Connect with us

Culture

5 Cendera Mata khas Bali, Layak Dibawa Pulang Peserta KTT G20

Published

on

Ilustrasi Bali, Indonesia. (Istimewa)

Ada beragam alasan yang membuat mata tertuju pada Bali. Pesona wisata Pulau Dewata memang menggoda.

Pantai-pantai berpasir putih, dengan laut biru jernih berombak lembut, ditambah pepohonan kelapa di sekitar pantai serta awan yang penuh pesona menjadi destinasi impian wisatawan lokal maupun mancanegara.

Belum lagi pemandangan indah kawasan perbukitan, persawahan, hingga budayanya yang masih terjaga baik. Selain karena magnet wisatanya, Bali juga dikenal sebagai lokasi perhelatan sejumlah event skala internasional karena memiliki infrastruktur dan fasilitas yang memadai. Salah satunya, pada 2022 ini, Bali dipilih Pemerintah Indonesia sebagai lokasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.

Baca Juga:

  1. Singo Ulung, Tradisi Adat Demi Menepis Rasa Takut Asal Bondowoso
  2. Mumifikasi, Cara Suku Dani Menghormati Jasad Nenek Moyang
  3. Dadiah, Yogurt Tradisional khas Minangkabau

Tema yang diangkat dalam KTT G20 ini adalah “Recover Together, Recover Stronger” atau “Pemulihan Bersama, Bangkit Bersama”.

Kawasan yang dipilih untuk perhelatan akbar ini adalah Nusa Dua. Di dalam kawasan Nusa Dua terdapat lebih dari 5.000 kamar hotel yang dapat mengakomodasi lebih dari 10.000 orang perwakilan dari berbagai negara.

Baca Juga :  Buka Pekan Kebudayaan Nasional 2021, Jokowi: Indonesia Kaya Budaya & Hayati

Fasilitas meeting, incentive, convention, & exhibition (MICE) di Nusa Dua juga cukup lengkap. Terdapat area pameran seluas sekitar 2.700 meter persegi, auditorium, dan hall atau aula utama berkapasitas ribuan orang.

Perhelatan skala dunia tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia selaku tuan rumah. Bagi kawasan Bali, event internasional dapat turut mengangkat pamor Bali sebagai destinasi wisata yang semakin siap menerima kunjungan turis pascapandemi Covid-19.

Dalam perhelatan event dunia, yang mungkin tidak disadari banyak orang, ada pemberian suvenir untuk para peserta usai acara.

Sepertinya sederhana, tetapi bagi masyarakat Bali dan Indonesia, suvenir yang mencerminkan tradisi khas Indonesia besar maknanya sebagai penanda keunggulan handicraft atau kerajinan tangan terampil masyarakat Indonesia.

Dari sekian banyak hasta karya dari Bali, MyCity akan merekomendasikan suvenir spesial di Pulau Dewata.

Kain Tenun Bali

Ilustrasi kain tenun khas Bali. (Istimewa)

Jenis kain yang dimaksud dengan kain Bali tidak hanya kain-kain pantai khas Bali yang berwarna-warni dan bahannya yang adem saat dikenakan. Bali juga memiliki jenis kain tenun tradisional yang diproduksi dengan alat tenun dan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Selain kain tenun, ada pula kain batik khas Bali. Ya, batik tidak hanya dimiliki masyarakat Jawa, tetapi di Bali pun ditemukan juga jenis kain berwarna-warni dengan motif batik khas Bali.

Baca Juga :  Batik Kawung, Motif yang Memiliki Makna Mendalam

Biasanya, kain tradisional ini kerap digunakan masyarakat Bali saat digelar upacara tradisional atau ketika sembahyang di pura. Untuk perhelatan KTT G20 ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) secara khusus telah memesan kain tenun Bali sebagai suvenir dari Desa Tenganan, Karangasem, Bali.

Kerajinan Perak Bali

Ilustrasi kerajinan perak khas Bali. (Istimewa)

Peserta KTT G20 juga bisa menemukan kerajinan perak khas Bali di daerah Ubud. Perhiasan perak seperti kalung, gelang, dan anting dengan motif ukiran khas Bali pastinya sangat cantik.

Belum lagi terdapat kerajinan perak berbentuk pajangan rumah seperti miniatur alat transportasi yang dibuat penuh detail.

Suvenir yang terbuat dari perak ini tentunya bernilai cukup tinggi. Meskipun demikian, oleh-oleh berupa kerajinan perak khas Bali tentunya lebih bergengsi dan memiliki keindahan tersendiri.

Lukisan Bali

Ilustrasi lukisan khas Bali. (Istimewa)

Berbagai lukisan karya seniman Bali yang sangat bertalenta banyak menghiasai kawasan Ubud dan sekitarnya, sangat layak menjadi suvenir berkelas.

Tidak terhitung jumlah seniman kondang yang berasal dari Bali. Seakan-akan tangan orang Bali sengaja diciptakan untuk membuat karya seni.

Lukisan khas Bali pun mudah ditemukan di berbagai lokasi sehingga Anda tidak perlu susah payah mencari.
Lukisan Bali biasanya mudah dikenali.

Baca Juga :  Sri Mulyani: Pekerja yang Dirumahkan atau Dapat Pengurangan Jam Kerja Selama PPKM Darurat Bakal Dapat Bantuan

Umumnya menggambarkan pesona pemandangan Bali, baik pantai atau persawahan yang indah. Namun, banyak juga lukisan yang menggambarkan kesenian Bali, seperti penari Bali atau budaya masyarakat Bali lainnya.

Ukiran Bali

Ilustrasi ukiran khas Bali. (Istimewa)

Masyarakat Bali dikenal terampil dalam seni pahat dan ukir-ukiran. Perwujudan dari keahlian ini adalah beragam jenis hasta karya, seperti patung, hiasan dinding dengan ukiran, dan berbagai topeng.

Bahan pembuatannya tidak hanya kayu. Pemahat Bali bisa menggunakan bahan lain seperti batok kelapa dan bambu untuk membuat ukiran atau untuk menciptakan beragam jenis benda-benda unik.

Misalnya, peralatan makan-minum dan gantungan kunci. Plakat dengan ukiran khas Bali pada pigura juga kerap menjadi suvenir untuk event internasional.

Kebaya Bali

Ilustrasi kebaya khas Bali. (Istimewa)

Pakaian tradisional Bali untuk perempuan adalah kebaya. Kebaya ini biasanya dikenakan saat sembahyang atau saat menghadiri upacara tradisional. Kebaya khas Bali identik dengan bahan brokat polos dan berwarna cerah. Meskipun demikian, ada juga kebaya putih dan kebaya modifikasi dengan sentuhan motif.

Ciri lain dari kebaya khas Bali adalah penggunaan selendang yang dililitkan di pinggang. Atau bisa juga selendang ini dijepit dengan bros. Inilah yang membedakan kebaya Bali dengan kebaya Jawa.

Culture

Mengenal Tradisi Afternoon Tea di Inggris

Published

on

Tradisi Afternoo Tea di Inggris. Foto: Istimewa.

Tradisi Afternoo Tea di Inggris. Foto: Istimewa.

mycity.co.id – Cityzen, pernahkah kalian bermimpi menjadi seorang putri kerajaan dan mengadakan pesta minum teh bersama para Putri, dan para bangsawan lain?

Jika iya, pasti penasaran bagaimana tradisi minum teh yang dimaksud. Dirangkum mycity.co.id  dari berbagai laman sumber,  ‘Afternoon Tea’ atau sering disebut sebagai tradisi minum teh, pada mulanya hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan atau bangsawan Inggris saja.

Ini karena pada masa itu, sekitar pertengahan abad ke-17 kebanyakkan teh diimpor dari China sehingga harga teh hanya bisa dijangkau oleh masyarakat kalangan atas. Pada tahun 1840 Afternoon Tea diperkenalkan untuk pertama kalinya oleh seorang bangsawan bernama Anna Dutchess.

Pada tahun ini pula penemuan lampu minyak sudah ditemukan, sehingga waktu makan malam diundur menjadi lebih malam sekitar pukul 08.00 malam. Dalam keluarga bangsawan Inggris, waktu memakan makanan berat hanya pada pagi hari dan malam hari saja. saat siang hari mereka hanya diperkenankan makan makanan ringan.

Baca Juga :  Inilah Daftar 37 Warisan Budaya Tak Benda Jawa Barat Tahun 2022

Sementara itu Anna Dutchess kerap kali dilanda lapar pada pukul empat sore, hal itu menjadikan Dutchess meminta nampan berisi teh, roti, dan mentega untuk dibawakan ke kamarnya pada sore hari. Akhirnya, hal ini menjadi sebuah kebiasaan yang tak pernah ditinggalkannya.

Baca Juga :  Mengapa Orang Rusia Jarang Tersenyum ?

Ia mulai mengundang teman-temannya untuk bergabung bersama untuk sekedar minum teh serta memakan kue dan cemilan-cemilan pada sore hari saat ia datang ke London. Kebiasan itu didukung oleh kerajaan dan diikuti oleh kerajaan lainnya juga. Teh yang disajikan selalu menggunakan teko perak nan elegan dan dituangkan ke dalam cangkir porselen yang indah.

Acara minum teh pada masa itu merupakan cara untuk menunjukkan kemewahan pada para tamu yang hadir. Pada 23 September 1658, surat kabar republik London Mercurius Politicus memuat iklan teh pertama di Inggris. Iklan ini mengumumkan bahwa minuman China yang disebut tcha, atau bangsa lain menyebutnya tay alias tea tersedia di beberapa kedai kopi. Dari situlah teh semakin populer.

Baca Juga :  Tahun 2025, Potensi Pasar Digital Indonesia Capai Rp2,093 Triliun

Pada akhir abad ke-19, harga teh mulai terjangkau oleh masyarakat luas, sehingga orang-orang kelas menengah pun dapat melakukan tradisi afternoon tea.  Kegiatan tersebut pun menyebar luas ke seluruh Inggris dan bahkan ke Amerika Serikat.

Masyarakat Inggris biasanya menikmati kegiatan minum teh di tempat-tempat favorit mereka, misalnya kafe, rumah atau taman sambil sambil membaca buku atau mengobrol bersama teman. Kegiatan minum teh ini sekarang menjadi agenda yang selalu dilakukan dalam kegiatan sehari-hari mereka.

Continue Reading

Culture

Mengulik Budaya Melukat Hindu di Bali

Published

on

Budaya Melukat Bali : Sociolla

Budaya Melukat Bali : Sociolla

mycity.co.idIndonesia mempunyai banyak budaya adat istiadat yang beragam dari Sabang sampai Merauke.Namun sayangnya masih banyak juga budaya yang mungkin belum terlalu dikenal oleh masyarakat secara luas.

Karena masih kurangnya minat masyarakat khususnya generasi muda dalam melestarikan dan menjalankan budaya yang sudah ada, karena sering dianggap kuno atau ketinggalan zaman.

Padahal di era yang serba modern sekarang ini semakin banyk cara untuk mengetahui dan juga melestarikan budaya yang ada.

Seperti budaya satu ini yang datang dari Bali yaitu Melukat. Akhir-akhir ini budaya Melukat sedang naik daun dikalangan masyarakat.

Budaya adat Melukat adalah tradisi umat hindu di Bali yang dipercaya berguna untuk membersihkan jiwa dari aura ataupun hal negatif. Melukat berasal dari kata “Sulukat” dengan “Su” yang artinya baik dan “Lukat” yang berarti penyucian, jadi secara singkat Sulukat berarti menyucikan diri untuk memperoleh kebaikan.

Baca Juga :  Kemenkes Minta Sri Mulyani Naikkan Gaji Nakes Hingga 2 Kali Lipat

Ritual ini dilakukan dengan cara mandi dari pancuran air yang dianggap mampu membersihkan diri dan pikiran. Bahkan bisa menghalau dari hal-hal negatif yang akan masuk ke dalam tubuh kita.

Elemen air dipercaya dapat menghilangkan pengaruh kotor yang dapat merusak dalam diri dengan bantuan dari alam semesta.

Dalam proses ini seluruh lapisan di tubuh dibersihkan agar lebih seimbang, pikiran menjadi tenang, tidak mudah marah, lebih tabah bahkan merasa damai.

Ritual ini diketahui ada 7 jenis dua diantaranya adalah Melukat Asta Pungku yang berguna untuk membersihkan dan menyucikan diri dari malapetaka, lalu yang kedua ada Melukat Gini Nge Layang yang berguna untuk pengobatan penyakit.

Baca Juga :  Virus Mutasi Covid-19 Ditemukan di Indonesia

Melukat sendiri biasa dilakukan di tempat-tempat sejarah seperti pure, tempat pemandian, bahkan laut yang ada di Bali. Proses melukat biasanya dipimpin oleh pendeta Hindu dengan beberapa rangkaian prosesi yang dilakukan.

Secara umum, wisatawan yang mengikuti ritual Melukat akan diminta untuk datang ke suatu tempat. Ritual ini bisa juga dilakukan di suatu lahan tanah yang menghadap ke sungai atau mata air.

Khusus untuk umat Hindu, mereka bisa membawa sajen untuk dihaturkan saat sembahyang sebelum mulai Melukat.

Berikut adalah urutan prosesi Melukat.

1. Urutan melukat di pancuran air biasanya berbeda sesuai tempat, ada yang berurutan dari kanan ke kiri, kiri ke  kanan, bahkan dari tengah. Bahwa urutan tersebut bergantung dari kebiasaan yang ada di tempat tersebut dan     wisatawan tinggal mengikuti alurnya.

Baca Juga :  Isi Kendi Titik Nol IKN Nusantara: Dari Tanah Gusuran Ahok Hingga Pengasingan Sukarno

2. Proses melukat akan dipimpin oleh sulinggih atau pendeta hindu. Selain itu, ada sesajen berupa pejati, dupa, dan canang sari yang akan diberikan mantra-mantra oleh sulinggih. Ada pula air kelapa gading yang dianggap sebagai  air suci.

3. Orang yang akan melukat akan dimantrai oleh sulinggih, kemudian disiram dengan air suci.

4. Ritual dilanjutkan dengan membasuh diri di mata air untuk membersihkan diri lahir dan batin.

5. Setelah menyucikan diri dengan air, wisatawan akan diperkenankan untuk membilas tubuh dan berganti pakaian         seperti semula.

6. Selanjutnya orang yang selesai melukat bisa melakukan sembahyang dan dipercikkan air suci oleh pendeta atau          petugas setempat.

Namun pada kegiatan ritual ini kembali lagi pada kepercayaan masing-masing bahwa kita semua mempunyai kepercayaan yang berbeda.

Continue Reading

Culture

4 Makhluk Penjaga Mata Angin dalam Mitologi Jepang

Published

on

4 makhluk mitologi Jepang ini diadaptasi dari kepercayaan China, yang mana makhluk-makhluk ini dipercaya sebagai penjaga mata angin.

4 makhluk mitologi Jepang ini diadaptasi dari kepercayaan China, yang mana makhluk-makhluk ini dipercaya sebagai penjaga mata angin. Foto: istimewa

mycity.co.id – Di era teknologi maju saat ini keberadaan makhluk mitologi juga masih terus melekat di masyarakat yang masih percaya dengan hal tersebut. Seperti Jepang yang sudah maju dengan teknologinya pun, masyarakatnya masih mempercayai keberadaan makhluk mitologi.

Bahkan di Jepang, makhluk-makhluk mitologi ini diadaptasi ke film atau series anime terkenal. Bisa dikatakan, Jepang memiliki segudang cerita rakyat atau legenda. Salah satu legenda yang paling terkenal dan banyak di percaya adalah legenda empat binatang yang menjaga negara Jepang dari empat arah mata angin yaitu utara, selatan, timur dan barat.

Sebenarnya, cerita asli empat binatang penjaga ini berasal dari kepercayaan masyarakat China, namun diadopsi menjadi cerita legenda Jepang. Dengan kekuatannya yang besar, keberadaan empat makhluk mitologi ini dipercaya oleh masyarakat Jepang. Berikut ini mycity.co.id telah merangkum makhluk-makhluk mitologi Jepang untuk cityzen dari jurnal Binus University:

Baca Juga :  Google Bakal Potong Gaji Karyawan yang WFH

1. Seiryu

Seryu, naga biru penjaga mata angin bagian timur. Foto: Istimewa.

Seryu, naga biru penjaga mata angin bagian timur. Foto: Istimewa.

Seiryu (Naga Biru) makhluk penjaga di bagian timur Jepang dan digambarkan dengan seekor naga berwarna biru. Elemen Seiryu adalah kayu dan dapat mengendalikan hujan. Seiryu dipercaya oleh masyarakat bahwa ia tinggal di laut dan sungai sehingga dapat menyebabkan banjir.

Saat kita coba memasuki pintu kuil Kiyomizu, disana terdapat patung naga Seiryu. Sebagian besar orang Jepang juga sering datang pada festival tahunan yang dibuat untuk menghormati Seiryu. Di China, Seiryu disebut Qing long dan di Korea disebut Chung Ryong. Di dua negara tersebut naga selalu dikaitkan dengan lambang kekaisaran. Sehingga, banyak simbol naga di kerajaan mulai dari jubah, ukiran meja dan lain-lain. Sementara itu di jepang naga Seiryu dikenal sebagai simbol kekuasaan, kemewahan, kekuatan, kreativitas, dan keganasan. Dalam beberapa versi cerita, Seiryu dianggap pemimpin dari keempat binatang penjaga di Jepang.

Baca Juga :  Festival Danau Sentani Dipastikan Terlaksana Juni 2021

2. Byakko

Byakko, macan putih adalah penjaga bagian barat Jepang. Foto: Istimewa.

Byakko, macan putih adalah penjaga bagian barat Jepang. Foto: Istimewa.

Byakko (macan putih) adalah penjaga bagian barat Jepang. Byakko digambarkan sebagai harimau putih. Di China, Byakko dikenal sebagai Baihu dan di Korea dikenal sebagai Baekho. Elemen Byakko adalah logam dan dapat mengendalikan angin. Sosok Byakko sering dianggap sebagai pelindung dan penjaga, sehingga pada zaman dahulu banyak pemakaman orang-orang terkenal seperti raja dan jendral, diatas pemakamannya dilapisi logam dan banyak lukisan yang menggambarkan Byakko di dinding pemakaman di wilayah Nara. Dengan adanya hal itu, diharapkan orang-orang yang meninggal selalu mendapat perlindungan dari Byakko. Macan selalu digambarkan sebagai sumber kekuatan dan keberanian, oleh karena itu Byakko menyimbolkan tentara yang berperang sampai mati untuk negaranya.

3. Genbu

Genbu (Kura-kura ular) penjaga bagian utara Jepang. Genbu digambarkan dengan bagian badan kura-kura raksasa yang dikelilingi oleh ular. Foto: Istimewa.

Genbu (Kura-kura ular) penjaga bagian utara Jepang. Genbu digambarkan dengan bagian badan kura-kura raksasa yang dikelilingi oleh ular. Foto: Istimewa.

Genbu (Kura-kura ular) penjaga bagian utara Jepang. Genbu digambarkan dengan bagian badan kura-kura raksasa yang dikelilingi oleh ular, terkadang Genbu digambarkan oleh kura-kura raksasa dengan ekor ular. Elemen yang dimiliki Genbu adalah air dan tanah. Genbu diabadikan di kastil Kyoto bagian utara Jepang dan dikenal sebagai simbol kemurnian, umur panjang, keseimbangan, dan kecerdasaan.
Sebelum diadopsi oleh Jepang, di China Genbu dinamakan Xuanwu dan di Korea disebut Hyunmoo. Warna asli dari mahluk ini adalah hitam, namun dalam adaptasi game mengambarkan Genbu dengan warna ungu.

Baca Juga :  Tekad Membara Indonesia Kurangi Sampah Hingga 40 Juta Ton

4. Suzaku

Suzaku (Burung api) merupakan penjaga bagian selatan Jepang. Foto: Istimewa.

Suzaku (Burung api) merupakan penjaga bagian selatan Jepang. Foto: Istimewa.

Suzaku ( Burung api) merupakan penjaga bagian selatan Jepang. Suzaku digambarkan dengan burung berwarna merah yang menyimbolkan api dan mirip dengan burung mitologi Yunani yaitu phoenix. Suzaku memiliki bulu yang bersinar-sinar dan kemunculannya dikaitkan dengan hari baik. Elemen yang dimiliki Suzaku adalah api. Suzaku merupakan binatang dewa yang anggun dan mulia dalam hal penampilan dan perilaku, serta menyamar dengan apa yang ia makan.

Dari keempat binatang penjaga di Jepang, banyak yang mengatakan bahwa Suzaku merupakan binatang yang paling indah. Di China, Suzaku disebut Zhuque dan di Korea disebut Jujak. Ibu kota zaman dahulu seperti Fujiwara, Heijo, dan Heian memasang simbol Suzaku di pintu gerbang selatan, berharap agar selalu dijaga oleh Suzaku. Suzaku dianggap sebagai simbol kesetiaan, kebaikan, semangat, serta kemulian.

Continue Reading
Advertisement

Trending