Connect with us

Histori

5 Gedung Legendaris Cikini, Tak Lekang Dimakan Waktu

Published

on

Kantor Pos Cikini

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana untuk menjadikan Cikini sebagai kawasan wisata urban. Alasan Cikini dijadikan daerah wisata urban karena masih memiliki banyak bangunon kuno yang masih bertahan hingga saat ini.

Bahkan Pemprov DKI berencana menghiasi kawasan Cikini dengan mural karya seniman yang ditargetkan rampung pada akhir 2021. Pendanaannya bersumber dari event management BWY.

Target ini juga memasukkan kawasan wisata Kota Tua, Glodok (China Town), Jatinegara, PIK, Pluit, Blok M, dan Senayan.

Memang, beberapa gedung tua yang berada di daerah Cikini sudah menghilang. Namun, ada beberapa gedung tua yang masih tersisa dan menjadi saksi perkembangan kawasan ini.

Berikut MyCity telah merangkum beberapa tempat legendaris yang ada di Cikini.

Kantor Pos Cikini

Kantor Pos Cikini

Kegiatan ini dimulai dengan mengunjungi Kantor Pos Cikini yang berdiri sejak zaman belanda. Dahulunya, kantor ini bernama Tjikini Post Kantoor.

Kantor Pos ini dibangun pada 1920 dan saat ini menjadi ikon utama Kawasan Cikini. Selain itu, Kantor Pos Cikini merupakan kantor pos pertama yang menerapkan pelayanan 24 jam.

Di sini pun masih banyak menyimpan koleksi-koleksi kartu pos sejak zaman Belanda. Sebagai salah satu upaya untuk mengenang kejayaan Kantor Pos.

Bakoel Koffie

Bakoel Koffie

Beberapa langkah dari Kantor Pos, terdapat kedai kopi yang didirikan oleh keluarga Liauw Tek Soen. Dia datang ke Batavia kemudian membangun warung nasi pada tahun 1870-an.

Warung nasi ini awalnya berdiri di daerah Molenvliet Oost (sekarang Jalan Hayam Wuruk 56-57 Jakarta Barat), di sisi timur Kanal Molenvliet. Pada masa itu, Molenvliet merupakan jalur transportasi dari Kota Tua ke Kota Baru (Weltevreden) di bagian selatan Batavia.

Saat itu Tek Soen sering berbelanja bahan untuk warungnya pada seorang ibu pedagang yang menggunakan bakul. Inilah cikal bakal dari munculnya nama Bakoel Koffie yang menjadi inspirasi usaha selama empat generasi.

Mereka mengawinkan kebudayaan Nusantara, kolonial Belanda, dan Tionghoa. Itu sebab penulisannya “koffie” (bahasa Belanda untuk kopi). Logo perempuan menyunggi bakul masih digunakan, tapi dalam bentuk lain, dan mengenakan kain panjang batik bermotif ikan, hewan yang diyakini masyarakat Tionghoa membawa keberuntungan.

Optik A. Kasoem

Optik A. Kasoem

Ada tempat bersejarah lain yaitu toko A. Kasoem atau memiliki nama asli Atjoem Kasoem. Dirinya merupakan pribumi pertama yang mendirikan pabrik kacamata di Indonesia, pabrik pertamanya terletak di Jalan Braga, Bandung.

Dia memutuskan untuk bersekolah tentang bisnis kacamata di Kurt Schlosser. Produk Kacamata milik A. Kasoem mulai dikenal sejak ia berkesempatan untuk menyediakan kacamata kepada para pejabat negara saat ibu kota Indonesia pindah ke Yogyakarta.

Pabrik kacamata pertamanya didirikan di kampung halamannya di Cileles, Jawa Barat dan diresmikan oleh Wakil Presiden kedua Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Usaha keluarga Kasoem kemudian bukan hanya kacamata, tapi juga merambah ke alat pendengaran. Kini keluarga Kasoem tak hanya ingin agar orang-orang Indonesia bisa melihat dengan jelas, tapi juga mendengar dengan jelas.

Rumah Tiket Ibu Dibjo

Rumah Tiket Ibu Dibjo

Di kawasan ini juga terdapat Rumah Ibu Dibjo yang begitu terkenal bagi pecinta konser era 1960-an. Rumah Ibu Dibjo memang dikenal sebagai tempat penjualan tiket-tiket pertunjukan.

Selain konser musik, ibu Dibjo juga menjual tiket film, pertandingan olahraga, dan lainnnya. Ia menjalani bisnisnya sejak 1963 di rumahnya.

Namun, saat ini rumah Ibu Dibjo sedang direnovasi, dan sedang pindah ke Jalan Ponorogo, Menteng. Mengikuti perkembangan zaman, saat ini Ibu Dibjo juga menjual tiketnya melalui website www.ibudibjo.com.

Rumah Hasyim Ning

Rumah Hasyim Ning

Hal yang begitu menyolok dari Jalan Cikini adalah rumah megah berwarna putih. Rumah dengan luas 1,5 hektare tersebut ternyata dimiliki oleh Masagus Nur Muhammad Hasyim Ning (Hasyim Ning), seorang pengusaha asal Minangkabau, Sumatra Barat yang lahir pada 1916.

Hasyim Ning kemudian mengembangkan usaha ke lini lain. Beberapa di antaranya adalah usaha ekspor-impor, kosmetik, bank, dan biro perjalanan. Dalam bisnis ekspor impor ia melakukan ekspor dan impor mobil, bahan rakitan mobil, sampai suku cadangnya.

Di bidang kosmetik, ia mendirikan pabrik kosmetik. Pendirian pabrik kosmetik dan bisnis lain yang dibangun Hasyim Ning sampai saat ini sudah mampu menyerap tak kurang dari 3.000 karyawan.

Selain menjalankan bisnisnya sendiri, Hasyim Ning juga dikenal sebagai salah seorang anggota dewan komisaris PT Jaya, Daha Motor, Jakarta Motor, Hotel Kemang, Asuransi Sriwijaya, PACTO, dan Central Commercial Bank.

Hasyim Ning juga mendirikan beberapa usaha lainnya, salah satunya adalah PT Bank Perniagaan Indonesia, yang kemudian hari dibeli oleh Lippo Bank (sekarang CIMB Niaga). Sampai saat ini, rumah Hasyim Ning masih dihuni oleh keluarganya dan sempat menjadi tempat syuting film legendaris yaitu Catatan Si Boy.

Advertisement

Histori

Candi Sambisari, Kemegahan yang Sempat Tertutup Letusan Gunung Merapi

Published

on

Candi Sambisari

Candi Sambisari merupakan salah satu candi yang ditemukan pada tahun 1996. Candi ini berada di Daerah Istimewa Yogyakarta tepatnya di Jl. Candi Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tak cuma lokasinya yang ada di bawah tanah, Candi Sambisari juga menarik karena ditemukan tak sengaja oleh seorang petani yang bernama Karyowinangun pada 1996. Waktu itu, dia sedang mencangkul di sawah miliknya dan tidak sengaja ujung cangkulnya membentur bagian candi hingga akhirnya para peneliti purbakala tertarik untuk menggalinya.

Dari hasil penelitian, Candi Sambisari merupakan candi Hindu yang dibangun pada abad kesembilan. Candi itu merupakan peninggalan kerajaan Mataram Kuno yakni pada masa pemerintahan Raja Rakai Garung.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Candi itu dipugar hingga selesai pada 23 Maret 1987 oleh direktur Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang waktu itu dipimpin oleh Prof. Dr. Haryati Soebadio.

Pada saat penggalian candi, ditemukan juga benda-benda lainnya. Di antaranya, perhiasan, tembikar, prasasti, dan cermin logam.

Candi Sambisari juga unik dengan hanya memiliki satu candi utama dan terdapat beberapa candi pendamping. Pada bagian sisi luarnya juga terdapat relung Patung Durga Mahisasiramardini, Ganesha, Agastya, Mahakala, dan Nandiswara.

Candi Sambisari
Candi Sambisari

Candi Sambisari merupakan candi Hindu beraliran Syiwa dan diperkirakan pembangunannya dilakukan pada awal abad ke-9 oleh Rakai Garung, Raja Mataram Hindu dari Wangsa Syailendra.

Salah satu keunikan dari candi ini lokasinya yang berada sekitar 6,5 meter di bawah permukaan tanah sehingga keberadaannya tidak nampak dari kejauhan. Setelah terkena dampak letusan Gunung Merapi, posisi Candi Sambisari menjadi lebih rendah dari permukaan tanah di sekelilingnya.

Bila mengunjungi candi ini, pengunjung bisa melihat bahwa Candi Sambisari terdiri dari satu candi utama dan tiga candi perwara. Candi utama memiliki tingga 7,5 meter sampai ke puncaknya. Di sana terdapat tangga menuju ke selasar yang dihiasi dengan pahatan sepasang kepala naga.

Candi Sambisari
Candi Sambisari

Pun terdapat batu-batu dengan pahatan Gana posisi jongkok dengan kedua tangan diangkat ke atas. Gana atau Syiwaduta merupakan pengiring Syiwa dan pahatan tersebut juga bisa ditemukan di Candi Prambanan.

Pengunjung juga bisa melihat Arca Agastya atau Syiwa Mahaguru, Arca Ganesha, Arca Durga Mahisasuramardini, yaitu Durga sebagai dewi kematian. Di kawasan Candi Sambisari ini juga terdapat sebuah Lingga dari batu putih yang dilengkapi yoni dari batu hitam.

Meski namanya tak sepopuler Candi Borobudur dan Prambanan, kini Candi Sambisari pun selalu ramai dikunjungi wisatawan pada pagi atau sore hari.

Continue Reading

Histori

Dibilang Adidas dari Malaysia, Begini Sejarah Lahir & Tumbuhnya Wayang Kulit di Indonesia

Published

on

Wayang kulit
Wayang kulit

Baru-baru ini, jagat media sosial Indonesia dikagetkan dengan pernyataan Adidas soal wayang kulit berasal dari Malaysia. Hal itu menyulut amarah warga Indonesia dan membuat Adidas akhirnya melontarkan permintaan maaf.

Ya, brand Adidas menjadi bulan-bulanan netizen Indonesia usai menyatakan wayang kulit, yang menjadi desain salah satu produk mereka, berasal dari Malaysia.

Semua berawal dari postingan Adidas di akun Instagram mereka @adidassg. Mereka memosting foto buatan mereka yang masuk dalam koleksi City Pack. Terdapat desain wayang kulit di masing-masing sisi sepatu itu.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Merayakan warisan budaya Malaysia lewat mata @JAEMYC dalam #UltraBOOST DNA City Pack berikutnya,” begitu caption foto unggahan Adidas.

Caption foto itu membuat Adidas digeruduk netizen Indonesia. Adidas, lewat Instgram story-nya, menyampaikan permohonan maaf.

“Terima kasih telah menghubungi kami. Sementara wayang kulit adalah bagian penting dari warisan budaya Malaysia, kita seharusnya menyebut asal-usulnya dari Indonesia di posting-an kami,” tulis Adidas.

“Kami dengan tulus meminta maaf atas pelanggaran yang tidak disengaja yang mungkin telah dilakukan, dan sekarang telah mengubah posting-an kami,” tambah mereka.

Adidas, dalam membuat desain untuk produksinya, mengaku terinspirasi dari budaya negara-negara di Asia Tenggara. Mereka juga mengaku tak bermaksud mengklaim wayang kulit berasal dari Malaysia.

“Saat bekerja dengan seniman untuk mengembangkan perwakilan desain warisan Malaysia dan Asia Tenggara, kami dengan rendah hati terinspirasi oleh warisan budaya yang kaya di negara-negara Asia Tenggara. Untuk menghindari keraguan, baik brand maupun artis, tidak bermaksud untuk mengklaim bukan seni budaya dari Indonesia,” sebut Adidas.

“Kami berterima kasih sekali lagi atas dukungan Anda terhadap merek ini, dan pembuat konten yang berkolaborasi dengan kami untuk merayakan budaya unik kami serta identitas kami,” pungkas Adidas.

Sejarah Wayang Kulit

wayang kulit
wayang kulit

Wayang memang sedari dulu menjadi bagian dalam tradisi masyarakat Indonesia. Banyak ahli yang menyakini bahwa wayang kulit sudah ada sejak zaman kuni, yakni 1.500 sebelum Masehi (SM).

Wayang secara harfiah berarti bayangan yang merupakan istilah untuk menunjukkan teater tradisional di Indonesia. Tetapi lebih dari pertunjukan, wayang kulit menjadi media perenungan menuju roh spiritual para leluhur.

Masyarakat Indonesia percaya roh orang yang sudah meninggal masih tetap hidup dan bersemayam di kayu-kayu besar, batu, sungai, gunung dan lain-lain. Roh nenek moyang yang mereka puja ini disebut hyang atau dahyang.

Orang dapat berhubungan dengan para hyang untuk meminta perlindungan. Sementara orang yang dapat berhubungan dengan hyang melalui seorang medium yang disebut syaman.

“Inilah awal pertunjukan wayang, hyang menjadi wayang, ritual kepercayaan ini menjadi jalannya pentas dan syaman menjadi dalang,” jelas Bayu Wibisana dan Nanik Herawati, dalam buku berjudul Mengenal Wayang.

Ahli sejarah kebudayaan Belanda G.A.J Hazeau, dalam disertasinya berjudul Bijdrage tot de Kennis van het Javaansche Tooneel (1897) menyakini wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Hazeau dalam desertasinya menyebut wayang sebagai walulang inukir (kulit yang diukir) dan dilihat bayangannya pada kelir.

Catatan tertua tentang wayang terekam dalam Prasasti Kuti bertarikh 840 Masehi dari Joho, Sidoarjo, Jawa Timur. Pada prasasti ini telah terkenal sebutan haringgit atau dalang.

wayang kulit
wayang kulit

“Haringgit adalah bentuk halus dari kata ringgit. Kata ini sampai sekarang masih ada dalam bahasa Jawa, yang berarti wayang,” catat Timbul Haryono, guru besar arkeologi Universitas Gadjah Mada.

Sementara itu banyak naskah wayang sudah ditulis oleh pujangga Indonesia sejak abad ke 10 Masehi. Seperti naskah sastra kitab Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuno yang ditulis pada masa Dyah Balitung (899-911 Masehi).

Setelah itu para pujangga Jawa tidak hanya melakukan penerjemahan kepada Ramayana dan Mahabharata tetapi juga memasukan falsafah Jawa. Seperti karya Empu Kanwa, Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan yang berinduk pada Kitab Mahabharata.

Pertunjukan wayang juga diperkirakan telah ada sejak zaman pemerintahan Prabu Airlangga, Raja Kahirupan (1009 -1042 Masehi). Beberapa prasasti juga telah menyebut kata-kata mawayang dan aringgit yang memiliki makna pertunjukan wayang.

Tradisi wayang juga bisa kita lihat dalam relief candi-candi di Jawa Timur, seperti Candi Surawana, Candi Jago, Candi Tigawangi, dan Candi Panataran. Kehadiran wayang dalam relief candi yang tersebar di tempat berbeda menunjukkan kesenian ini telah menyebar luas.

Sementara itu, pada zaman Majapahit telah mulai diperkenalkan cerita baru yang tidak berinduk kepada Ramayana dan Mahabharata. Saat itu muncul cerita Panji yang merupakan kisah leluhur raja Majapahit.

Tradisi menjawakan cerita wayang terus terjadi setelah masuknya pendakwah Islam, seperti para Wali Sanga. Saat itu mereka mulai mewayangkan kisah para raja Majapahit, seperti cerita Damarwulan.

Pada masa Islam ini terjadi babak baru dalam perkembangan wayang kulit. Pertunjukan wayang tidak lagi eksklusif milik lingkungan istana, tetapi para pendakwah Islam mulai membawanya ke masyarakat akar rumput.

Para pendakwah ini juga mengubah bentuk-bentuk wayang menjadi sesuai dengan tradisi Islam. Salah satu pendakwah dan pendalang andal adalah Sunan Kalijaga.

Walau kini wayang kulit telah tampil dalam beragam wajah, tetapi pertunjukan ini tetap memikat dan lestari. Orang-orang dari luar negeri pun rela jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menonton dan mempelajari sejarah wayang.

Continue Reading

Histori

Sejarah Planetarium, Harapan Bung Karno Supaya Orang Indonesia Mengerti Langit

Published

on

Planetarium
Planetarium

Sebagai pusat pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat, Planetarium Jakarta juga memiliki sejarah yang panjang. Menurut situs resminya, presiden pertama RI Soekarno adalah orang yang pertama kali menggagas pembangunan planetarium ini.

Gagasan ini tertuang dalam Surat Keputusan Presiden RI No. 155 tahun 1963. Tempat wisata yang terdiri dari gedung planetarium dan observatorium ini pun mulai dibangun pada 9 September 1961, di mana Soekarno ikut hadir memancangkan tiang pertama.

Proses pembangunan yang berlangsung selama empat tahun akhirnya selesai pada 10 November 1968 dan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin. Peresmian ini juga bersamaan dengan diresmikannya Taman Ismail Marzuki.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

“Kita sebagai bangsa yang baru lahir kembali, kita harus dengan cepat sekali, cepat, chek up mengejar kebelakangan kita ini, mengejar disegala lapangan. Lapangan politik kita kejar, lapangan ekonomi kita kejar, lapangan ilmu pengetahuan kita kejar, agar supaya kita benar-benar didalam waktu yang singkat bisa bernama Bangsa Indonesia yang besar, yang pantas menjadi mercusuar daripada umat manusia di dunia,” kata Presiden Soekarno saat pemancangan tiang pertama Planetarium Jakarta.

Tidak diketahui sebenarnya darimana Bung Karno memperoleh gagasan mendirikan planetarium di Indonesia. Mungkin ketika beliau berkunjung ke luar negeri dan mendapati planetarium yang apik, tergerak hatinya untuk membangun sebuah di Indonesia.

Tetapi jika kita ingat lagi bahwa masa pendirian Planetarium Jakarta adalah masa perlombaan luar angkasa –space race– antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, bisa jadi gagasan Bung Karno mendirikan planetarium dipengaruhi oleh keadaan dunia internasional waktu itu.

Planetarium
Planetarium

Ketika itu manusia telah berhasil meluncurkan satelit pertama. Sputnik mengorbit ke luar angkasa dan sedang bersiap-siap untuk pergi ke Bulan. Bung Karno, walau keadaan negara sedang sulit saat itu, menginginkan agar bangsanya tidak jauh tertinggal dengan negara lain.

Hal lain yang turut menambah rasa bangga orang-orang pada masa itu ialah karena pendirian Planetarium Jakarta ini nantinya akan menjadi planetarium yang terbesar di dunia.

Dalam pidatonya lagi Bung Karno berujar, “Planetarium akan kita dirikan di Jakarta ini, di tempat ini, adalah planetarium yang terbesar di seluruh dunia sehingga di bawah kubah itu bisa duduk orang. Lima ratus orang. Di lain-lain tempat cuma tiga ratusan saudara-saudara ini Indonesia bukan main.”

Selain itu, Planetarium Jakarta merupakan yang pertama di kawasan Asia Tenggara. Indonesia mengungguli negara-negara tetangganya.

Adapun pemilihan lokasi pendirian di Jakarta, tepatnya di bekas kebon bintang Raden Saleh yang dianggap sudah tidak cocok lagi berada di tengah kota, mungkin dilandasi pemikiran bahwa Jakarta adalah ibukota negara.
Ibukota suatu negara sudah pasti menjadi cerminan karakter sebuah bangsa.
Disebutkan Bung Karno bahwa planetarium dan observatorium ini merupakan hadiah bagi kota Jakarta. Dengan demikian, planetarium di Jakarta diharapkan dapat menjadi cerminan masyarakat Indonesia yang maju atau ingin maju.

Uang yang diturunkan GKBI untuk pembangunan Gedung Planetarium Jakarta diturunkan secara berangsur yaitu pada tahun 1964, 1965, dan 1966.

Sementara itu ada juga yayasan yang dibentuk Bung Karno untuk pembelian mesin proyektor planetarium dan teropong bintang dari perusahaan Carl Zeiss-Jerman seharga 1,5 juta dolar AS, dan beragam pembangunan lain. Yayasan ini akan menghimpun beragam dana komisi yang biasa didapat saat pembelian barang ke luar negeri.

Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 155 tahun 1963 yang ditandatangani Presiden pada 26 Juli 1963 menjadi landasan dalam pembangunan Planetarium Jakarta. Namun ketika pecah pemberontakan Gerakan 30 September (G30S) proyek Planetarium harus berhenti sejenak.

Akibat rentetan peristiwa G30S, GKBI pun kehabisan dana dan tidak mampu lagi membiaya pembanguan Planetarium dan Observatorium Jakarta. Melihat kondisi ini Pemerintah DKI Jakarta kemudian mengambil alih proyek pada 1966-1968.

Planetarium
Planetarium

Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menunjuk beberapa ahli seperti staf Observatorium Bosscha, Santoso Nitisastro sebagai pemimpin pembangunan dan dibantu oleh teknisi senior bernama Kodrat Iman Satoto.

Akhirnya setelah pembangunan gedung planetarium, pemasangan proyektor serta perlengkapan lainnya berhasil diselesaikan. Gubernur Ali Sadikin lalu meresmikan Planetarium Jakarta pada 10 November 1968.

“Waktu diresmikan 10 November 1968, pintu masih terbuka, membawa masuk sinar dari luar, juga air ketika hujan. Orang keluar masuk dalam keadaan pintu yang terbuka. Saat itu Planetarium dan Observatorium Jakarta belum layak beroperasi,” kata Darsa Sukartadiredja, Kepala Planetarium dan Observatorium Jakarta, periode 1977–2001.

Barulah pada 1 Maret 1969, planetarium Jakarta menggelar pertunjukan teater bintang pertama. Pengurus Planetarium pada masa itu akhirnya menerapkan hari itu sebagai tanggal lahir Planetarium dan Observatorium Jakarta.

Walaupun saat itu kondisi bangunannya masih sangat sederhana. Tetapi tempat ini masih bisa memukau para penonton. Di dalamnya ada bangunan silinder beratap kubah, di tempat ini sering digelar pertunjukan teater bintang dengan proyektor yang dibeli dari Jerman dan 500 buah kursi di dalamnya, serta beberapa ruang kecil lainnya.

Continue Reading

Trending