Connect with us

Culture

Angklung, UNESCO Bisa Cabut Statusnya sebagai Warisan Budaya Asal Indonesia

Published

on

Ilustrasi Alkat Musik Angklung/Ist

Ilustrasi Alkat Musik Angklung/Ist

Angklung harus dipandang sebagai budaya konvensional tradisional masyarakat Sunda, bukan hanya sebagai kesenian tradisional berikut nilai ekonominya.

Untuk menyelamatkan angklung sebagai warisan budaya takbenda kemanusiaan (representative list of intangible cultural heritage of humanity), harus dilakukan perlindungan, pemeliharaan, promosi, dan regenerasi.

Baca Juga: 6 Fakta Menarik Tarian Tradisional Boneka Mistis dari Samosir Sigale-Gale

Guru Besar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Prof. Dr. Arthur S Nalan mengungkapkan, selama ini kehadiran angklung lebih banyak dipandang sebagai salah satu bentuk kesenian tradisional ketimbang bagian dari kehidupan atau budaya Sunda.

“Karena pandangan angklung sebagai kesenian, bukan sebagai budaya konvensional tradisional yang sarat nilai, jadi hanya dianggap sarana hiburan,” ujarnya pada Sawala Budaya Angklung Budaya Sunda di Bandung, kemarin.

Karena minimnya pengetahuan akan angklung sebagai budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, menurut Arthur, sudah waktunya pemerintah, akademisi, dan pelaku seni mendokumentasikan angklung sebagai budaya asli Sunda.

”Jangan sampai seperti pencak silat, saat ini lebih dikenal sebagai bela dirinya ketimbang budaya tradisional yang sarat nilai dalam setiap gerakannya,” ujar Arthur.

Sependapat dengan Arthur, Direktur Saung Angklung Udjo, Taufik Hidayat Udjo mengatakan bahwa sebagai budaya yang sarat nilai, angklung harus diselamatkan.

“Sebagaimana yang disyaratkan UNESCO yang menjadikan angklung warisan budaya takbenda kemanusiaan karena sebagai budaya yang kaya akan nilai-nilai filosofinya, bukan sebagai kesenian,” katanya.

Karena pandangan pemerintah—sebagai pengambil kebijakan—atau sebagian besar masyarakat terhadap angklung, Taufik khawatir, nilai-nilai yang terkandung dalam angklung makin tidak dikenal. Suatu saat, UNESCO bisa mencabut status angklung sebagai warisan budaya takbenda kemanusiaan.

Baca Juga: Wayang Kulit, Jadi Aset Budaya Nasional dan Refleksi Kehidupan

”UNESCO sudah mengisyaratkan bahwa angklung akan tetap menjadi warisan budaya dunia asal Indonesia bila angklung masih terlindungi, terpelihara, terpromosikan, dan teregenerasikan,” ujar Taufik.

Bambunya langka, senimannya juga

Rahmat, seniman angklung, mengungkapkan bahwa pendokumentasian dan penyelamatan angklung sebagai budaya tradisional Sunda berikut menyelamatkan status yang diberikan UNESCO tidak ada artinya bila bambu bahan baku angklung serta pembuatnya tidak ikut diselamatkan.

”Saat ini, untuk mencari bambu hitam, apus, surat, atau gombong yang jadi bahan baku angklung sudah sangat sulit. Karena sulitnya, pembuat angklung pun makin berkurang,” katanya.

Terhadap kondisi angklung, baik sebagai seni maupun budaya tradisional masyarakat Sunda, seniman senior, Yoyo C. Durachman menyoroti kebijakan yang diambil pemerintah sebagai fasilitator.

Baca Juga: Tari Serimpi, Tarian Mimpi Sebagai Bentuk Perlawanan Terhadap Penjajah

”Saat ini, makin minim kegiatan yang diselenggarakan maupun fasilitasi pemerintah sehingga pelaku seni harus berusaha sendiri. Kalau sikap pemerintah kita masih seperti ini, pelaku seni akan kelelahan,” tuturnya.

Culture

Aksi Suporter Jepang Patut Di Acungi Jempol

Published

on

Jepang lawan Kroasia (liputan6)

Jepang lawan Kroasia (liputan6)

mycity.co.id Awalnya Jepang sudah menang melawan Kroasisa di babak 1 lewat Daizen Maeda di menit 43. Namun, Kroasia membalas skor tersebut dengan cepat lewat gol Ivan Pericis di menit 55. Sampai extra time kedua tim masih kuat dengan skor 1-1. Akhirnya, Jepang pun kalah adu penalti dengan skor 1-3.

Kekalahan Timnas Jepang membuat pemain dan para suporter  Jepang menangis pada laga itu. Pelatih Timnas Jepang Hajime Moriyasu dan para pemainnya melakukan ojigi kepada supporter jepang.

“Kami bermain selama 120 menit dan mereka mengonversi penalti dengan sangat berani. Saya ingin berterima kasih atas usaha mereka, mereka berusaha di bawah banyak tekanan,” kata Moriyasu melansir reuters, Senin (6 Desember 2022)

“Tentu kami ingin menang dan hasilnya sangat disayangkan. Kami tidak bisa lolos ke babak delapan besar, tapi para pemain mampu menunjukkan generasi baru sepak bola Jepang,” lanjutnya

Para pemain dan pelatih mendapatkan tepuk tangan dan tangisan haru dari suporter Jepang.

Kalah dan menang sudah biasa dalam pertandingan Sepak Bola. Namun, yang sangat menarik perhatian adalah perilaku suporter Jepang yang tidak bisa ditemukan di kalangan suporter sepak bola di negara lain. Suporter Jepang membersihkan stadion dan mengumpulkan sampah dari stadion setelah pertandingan selesai.

Bahkan, para anggota dan ofisial timnas Jepang pun mengikuti, meninggalkan ruang ganti dengan bersih dan rapi. Tak lupa mereka meninggalkan kenangan di lemari berupa ucapan terima kasih dan lipatan origami yang cantik.

Jepang dikenal dengan kedisiplinan dan kesopanannya, sampai-sampai hal itu dilakukan saat Liga Piala Dunia 2022.

Banyak sekali hal-hal yang kita pelajari dari suporter dan pelatih Timnas Jepang saat Jepang kalah melawan Kroasia. Mulai dari pelatih yang melakukan ojigi dan para suporter yang masih membersihkan lapangan walaupun jepang kalah. Budaya ini patut di contoh pada suporter Indonesia.

 

Continue Reading

Culture

Kenalan Yuk Sama Sistem Kepercayaan Shinto

Published

on

Jinja merupakan kuil Shinto tempat pemujaan para Dewa. foto: Pinterest.

Jinja merupakan kuil Shinto tempat pemujaan para Dewa. foto: Pinterest.

mycity.co.id – Kebanyakan orang sudah tak asing lagi dengan sistem kepercayaan Shinto. Anime menjadi salah satu budaya populer yang mengambil perananan penting terhadap sistem kebudayaan Jepang. Sebut saja anime Kimi no Nawa, Noragami, dan Tenki no Ko.

Ketiga anime tersebut menyisipkan sistem yang dipercaya orang Jepang. Lewat visual dan alur cerita yang ditampilkan, kita mendapatkan informasi seperti apa Shinto itu.

Menurut bangsa Jepang, Shinto merupakan kepercayaan warisan nenek moyang yang telah ada sejak berabad-abad lalu. Sistem kepercayaan Shinto bermula dari sebuah faham serba jiwa (animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam yang ada.

Makanya, kebanyakan orang Jepang cendrung mengagumi alam dan Objek-objek tertentu. Hal inilah yang mengindikasikan sistem kepercayaan Shinto sebagai sarana untuk menyembah segala hal yang mereka yakini.

Jika dilihat sekilas, Shinto hampir sama dengan agama Buddha. Ada beberapa aspek yang menyerupai agama tersebut. Upacaranya, pemujaan, kuil, simbol dan lain-lain. Terkadang seseorang yang memiliki sistem kepercayaan Shinto juga ikut menyembah sang Buddha.

Nama shinto diambil dari salah satu kitab berisi rentetan persitiwa paling tua di Jepang. Kitab itu berjudul ‘Nihon Shoki/ Nihongi’ yang ditulis sejak tahun 720 M.

Kitab Nihonshiki berisi berbagai macam hal dari mulai sejarah, geografi, kondisi sosial, mitos hingga kepercayaan. Kitab tersebut merupakan bukti tulisan tertua yang menyebut kata ‘Shinto’.

Shinto diambil dari bahasa China ‘shin’ yang berarti Kami (Dewa) dan ‘to’ yang berarti jalan. Jadi, jika kedua kata itu digabungkan menjadi ‘jalan para Kami/Dewa’.

Kata ‘Kami’ bila diterjemahkan ke dalam bahasa asing menjadi Dewa dan Dewi atau Tuhan. Namun, sebenarnya ‘Kami’ memiliki makna untuk segala sesuatu yang dijadikan objek pernghormatan dan do’a mereka. Menurut kepercayaan Shinto Kami ini lebih ditujukan pada Roh-roh spiritual atau roh-roh alam dan roh-roh hidup.

Roh-roh spritual berasal dari bangsa jin. Roh-roh alam meliputi pepohonan, batu, sungai dan lain-lain, sementara roh hidup adalah manusia dan hewan. Mungkin dari kita ada yang belum tahu, bahwa orang Jepang sangat menuruti perintah dan titah dari kaisarnya.

Yap, itu karena mereka percaya bahwa Kaisar yang memerintah saat ini merupakan keturunan dari Dewa dan Dewi. Oleh karena itu, masyarakat Jepang sangat patuh pada pemimpinnya.

Kaisar Merupakan Keturunan Kami

Berawal dari mitologi Shinto terbentuknya negara Jepang. Dewa Izanagi dan Izanami yang menciptakan kepulauan Jepang merupakan kaisar pertama. Lalu, mereka memiliki anak perempuan, seorang Dewi Matahari yang paling dihormati bernama Dewi Amaterasu.

Nah, keterunan Dewi amaterasu inilah disebut sebagai Jinmu. Menurut ceritanya, Jinmu mewarisi kekuatan magis dan harta suci dari Kami dan melakukan tugas mempersatukan Kepulauan Jepang.

Dipercaya bahwa kaisar yang memerintah kekaisaran Jepang merupakan keturnan-keturunan dari jinmu. Berbeda dari kepercayaan lain, Dewa dan Dewi Shinto tidak semuanya memiliki kekuatan. Namun, Dewa dan Dewi tersebut dipercaya membawa keberuntungan dan perlindungan.

Bukan cuman dari kaisar saja, ada pula tokoh samurai terkenal bernama Tokugawa Ieyasu dianggap menjadi dewa. Hal itu dikarenakan pengaruhnya yang besar terhadap perdamaian selama 200 tahun di Jepang. Jasadnya dan para tentara yang lain diabadikan dalam kuil Nikko Toshogu. Menurut tradisi, Ieyasu menjadi Kami (dewa Jepang) karena ia mengawasi pulau-pulau Jepang dari timur. ia juga disimbolkan sebagai pahlawan melawan ketidakadilan.

Kuil Tempat Singgah Para Kami yang Dipuja

Kuil shinto disebut dengan Jinja. Pada awalnya, Jinja hanyalah himorogi (altar/tempat persegi untuk bersemayam). Tempat ini biasanya digunakan untuk pemujaan alam.

Umumnya pemujaan alam dilakukan di area pegunungan di mana para Kami tinggal. Namun, lambat laun himorogi menjadi sebuah kuil akibat pengaruh Buddhanisme dan konfusianisme yang datang ke Jepang.

Hal yang paling mencolok yang menandakan bahwa itu kuil Shinto adalah Torii. Torii merupakn gerbang merah yang terbuat dari kayu atau batu. Torii dipercaya oleh masyarakatnya merupakan batas antara dunia manusia dan tempat para Kami bersemayam.

Ketika seseorang berjalan melewati gerbang torii, mereka dianggap sebagai salah satu bentuk persucian sebelum memasuki kuil. Pensucian merupakan fungsi utama dalam kepercayaan Shinto, selayaknya muslim yang melakukan wudhu sebelum sholat.

Saat ini, orang-orang mengunjungi kuil Shinto atas kemauan mereka sendiri tetapi biasanya melakukannya pada acara-acara ritus (ritual khusus) dan festival, mencari berkah dari Kami.

Continue Reading

Culture

7 Tradisi Unik di Indonesia, Ada Bakar Batu-Batu-kerik Gigi

Published

on

Tari tradisional Gayo. (Shutterstock/Muhammad Ridwan Harahab)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang kaya akan suku, etnis, dan kepercayaan. Dari ujung barat sampai ke ujung timur, Indonesia memiliki beragam tradisi yang masih dijaga hingga sekarang

Bahkan, sejumlah daerah memiliki tradisi-tradisi yang unik. Tradisi dan adat istiadat menjadi kebanggaan bagi bangsa Indonesia.

Melansir dari buku 100 Tradisi Unik di Indonesia karya Fatiharifah, berikut sejumlah tradisi yang ada di Indonesia.

7 Tradisi Unik yang Ada di Indonesia

1. Tradisi Bakar Batu dari Papua

Tradisi bakar batu ini merupakan salah satu ritual yang terbilang unik di Papua. Biasanya tradisi bakar batu dilakukan oleh suku pedalaman Papua dengan nama yang berbeda-beda.

Ritual ini memasak dengan menggunakan batu yang panas sekali. Beberapa suku yang masih menerapkan tradisi bakar batu adalah Lembah Baliem, Paniai, Nabire, Pegunungan Tengah, Pegunungan Bintang, Jayawijaya, dan lain sebagainya.

Batu-batu itu dibakar sampai panas hingga berubah warna menjadi merah membara. Selama menunggu batu panas, warga menggali lubang yang dalam dan memberi daun pisang untuk alang-alang di dasarnya. Batu panas nantinya diletakkan di dasar lubang, lalu di atas batu tersebut ditumpuk daun pisang dan diletakkan daging babi.

Tradisi bakar batu merupakan wujud syukur, bersilaturahmi antar saudara dan kerabat, menyambut kebahagiaan seperti perkawinan, kelahiran, penobatan, hingga menyambut tamu.

2. Balimau Kasai dari Riau

Tradisi unik selanjutnya adalah balimau kasai dari Riau. Tradisi ini biasa diterapkan menjelang bulan Ramadan. Balimau berarti mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk khusus seperti jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas.

Sementara itu, kasai artinya wewangian yang dipakai saat berkeramas. Kasai dipercaya dapat mengusir rasa dengki yang ada di kepala.

Tradisi tersebut berasal dari penduduk Sungai Gangga (India) yang menyucikan diri di sungai agar dosa-dosa mereka hilang bersama aliran sungai. Balimau Kasai berkembang di Indonesia, terutama di Kampar ketika agama Hindu menyebar.

Namun, setelah masuknya budaya Islam tradisi ini masih kerap ditemui dengan tujuan menyambut bulan Ramadan. Balimau Kasai juga disebut sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan memasuki bulan Ramadan.

3. Kerik Gigi dari Suku Mentawai

Ritual kerik gigi dilakukan oleh masyarakat suku Mentawai, Sumatera Barat. Wanita suku Mentawai harus meruncingkan atau mengerik gigi mereka. Gigi yang runcing menjadi simbol kecantikan wanita di daerah sana.

Selain sebagai simbol kecantikan, tradisi ini juga bertujuan untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Prosesinya sendiri cukup menyakitkan.

Ketua adat melakukan hal ini tanpa pemberian bius terlebih dahulu. Alat yang digunakan adalah besi atau kayu yang telah diasah. Kerik gigi membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Meski begitu, seiring perkembangan zaman tradisi mengerik gigi mulai ditinggalkan. Namun, tetap saja beberapa wanita melaksanakan tradisi ini, khususnya istri kepala desa.

4. Fahombo Batu dari Nias

Tradisi unik selanjutnya berasal dari Nias, Sumatera Utara dan hanya dilakukan oleh lelaki. Fahombo batu atau lompat batu menjadi salah satu ritual yang terkenal di sana.

Namun, tidak semua daerah di Nias memiliki tradisi ini. Salah satu yang masih melakukannya adalah di wilayah Teluk Dalam. Tradisi fahombo batu telah lama dilaksanakan, bahkan hingga berabad-abad dan secara turun-menurun.

Anak lelaki yang berumur tujuh tahun di Nias sudah berlatih lompat tali. Ketinggian tali tersebut akan bertambah seiring bertambahnya usia mereka. Nantinya, lelaki tersebut akan diminta melompati batu setinggi 2 meter dan lebar 60-90 cm.

5. Tabot dari Bengkulu

Tradisi tabot merupakan salah satu tradisi unik yang berasal dari Bengkulu. Tabot artinya kotak kayu atau peti yang berasal dari bahasa Arab.

Tabot dimaksudkan untuk mengenang kisah kepahlawanan Husein, cucu Rasulullah SAW yang gugur pada Perang Karbala tahun 681 M di bulan Muharram. Tradisi ini berasal dari pekerja yang membangun benteng Marlborough (1718-1719).

Mereka berasal dari India yang dipekerjakan oleh Inggris. Karena merasa cocok dengan keadaan di Bengkulu, mereka pun menetap dan menyelenggarakan tabot. Lambat laun tradisi tersebut mengalami perubahan, tidak untuk mengenang Husein, namun juga memenuhi wasiat leluhur.

6. Bakar Tongkang dari Riau

Di Riau ada yang namanya tradisi bakar tongkang. Masyarakat Tionghoa di Riau mengadakan ritual tersebut setiap bulan Juni.

Ritual tersebut dimaksudkan sebagai wujud syukur karena para leluhur berhasil membawa keluarganya menetap di perantauan hingga saat ini. Kapal tongkang diibaratkan sebagai kapal yang membawa leluhur mereka hingga ke Bagasiapiapi Riau.

7. Timba Laor dari Maluku

Tradisi selanjutnya adalah timba laor dari Maluku. Ritual menangkap cacing laut atau laor di pantai Namalatu, Desa Latuhalat, Ambon telah berlangsung selama ratusan tahun.

Kandungan protein dari cacing laut sangat tinggi dan dapat diolah menjadi berbagai makanan tradisional. Laor merupakan cacing laut yang muncul setahun sekali, tepatnya antara bulan Maret dan April.

Yang lebih uniknya, laor hanya muncul saat purnama pasang tertinggi dan hanya muncul di daerah pantai berkarang. Munculnya laor dipengaruhi oleh siklus Bulan dan Matahari.

Prosesi menangkap cacing laut dimulai dengan upacara adat. Nantinya, mereka menggunakan alat tangkap berupa nyiru atau kain kasa yang diikat pada sebatang kayu sebagai pegangan.

Continue Reading
Advertisement

Trending