Connect with us

Nasional

Anies Baswedan Bakar Dupa di Vihara, Ini Penjelasan Tokoh Tionghoa

Published

on

Anies Baswedan Terlihat Bakar Dupa di Vihara – pontas.id

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menuai kecaman dari netizen karena terekam kamera sedang memasang dupa atau hio di Vihara Dharma Jaya Toasebio, Jakarta Barat, Minggu (5/9/2021).

Video tersebut tersebar di media sosial. Anies tampak memasang dupa yang sudah dibakar. Setelah dupa tersebut dipasangkan, Anies lalu mundur beberapa langkah ke belakang dan menghadap ke dupa yang terpasang selama beberapa detik.

Sikap Anies Baswedan tesebut dicibir oleh netizen karena dia dianggap melakukan berbagai cara demi Pilpres 2024 bahkan hingga yang bertentangan dengan akidah Islam.

Baca Juga:

  1. Kisah Cucu, Wanita Asal Bandung Yang Tidak Bisa Tidur Sejak 2014
  2. Puncak Berlakukan Ganjil-Genap Pekan Ini
  3. 5 Urutan Skincare Untuk Kulit Berminyak

Merespons hal tersebut, tokoh Tionghoa Liues Sungkharisma mengatakan, Anies Baswedan melakukan itu bukanlah untuk menyembah atau sembahyang. Ia datang berkunjung ke Vihara dengan kapasitas sebagai Gubernur.

“Bukan baru kali ini Anies datang ke Vihara atau rumah ibadah agama lain. Sebelumnnya dia juga pernah datang ke gereja dan pura dan Anies tidak datang untuk beribadah, tapi dalam kapasitasnya sebagai gubernur Jakarta yang penduduknya terdiri dari berbagai suku dan agama,” ujar Lieus, Sabtu (7/9/2021).

Kemudian, Lieus menerangkan kedatangan Anies ke Vihara sebagai bentuk apresiasi Pemprov DKI Jakarta karena pegurus Vihara  berperan dalam menyukseskan vaksinasi di Jakarta.

“Kedatangan Anies adalah utuk menyampaikan terima kasih kepada pihak pengurus Vihara karena telah turut membantu menyukseskan kegiatan vaksinasi di Ibukota hingga warga di jakarta dapat mencapai herd immunity,” sambungnya.

Anies Baswedan di Vihara Dharma Jaya Toasebio – fin.co.id

Ritual agama di Vihara senderi (klenteng) menurut Lieus terdiri atas tiga unsur utama yang harus dipenuhi untuk bisa sembahyang.

“Yakni pembakaran dupa, kertas emas, dan lilin. Ketiga ritual itu wajib dilakukan dalam sembahyang di Vihara maupun klenteng,” kata Lieus.

Lieus juga menjeleskan bahwa Anies tidak melakukan ketiga hal tersebut. Ia hanya membakar dan memasang dupa (hio) lalu memberi hormat.

“Jadi apa yang dilakukannya tak memenuhi syarat untuk disebut sebagai rital sembahyang. Itu hanya bentuk penghormatan saja,” tegasnya.

Nasional

Sopir Bus Tabrak Pengguna Jalan Hingga Tewas, TransJakarta Justru Salahkan Penerangan Jalan

Published

on

Kecelakaan Transjakarta

Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan bus Transjakarta kembali terjadi. Pejalan kaki berinisial RH meninggal dunia usai ditabrak bus Transjakarta di di jalan Raya Taman Marga Satwa Raya Gotong, dekat SMK 57, Jakarta Selatan, Senin (7/12/2021) malam.

Terkait kecelakaan tersebut, Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas Transjakarta Angelina Betris menyatakan bahwa kecelakaan itu disebabkan minimnya penerangan lampu jalan di kawasan itu.

“Buruknya penerangan jalan di lokasi tersebut menjadi salah satu faktor atas kecelakaan,” ujar Betris kepada wartawan, Selasa (7/12/2021).

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Saat itu, mendadak ada seorang pejalan kaki yang tiba-tiba menyebrang lewat jalur Transjakarta atau busway. Karena kondisi penerangan yang buruk, pramudi bus telat menyadarinya.

khirnya, RH langsung tertabrak bus dan tewas di tempat.

“Pejalan kaki menyeberang secara tiba-tiba melalui sela-sela pagar pembatas ketika bus melintas di jalur Transjakarta setelah halte SMK 57,” kata Betris.

Karena itu, ia menyayangkan sikap pejalan kaki yang lebih memilih untuk menerobos celah pagar demi menyebrang jalan. Padahal, tak jauh dari lokasi ada jembatan penyeberangan orang (JPO) yang lebih aman.

Karena itu, ia pun menyebut pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan Dinas Bina Marga untuk menyediakan fasilitas yang lebih layak di lokasi.

Misalnya, seperti lampu penerangan, pita penggaduh untuk mengurangi kecepatan, dan juga menyediakan penyeberangan yang lebih aman.

Continue Reading

Nasional

Istana Beberkan Alasan Utama Pemerintah Batalkan PPKM Level 3 Selama Libur Natal & Tahun Baru

Published

on

Moeldoko
Moeldoko

Pemerintah Pusat memutuskan untuk membatalkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 di seluruh Indonesia selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Terkait hal itu, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko, mengatakan hal ini sebagai bentuk kebijakan gas dan rem Presiden Joko Widodo dalam menangani pandemi Covid-19.

Kebijakan injak gas dan rem ini, menurut Moeldoko, idealnya harus disesuaikan dengan perkembangan data terkait penyebaran Covid-19.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Untuk itu gas dan rem harus dilakukan secara dinamis sesuai dengan perkembangan Covid-19 di hari-hari terakhir,” kata Moeldoko dalam keterangan tertulisnya, Selasa (7/12/2021).

Menurut Moeldoko, pemerintah memutuskan untuk menerapkan kebijakan yang lebih proporsional saat Nataru, yakni tetap mengikuti asesmen situasi pandemi sesuai ketentuan yang berlaku saat ini, tapi dengan beberapa pengetatan.

Keputusan berdasarkan capaian vaksinasi dosis pertama di Jawa-Bali yang sudah mencapai 76 persen dan dosis kedua yang mendekati 56 persen. Sementara, vaksinasi lansia terus digenjot hingga saat ini mencapai 64 dan 42 persen untuk dosis 1 dan 2 di Jawa-Bali.

Menurut Moeldoko, meskipun PPKM level 3 batal diterapkan di semua daerah saat Nataru, pemerintah tetap akan menerapkan sejumlah pembatasan.

“Untuk acara-acara kerumunan masyarakat yang diizinkan maksimal berjumlah maksimal 50 orang, pertandingan olahraga tetap tidak boleh tanpa penonton, dan operasional pusat perbelanjaan, restoran, bioskop juga dibatasi hanya 75 persen,” terang Moeldoko.

Selain itu, pelaku perjalanan jarak jauh wajib menunjukkan hasil tes negatif Covid-19, baik melalui PCR atau antigen.

“Jadi Presiden satu sisi memberikan kelonggaran, tapi pada sisi yang lain memberikan penekanan atas protokol kesehatan,” ujarnya.

Continue Reading

Nasional

Curhat Warga yang Jadi Korban Erupsi Gunung Semeru ke Jokowi: Ibu Saya Meninggal Pak

Published

on

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), hari ini, Selasa (7/12/2021), mengunjungi korban erupsi Gunung Semeru, Jawa Timur. Ada seorang warga Lumajang, yang bercerita kepada Jokowi bahwa ibunya meninggal dunia saat erupsi Gunung Semeru.

Sang pria yang tak diketahui namanya itu mendekati Jokowi dan kemudian merekam pembicaraan mereka dengan menggunakan ponsel. Dia kemudian menceritakan kisah pilu yang menimpa ibundanya.

“Pak, salam, Pak,” ucap pria tersebut dalam video yang diunggah kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Jokowi pun menoleh. Lalu, ia mendengarkan ucapan sang pria tersebut.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Sudah jadi korban ibu saya, Pak, meninggal juga,” ucap pria itu.

Jokowi sempat terdiam. Mantan Wali Kota Solo itu menanggapi cerita warga dengan doa.

“Nggih, innalillahi,” ujar Jokowi halus.

Dalam kunjungan tersebut, Jokowi juga membawa sejumlah bantuan. Ia membagikan makanan ayam goreng cepat saji untuk para pengungsi.

Jokowi membagikan satu per satu kotak makanan kepada warga. Warga mengantre untuk mendapat bantuan Jokowi. Beberapa anak kecil terlihat menerima langsung makanan dari Kepala Negara.

Jokowi juga menyatakan pemerintah saat ini fokus membantu korban erupsi Gunung Semeru. Setelah keadaan membaik, pemerintah akan merelokasi warga terdampak bencana.

“Kemungkinan relokasi dari tempat-tempat yang kita perkirakan berbahaya untuk dihuni kembali. Tadi saya dapat laporan kurang lebih 2.000-an rumah,” demikian Jokowi.

Continue Reading

Trending