Connect with us

CityView

5 Kendaraan Tradisional Indonesia yang Mulai Punah

Published

on

Indonesia memiliki banyak jenis transportasi mulai dari transfortasi darat, laut dan udara. Seiring berjalannya zaman banyak kendaraan yang semakin modern, khususnya kendaraan darat yang semakin modern seperti taksi online dan ojek online.

Namun sebelum adanya transportasi modern ini tercipta, ada banyak kendaraan tradisional yang sempat digemari pada masanya.

Baca Juga: Pejabat Dapat Kendaraan Dinas Mobil Listrik, Begini Titah Jokowi

Sayangnya transportasi tradisional tersebut sudah sangat jarang dijumpai di kalangan masyarakat. Beriku adalah kendaraan tradisional yang mulai punah:

1. Becak


Becak merupakan kendaraan beroda tiga dengan kursi didepan yang ditutupi oleh atap yang terbuat dari bahan agak keras.

Becak ini sangat terkenal di kalangan masyarakat Indonesia, kendaraan ini merupakan transportasi yang ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi. Awal becak disebut kendaraan Tenyata pencipta becak juga adalah orang Jepang bernama Tayoshi Seiko.

Baca Juga :  5 Tradisi Unik Idul Adha di Indonesia

Namun, sekarang becak sudah jarang ditemui karena dianggap merusak pemandangan kota serta terlalu banyak menguras tenaga.

Baca juga: Qatar Airways Tawarkan Pegalaman Unik Nobar Piala dunia 2022 di Atas Pesawat
2. Delman


Kendaran yang menggunakan kuda dengan kursi pemumpang berada di belakang ini masih lumayan banyak dijumpai khususnya di daerah pulau Jawa sebagai daya tarik parawisatawan.

Dulu banyak masyarakat yang menggunakan delman karena angkutan umum atau angkot yang masih jarang ditemukan.

Dasarnya delman memiliki roda dua yang berbahan dasar kayu untuk tempat duduk penumpang. Kendaraan ini mirip dengan kereta kencana atau kereta kuda. Kendaraan ini untuk sekarang hanya bisa dijumpai di kota Yogyakarta, Kuningan Padang dan Magelang.
3. Ojek Sepeda

Baca Juga :  Mengenal 6 Macam Motif Batik di Indonesia


Tidak hanya ojek motor yang dijadikan transportasi, sepeda pada masa itu juga dijadikan sebagai transportasi yang sangat menguntungkan.

Ojek sepeda biasanya digunakan untuk mengantarkan barang dan penumpang. Meskipun ojek sepeda ini rama lingkungan, namun keberadaan ojek sepeda tergantikan dengan ojek motor yang lebih menguntungkan bagi para penumpang karena waktu tempuh lebih cepat dibanding menggunakan sepeda.

4. Bemo


Pada tahun 1962 kendaraan ini banyak digunakan sebagai kendaraan utama bagi masyarakat Indonesia. Bemo biasa dijumpai di kota-kota yang padat penduduk. Bemo adalah singkatan dari “becak dan motor”, transpotasi ini mampu mengangkut 6 orang penumpang dewasa.

Kehadiran Bemo saat ini sudah jarang ditemui karena sebagian besar daerah melarang Bemo untuk peroperasai akibat populasi yang ditimbulkan. Serta menurut beberapa orang kendaraan ini dikhawatirkan akan keselamatan para penumpang.
5. Cidomo

Baca Juga :  Kurang Jam Terbang Jadi Faktor Utama Kegagalan Tim Uber Merah Putih


Yang terakhir ada Cidomo yang berasal dari Lombok dan Kepulauan Gili. Cidomo atau Cimodok adalah kendaraan tradisional yang menggunakan tenaga kuda untuk mengangkut penumpang.

Baca Juga: Mahasiswa Belanda Berhasil Bikin Mobil Listrik Penghisap Polusi

Sebenarnya kendaraan ini sekilas mirip dengan Delman, tetapi Delman terbuat dari kayu sedangkan Cimodo menggunakan roda bekas mobil untuk penggeraknya. Kapasitas kendaraan Cidomo hanya empat orang. Dua duduk di depan dan dua lagi berada di belakang. Namnun kecepatan kendaraan ini sangatlah lambat dan menyebabkan kemacetan di kota.

 

CityView

TPA Kebon Kongok Lombok Barat Melebihi Kapasitas

Published

on

Gunungan sampah di TPA Kebon Kongok, Lombok Barat. Foto: Radar Lombok.

Gunungan sampah di TPA Kebon Kongok, Lombok Barat. Foto: Radar Lombok.

mycity.co.id -Keindahanalamnya menjadikan Lombok sebagai destinasi wisata wajid dikunjungin bagi turis lokal maupun macanegara. Namun, dibalik keindahan alam, terdapat pula gunungan sampah di Pembuangan Akhir (TPA) Regional Kebon Kongok di Lombok Barat.

Bau tak sedap kerap kali muncul ketika musim penghujan, sampah yang lembab menyebabkan baunya semakin tercium jelas. Beban ideal untuk menampung sampah sebenarnya hanya 991.800 meter kubik sampah, tapi pada 2021 jumlah sampah melampaui batas ideal yang ditentukan.

Baca Juga :  Mendarat di Indonesia, Olga Vasyliv Kritik Panitia Miss Grand International 2022

Hal ini menjadikan sampah meluber hingga ke sungai dan banyak dikeluhkan masyarakat sekitar.Dilansir oleh lombok post pada (24/11/2022) lalu, masyarakat yang melakukan acara maulid nabi merasa tak nyaman dengan bau tersebut, hingga mengadukannya kepada Kepala Desa Perampuan HM Zubaidi.

Zubaidi mendapatkan kabar bahwa, sekarang ini sudah ada teknik mengurangi polusi udara akibat sampah yang berlebihan. Teknik ini sudah dilakukan oleh para peneliti melalui studi banding ke luar negeri. Namun, masih tak kunjung di aplikasikan.

Baca Juga :  Mengenal 6 Macam Motif Batik di Indonesia

Berkat banyaknya keluhan yang dilayangkan, tepat pada akhir November lalu dibangunlah pabrik tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di TPA Kebon Kongok, Desa Suka Makmur, Lombok Barat. Pada hari Kamis kemarin (1/12) Wakil Gubernur (Wagub) Nusa Tenggara Barat (NTB) Sitti Rohmi Djalilah mengunjungi lokasi pembangunan pabrik TPST untuk melihat sejauh mana pembangunan tersebut.

Rohmi sempat mengatakan kepada awak media bahwa, nantinya TPST tersebut akan mengurangi jumlah sampah mencapai 120 ton per-hari. Sampah yang diperoleh, akan diolah menjadi bahan bakar refused derived fuel (RDF) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pencampur batubara pada PLTU atau sebagai bahan bakar lainnya.

Baca Juga :  Pantai Kelingking Peringkat 1 Pantai Terindah di Dunia

Kemudian, menurut rencana bahan bakar RDF tersebut akan dijual kepada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jeranjang yang tidak jauh dari lokasi pabrik TPST. Dikabarkan anggaran untuk pembangunan TPST mencapai angka Rp30.552.000.000 yang diperoleh dari pinjaman dana bank dunia Indonesia Tourism Development Project (ITDP).

Continue Reading

CityView

Bagai Pisau Bermata Dua, Lombok Jadi Destinasi dan Punya Gunung Sampah

Published

on

Lombok jadi destinasi super prioritas tapi punya gunung sampah. Foto: CNBC

Lombok jadi destinasi super prioritas tapi punya gunung sampah. Foto: CNBC

mycity.co.id – Lombok merupakan salah satu destinasi pilihan pelancong baik domestik maupun mancanegara. Bahkan bisa dikatakan, Lombok menjadi surga di dunia wisata dan merupakan destinasi super prioritas nasional.

Lombok memiliki pantai, gili dan keindahan bawah laut yang memanjakan mata. Bahkan keramahan penduduk Lombok menjadi daya tarik para pelancong. Namun nyatanya, meski menjadi destinasi super prioritas, sampah di berbagai destinasi menjadi maslah baru.

Baca Juga :  Janji Jokowi untuk IKN: Future Job & Skill

Di mana sampah-sampah tersebut tidak dikelola dengan baik sehingga menjadi pisau bermata dua bagi Lombok yang terkenal dengan keindahannya. Bahkan belum lama ini viral gunung sampah neraka karena sampah yang tak terurus dan dibiarkan menumpuk.

Pada tahun 2021 saja, salah satu pantai yang ramai pengunjung di Lombok, Pantai Senggigi mampu menghasilkan 1,4 ton sampah per hari. Data Dinas Lingkungan Hidup Nusa Tenggara Barat (NTB) mengungkapkan produksi sampah di Provinsi NTB mencapai 3.388 ton per hari, Jumlah ini hampir setengah dari produksi sampah di Bantar Gebang, Bekasi yang menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terbesar di Asia Tenggara yakni 7.400 ton setiap harinya.

Baca Juga :  Ini Dia Profil Jembatan Malaka, Jembatan Penghubung Indonesia & Malaysia

Sebagai salah satu bentuk kepedulian, Yayasan Aksi Lestari Indonesia (Ddorocare) membuat suatu program agar masyarakat dan stakeholder dapat bersinergi dalam menangani masalah sampah di destinasi wisata melalui kegiatan Bersih-Bersih Pantai (BERANTAI).

Dikutip dari vivanews.com, BERANTAI dipilih sebagai nama kegiatan dengan melihat fakta bahwa permasalahan sampah merupakan sebuah mata rantai masalah yang saling berhubungan. Maka dari itu mengatasinya pun harus bersama-sama.

Baca Juga :  Indonesia Didapuk Sebagai Negara Paling Dermawan di Dunia

Sampah dari daratan yang berakhir di laut dan pantai membuat alam tercemar, ekosistem terganggu, menyebabkan krisis iklim, menghilangkan nilai estetika alam, dan berakibat pada perekonomian masyarakat yang bergantung pada sektor pariwisata menjadi tidak stabil.
Aksi BERANTAI ini dimulai dari Pantai Selong Belanak, Loang Baloq, Gading, Labuhan Haji, Tanjung Luar, Senggigi, Kecinan, Nipah, Sekotong, hingga di Pantai Kuta Mandalika sebagai penutup pada Minggu, 20 November 2022.

Continue Reading

CityView

Heru: Sodetan Ciliwung Selesai April 2023

Published

on

Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono, tinjau progres pengerjaan sodetan Ciliwung. Foto: Humas Pemprov DKI

Pj Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono, tinjau progres pengerjaan sodetan Ciliwung. Foto: Humas Pemprov DKI

mycity.co.id Banjir masih menjadi masalah yang terus dirasakan oleh masyarakat Jakarta. Hal ini membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membuat sodetan di Ciliwung.

Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono menyebutkan pengerjaan sodetan Kali Ciliwung akan selesai April 2023. Nantinya sodetan ini diharapkan dapat mengurangi dampak banjir di ibu kota.

Baca Juga :  PSSI Tunda Seluruh Kompetisi Hingga 2021

“Reduksi banjir itu sekitar 200 hektar. Ini fungsinya 60 meter kubik per detik reduksi, sehingga mudah-mudahan di sisi utara Jakarta mengurangi banjir,“ ujar Heru.

Meski sempat terhambat pengerjaan sodetan Ciliwung ini, Heru memastikan kini sudah berjalan dengan baik. Salah satunya adalah urusan pembebasan lahan yang sempat menjadi kendala penyelesaian sodetan Ciliwung ini.

Progres sodeten Ciliwung. Foto: Tempo

Progres sodeten Ciliwung. Foto: Tempo

Namun Heru mengatakan, bila masih ada pihak yang mengalami masalah sengketa lahan, Pemprov DKI Jakarta akan menempuh langkah konsinyasi.

Baca Juga :  Ini Dia Profil Jembatan Malaka, Jembatan Penghubung Indonesia & Malaysia

“Jika ada pihak-pihak yang bersengketa, sesuai aturan kami akan melakukan konsinyasi dan proyek tetap berjalan,” papar Heru.

Direktur SUngai dan Patai Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Bob Arthur Lobohia menjelaskan saat ini progres pembangunan sodetan Ciliwung mencapai 62 persen. Dia mengatakan bahwa kontrak pengerjaan sodetan Ciliwung sebenarnya sampai Agustus 2023.

Baca Juga :  MRT Jakarta Tanda Tangani MoU JPM Serambi Temu Dukuh Atas dengan BPAD

Namun ternyata, pengerjaannya dapat diselesaikan lebih cepat.

Bob mengatakan, salah satu kendala dalam proyek pembangunan Sodetan Ciliwung adalah masalah pembebasan lahan.

“Saya kira dalam pembangunan ini masalah pertamanya mengatur lahannya. Tapi berkat bantuan dari pemerintah daerah, kami sangat dibantu, sehingga masalah tanah tinggal tersisa yang satu di daerah outlet yang akan segera kami bebaskan,”ungkapnya.

Continue Reading
Advertisement

Trending