Connect with us

Traveling

4 Destinasi Wisata Perkebunan Kopi Paling Ciamik

Published

on

Panen Kopi FOTO:breedie:FAUZANMY

Indonesia memang terkenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbaik di dunia. Tidak hanya kedai kopinya saja yang menawarkan tepat nyaman untuk nongkrong, namun sekarang juga ada beberapa tempat wisata kebun kopi, di mana kalian bisa menikmati sajian kopi secara langsung.

Tidak seperti destinasi wisata pada umumnya, wisata kopi punya penawaran menarik untuk menambah pengalaman perjalanan wisatamu. Biasanya kamu akan diajak berkeliling kebun, merawat pohon kopi, memanen, hingga diajak untuk melihat langsung proses pengolahan kopi.

Berikut  pilihan MyCity destinasi wisata kebun kopi yang bisa menjadi pengalaman baru dan seru untuk Cityzen.

1.Kebun Kopi Malabar, Jawa Barat

Destinasi perkebunan kopi Malabar di Jawa Barat ini terkenal akan keindahan alamnya. Berada di ketinggian 1.400-1.800 mdpl terhampar Kebun Kopi Malabar yang juga bisa kamu sambangi untuk melengkapi pengalaman baru menikmati kopi. Apa yang akan kamu dapatkan di sini akan berbeda dari tempat tempat sebelumnya.

Kopi Arabika Malabar Java Preanger mengandalkan proses yang cukup spesial, lantaran menerapkan standar operasional produksi dengan pengawasan tenaga ahli profesional. Cita rasa yang dimiliki kopi ini juga cukup unik. Sama seperti empat wisata tematik kopi sebelumnya, di sini kamu juga dapat berkeliling dan ikut memetik kopi khas Malabar.

2. Doesoe Kopi Sirap, Jawa Tengah

Berlokasi di Dusun Sirap, Semarang, Jawa Tengah, desa tematik satu ini menawarkan pengalaman ngopi yang berbeda kepada pengunjung lewat tema ‘Ngopi di Tengah Kebun Kopi’.Di Doesoen Kopi Sirap kamu akan merasakan pengalaman menyesap secangkir kopi yang dilengkapi indahnya pemandangan kebun di hadapan Gunung Kelir.

3. Bali Pulina, Bali

Pesona alam dan keindahan budayanya yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bali. Kota Dewata ini ternyata memiliki destinasi wisata kopi yang tak kalah menarik dari daerah sekitarnya.

Di tempat kopi ini menyediakan Kopi yang jarang kamu temui yaitu Kopi Luwak dengan olahan langsung dan kamu bisa menikmati Kopi Luwak dengan nikmat.

4. Perkebunan Kopi Gayo, Aceh

Kopi yang satu ini sudah terkenal di Nusantara hingga mancanegara karena kenikmatan kopi Gayo yang memang tidak perlu diragukan lagi. Untuk kamu yang ingin menikmati langsung kopi Gayo ini di perkebunanya, bisa berkunjung ke Aceh ke perkebunan kopi di gayo. Kamu akan diajak memanen kopi dan mengolahnya secara tradisional. Kamu juga bisa menikmati sensi ngopi langsung di kebun kopi sembari menikmati panorama Danau Lut Tawar yang indah.

5. Perkebunan Liwa, Lampung

Lampung adalah salah satu penghasil Kopi Robusta terbesar di Indonesia, salah satunya berpusat di Liwa. Perkebunan Liwa sangat luas dan memiliki ciri khas aroma kopi yang menguar di beberapa titik. Hal ini karena banyaknya kedai-kedai kopi di sekitar kebun. Saat mampir ke kedai kopi di sini, kamu bisa menikmati secangkir kopi dengan pemandangan kebun kopi yang sangat luas.

Traveling

Desa Wisata Liya Togo, Masuk Nominasi 50 Besar ADWI 2021 & Punya Benteng Peninggalan Kerajaan Buton

Published

on

Desa Wisata Liya Togo
Desa Wisata Liya Togo

Perkembangan wisata di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara kian pesat. Desa Wisata Liya Togo menjadi salah satu tempat yang menunjukkan pesatnya perkembangan wisata di sana.

Bahkan, Desa Liya Togo masuk 50 besar nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Salah satu desa wisata Sultra ini dapat bersaing saat seleksi 100 besar nominasi ADWI 2021.

Ada 4 desa wisata Sultra berhasil lolos ADWI 2021. Yakni, Desa Wisata Sani-sani, Desa Wisata Wabula, Desa Wisata Liya Togo, dan Desa Wisata Limbu Wantiro. Namun, hanya Desa Liya Togo yang berhasil lolos 50 besar.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan bahwa potensi Desa Wisata Liya Togo dapat membantu masyarakat setempat dalam meningkatkan perekonomiannya.

“Saya sangat berbangga bisa sampai di Desa Wisata Liya Togo di Kabupaten Wakatobi. Saya sebelumnya sudah menerjunkan tim, dan ada banyak potensi yang dapat kita kembangkan. Desa ini luar biasa potensinya dan itu terbukti karena berhasil menembus 50 besar,” kata Menparekraf Sandiaga Uno.

Salah satu objek wisata yang bisa dikunjungi di Desa Wisata Liya Togo adalah Benteng Liya. Benteng ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Buton yang juga dikenal dengan nama Benteng Keraton.

Desa Wisata Liya Togo
Desa Wisata Liya Togo

Keunikan benteng ini yaitu dibangun dari susunan batu gunung kemudian direkatkan dengan kapur dan putih telur. Benteng ini memiliki luas hingga 52 hektare dan terdiri 12 lawa atau pintu yang bisa jadi pintu keluar bagi masyarakat kerajaan untuk berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di sekitar.

Di dalam kawasan benteng tersebut, pengunjung bisa melihat sebuah masjid tua bernama Masjid Mubarok yang dibangun pada tahun 1546. Namanya juga dikenal masyarakat sebagai Masjid Keraton Liya. Di bagian kri masjid ini terdapat pemakaman yang cukup lebar dan ciri khasnya adalah barisan batu karang yang ditanam ke tanah. Area divsekitar malam dikelilingi pagar batu dan bunga kamboja.

Konon makam itu adalah tempat peristirahatan seorang pemuda bernama sakti Talo-Talo yang diberikan daerah kekuasaan Liya Togo oleh Kesultanan Buton. Menurut cerita yang beredar di masyarakat setempat, Talo-Talo dianggap berjasa dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di sana.

Selain keberadaan masjid, di kawasan desa juga ada baruga yang menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk bermusyawarah. Berada di kepulauan, Desa Wisata Liya Togo juga bisa memberikan pengalaman baru pada pengunjung untuk melihat kehidupan warga yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan. Selain menyaksikan kegiatan nelayan, pengunjung juga dapat melihat proses budidaya rumput laut dan memasak menu masakan tradisional.

Desa Wisata Liya Togo
Desa Wisata Liya Togo

Desa Wisata Liya Togo juga dikenal dengan produk kriya seperti kain tenun yang dijadikan sarung, selendang, tas, hingga ikat kepala. Kemudian ada pula kerajinan anyaman tikar, mengolah limbah jadi tas, dang katu bangko atau tudung saji.

Ibu-ibu di desa biasa melakukan homoru atau kegiatan menenun di sela-sela kegiatan utama sebagai petani atau nelayan. Kain ini juga sering disebut wuray ledha. Biasanya untuk menyelesaikan sebuah kain sarung siap pakai dibutuhkan waktu menenun hingga satu bulan.

Sebagai bentuk dukungan untuk mengembangkan produk ekonomi kreatif yang dijalankan masyarakat desa Liya Togo, Menparekraf memberikan dua buah mesin jahit dan dua mesin obras. Sebab, selama ini diketahui masyarakat di desa belum memiliki mesin jahit dan mesin bordir.

Selain produk kerajinan tangan, ada pula sektor kuliner yang dikembangkan masyarkat desa. Pengunjung bisa mencoba soami (kudapan dari singkong dan parutan kelapa), sirup tangkulela (belimbing wuluh), jus sampalu dari buah asam yang banyak ditemukan di sekitar benteng, keripik singkong, keripik ikan, dan lumpia abon ikan.

Continue Reading

Traveling

Sandiaga Uno Persilakan Tempat Wisata Buka di Akhir Tahun

Published

on

Menparekraf Sandiaga Uno
Menparekraf Sandiaga Uno

Pemerintah memutuskan menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 selama libur Natal dan Tahun Baru di seluruh Indonesia. Meski demikian, Menparekraf Sandiaga Uno tetap mempersilakan tempat wisata buka.

“Kita tidak ingin mengulang masalah yang sama dimana libur nasional dan libur hari besar agama selalu menjadi pemicu terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia,” ujar Sandiaga Uno.

“Yang perlu diingat, kebijakan penerapan PPKM level 3 ini bukan melarang akan tetapi membatasi operasional dan aktivitas usaha atau destinasi wisata baik dari aspek waktu operasional, kapasitas pengunjung dan penerapan protokol kesehatan secara ketat pada saat perayaan Natal dan Tahun Baru 2021-2022,” dia menambahkan.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Instrumen regulasi utamanya PPKM level 3 nasional akan diatur dalam Inmendagri. Kementerian dan Lembaga lainnya, termasuk Kemenparekraf, menerbitkan surat edaran tentang kebijakan operasional yang merujuk pada Inmendagri.

Sandiaga Uno juga menyatakan kementeriannya sudah menyusun draf surat edaran (SE) sebagai tindak lanjut Inmendagri tentang Aktivitas Usaha dan Destinasi Wisata Pada Saat Perayaan Natal dan Tahun baru 2021 -2022 .

Surat Edaran tersebut ditujukan kepada para Kepala Daerah ( Gubernur, Bupati dan Walikota) serta para Ketua Asosiasi Usaha Pariwisata untuk dapat mendukung sosialisasi, penerapan serta melakukan pengawasan dan pengendalian kebijakan aktivitas usaha dan destinasi wisata selama perayaan natal dan tahun baru 2021 -2022, karena urusan kepariwisataan sesungguhnya merupakan urusan otonom pemerintah daerah.

“Beberapa entitas usaha yang beririsan dengan usaha pariwisata juga diatur oleh kementerian lainnya, Kemenparekraf memperkecil ruang lingkup pengaturan untuk usaha penyediaan makan minum restoran dan sejenisnya, tempat wisata atau taman rekreasi dan tempat hiburan lainnya dan bioskop,” demikian Sandiaga.

Berikut Substansi pengaturan SE Kemenparekraf:

a) Penegasan aktivitas jenis usaha dan tempat / destinasi wisata pada saat perayaan natal dan tahun baru 2021 / 2022 yang merujuk pada pengaturan waktu operasional, kapasitas pengunjung dan penerapan protokol kesehatan pada status PPKM Level 3 yang telah diatur dalam Inmendagri

b) Pelarangan perayaan malam pergantian tahun baru pada tanggal 31 Desember 2021-1 Januari 2022

c) Penerapan protokol kesehatan dan penggunaan aplikasi Peduli Lindungi

Continue Reading

Traveling

Menelusuri Indahnya 2 Kampung Anggur di Yogyakarta

Published

on

Kampung anggur Yogyakarta
Kampung anggur Yogyakarta

Anggur merupakan satu di antara buah yang paling digemari masyarakat Indonesia. Buah ini memiliki rasa identik, yakni manis bercampur asam. Selain dimakan langsung, anggur juga bisa diolah menjadi minuman atau yoghurt.

Tanaman anggur telah dibudidayakan sejak tahun 4000 SM di Timur Tengah dan menyebar ke berbagai negara di seluruh dunia. Ada beberapa varietas anggur yang dikawinsilangkan dan berhasil tumbuh dengan baik di iklim Indonesia, kemudian dikenal dengan nama anggur lokal.

Beberapa jenis anggur lokal antara lain anggur Bali, Kediri Kuning, Probolinggo Biru 81, Prabu bestari, Jestro Ag5, dan yang terbaru adalah Janetes SP 1 keluaran Litbang Kementerian Pertanian.

Selain menikmati buah anggur, sebenarnya di Indonesia juga ada perkebunan anggur yang bisa dikunjungi untuk berwisata. Meski tidak seterkenal mengunjungi kebun stroberi, berlibur bersama keluarga ke kebun anggur bisa jadi alternatif baru.

Baca Juga:

  1. Kerugian Lebih dari Rp2 Miliar, Perempuan Ditangkap atas Dugaan Arisan Online Palsu
  2. Video Nyanyi Tanpa Masker di Acara Nikahan Viral, Bupati Jember Minta Maaf
  3. Satlantas Polres Dairi Amankan 5 Motor Bising

Ya, saat ini wisata kebun anggur memang belum terlalu banyak di Indonesia. Namun, Cityzen bisa menemukan dua kampung wisata anggur di Yogyakarta. Keduanya adalah Kampung Anggur Rongkop dan Kampung Anggur Plumbungan.

Kampung Anggur di Dusun Plumbungan, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Provinsi DI Yogyakarta. Letaknya relatif dekat di Kota Yogyakarta. Hanya sekitar 30 sampai 45 menit berkendara ke arah selatan.

Sesuai namanya, kampung ini dikenal sebagai tempatnya pembudi daya anggur. Sebab, sebagian besar penduduknya menanam anggur di pekarangan rumahnya. Di sepanjang jalan kampung ini, terutama dari bulan Juli sampai Oktober, pengunjung bakal tergoda melihat buah anggur berwarna merah tua dan hijau, berbentuk bulat sedikit lonjong, bergelantungan hampir di setiap pekarangan penduduk. Daun pohon angggur merambat di bangunan rumah hingga menjadi atap teduh di tengah hari yang terik.

Cerita Kampung Anggur ini bermula dari seorang bernama Rio Aditya. Dia menjajal menanam anggur di pekarangan rumahnya pada 2010. “Awalnya saya coba menanam anggur lokal, Isabela. Tapi hasilnya kurang memuaskan,” kata Rio pada Rabu 5 Agustus 2020. Kemudian pada 2014, dia mengganti dengan jenis anggur hibrida dari Ukraina bernamanya Ninel.

Kampung anggur Yogyakarta
Kampung anggur Yogyakarta

Pemuda yang memiliki halaman rumah seluas 150 meter persegi dipenuhi pohon anggur itu memilih budi daya anggur karena potensi pasarnya yang menjanjikan. Buah yang identik dengan minuman wine asal Prancis itu pun coba dikembangkan di Bantul, dan ternyata berhasil. “Perawatannya anggur ninel ini lebih mudah, tidak mengenal musim, dan hasil panennya memuaskan,” ujar Rio.

Rasa buah anggur ninel ini lebih manis dari jenis anggur lainnya. Tingkat kemanisan anggur itu mencapai 22 persen briks atau empat tingkat lebih tinggi dibanding jenis anggur kebanyakan yang rata-rata 18 persen briks. Keberhasilan Rio membudi dayakan anggur ninel memancing minat warga Kampung Plumbungan mengikuti langkahnya.

Kampung Anggur Dusun Plumbungan, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul ini selain telah menjadi wisata agro edukatif, ternyata juga menorehkan sebuah prestasi dan sejarah baru dalam bidang hortikultura, yaitu berhasil membuat varian baru pohon Anggur yang diberi nama Anggur Satria Taman Sari I. Varian baru ini telah bersertifikat dan dipatenkan.

Di sisi lain, Dusun Ngasem Kidul, Kelurahan Bohol, Gunungkidul, baru saja merintis kampung agrowisata anggur dengan pendampingan dari Ikatan Keluarga Gunungkidul (IKG) dan petani anggur. Pengembangan kampung agrowisata ini juga bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan sebagai daya tarik wisata.

Menurut penjelasan Suryanto dari IKG, kampung anggur ini memanfaatkan lahan berkontur perbukitan yang ada di Rongkop. Lokasinya pun termasuk strategis karena berada di jalur wisata Gunungkidul, yang terkenal dengan deretan pantai eksotisnya.

Kampung anggur Yogyakarta
Kampung anggur Yogyakarta

Untuk penanaman anggurnya sendiri sudah sekitar 400 pohon dan berjalan sekitar sembilan bulan, hasilnya dapat dilihat dalam waktu 1,5 tahun. Saat ini, tanaman anggur di sana sudah mulai nampak merambat dan tumbuh subur, bahkan sudah ada yang berbuah.

Drs. Edi Sukirman selaku Ketua IKG mengaku terkesima melihat buah anggur yang tumbuh subur di Kelurahan Bohol yang selama ini dianggap sebagai wilayah tandus. Kebun buah anggur ini menjadi bukti bahwa Gunungkidul tidak hanya punya destinasi wisata yang terkenal, tetapi juga ada potensi lain yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Di Kampung Anggur Rongkop, terdapat 11 varietas anggur yang ditanam yaitu Harold, Trans, Ninel, Nikel super, Sovenir, Carnival, New Baikonur, Vanya, Dobosky Pink, Bowlgoves, dan Forset.

Continue Reading

Trending