Connect with us

CityBoomer

Apriyani Rahayu, Srikandi Penyumbang Medali Emas Olimpiade

Published

on

Apriyanu Rahayu Atlet Cabang Bulutangkis (Source: wartakepri.com)

Apriyani Rahayu merupakan seorang atlet cabang bulu tangkis yang berhasil mendapat medali emas dalam pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 bersama pasangannya pada tim ganda putri Greysia Polii.

Wanita kelahiran 29 April 1998 ini mulai berlatih bulutangkis pada tahun 2011 di klub Pelita Bakrie. Kemudian, pada tahun 2015 Apriyani memutuskan untuk pindah ke klub Jaya Raya Jakarta.

Sebelum memperoleh medali emas dalam Olimpiade Tokyo 2020, beberapa kali atlet bulutangkis wanita ini pernah menyabet medali perunggu pada pertarungan Kejuaraan Dunia Junior tahun 2014 di Tiongkok dengan pasangan mainnya yaitu Rostya Eka Putri.

Baca Juga:

  1. Greysia Polli Berencana Pensiun Setelah Olimpiade 2020
  2. Nurul Akmal Berhasil Angkat Beban 256 kg di Olimpiade Tokyo 2020
  3. Anthony Ginting Gagal Raih Medali Emas untuk Indonesia

Selain itu, pada tahun 2015 Apriyani juga pernah bermain di ganda campuran dan berpasangan dengan Fachriza Abimanyu serta berhasil memperoleh medali perunggu dalam Kejuaraan Dunia pada tahun 2015.

Pada tahun 2017, barulah Apriyani Rahayu mulai dipasangkan oleh Greysia Polli dan mengikuti Kejuaraan Beregu Sudirman Cup 2017. Pasangan tim ganda putri ini berhasil mendapatkan gelar BWF Grand Prix Gold Thailand Terbuka pada tahun 2017. Selain itu, keduanya juga berhasil mendapatkan gelar BWF Super Series pertama di Prancis Terbuka Super Swiss.

Menurut BWF, kedua pasangan ini menduduki peringkat ke 6 tingkat dunia atlet terbaik dalam cabang bulutangkis. Wanita kelahiran Sulawesi Tenggara yang beragama Islam ini merupakan atlet bulutangkis wanita yang memiliki banyak prestasi. Jika Cityzen ingin mengenal Apriyani lebih dalam, anda bisa menghubungi laman Instagram pribadi miliknya di @r.apriyanig.

CityBoomer

Aeshnina Azzahra, Aktivis Sampah Cilik dari Gresik yang Kini Mendunia

Published

on

Aeshnina Azzahra
Aeshnina Azzahra

Nama Aeshnina Azzahra mendadak viral di dunia maya. Dia adalah pelajar sekolah menengah pertama (SMP) asal Gresik, Jawa Timur, yang menjadi aktivis lingkungan internasional.

Tak hanya itu saja Aeshnina bahkan diundang sebagai salah satu pembicara di Plastic Helath Summit 2021 di Amsterdam Belanda. Dia datang sebagai perwakilan ECOTON, organisasi konservasi lingkungan yang didirikan oleh ayahnya.

Tujuan ECOTON adalah berupaya untuk memulihkan lingkungan sungai yang tercemar di wilayah Gresik dan Surabaya, Jawa Timur.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Saat berkunjung ke Amsterdam Nina sempat mengunjungi sebuah fasilitas daur ulang plastik. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Nina menjelaskan tentang daur ulang sampah yang dilakukan fasilitas tersebut.

“Kemarin kami berkunjung ke plastic recycling center, satu-satunya di Amsterdam. Dari semua sampah yang dikirim ke sini, hanya 60% sampah plastik, samapah lain seperti kaleng, alumunium, kertas, tekstil, sachet (multilayer,” ujarnya dalam caption foto.

Beberapa waktu lalu, Nina juga sempat datang ke Inggris, bersamaan dengan pelaksanaan acara COP26, konferensi perubahan iklim oleh Persatuan Bangsa-bangsa.

Aeshnina Azzahra
Aeshnina Azzahra

Di sana Nina sempat melakukan aksi protes menolak kemasan sachet bersama Breakfree From Plastic dan Zero Waste Asia di kawasan Blue Zone.

Pemilik nama lengkap Aeshnina Azzahra Aqilani ini memiliki nilai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan karena hal tersebut telah ditanamkan orang tuanya sejak kecil.

Hal ini membuat Nina peka terhadap permasalahan lingkungan hidup seperti sampah, maupun sungai tercemar.

Aeshnina Azzahra
Aeshnina Azzahra

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya pada 2019, Nina bahkan mengikuti kampanye protes sampah plastik kemasan, antara lain sampah impor. Saat itu Nina berkirim surat ke empat kedutaan negara-negara yang sampahnya masuk Indonesia, yakni Amerika Serikat, Kanada, Jerman dan Australia.

Nama Nina juga pernah ramai dibincangkan saat mengirimkan surat protes tulisan tangannya kepada Presiden Amerika Serikat (AS) kala itu, Donald Trump. Surat tersebut dikirimkan melalui Konsulat Jenderal Amerika di Surabaya.

Nina mengatakan surat itu ditulisnya sebagai bentuk protes terhadap Amerika Serikat yang telah mengekspor sampah plastik yang terkontaminasi limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) secara ilegal ke Indonesia.

“Ini surat untuk Tuan Presiden Trump, agar tidak mengekspor sampahnya lagi di Indonesia. Kenapa kita harus terkena dampak, seharusnya mereka mengurus sampah mereka sendiri,” kata Nina.

Continue Reading

CityBoomer

Mengenal Sosok Dyota Marsudi, Anak Menlu Retno yang Jabat Dirut Bank Aladin Syariah

Published

on

Dyota Marsudi
Dyota Marsudi

Anak dari Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Dyota Marsudi, secara resmi menjabat sebagai Presiden Direktur PT Bank Aladin Syariah Tb.

Pria yang memiliki nama lengkap Dyota Mahottama Marsudi itu mengemban jabatan tersebut usai lulus dari tes keammpuan dan kepatutan yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Keputusan OJK itu tertuang dalam Keputusan Anggota Dewan Komisioner OJK Nomor KEP-166/D.03/2021 tertanggal 11 November 2021.

Dyota mengaku akan mendukung pengembangan inklusi keuangan di Indonesia lewat Bank Aladin Syariah yang memberikan layanan perbankan syariah.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Teknologi digital yang kami miliki memungkinkan masyarakat Indonesia mengakses layanan perbankan syariah di mana saja dengan mudah,” jelasnya dalam keterangan resmi.

Emiten berkode saham BANK itu, lanjut Dyota, berkomitmen memberikan layanan digital syariah dan memajukan ekonomi digital syariah agar bermanfaat bagi masyarakat.

“Kami mengucapkan terimakasih kepada para stakeholders yang mendukung kemajuan Bank Aladin Syariah hingga saat ini. Komitmen kami, memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat sebagai bank digital syariah pertama di Indonesia,” imbuh dia.

Terkait dengan perubahan nama Bank Net Syariah menjadi Bank Aladin Syariah, Dyota menyatakan perseroan melihat Aladin sebagai brand yang memenuhi kriteria ramah di telinga publik, mudah diingat, memiliki asosiasi yang positif namun tidak eksklusif bagi kalangan tertentu saja.

“Jika dilihat suku katanya, Aladin memiliki arti yang mendalam. Ala berarti dengan atau di atas, sedangkan Din berarti way of life atau faith,” jelasnya.

Dia menambahkan pergantian nama ini bukan sekadar proses merubah nama dan logo, melainkan juga sebuah transformasi diri menjadi bank yang lebih relevan, merangkul dan dekat kepada masyarakat masa kini melalui pendekatan digitalisasi.

Bank Aladin Syariah masih akan melanjutkan pengenalan nama, logo berikut tagline baru dalam acara peluncuran pada beberapa bulan ke depan.

Langkah ini menjadi salah satu upaya untuk lebih mendekatkan citra baru perseroan kepada nasabah dan masyarakat.

Selain Dyota, empat pejabat baru Bank Aladin Syariah yang disetujui dalam RUPSLB yaitu Presiden Komisaris (Independen) Nurdiaz Alvin Pattisahusiwa, yang sebelumnya menjabat sebagai President Director PT Mandiri Manajemen Investasi dari November 2017 hingga Maret 2021.

Dyota yang lahir di Palembang pada tahun 1989 ini adalah putra dari Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Dalam keterangan resmi yang dirilis Jumat, 9 April 2021, Dyota disebut sebelumnya memperoleh gelar Master in Business Administration dari INSEAD dan Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia.

Ia sebelumnya menjabat sebagai Management Consultant di Boston Consulting Group pada tahun 2011-2017. Ia juga pernah menjadi Co-Founder & COO di Happy5.co pada 2016-2018.

Tak hanya itu, ia juga pernah menjadi member of National Digital Transformation Committee di PPN/BAPENAS pada tahun 2019 dan merupakan Senior Executive Director of Investments di Vertex Ventures, Singapura pada tahun 2018 hingga 2021.

Continue Reading

CityBoomer

Mengenal 2 Sosok Srikandi Indonesia yang Masuk Daftar Pebisnis Perempuan Paling Berpengaruh di Asia Versi Forbes

Published

on

Tessa Wijaya
Tessa Wijaya

Indonesia tak pernah kehabisan insan yang piawai dalam mengelola bisnis. Bahkan kepiawaiannya itu tersohor hingga ke dunia internasional. Teranyar, dua srikandi Indonesia, Marina Budiman dan Tessa Wijaya, masuk kategori Asia’s Power Businesswomen atau pebisnis perempuan paling berpengaruh di Asia versi majalah Forbes.

Ya, selama ini dunia bisnis di Indonesia selalu didominasi oleh pria. Meski demikian, para srikandi Indonesia juga memiliki kepiawaian tak kalah hebat dalam mengelola bisnis dan tak bisa dipandang dengan sebelah mata.

Terbukti, di Indonesia sendiri nyatanya tidak sedikit perusahaan yang memiliki sederet perempuan tangguh dalam mengisi jajaran pucuk pimpinannya masing-masing.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Pada tahun 2019, ada dua nama yang mengisi jajaran tersebut yaitu Dian Siswarini yang merupakan President Director salah satu perusahaan telekomunikasi di tanah air, XL Axiata. Kemudian ada juga Anna Leonita yang merupakan pimpinan dari perusahaan Avrist Assurance.

Di tahun 2020, Dewi Muliaty yang merupakan pimpinan dari perusahaan kesehatan Prodia beserta Nabilah Alsagoff sebagai sosok yang mendirikan Doku Wallet, menjadi perempuan berikutnya yang mengisi daftar bergengsi tersebut.

Kini, tongkat estafet tersebut dipegang oleh Marina Budiman dan Tessa Wijaya. Marian Budiman merupakan pendiri sekaligus pimpinan komisaris DCI Indonesia.

DCI (Data Center Indonesia) merupakan salah satu perusahaan yang memegang peran penting dan menjadi pemain besar dalam sektor teknologi di tanah air. Pertama kali didirikan pada tahun 2011, DCI menjadi penyedia data center terkemuka di Indonesia yang menyediakan jasa aktivitas hosting dan aktivitas serupa seperti jasa pengolahan data, web-hosting, streaming, aplikasi hosting dan penyimpanan komputasi awan.

Marina Budiman
Marina Budiman

Jika menilik keberadaannya, DCI saat ini menjadi perusahaan pusat data Tier IV pertama di Asia Tenggara.

Terpilihnya Marina Budiman sebagai sosok pebisnis perempuan paling berpengaruh di Asia memang tidak terjadi tanpa alasan, hal tersebut ternyata mengacu kepada buah kesuksesan langkah korporasi DCI yang melakukan IPO pada awal tahun atau tepatnya bulan Januari 2021 lalu.

Mendirikan DCI bersama dengan enam orang rekannya, Marina diketahui merupakan sarjana di bidang keuangan dan ekonomi dari Universitas Toronto, kemudian mengawali kariernya dengan bekerja di Bank Bali.

Hal pertama yang membuat Marina menyadari pentingnya peran teknologi berawal saat ia menjadi bagian dalam proyek instalasi perangkat lunak di bank tempat dirinya bekerja pada tahun 1985, kesempatan tersebut yang disebut mendorong dirinya untuk mendirikan DCI.

“Itu adalah pertama kalinya saya mengetahui bagaimana teknologi membantu bisnis,” ujar Marina, mengutip Forbes.

Di sisi lain, Tessa Wijaya adalah sosok wanita pertama yang yang membuat sebuah perusahaan rintisan atau startup dapat mencapai status unicorn.

Tessa Wijaya
Tessa Wijaya

Tessa merupakan salah satu pendiri sekaligus sosok yang saat ini menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) di Xendit.

Sekilas informasi, Xendit merupakan startup fintech yang secara spesifik bergerak di bidang payment gateway yang berfokus menyediakan infrastruktur dan sistem untuk berbagai saluran pembayaran online agar lebih sederhana.

Secara lebih spesifik, Xendit dapat menerima pembayaran dari akun virtual, kartu kredit dan debit, eWallet, gerai retail seperti Alfamart Group dan Indomaret. Saat ini klien Xendit berasal dari berbagai lingkup mulai dari UMKM hingga beberapa pemain besar di sektor teknologi dalam kawasan Asia Tenggara, di antaranya Traveloka, Wise, Wish, dan Grab.

Di bawah kepemimpinan Tessa bersama tiga orang rekannya, Xendit telah secara resmi meraih gelar unicorn pada bulan September lalu dengan nilai valuasi lebih dari 1 miliar dolas AS.

Tidak ingin membawa pencapaian sebagai sosok wanita paling berpengaruh di dunia bisnis khususnya bidang teknologi seorang diri, sejak beberapa waktu ke belakang Tessa diketahui juga memprakarsai program Woman in Tech Indonesia, yaitu sebuah platform di mana pengusaha perempuan dan profesional teknologi saling berbagi pengalaman mereka dalam lokakarya dan forum digital.

Di samping itu, Tessa juga mengungkap bahwa sekitar 40 persen staf serta karyawan di Xendit diisi oleh kalangan perempuan.

Continue Reading

Trending