Connect with us

Lifestyle

4 Tanda Cityzen Wajib Ganti Sepatu Olahraga

Published

on

Sepatu olahraga

Sepatu menjadi elemen terpenting jika kalian ingin berolahraga. Pasalnya, jika menggunakan sepatu yang salah, Cityzen berpotensi mengalami cedera.

Sejumlah orang mungkin memilih memakai sepatu lari atau sepatu olahraga yang sama selama bertahun-tahun. Tetapi jika tidak mengganti sepatu olahraga secara teratur, kalian mungkin tidak melakukan kebaikan apa pun pada tubuh.

Namun, sulit rasanya untuk menentukan berapa lama sepatu akan memasuki fase aus. Ada berbagai faktor yang mendasarinya.

MyCity telah merangkum beberapa tanda-tanda sepatu olahraga Cityzen sudah aus dan harus diganti.

  1. Kedaluwarsa 8 Bulan

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Sports Medicine, aturan umum adalah bahwa sepasang sepatu atletik dibuat untuk bertahan di suatu tempat antara 350 dan 500 mil.

Apabila Anda berolahraga secara teratur dan Anda tidak mencatat jarak Anda menggunakan pelacak kebugaran, hasilnya kira-kira setiap enam hingga delapan bulan masa kedaluwarsa sepatu olahraga.

Orang ‘super aktif’, kata laporan itu, harus mengganti sepatu mereka secepatnya tiga bulan.

  1. Aus berlebih pada sol luar sepatu

Keausan berlebih pada sol luar sepatu adalah tanda bahaya lainnya. Hal ini bisa berupa tapak yang aus atau bahkan menghilang di beberapa bagian.

“Biasanya, midsole akan rusak sebelum outsole. Jika Anda melihat keausan pada kulit atau bahkan busa di bagian luar sepatu, itu pertanda bahwa midsole sudah rusak,” ujar ahli sepatu, Britany Gleaton.

  1. Jika Sepatu Anda Lentur di Tempat Ini, Buanglah

“Sepatu lari dirancang agar fleksibel di kaki depan karena di situlah tulang Anda lentur, jadi jika Anda melihat fleksibilitas di kaki depan, itu bukan masalah besar,” ujar Brittany Gleaton, dari Brooks Running, menjelaskan kepada HuffPost.

Tapi jika sepatu mulai melentur di bagian tengah dan tumit, itu pertanda Anda membutuhkan sepatu baru karena sepatu tidak dirancang untuk menjadi fleksibel di bagian kaki itu.

  1. Jika Anda Pejalan Usia Tua, Pertimbangkan untuk Menghindari Sepatu Ini

Sebuah studi baru yang diterbitkan tahun ini di Annals of Internal Medicine berusaha menentukan sepatu mana yang terbaik untuk pejalan kaki yang menua yang menderita osteoartritis lutut.

Di akhir penelitian, para peneliti menemukan bukti yang jelas dan meyakinkan bahwa sepatu yang lebih stabil dan mendukung tubuh, khususnya lutut, itu untuk pejalan kaki yang menua.

Terlebih lagi, penelitian tersebut menemukan bahwa mereka yang memakai sepatu yang lebih fleksibel berisiko dua kali lipat mengalami nyeri kaki dan pergelangan kaki dibandingkan dengan kelompok yang memakai sepatu dengan stabilitas yang lebih tinggi.

Lifestyle

Kopi Pakesang Khas Ternate Terpilih Jadi Kopi Rempah Terbaik se-Nusantara

Published

on

Umi Salama dan Ayub Assagaf

Melalui perlombaan kopi rempah dan original terenak yang berlangsung di IPB International Convention Center, Sabtu (21/5/2022), Kopi Rempah Pakesang dari Ternate dan Kopi Gamalama, Maluku Utara, terpilih sebagai kopi terbaik se-nusantara.

Festival dengan tema “Semarak Jelajah Kopi Rempah Nusantara dalam Menunjang Industri Kreatif Desa” ini digelar oleh Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Pertanian IPB University di IPB International Convention Center Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (21/5/2022).

Dalam festival tersebut, ada 59 peserta yang lulus terpilih berkompetisi mewakili setiap provinsi di Indonesia. Kopi Paksesang khas Ternate, Kopi Gamalala, dan Kopi Buli Halmahera Timur terpilih mewakili Provinsi Maluku Utara.

Baca Juga:

  1. Gandeng Pemprov DKI, WIR Group Kembangkan Metaverse Jakarta
  2. Gali Masa Depan Dunia, Indosat Lebarkan Sayap ke Metaverse
  3. Rusia Uji Coba Rudal Antar Benua, Putin: Musuh Pasti Bakal Was-Was

Kopi Pakesang tersebut adalah produk yang dibuat oleh Umi Salama. Sementara Kopi Gamalama milik Ayub Assagaf, dan Kopi Buli dari Halmahera Timur.

“Sebenarnya ada empat dengan Kopi Dabe dari Tidore, tapi berhalangan jadi tidak bisa ikut. Ini kita dikirim link dari panitia dan mendaftar, akhirnya terpilih dan Alhamdulillah Kopi Pakesang dan Gamalama menjadi juara 1 terbaik,” ucap Burhanuddin Syamsi Rope, perwakilan Kopi Pakesang dalam kegiatan tersebut.

Menurut Bur, dalam festival tersebut, ada beberapa hal yang dilombakan, mulai dari kemasan, higienis, rasa, hingga aroma.

“Jadi, ada kategori kopi rempah dan ada juga original. Pakesang mewakili kopi rempah dan kopi Gamalama mewakili original. Keduanya mengungguli 59 peserta se-nusantara dari 2 kategori itu,” katanya.

“Terima kasih dewan juri yang begitu objektif dalam penilaian, ini menguatkan kita sebagai Kota Rempah layak dipertahankan,” pungkas dia.

Continue Reading

Lifestyle

Apa Itu Hustle Culture yang Sering Melanda Kaum Milenial?

Published

on

ilustrasi bekerja

“Kerja keras akan selalu terbayar, kesuksesan harus dibayar dengan rasa sakit, atau kamu baru bisa bersenang-senang ketika kamu sukses.” Seberapa sering kamu mendengar kata-kata usang yang tidak berguna solah-olah menjadi dorongan ketika kamu merasa penat? 

Rata-rata seseorang bahkan mendengar itu setidaknya dua kali di hidup mereka, tidak peduli terucap dari teman atau lingkungan keluarga.

Kalimat ini diyakini benar dan dapat memotivasi milenial atau gen Z untuk terus-terusan bekerja menggapai mimpi mereka.

Motivasi inilah yang juga menghasilkan budaya hustle culture di kalangan anak muda. Sayangnya terlalu banyak mendengarkan motivasi baik justru sebenarnya buruk?

Riset dari Taylor’s College Malaysia yang dimuat dalam website mereka menunjukkan banyak salah kaprah terkait hustle culture.

Dalam standar modern, hustle culture dapat didefinisikan sebagai keadaan terlalu banyak bekerja dan menjadikannya sebagai gaya hidup.

Tidak ada satu hari pun dalam hidup di mana kamu tidak mengerahkan kemampuan terbaik untuk bekerja dan berujung tidak memiliki kehidupan pribadi.

Menurut kamus, kata hustle memang didefinisikan sebagai tindakan yang penuh energi. Namun, apakah hustle menjadi berbahaya sebagai gaya hidup?

Selama bertahun-tahun, terlalu banyak bekerja dianggap sebagai modernitas sampai kini dianggap sebagai hustle culture seperti apa yang tertulis dalam buku-buku yang dijual di toko, sosial media, atau pengusaha terkenal.

Baca Juga:

  1. Pekerja Rentan Mengalami Kecemasan, Begini Tips Mengatasinya
  2. Waspada Post Holiday Syndrome, Penyakit Parah Usai Libur Lebaran
  3. Crab Mentality, Sikap Dengki Terhadap Kesuksesan Orang Lain

Elon Musk yang juga pendiri Tesla berkicau di Twitter, bahwa tidak ada orang yang bisa mengubah dunia hanya dengan bekerja 40 jam per minggu. Kamu harus bekerja 80 jam secara berkelajutan atau bahkan 100 jam.

Banyak anak muda menjadikan berbagai buku, media sosial, dan pengusaha sebagai inspirasi ketika mengejar kesuksesan mereka sendiri.

Sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang secara ambisius bekerja untuk mecapai goals, tidak mengherankan jika orang-orang secara tidak sadar menjadi korban dari hustle culture.  

Bagaimana hustle culture bisa menjadi budaya berbahaya

Setelah gagasan tentang mencapai kesuksesan menjadi prominen dalam pola pikir masyarakat, lama-kelamaan kamu akan bertanya apa yang salah dengan bekerja keras untuk mencapai kesuksesan.

Pertama, bekerja keras tidak sama dengan sukses. Tidak peduli seberapa keras kamu bekerja, ada beragam faktor yang memengaruhi kesuksesan termasuk lingkungan kerja.

Selain itu, ada faktor-faktor seperti kesempatan, waktu, dan faktor-faktor lain yang tidak bisa kamu kendalikan.

Bekerja keras memang baik, namun bekerja dengan terburu-buru justru menjadi sesuatu yang buruk. Dari sini berhentilah untuk bekerja keras yang mengarah pada mengerjakan semua hal, yang lebih baik justru fokuslah pada tujuan personal dan hal-hal yang mengarah untuk mencapainya.

Terlihat sibuk juga dipresepsikan sebagai hal yang baik. Namun, jika kamu selalu menjadi orang yang hanya punya sedikit waktu beristirahat dan menganggapnya sebagai buang-buang waktu, itu adalah kebiasaan yang tidak sehat.

Namun, jika dilihat kembali, apakah beberapa hal yang dilakukan benar-benar berkontribusi pada produktivitas atau hanya akan membuatmu terlihat sibuk.

Budaya sibuk mendorong masyarakat untuk menciptakan ketidakseimbangan dalam hidup, di mana pekerjaan menjadi hidup dan hal-hal lain yang dilakukan mulai tidak memiliki tujuan.

Continue Reading

Lifestyle

Lebih dari 25 Ribu Orang Menekan Petisi Anjing yang Tewas di Pet Shop

Published

on

By

Lebih dari 25 Ribu Orang Menekan Petisi Anjing yang Tewas di Pet Shop

Saat ini telah ditandatangani oleh lebih dari 25 orang untuk petisi yang menuntut proses hukum atas kematian anjing Maxi, di salah satu pet shop.

Di mana petisi itu berisikan kalimat yang berbunyi, “Kami menuntut kepada Pemkot Tangerang Selatan atas pencabutan izin usahan Holy Pet Shop sesuai dengan UUD Pasal 302 KUHP atas penganiayaan hewan dan hukuman penjara 9 bulan kepada pihak pemilik atas kelalaiannya sehingga menghilangkan nyawa hewan kami.”

Telah ada setidaknya 25.358 yang telah menekan pestisi tersebut. Hal ini berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com pada Sabtu (21/5/2022).

Diketahui anjing Maxi dititipkan di Pet Shop selama 11 hari dengan biaya perawatan penuh, berdasarkan petisi itu. Namun pemiliki kaget saat melihat kondisi anjing tersebut dengan kaki dan testis terjepit di kandang besi yang sangat kecil, kala dirinya akan menjemput Maxi.

Baca Juga:

  1. Ayo Pelihara, 7 Hewan Ini Bisa Bantu Kita Jaga Kesehatan Mental
  2. Begini Tips Bawa Hewan Peliharaan ke Apartemen
  3. 5 Pilihan Hewan yang Mudah Kamu Pelihara di Rumah

Atas hal itu, berarti selama 11 hari pihak pet shop dikatakan tidak merawat Maxim dengan baik. Anjing bulldog itu padahal awalnya mereka janjikan untuk memberikan kandang yang besar.

Anjing Maxim yang mengalami penyiksaan ini membuatnya harus kehilangan testis dan jarinya hingga berujung kematian. Kepada pihak pet shop pun pemilik Maxim sudah meminta penjelasan terkait hal yang terjadi.

Akan tetapi pemilik pet shop justru menyangkalnya serta mengatakan telah dipindahkan ke kandang yang lebih besar untuk maxim. Kemudian karyawan pet shop lalu mengaku bahwa anjing tersebut tidak dikeluarkan selama 11 hari dari kandang kecil, usai diminta penjelasan secara tegas oleh pemilik Maxim.

Selain itu, pemilik pet shop pun mengakui selama 11 hari mereka tidak mengontrol Maxim. Sehingga atas hal tersebut, pemilik Maxim meminta Pemkot Tangerang agar izin usaha pet shop itu dicabut serta diproses secara hukum.

Continue Reading

Trending