Connect with us

Internasional

5 Fakta Unik Thailand Izinkan Warga Tanam Ganja di Rumah

Published

on

Gajna di Thailand

Thailand menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menghapus ganja dari daftar obat-obatan terlarang. Negeri Gajah Putih mengizinkan menanam hingga mengonsumsi ganja di rumah sejak Januari 2022.

Meski demikian, setiap warga harus memberitahu pemerintah daerah masing-masing jika menanam tanaman tersebut di rumah. Pemerintah Thailand rencananya bakal mengesahkan legalitas penanaman dan kepemilikan ganja pada 9 Juni 2022.

Bahkan, pemerintah Thailand berencana membagikan satu juta pohon ganja ke rumah warga negara itu pada Juni.

Baca Juga:

  1. Make Up ‘Nyebrang’ Sunburn Blush, Sempat Trending bikin Rias Wajah Makin Natural
  2. Sejarah Kayu Cendana, Primadona Aroma Segala Aroma
  3. Mudah! Ini Cara Buat Air Mawar Di Rumah

Mengutip Firstpost, Thailand bakal mengizinkan masyarakat mengembangkan ganja di rumah mulai 9 Juni. Pemberian pohon ganja gratis ini dilakukan untuk mendukung kebijakan baru negara itu.

Menteri Kesehatan Thailand, Anutin Charnvirakul, mengatakan ia bermaksud menjadikan pohon ganja sebagai salah satu “tanaman rumah tangga.”

“Ini bakal membuat masyarakat dan pemerintah untuk mendapatkan keuntungan lebih dari 10 miliar bath [Rp4,2 triliun] per tahun dari marijuana dan ganja,” ujar Charnvirakul dalam unggahan Facebook-nya pada 10 Mei lalu.

Pemerintah Thailand juga berharap keputusan ini dapat menjadikan Bangkok sebagai salah satu pemain bisnis ganja baru. Pemerintah juga menyasar tanaman ganja sebagai salah satu cara menarik wisatawan.

Meski Thailand telah mengizinkan penanaman ganja dalam masyarakat, ada beberapa aturan yang harus dilaksanakan.

Warga Thailand yang ingin menanam ganja harus memberitahu pemerintah lokal. Tak hanya itu, tanaman ganja yang dirawat harus masuk dalam kategori medis dan digunakan hanya untuk tujuan medis.

Berikut MyCity telah merangkum berbagai fakta menarik mengenai Pemerintah yang mengizinkan masyarakat mengembangkan ganja di rumah

Denda Salah Gunakan Ganja

Menteri Kesehatan Thailand, Anutin Charnvirakul mewanti-wanti tanaman ganja tetap tidak dapat digunakan untuk tujuan komersial tanpa izin.

Kementerian Kesehatan pekan ini akan mengajukan draf undang-undang kepada parlemen soal perincian penggunaan ganja, termasuk produksi dan penggunaan komersial.

RUU itu akan mencakup hukuman denda 200 ribu baht atau Rp85 juta bagi warga yang menanam ganja tanpa memberitahu pemerintah setempat, dan hukuman 3 tahun penjara dan/atau denda hingga 300 ribu baht (Rp130 juta) bagi setiap warga yang ketahuan menjual ganja tanpa izin.

Bagi-bagi Tanaman Ganja

Pemerintah Kerajaan Thailand akan memberikan satu juta tanaman ganja gratis ke rumah-rumah di negara itu mulai Juni. Pemberian tanaman dilakukan untuk merayakan aturan baru masyarakat diizinkan menanam ganja di rumah mereka.

Charnvirakul dalam unggahan Facebook pribadinya mengatakan kebijakan ini diterapkan agar tanaman ganja bisa dikembangkan layaknya tanaman rumah tangga. Dengan demikian pemerintah dan warga akan mendapat untung lebih dari 10 miliar baht atau senilai Rp4,2 triliun per tahun dari ganja.

Tak hanya untuk medis, pemerintah Thailand juga mengizinkan penggunaan ganja dalam minuman dan kosmetik.

Menarik Wisatawan

Thailand bakal mengizinkan masyarakat mengembangkan ganja di rumah mulai 9 Juni. Pemberian pohon ganja gratis ini dilakukan untuk mendukung kebijakan baru negara itu.
Selain itu, pemerintah juga menyasar tanaman ganja sebagai salah satu cara untuk menarik wisatawan mancanegara.

Meski ganja sudah legal di Thailand, ada beberapa aturan yang harus dilaksanakan, di antaranya warga yang ingin menanam ganja harus berkoordinasi dahulu dengan pemerintah lokal.

Tak hanya itu, tanaman ganja yang dirawat harus masuk dalam kategori medis dan digunakan hanya untuk tujuan medis. Masyarakat diizinkan menggunakan seluruh bagian tanaman ganja, termasuk bunga dan bijinya.

Namun kandungan tetrahydrocannabinol (THC) harus dijaga kurang dari 0,2 persen dalam produk ganja, sebagai antisipasi mabuk bagi pengguna.

Internasional

Putin Bakal Lakukan 2 Hal Ini Sebelum Bertemu Jokowi

Published

on

Presiden Rusia Vladimir Putin

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi), dijadwalkan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pekan ini di Moskow. Namun sebelum bertemu Jokowi, Presiden Putin memiliki dua agenda. Apa saja?

Seperti dinukil dari Reuters, Senin (27/6/2022), kedua agenda Putin itu adalah mengunjungi dua negara bekas Uni Soviet. Ini menandai kunjungan luar negeri pertama Putin setelah melakukan operasi militer spesial di Ukraina.

Koresponden Kremlin untuk televisi pemerintah Rusia, Rossiya 1, Pavel Zarubin mengungkapkan bahwa Putin akan mengunjungi Tajikistan dan Turkmenistan pekan ini dan kemudian bertemu Jokowi untuk melakukan pembicaraan di Moskow.

Baca Juga:

  1. Roti Djoen, Toko Roti Legendaris Yogya yang Sudah Ada Sejak Tahun 1935
  2. Simak, Sejarah Roti Cinnamon Roll Asal Swedia Menjadi Favorit Dunia
  3. Lezat! 3 Menu Roti dan Telur Ini Mengenyangkan dan Padat Nutrisi

Disebutkan bahwa di Dushanbe, ibu kota Tajikistan, Putin akan bertemu Presiden Imomali Rakhmon, yang merupakan sekutu dekat Rusia dan penguasa terlama untuk sebuah negara bekas Soviet.

Kemudian di Ashgabat, ibu kota Turkmenistan, Putin akan menghadiri pertemuan puncak negara-negara Kaspia. Ditambahkan Zarubin bahwa pemimpin Azerbaijan, Kazakhstan, Iran dan Turkmenistan akan menghadiri pertemuan itu.

Laporan kantor berita Rusia, RIA, yang mengutip ketua Majelis Atas Parlemen Rusia menyebutkan bahwa Putin juga berencana mengunjungi kota Grodno di Belarusia pada 30 Juni dan 1 Juli untuk menghadiri forum bersama Presiden Belarusia Alexander Lukashenko.

Continue Reading

Internasional

Tiba di Jerman, Jokowi & Iriana Dapat Sambutan Meriah

Published

on

Presiden RI Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana

Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Negara Iriana beserta rombongan tiba di Munich International Airport, Munich, Jerman, Senin (27/6/2022) waktu setempat.

Dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden, Presiden Jokowi beserta istri, Iriana dan rombongan langsung disambut dengan pasukan yang mengenakan pakaian adat bavaria.

Selain itu, penyambutan juga dilakukan oleh Menteri Urusan Eropa dan Internasional Negara Bagian Bavaria Melanie Huml, Duta Besar Indonesia untuk Jerman Arif Havas Oegroseno beserta istri, dan Atase Pertahanan Indonesia Kolonel Budi Wibowo beserta istri.

Setelah tiba di bandara, Jokowi beserta rombongan langsung menuju ke hotel yang disiapkan untuk bermalam.

Baca Juga:

  1. Mahfud MD: Pemerintah Mulai Pindah ke IKN Juli 2024
  2. Sejarah Jakarta Selatan, Kota Administratif Terkaya di Jakarta
  3. Melihat Komunitas Sastra di Kota Bekasi

Setibanya di hotel, ratusan masyarakat Indonesia menyambut Jokowi dengan membentangkan bendera Indonesia.

“Pak Jokowi… Pak Jokowi, sudah menanti kedatangan Jokowi.” teriak masyarakat yang menyambut.

Berbicara dalam konferensi pers di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Jokowi mengatakan, dalam pertemuan tersebut Indonesia akan secara khusus membawa misi perdamaian untuk Ukraina dan Rusia.

“Di sini kita akan mendorong, mengajak negara-negara G7 untuk bersama-sama mengupayakan perdamaian di Ukraina dan juga secepat-cepatnya mencari solusi dalam menghadapi krisis pangan, krisis energi, yang sedang melanda dunia,” kata Jokowi.

KTT G7 akan digelar di Pegunungan Alpen Bavaria, Jerman pada 26 Juni hingga 28 Juni. Agenda ini sebagai bagian dari upaya untuk membentuk aliansi internasional yang lebih luas melawan Rusia.

Di samping itu, salah satu isu yang akan dibahas adalah mengenai masalah pangan. Jokowi mengakui hal ini tidak mudah, namun pemerintah akan tetap mengupayakan hal tersebut.

“Memang upaya ini tidak mudah, tapi kita akan terus berupaya,” tegas Jokowi.

Continue Reading

Internasional

Rusia Memotong Pasokan Gas ke Belanda, serta Perusahaan di Denmark dan Jerman

Published

on

By

Rusia Memotong Pasokan Gas ke Belanda, Denmark dan Jerman

Seusai raksasa energi negara Gazprom mematikan keran ke pedagang utama Belanda, serta menghentikan aliran ke sejumlah perusahaan di Denmark dan Jerman, pasokan gas ke Eropa lebih lanjut telah dipotong oleh Rusia.

Di mana sebagai bentuk bagian dari sanksi keuangannya terhadap Kremlin dengan menempatkan embargo pada sebagian besar impor minyak Rusia.

Larangan itu dikatakan oleh para pemimpin UE bakal segera berdampak pada 75 persen impor minyak Rusia, naik menjadi 90 persen pada akhir tahun.

Mengutip dari laman TheGuardian.com pada Minggu (26/6/2022), Gazprom memperpanjang pemotongan gasnya pada hari Selasa dengan menghentikan pasokan ke GasTerra, yang membeli dan memperdagangkan gas atas nama pemerintah Belanda.

Baca Juga:

  1. Menteri Energi Wijesekera Minta Maaf, Sri Lanka Bangkrut Kehabisan BBM
  2. Presiden Zelensky Murka: Akan Rebut Lagi Kota yang Dikuasai Rusia
  3. Kunjungi Putin & Zelensky, Jokowi Dikawal 39 Pasukan Elite Khusus

Selain itu, dikatakan perusahaan energi Denmark rsted dan Shell Energy turut bakal diputuskan aliran gasnya juga. Di mana hal ini untuk kontraknya memasok gas ke Jerman, setelah pembayaran dalam rubel gagal dilakukan oleh kedua perusahaan itu.

Sementara itu untuk pasokan 2 miliar meter kubik gas yang diharapkan diterima dari Gazprom antara sekarang dan Oktober, GasTerra mengungkapkan sudah menemukan kontrak di tempat yang lain.

Diketahui, Moskow sudah menghentikan pasokan gas alam ke Bulgaria, Polandia dan Finlandia. Hal tersebut ketika mereka telah menolak untuk membayar dalam rubel Rusia.

Kemudian Gazprom menyebut bahwa pada akhir hari kerja pada tanggal 31 Mei, Shell dan rsted telah gagal membayar pengiriman gas. Ini membuat pengiriman gas akan dihentikan hingga mereka dapat membayar sesuai dengan tuntutan Negeri Beruang Merah tersebut.

Continue Reading

Trending