dalam judul besarnya “Komplotan Besar yang Mendurhaka untuk Melawan Dai Nippon Sudah Dibongkar Sampai ke Akar-akarnya”.

Jepang mengumumkan telah melaksanakan aksi penangkapan dan menghukum mati mereka yang diduga berkomplot melawan dari tanggal 23 Oktober 1943 hingga 28 Juni 1944.

Kabar dari Koran Borneo Shinbun sangat mengejutkan warga khususnya di Pontianak. Akhirnya apa yang menjadi kegelisahan akan nasib sanak saudara, kerabat, maupun orang yang dicintai ketika dijemput Jepang terjawab sudah.

Tentu rasa keterkejutan itu berlanjut pada keguncangan perasaan bagi yang ditinggalkan, terpukul dan sedih. Selama ini keluarga atau kerabat korban tidak pernah mengetahui untuk apa mereka dibawa Jepang dan kapan mereka akan dikembalikan Jepang. Pertanyaan yang menggantung tersebut akhirnya terjawab sudah dengan keharuan.

Penangkapan ini rupanya hanya suatu isu yang dibuat oleh Jepang. Tuduhan bahwa adanya gerakan yang ingin melakukan perlawanan dan membentuk Republik Rakyat Borneo Barat hanyalah isu yang direkayasa oleh Jepang.

Pasalnya, sejak zaman penjajahan Belanda pun tidak pernah ada organisasi, partai, ataupun lainnya yang berkeinginan hendak mendirikan suatu Negara Borneo Barat.

Hal ini juga diamini oleh Tsuneo Iseki seorang Jepang yang telah menetap di Kalimantan Barat pada 1928 – 1947 dan dapat berbahasa Indonesia.

Tsuneo juga bertindak sebagai juru bahasa (penerjemah) dalam Mahkamah Militer Sekutu di Pontianak yang diselenggarakan pada rentang waktu tahun 1946-1947.

Menurutnya, sepanjang ia tinggal di Kalimantan Barat tidak pernah ada gerakan-gerakan untuk mendirikan Borneo Barat, juga pada masa Jepang tidak ada gerakan-gerakan untuk melawan.

Menghubung-hubungkan peristiwa di Banjarmasin pada Juni 1943 dengan keadaan di Pontianak adalah hal yang sengaja dibuat-buat.

Hayashi Shuichi, seorang Perwira Intelijen tentara Angkatan Laut Jepang di Kalimantan Barat juga bersaksi pasca perang bahwa tidak ada plot bersenjata untuk melawan Jepang sebagaimana dituduhkan oleh Tokkeitai.

Hal ini juga semakin didukung dengan tidak pernah diperiksanya para korban dalam sidang terbuka. Dalam Koran Borneo Shinbun para korban disebutkan dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Angkatan Laut Jepang. Akan tetapi sidang itu sendiri tidak pernah dibuka untuk umum.

Kebenaran ini tidak pernah terungkap dengan jelas karena Jepang sendiri membunuh semua yang terlibat tanpa pernah diketahui bagaimana pembelaan para korban.

Apa yang tertulis dalam Borneo Shinbun seratus persen bukan produk jurnalistik melainkan sebuah karangan yang dibuat-buat oleh ketua redaksi yang tentu saja orang Jepang.

Meskipun informasi dalam koran itu tampak sekali meyakinkan, namun sepandai-pandainya ia mengarang tidak sulit menemukan beberapa hal yang ganjil.

Koran itu mengaburkan pengertian mengenai suku dan kebangsaan, penulisannya juga tidak hati-hati. Misalnya, korban bernama Nasrun Sutan Pangeran tetapi justru ditulis orang Batak bukan orang Minang.

Hal yang lebih menarik ialah korban dari kalangan suku Melayu ditulis “orang Indonesia”, di luar ditulis sesuai suku asalnya.

Ada lagi satu keganjilan dalam emberitaan di Borneo Shinbun itu, yakni soal Sultan Pontianak Syarif Muhammad Al-Kadri yang akhirnya ikut ke dalam komplotan (sebagaimana) yang dituduhkan Jepang dalam pendirian Negara Rakyat Borneo Barat.

Padahal,masih dalam berita itu juga komplotan berencana untuk membubarkan dua belas swapraja yang ada di Kalimantan Barat.

Tentulah hal ini bertolak belakang dengan kenyataan umum bahwa golongan aristokrat, raja, atau sultan semestinya menjadi pihak yang berseberangan dengan ide-ide pendirian negara berbentuk republik.

Seorang perwira NEFIS Belanda pasca kemerdekaan yang datang ke Kalimantan Barat untuk meneliti peristiwa ini, Kapten J.N, Heijbroek mengungkapkan; selain karena faktor kecurigaan terhadap adanya potensi perlawanan rakyat.

Jepang juga bermaksud untuk membunuh orang-orang penting dan mereka yang memiliki otoritas politik, keunggulan ekonomi, dan terpelajar sebagai hal yang sama dilakukan Jepang di Korea dan Manchuria.

Di tempat itu orang-orang dengan strata sosial atas juga dimusnahkan sehingga strata di sosial di bawahnya dapat di kontrol langsung oleh Jepang.

Peristiwa tanggal 28 Juni 1944 bukanlah akhir dari pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan Jepang. Berdasarkan catatan-catatan sejarah, tanggal 28 Juni 1944, hanyalah suatu puncak gelombang pembunuhan yang setelahnya terus terjadi hingga mereka bertekuk lutut di hadapan sekutu.

Untuk mengenang peristiwa keji itu, setiap tanggal 28 Juni diperingati sebagai Hari Berkabung Daerah Kalimantan Barat dimana setiap instansi negeri atau swasta diwajibkan untuk mengibarkan bendera merah putih setengah tiang.

Continue Reading

Histori

Dinamika Musik Rock di Indonesia

Published

on

musisi rock

Musik Rock merupakan jenis musik yang telah meramaikan perindustrian musik di Indonesia. Musik rock berkembang di Indonesia tahun 60- an tetapi pada awal kedatangannya musik

Rock banyak mengalami hambatan atau dengan kata lain banyak yang menentang musik rock terutama oleh pemerintah.

Termasuk pimpinan tertinggi negara, Presiden Soekarno pada pidatonya tahun 17 Agustus 1959 menyebut musik rock sebagai musik ngak-ngik-ngok, yang dianggap tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia.

Dari pernyataan itu banyak dampak yang dirasakan dalam perkembangan musik rock di Indonesia seperti banyak pelarangan dari pejabat sampai ketua RT.

Tetapi semangat untuk memajukan musik rock tidak pernah padam. Banyak usaha yang dilakukan musisi-musisi rock di Indonesia agar musik rock dapat diterima di Indonesia.

Salah satu usaha para musisi yaitu dengan memasukan unsur-unsur kebudayaan Indonesia seperti gamelan, rebana, dan lain-lain.

Contohnya seperti The Rollies yang memasukan unsur gamelan pada pergelarannya yang dilakukan di Gedung Merdeka, Bandung dan juga kantata Takwa-nya Setiawan Djodi dan Iwan Fals yang memakai alat musik rebana betawi di dalam lagunya.

Sampai pembuatan lirik pun juga disesuaikan dengan kebudayaan Indonesia. Perkembangan scene musik rock di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an

sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy (Jakarta), Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten.

Musik rock adalah genre musik popular yang mulai diketahui secara umum pada pertengahan tahun 50-an. Akarnya berawal dari rhythm dan blues, musik country dari tahun 40 dan 50-an serta berbagai pengaruh lainnya.

Selanjutnya musik rock juga mengambil gaya dari berbagai musik lainnya, termasuk musik rakyat (folk musik), jazz, dan musik klasik.

Musik rock merupakan musik hiburan yang menjadi serius dari dasarwarsa 1950-an yang berangkat dari pola boogie woogie sebagai kesinambungan blues di satu pihak dan akar country di pihak lain.

Penemu dari musik rock adalah Fats Domino yang secara tidak sengaja bermain di atas piano untuk gaya yang waktu itu disebut honky tonk piano.

Musik yang dimainkan bertujuan untuk mengajak para pendengar untuk bergoyang mengikuti irama musik yang menghentak-hentak.

Jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia rock bukan berarti sebagai batu melainkan yang dimaksud adalah ayunan yakni gerakan para pendengar yang mendengarkan musik rock. Musik rock memang sangat berkaitan dengan dansa.

Dansa ini menjadi budaya kaum muda untuk alat ekspresi diri yaitu pernyataan disertai pelepasan diri atas kungkungan yang berlaku maka pada awal tumbuhnya sangat ditentang oleh pihak kaum tua.

Baca Juga:

  1. Mengenal Serunai, Alat Musik Tiup Kebanggaan Minangkabau
  2. Abdee Slank, Rocker dan Kiprahnya di Dunia Bisnis
  3. Cafe Unik Bernuansa Punk dan Rock n Roll Di Bogor

Di Amerika sendiri musik rock mendapat banyak tanggapan seperti sebuah siaran radio yang termakan imbauan pemerintah daerah untuk menghancurkan piringan hitamnya Hound Dog.

Padahal rock n roll telah di perkenalkan melalui film Rock around the clock yang di bintangi Bill haley dan Comets. Memang film itu mendapat banyak tanggapan dari kalangan tua di Amerika.

Sejak paruh dasawarsa 1950- an rakyat Indonesia tidak diperbolehkan mendengar atau membawakan lagu-lagu asing berbahasa Inggris.

Padahal sejak memasuki era 1950-an rakyat Indonesia mulai menggandrungi budaya barat yang berasal dari musik dan film.

Musik barat didengar melalui siaran radio-radio luar negeri seperti ABC Australia, Hilversum Belanda, dan Voice Of America (VOA) termasuk lagu yang menjadi soundtrack film-film Barat yang diimpor ke Indonesia.

Namun di dalam perkembangannya musik rock di Indonesia banyak mengalami hambatan karena musik ini sangat digusari oleh kaum tua selain itu juga di Indonesia musik rock mendapat hambatan dari pemerintahan terutama dari pemimpin tertinggi yaitu Presiden Soekarno pada pidatonya tahun 17 Agustus 1959 menyebut musik rock sebagai musik ngak-ngik-ngok, yang dianggap tidak sesuai dengan kebudayaan bangsa Indonesia.

Presiden Soekarno melihat perkembangan musik rock di Indonesia dapat mengkhawatirkan budaya bangsa lama kelamaan akan terlupakan dan punah tertelan dan punah ditelan budaya Barat yang sarat kemilau itu.

Selain itu keberatan terhadap rock dilihat secara politis melalui kepentingan nasionalisme oleh Bung Karno dan dikembangkan oleh pejabat-pejabat yang berhaluan PKI yang dikatakan sebagai imperalisme kebudayaan.

Untuk menangkalnya dalam perayaan Hari Proklamasi 17 Agustus 1959 dikeluarkanlah sebuah manifesto yang diberi nama Manipol USDEK/Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia, yang kemudian diputuskan oleh DPA pada September 1959 sebagai GBHN.

Pemerintah RI mengeluarkan keputusan tersebut untuk melindungi kebudayaan bangsa dari pengaruh asing terutama Barat. Sejak Oktober 1959 siaran Radio Republik Indonesia (RRI)

ditegaskan untuk tidak lagi memutar atau memperdengarkan lagu-lagu rock and roll, cha-cha, tango, hingga mambo yang dinamakan musik ‘ngak ngik ngok’ oleh Presiden Soekarno.

Berkuasanya rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan presiden Soeharto, membuka lembaran baru bagi dunia musik di Indonesia. Saat itu memperdengarkan musik bukan lagi monopoli Radio Republik Indonesia sejak era akhir 60-an. Bisa dikatakan tahun 1967-1970 adalah embrio musik rock yang mulai menyebar di Indonesia.

Mungkin merupakan dampak merebaknya pop culture dari Amerika dan Inggris lewat munculnya gerakan generasi bunga yang ingin mencuatkan pesan-pesan perdamaian lewat alunan musik dengan membawa idiom summer of love.

Dalam kurun waktu 1967-1970 muncul fenomenan pop culture terbesar yaitu Monterey Pop Festival pada 1967, Woodstock Festival di Amerika Serikat tahun 1969 dan Isle Of Wight di Inggris pada 1970.

Pada era 70-an merupakan era dari musik panggung karena pada era ini mulai banyak diselenggarakan konser-konser besar.

Pada hakikatnya menikmati dan mengekspresikan musik secara lengkap pada akhirnya di atas panggung pertunjukan.

Dalam sejarah musik panggung di Indonesia, tercatat beberapa peristiwa musik panggung yang fenomenal konser Summer 28 (singkatan suasana menjelang kemerdekaan RI ke-28).

Summer 28 adalah pergelaran musik hampir 12 jam di Indonesia, yang diselenggarakan Nyoo Han Siang dari perusahaan film Intercine Studio di Ragunan, Pasar Minggu, 16 dan 17 Agustus 1973.

Memasuki dasawarsa 1980-an musik Indonesia semakin berkembang, sementara jumlah perusahaan rekaman semakin tumbuh. Kualitas band dan pemusik Indonesia memperlihatkan grafis yang kian tinggi. Selain itu, kompetisi band terasa marak pada era ini.

Log Zhelebour Productions misalnya sejak tahun 1984 secara berkala menggelar festival rock se-Indonesia setiap tahunnya yang menghasilkan banyak band rock dengan kualitas terpuji seperti El Pamas yang terbentuk sekitar tahun 1983.

Tahun berikutnya, menjelang mengikuti festival rock yang digelar oleh Log Zhelebour mereka pun berganti haluan.

Pada Festival Rock Se-Indonesia ke-I versi Log Zhelebour tahun 1984. di Festival ini Elpamas mendapat juara ke-III dan LCC juara ke-II di tahun berikutnya yaitu tahun 1985.

Kemudian Andromeda salah satu group band yang beraliran rock berasal dari Surabaya yang pernah berjaya di negeri ini yang berdiri pada tahun 1989.

Sementara pada era 90-an ada catatan menarik ketika muncul gerakan musik independen atau yang lebih dikenal dengan musik indie.

Penggagasnya mencuat dari Bandung dengan konsep D.I.Y. atau Do It Yourself lewat band-band seperti PAS Band.

Pas Band berdiri secara resmi pada tahun 1990. Pada tahun 1993 grup yang terdiri dari Bengbeng (gitar), Trisno (Bass), Yukie (vokal) dan Richard Mutter (drum) ini merilis album EP berbendera indie label dengan debut, Four Through The Sap.

Hiruk-pikuk komunitas independen dalam bermusik ini memang semakin besar. Meskipun industri musik secara global tengah menghadapi keterpurukan secara kronis, mereka tak pernah bisa lepas dan melepaskan diri dari musik.

Dengan wawasan dan sudut pandang yang berbeda, produk indie label justru lebih disukai oleh para artis dan band dikarenakan mereka bisa jauh lebih bebas mengksplorasi dan berekspresi. Kiprah para pemusik indie ini justru kerap dilirik oleh para major label.

Continue Reading

CityView

Begini Sejarah Kepulauan Riau, Benarkah Milik Malaysia?

Published

on

Kepulauan Riau

Riau merupakan salah satu provinsi terbesar di pulau Sumatera dengan beragam kultur budaya khas melayu yang sangat kuat. Di provinsi ini, kekuatan sejarah dan akulturasi budaya menjadi ciri khas pembeda dengan provinsi lain. Berlokasi di tengah pulau Sumatera, Provinsi Riau kini menjadi salah satu kawasan paling strategis dengan percepatan pembangunan yang sangat baik.

Awalnya, Riau merupakan kawasan yang berada di Provinsi Sumatera Tengah bersama Sumatera Barat dan Jambi. Sayangnya, pemekaran kawasan tersebut tidak berdampak signifikan bagi pembangunan Riau di berbagai sektor. Hingga akhirnya masyarakat Riau berinisiatif mendirikan provinsi baru, dan melepaskan diri dari provinsi Sumatera Barat dan Jambi.

Gerakan tersebut dimulai dengan Kongres Pemuda Riau (KPR) I pada tanggal 17 Oktober 1954 di Kota Pekanbaru. Kongres pertama tersebut menjadi momen awal terbentuknya Badan Kongres Pemuda Riau (BKPR) pada tanggal 27 Desember 1954. Selanjutnya, perwakilan BKPR berinisiatif menemui Menteri Dalam Negeri untuk mewujudkan otonomi daerah sebagai provinsi mandiri. Langkah besar ini pun sangat didukung oleh segenap masyarakat Riau.

Baca Juga:

  1. Inilah 5 Gunung Terindah di Indonesia
  2. Desa Coal, Menikmati Sensasi Alam dan Budaya Desa yang Memanjakan Mata
  3. Tak Hanya di Mesir, Di Sudan Ternyata Ada Piramida Lho

Pada tanggal 25 Februari 1955, sidang pleno Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) Bengkalis merumuskan bahan-bahan konferensi Desentralisasi /DPRDS/ DPDS se-Indonesia yang diadakan di Bandung tanggal 10 hingga 14 Maret 1955. Keputusan konferensi tersebut menyatakan bahwa Riau sah menjadi provinsi mandiri terhitung sejak 7 Agustus 1957.

Awalnya, Riau merupakan kawasan yang berada di Provinsi Sumatera Tengah bersama Sumatera Barat dan Jambi. Sayangnya, pemekaran kawasan tersebut tidak berdampak signifikan bagi pembangunan Riau di berbagai sektor. Hingga akhirnya masyarakat Riau berinisiatif mendirikan provinsi baru, dan melepaskan diri dari provinsi Sumatera Barat dan Jambi.

Gerakan tersebut dimulai dengan Kongres Pemuda Riau (KPR) I pada tanggal 17 Oktober 1954 di Kota Pekanbaru. Kongres pertama tersebut menjadi momen awal terbentuknya Badan Kongres Pemuda Riau (BKPR) pada tanggal 27 Desember 1954. Selanjutnya, perwakilan BKPR berinisiatif menemui Menteri Dalam Negeri untuk mewujudkan otonomi daerah sebagai provinsi mandiri. Langkah besar ini pun sangat didukung oleh segenap masyarakat Riau.

Pada tanggal 25 Februari 1955, sidang pleno Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sementara (DPRDS) Bengkalis merumuskan bahan-bahan konferensi Desentralisasi /DPRDS/ DPDS se-Indonesia yang diadakan di Bandung tanggal 10 hingga 14 Maret 1955. Keputusan konferensi tersebut menyatakan bahwa Riau sah menjadi provinsi mandiri terhitung sejak 7 Agustus 1957.

Kepulauan Riau

Keputusan presiden No. 256/M/1958 pada tanggal 5 Maret 1958 telah dilantik Mr. S.M Amin sebagai Gubernur Kepala Daerah Provinsi Riau pertama. Pelantikan ini dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Depdagri, Mr. Sumarman mewakili Mendagri di Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Riau. Pengangkatan Mr. S.M Amin merupakan kompromi pemerintah pusat dengan berbagai pertimbangan, termasuk perihal putera daerah.

Dalam memangku tugasnya Mr. S.M Amin pertama kali membentuk Badan Penasihat Gubernur atau Kepala Daerah berdasarkan Keputusan Menteri dalam Negeri No.71/21/34 tanggal 9 Juni 1958. Pembentukan badan ini sebagai upaya untuk memenuhi ketentuan dalam ketentuan dalam keputusan Presiden Republik Indonesia No. 258 Tahun 1958 tanggal 27 Februari 1958 bahwa Gubernur atau Kepala Daerah Riau perlu didampingi oleh suatu Badan Penasihat.

Di sisi lain, Kepulauan Riau (disingkat Kepri) adalah sebuah provinsi yang ada di Indonesia. Provinsi Kepulauan Riau berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja di sebelah Utara; Malaysia dan provinsi Kalimantan Barat di sebelah Timur; provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi di Selatan; negara Singapura, Malaysia dan provinsi Riau di sebelah Barat. Provinsi ini termasuk provinsi kepulauan di Indonesia. Tahun 2020, penduduk Kepulauan Riau berjumlah 2.064.564 jiwa, dengan kepadatan 252 jiwa/km2, dan 58% penduduknya berada di kota Batam.

Secara keseluruhan wilayah Kepulauan Riau terdiri dari 5 kabupaten, dan 2 kota, 52 kecamatan serta 299 kelurahan/desa dengan jumlah 2.408 pulau besar, dan kecil yang 30% belum bernama, dan berpenduduk. Adapun luas wilayahnya sebesar 8.201,72 km², sekitar 96% merupakan lautan, dan hanya sekitar 4% daratan.

Kepulauan Riau merupakan provinsi baru hasil pemekaran dari provinsi Riau. Provinsi Kepulauan Riau terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 25 tahun 2002 merupakan provinsi ke-32 di Indonesia yang mencakup Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas dan Kabupaten Lingga.

Continue Reading

Trending