Connect with us

Traveling

6 Destinasi Wisata Ciamik di IKN Nusantara

Published

on

Destinasi wisata IKN Nusantara
Destinasi wisata IKN Nusantara

Secara beretahap, Pemerintah sudah memulai pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Berlokasi di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, IKN Nusantara ternyata memiliki beragam destinasi wisata ciamik.

Kepala Disbudpar Kabupaten Penajam Paser Utara, Andi Israwati di Penajam mengatakan bahwa semua potensi wisata yang ada ingin dikembangkan untuk mendorong potensi wilayah sekitar dalam menyongsong pemindahan IKN.

“Kami melakukan persiapan untuk kembangkan objek wisata seiring pindahnya IKN,” ujarnya.

Baca Juga:

  1. Make Up ‘Nyebrang’ Sunburn Blush, Sempat Trending bikin Rias Wajah Makin Natural
  2. Sejarah Kayu Cendana, Primadona Aroma Segala Aroma
  3. Mudah! Ini Cara Buat Air Mawar Di Rumah

Ia memaparkan kabupaten Penajam Paser Utara memiliki sejumlah tempat wisata yang bisa mendukung IKN Nusantara, sebab daerah berjuluk “Benuo Taka” tersebut berdekatan dengan IKN.

Senada dengan Andi, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyatakan bahwa kementriannya sedang dalam tahap persiapan pengembangan wisata di IKN. Wisata alam dan budaya akan menjadi basis konsep wisata IKN.

“Kami sudah mulai susun dan siapkan, akan ada skema penganggarannya untuk pengembangan pariwisata berdasarkan eco-tourism,” ujarnya.

MyCity telah merangkum berbagai destinasi wisata indah yang ada di sekitar IKN Nusantara.

Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, Kutai Kartanegara

Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, Kutai Kartanegara

Bukit Soeharto dulunya merupakan kawasan tambang batu bara yang terletak di antara Kota Balikpapan dan Samarinda. Sebelum diakuisisi menjadi taman hutan raya, tempat ini dikuasai oleh RDR pada 1982 dan diserahkan ke gubernur yang akhirnya ditetapkan menjadi hutan lindung. Maka dari itu, di kawasan ini juga terdapat Hutan Pendidikan dan Pelatihan bukit Soeharto (HPPBS) Universitas Mulawarman.

Kawasan ini dipenuhi berbagai jenis flora dan fauna. Beruang madu, macan dahan, landak dan orang utan merupakan beberapa jenis fauna yang menghiasi bukit ini. Selain itu, terdapat pelayanan kesehatan, translokasi, dan reintroduksi orang utan ke habitat yang aman di tempat ini. Beberapa tanaman seperti kapur, kayu tahan, mahang, mengkungan, nyatoh dan lainnya juga tumbuh di Bukit Soeharto.

Pantai Tanjung Jumlai, Penajam Paser Utara

Pantai Tanjung Jumlai, Penajam Paser Utara

Pantai ini menjadi salah satu tempat dengan suasana tenang yang sangat cocok untuk melepaskan penat. Pohon kelapa serta tambak ikan milik warga setempat menghiasi sepanjang perjalanan menuju pesisir.

Berbagai kegiatan dan festival yang diselenggarakan di pantai ini juga menjadi daya tarik bagi para pengunjung, seperti acara pentas seni, family day, lomba layang-layang, juga festival band favorit. Pantai ini juga memiliki beberapa spot foto favorit, salah satunya adalah tumpukan batu dengan jejeran pohon kelapa. Aktivitas lainnya yang bisa dilakukan di pantai ini adalah melakukan olahraga air seperti banana boat atau flying fox dan berkemah.

Desa Budaya Pampang, Samarinda

Desa Budaya Pampang, Samarinda

Desa ini berisikan Suku Dayak yang berada di Pulau Kalimantan. Setelah bertahun-tahun hidup pindah tempat ke tempat untuk menyambung hidup, Suku Dayak Apokayan akhirnya memilih untuk menetap dan memutuskan untuk mulai melakukan kegiatan masyarakat pada umumnya, seperti gotong royong, panen raya, dan merayakan hari raya keagamaan. Pemerintah melihat bahwa desa tersebut memiliki kegiatan positif yang dapat dijadikan aset wisata unggulan, baik lokal maupun mancanegara.

Beberapa hiburan di desa ini adalah tarian tradisional khas Suku Dayak seperti Hudoq, Ajay Piling, Bangen Tawai, dan lainnya di Laman Adat Pamung Tawai, rumah adat Suku Dayak. Pengunjung juga dapat mengabadikan foto mengenakan pakaian sewaan adat khas Suku Dayak serta berfoto langsung dengan masyarakat Suku Dayak.

Taman Batu Bukit Sembinai, Paser

Taman Batu Bukit Sembinai, Paser

Bukit Sembinai merupakan salah satu wisata alam tersembunyi di Tana Paser. Sebagai pulau yang dahulu kala menjadi pusat pemerintahan beberapa kerajaan besar Indonesia seperti Kerajaan Kutai, mayoritas wilayahnya masih asri dengan hutan hujan tropis lebat yang mengelilinginya.

Lebatnya pepohonan dan air sungai yang jernih disuguhkan kepada pengunjung selama perjalanan menuju bukitnya. Untuk menikmati pemandangan indah dari atas Bukit Sembinai, pengunjung harus melalui perjalanan yang panjang melewati jalan berkelok dengan turunan dan tanjakan. Namun, semua usaha tersebut akan terbayarkan dengan pemandangan cantik nan asri di puncak bukit.

Selama perjalanan menuju puncak bukit, pemandangan yang disuguhkan tak kalah menarik. Sebelum sampai di bukit, akan ada gua besar bernama Haji Saini, tempat warga menyimpan harta seperti uang dan emas selama masa penjajahan. Selain itu, pengunjung akan melihat hamparan hutan hijau yang luas letak Kecamatan Batu Sopang. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di bukit ini adalah trekking, camping dan menyusuri gua.

Bukit Bangkirai, Kutai Kartanegara

Bukit Bangkirai, Kutai Kartanegara

Menurut Indonesia Kaya, Bukit Bangkirai dulunya merupakan kawasan hutan tropis alami yang pernah mengalami kebakaran hebat sebanyak dua kali karena musim kering panjang. Dua kejadian tersebut menyebabkan kemusnahan pada sebagian besar tumbuhan, namun terdapat sebagian kecil kawasan yang selamat berisikan kelompok pohon bangkirai. Maka dari itu, kawasan tersebut dilestarikan dan diolah untuk dijadikan taman rekreasi.

Selain berbagai flora dan fauna yang dapat dinikmati pengunjung di sana, Bukit Bangkirai memiliki jembatan kanopi yang terbentang di antara pohon-pohon raksasa tinggi menjulang sebagai daya tariknya. Dibangun oleh Canopy Construction Associated pada 1998, jembatan kanopi di Bukit Bangkirai menjadi yang terpanjang kedua di Asia, dan kedelapan di dunia.

Pulau Kumala, Kutai Kartanegara

Pulau Kumala, Kutai Kartanegara

Pulau Kumala dengan luas 76 hektare ini dahulu kala merupakan lahan tidur dan semak belukar. Terletak di tengah Sungai Mahakam, pulau tersebut kini menjadi taman rekreasi yang memadukan teknologi modern dan budaya tradisional.

Sebagian areanya kini telah lengkap dengan berbagai fasilitas seperti sky tower setinggi 100 meter, kereta api mini, serta kereta gantung. Pulau Kumala juga memiliki penginapan dengan kolam renang. Selain itu, pulau ini memiliki akuarium raksasa yang menjadi rumah bagi ikan pesut dan lumba-lumba air tawar.

Traveling

Pesona Desa Hilisimaetano Nias, Salah Satu Desa Wisata Terindah di Indonesia

Published

on

Desa Hilisimaetano

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, menganugerahkan Desa Hilisimateno menjadi Desa Wisata. Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 ini disambut hangat warga Desa Hilisimateno, Kecamatan Maniamolo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, Rabu (22/6/2022) petang.

Sandiaga Uno mengungkapkan ketakjubannya terhadap keindahan alam hingga kekayaan budaya lokal di Desa Hilisimaetano.

”Saya ucapkan selamat kepada Bapak Bupati yang telah bisa meningkatkan gairah ekonomi dalam tatanan ekonomi baru dengan Desa Wisata Hilisimaetano, tepuk tangan untuk kita semua,” ucap Sandi disambut riuh tepuk tangan warga Desa Hilisimaetano.

Baca Juga:

  1. Mahfud MD: Pemerintah Mulai Pindah ke IKN Juli 2024
  2. Sejarah Jakarta Selatan, Kota Administratif Terkaya di Jakarta
  3. Melihat Komunitas Sastra di Kota Bekasi

Menurutnya, hal tersebut dapat terlihat pada saat memasuki desa, terdapat Batu Megalitik yang menandakan pada zaman megalitikum masyarakat Nias menggunakan peralatan dari batu besar.

“Kemudian 50 rumah adat yang bangunannya masih terpelihara dengan baik. Namun sangat disayangkan, ada satu rumah adat tertua yang runtuh akibat dampak dari tsunami Aceh tahun 2004,” ujarnya.

Tidak hanya itu, sistem pemerintahan yang dijalankan masih mengikuti sistem adat di mana sistem kepemimpinan adat desa masih dipegang oleh Si’ulu atau Raja yang merupakan kaum bangsawan Nias.

“Kemudian, para cendikiawan atau yang disebut Si’ila berperan sebagai pemberi nasihat kepada bangsawan. Dan Sato atau Fa’abanuasa (masyarakat) yang terus bergotong-royong dalam menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa),” katanya.

Ketika mengunjungi desa wisata tersebut, pengunjung dapat melihat batu megalitik yang menjadi tanda bahwa pada zaman megalitikum masyarakat Nias menggunakan peralatan dari batu besar. Kemudian juga ada 50 bangunan rumah adat yang terpeliharan dengan baik, meski salah satu yang tertua runtuh akibat tsunami Aceh tahun 2004.

Desa Hilisimaetano

Keunikan lain dari desa ini adalah sistem pemerintahannya yang masih mengikuti adat. Sistem kepemimpinan desa masih dipegang oleh Si’ulu atau Raja yang merupakan kaum bangsawan Nias. Sementara itu Si’ila atau para cendekiawan berperan sebagai penasihat bangsawan. Dalam sistem ini, Dan Sato atau Fa’abanuasa (masyarakat) terus bergotong-royong dalam menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa).

Masyarakat desa ini juga punya tradisi kerajnan tangan yaitu membuat anyaman topi caping, pahatan, ukiran, dan pedang besi (manöfa) yang dulunya berfungsi sebagai alat perang. Pada zaman dahulu, ketika menang perang melawan musuh, maka kepala musuh akan disematkan di ujung sarung pedang.

Selain itu, Desa Hilisimaetano juga memiliki kawasan persawahan terbesar di Nias Selatan dan memiliki potensi besar untuk dijadikan daerah agrowisata.

“Sekarang kami sangat khawatir dengan adanya ancaman krisis pangan, krisis energi, tapi Nias Selatan ini khususnya di Desa Wisata Hilisimaetano justru memiliki potensi untuk bisa memiliki ketahanan pangan dan kemandirian energi ini bisa kita kembangkan ke depan,” ujar Sandiaga.

Untuk dikembangkan menjadi desa wisata berkelanjutan, Desa Hilisimaetano akan bebenah, mulai dari fasilitas toilet dan penginapan. Desa ini akan mengembangkan produk ekonomi kreatifnya agar lapangan kerja semakin terbuka dan meningkatkan penghasilan masyarakat.

“Kita akan memberikan pendampingan, pelatihan, kita akan ada peningkatan destinasi wisata lainnya, seperti toilet, begitupun dengan homestay karena di sini hanya ada satu, kita akan tingkatkan, juga kita ingin jadikan desa wisata ini sebagai tujuan wisata selagi ada WSL Pro, untuk membangkitkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Seperti yang sudah disebutkan, di Desa Hilisimaetano kita masih bisa melihat rumah adat Nias. Salah satunya adalah Oma Sebua, rumah tradisional yang dibangun di pusat desa khusus untuk kediaman para kepala negeri (tuhenori), kepala desa (salawa), atau kaum bangsawan.

Oma Sebua dibangun di atas tumpukan kayu uli besar dengan atap menjulang. Di budaya Nias dulunya sering terjadi perang antar desa sehingga desan rumah pun dibuat agar tahan terhadap serangan. Omo Sebua sendiri punya satu akses masuk lewat tangga sempit dengan pintu kecil. Omo Sebua juga terbukti tahan gempa karena pondasinya berdiri di atas lempengan batu besar dan balok diagonal.

Kemudian ada Omo Hada, yang dihuni masyarakat biasa. Rumahnya berbentuk persegi dengan pintu yang menghubungkan setiap rumah. Di Nias juga ada Osali, rumah yang dulunya dipakai secara khusus untuk menyimpan berhala.

Continue Reading

Traveling

Pesona Telaga Cicerem, Airnya Berwarna Biru

Published

on

By

Telaga Cicerem

Saat ini, Kabupaten Kuningan memiliki berbagai destinasi wisatanya yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya seperti Telaga Cicerem yang begitu banyak mengundang minat khalayak luas.

Bahkan tempat wisata yang satu ini diketahui begitu ramai dipadati pengunjung. Setiap mata wisatawan akan disuguhkan dengan jajaran pepohonan yang menjulang dan air terjun buatan, kala memasuki gerbang telaga.

Tak hanya itu saja, pengunjung akan semakin dimanjakan saat telah memasuki area telaga. Di mana beningnya air telaga dengan nuansa biru kehijauan tersaji di sana.

Bahkan, dari tepian telaga pun sampai dapat terlihat jelas ikan dewa dan kancra bodas yang berenang kesana kemari. Bagi para pengunjung juga turut disediakan spot foto yang keren oleh pihak pengelola.

Baca Juga:

  1. Ini Dia 5 Tempat Wisata Alam yang Ngehits di Batu Malang
  2. Pesona Gunung Merbabu, Sang Primadona Jawa Tengah
  3. Inilah 5 Gunung Terindah di Indonesia

Mereka bisa mengabadikan moment berayun diantara jernihnya telaga dengan pemandangan ikan-ikan di bawahnya. Sangat menarik bukan?

Selain itu, pengunjung yang ingin berenang di telah pun diperbolehkan. Namun, bagi kalian yang ingin tetap menikmati telaga tanpa berbasah-basahan bisa menaiki perahu dan juga bebek dayung yang telah disediakan.

Sementara itu untuk lokasinya sendiri, Telaga Biru Cicerem berada di kaki gunung Ciremai dengan ketinggian 315 mdpl. Tak ayal jika udara di tempat ini begitu sejuk atau adem.

Kalian yang ingin berkunjung ke tempat wisata menarik ini pun tak perlu khawatir soal tarifnya. Sebab, hanya denga mengeluarkan uang sebesar Rp 5.000 kalian sudah bisa menikmati pesona telaga yang airnya sebening kaca.

Continue Reading

Traveling

Indahnya Gunung Prau, Cocok untuk Pendaki Pemula

Published

on

By

Gunung Prau

Kini mendaki gunung telah menjadi kegemaran bagi banyak orang dari berbagai kelangan. Saat ini juga telah ada banyak gunung yang mudah untuk diakses pendaki pemula.

Salah satunya seperti Gunung Prau yang berlokasi di kabupaten wonosobo, jawa tengah yang cocok bagi mereka yang baru ingin mulai merasakan sensasi pendakian. Kawasan gunung yang satu ini mempunyai suhu yang begitu dingin. Hal ini dikarenakan letaknya yang berada di dataran tinggi Dieng.

Diketahui, via patakbanteng dan via dieng adalah nama jalur yang cukup terkenal bagi kalangan pendaki. Meski demikian, sebanarnya Gunung Prau memiliki sejumlah jalu pendakian yang lainnya.

Dikabarkan gunung ini sejak awal 2019 lalu telah ditambahkan beberapa fasilitas. Misalnya seperti sejumlah kursi untuk para pendaki duduk sambil menikmati keindahan pemandangn yang memanjakan mata.

Baca Juga:

  1. Ini Dia 5 Tempat Wisata Alam yang Ngehits di Batu Malang
  2. Mantap, Gunung Rinjani Segera Punya Kereta Gantung Terpanjang di Dunia
  3. Mantap, Gunung Rinjani Segera Punya Kereta Gantung Terpanjang di Dunia

Berbicara soal keindahan gunung ini memang tak ada habisnya. Itu mengapa jika akhir pekan, Gunung Prau sangat ramai oleh pengunjung yang datang. Bahkan saat ingin mendaki, wisatawan haru rela mengantri.

Sementara itu, untuk jarak tempuhnya dari basecamp, yakni sekitar 4 jam. Namun hal tersebut jika pendaki melalui jalur dengan cepat, sedangkan untuk pemula membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam.

Bagi kalian yang ingin menjajal pendakian di gunung ini tak perlu khawatir soal biaya. Karena untuk perorangnya hanya perlu mengeluarkan uang senilai 10 ribu saja, dan untuk parkir permotonya pun juga sebesar 10 ribu.

Continue Reading

Trending