Connect with us

Teknologi

2025, Indonesia Butuh 110 Juta Lebih Pekerja Digital

Published

on

Ilustrasi Teknologi.

Perusahaan cloud milik Amazon, Amazon Web Service (AWS) memprediksi Indonesia akan membutuhkan 110 juta pekerja digital baru pada 2025.

Jumlah tersebut diperlukan untuk mendukung perekonomian agar mampu selaras dengan tiap perubahan teknologi di masa depan.

Informasi ini adalah hasil dari laporan riset AWS terbaru yang bertajuk “Unlocking APAC’s Digital Potential: Changing Digital Skill Needs and Policy Approaches” yang disusun oleh AlphaBeta.

Salah satu temuannya, sebanyak 59 persen pekerja digital Indonesia saat ini belum mengoptimalkan penerapan kecapakan mereka di bidang komputasi awan (cloud computing). Padahal, di 2025, keahlian tersebut akan sangat dibutuhkan di pekerjaan mereka masing-masing.

Riset ini juga mengungkap, pekerja yang telah memiliki keahlian bidang digital baru mencapai 19 persen dari seluruh angkatan kerja Indonesia. Padahal pada 2025 kebutuhannya mencapai 110 juta.

Riset ini juga menyoroti pentingnya beragam keahlian bagi Indonesia seperti cloud, keamanan siber, data modeling skala besar, pengembang web, software, dan gim, serta dukungan operasi software yang paling dibutuhkan pada 2025.

Untuk mencapai 110 juta pekerja digital, dibutuhkan sekitar 946 juta pelatihan kecakapan digital.

Baca Juga:

  1. Prancis Tegaskan Akan Terus Lawan Ekstremisme Islam
  2. Serukan Boikot Produk Prancis, Erdogan Ditantang Tutup Pabrik Renault
  3. Pernyataan Kontroversial Macron Soal Islam, Negara Arab Ramai-ramai Boikot Produk Prancis

Diungkapkan, saat ini 48 persen pekerja digital di sektor manufaktur belum menguasai kecakapan di bidang pemodelan data skala besar. Nantinya, di 2025 AWS memprediksi para pekerja membutuhkan jenis keahlian tersebut.

Untuk mendukung angkatan kerja Indonesia mengembangkan kecakapan bidang cloud, AWS telah bekerja sama dengan Kemdikbud. Kerja sama ini menjadi bagian dari inisiatif Merdeka Belajar, yakni melalui revitalisasi kurikulum di 5 universitas terkemuka di Indonesia.

Kelima universitas itu akan mengintegrasikan konten edukasi yang dirancang AWS ke dalam kurikulum. Dengan begitu, siswa bisa mempelajari dasar komputasi awan dan teknologi terkait seperti keamanan siber, analitik data, machine learning, hingga IoT.

“Riset yang kami prakarsai ini menyoroti adanya kebutuhan untuk meningkatkan penguasaan teknologi cloud, bahkan di sektor nonteknologi seperti manufaktur,” kata Managing Director for ASEAN Worldwide Public Sector AWS.

Ia mengatakan, AWS memiliki komitmen mendukung penyiapan dan pembekalan mahasiswa dan pekerja di Indonesia dengan kecakapan di bidang cloud. Dengan begitu, mereka bisa mengikuti perkembangan dan dinamika di industri.

AWS menghadirkan serangkaian kegiatan pelatihan gratis yang mencakup lebih dari 80 kursus gratis dalam Bahasa Indonesia, laboratorium interaktif, dan sesi pelatihan virtual. AWS juga memberikan konten pembelajaran mandiri secara online, untuk cloud engineermachine learning scientistcybersecurity specialist, dan data scientist.

Teknologi

Berani Jual Foto KTP dalam Bentuk NFT, Hukuman 10 Tahun Penjara & Denda Rp1 Miliar Menanti

Published

on

Jual foto KTP dalam bentuk NFT

Keberhasilan Ghozali Everyday meraup cuan miliaran dengan cara menjual foto selfie dalam bentuk NFT di OpenSea membuat banyak orang kini melakukan hal serupa. Bahkan, ada yang sampai menjual foto KTP. Namun, ternyata ada sanksi berat jika kita menjual foto KTP.

Beberapa waktu lalu netizen Indonesia dikejutkan dengan tingkah username Indonesia Identity Card (KTP) Collection menjual 38 item NFT berisi foto KTP warga negara Indonesia yang beberapa di antaranya menyertakan foto selfie. Akan tetapi, hari ini akun OpenSea itu sudah tidak dapat diakses lagi.

Akibat fenomena ini, Dirjen Dukcapil Kementerian Dalam Negeri, Zudan Arif Fakrulloh mengingatkan sanksi keras bagi penjual NFT KTP di OpenSea.

Baca Juga:

  1. Peuyeum, Si Manis Ikonik Kota Bandung yang Disukai Orang Eropa
  2. 8 Makanan yang Mendadak Viral Selama Pandemi Covid-19
  3. Sambel Colek Ikan Wader, Hidangan Para Raja Majapahit

Dia menegaskan, bagi pihak-pihak yang mendistribusikan dokumen kependudukan termasuk dirinya sendiri yang memiliki dokumen kependudukan seperti foto KTP-el di media online tanpa hak, terdapat ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan terancam denda paling banyak Rp1 miliar.

Hal ini tertuang dalam Pasal 96 dan Pasal 96A Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan.

Selain itu, Zudan juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada saat foto selfie dengan dokumen KTP-el di sampingnya untuk verivali.

Sebab, hal tersebut sangat rentan adanya tindakan fraud/penipuan/kejahatan oleh ‘pemulung data’ atau pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab karena data kependudukan ‘dapat’ dijual kembali ke pasar underground. Atau bahkan berpotensi digunakan dalam transaksi ekonomi online seperti pinjaman online.

“Oleh karena itu, edukasi kepada seluruh masyarakat untuk tidak mudah menampilkan data diri dan pribadi di media online apapun,” ujarnya.

Continue Reading

Teknologi

Begini Ramalan Bill Gates Soal Metaverse

Published

on

By

Ilustrasi Metaverse

Bill Gates berikan tanggapannya soal Metaverse, di mana dunia virtual tersebut dikatakan akan mengubah masa depan dunia kerja dan aktivitas manusia.

Bernama lengkap William Henry Gates III, atau lebih dikenal dengan sebutan Bill Gates merupakan seorang tokoh bisnis, investor, filantropis, penulis asal Amerika Serikat. Selain itu juga, Bill Gates adalah mantan CEO yang saat ini menjabat sebagai ketua Microsoft, perusahaan perangkat lunak yang ia dirikan bersama Paul Allen.

Metaverse, merupakan bagian Internet dari realitas virtual bersama yang dibuat semirip mungkin dengan dunia nyata. Segala macam kegiatan bisnis bisa berlangsung di sana, jika seseorang atau perusahaan memiliki tanah di metaverse.

Pengguna metaverse akan memiliki avatar,  dengan hal tersebut membuat mereka bisa berinteraski dengan avatar lainnya. Bill Gates mengatakan bahwa, “Idenya adalah Anda akhirnya akan menggunakan avatar untuk bertemu dengan orang di ruang virtual yang mereplikasi perasaan di ruang sebenarnya bersama mereka.”

Baca Juga:

  1. Korea Selatan Bangun Metaverse Seoul, Kota Digital Pertama di Dunia
  2. Tren Baru, Orang Kaya Ramai-Ramai Beli Tanah di Metaverse
  3. Ada yang Laku Hingga Rp61 Miliar, Begini Cara Beli Tanah di Metaverse

Bill Gates juga mengatakan, jika tahun ini bakal menjadi permulaannya, sedangkan di masa mendatang manusia akan bekerja lewat dunia Metaverse. Seperti yang dikutip dari GatesNotes, Minggu (16/1/2022). Menurutnya, kebiasaan dalam dunia kerja akan dapat berubah dengan kehadirannya Metaverse.

Nantinya kehidupan manusia akan sangat bergantung terhadap dunia digital. Segala sesuatunya yang biasa dilakukan tatap muka, akan beralih secara virtual. Baik untuk bekerja, bahkan sampai aktivitas sehari-hari lainnya.

Ia juga beranggapan bahwa di masa depan, perusahaan akan lebih fleksibel terhadap karyawannya, mereka tidak lagi harus ke kantor untuk bekerja, melainkan bisa dilakukan dengan jarak jauh.

Bill Gates mengatakan bahwa, “Pengguna harus memakai headset dan kacamata virtual reality untuk bisa melakukannya. Saat ini, Microsoft tengah berusaha untuk menambahkan avatar 3D.”

Tidak akan lama lagi Metaverse akan digunakan sebagai pola hidup, terutama dalam dunia kerja. Bill Gates meyakini hal itu nantinya dapat terjadi dan bisa mempengaruhi segala sistem kehidupan yang sebelumnya sudah ada.

Continue Reading

Teknologi

Gara-Gara Ghozali Everyday, Kominfo Bakal Awasi NFT

Published

on

Ghozali Everyday

Nama Ghozali Everyday mendadak viral usai meraup cuan hingga miliaran rupah berbekal menjual foto selfie secara Non-fungible token (NFT). Terkait hal itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan mengawasi para penyelenggara sistem elektronik (PSE) NFT.

Hal itu ditegaskan Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan Sumber Daya Manusia, Dedy Permadi. Dia menegaskan, pengawasan itu dilakukan sesuai amanat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Kementerian Kominfo senantiasa mengawasi para Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) termasuk pihak yang mengoperasikan NFT agar tetap patuh kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Dedy dalam keterangan tertulisnya.

“Sesuai amanat UU ITE dan peraturan pelaksanaannya, Kementerian Kominfo berwenang melakukan pengawasan terhadap PSE,” imbuh dia.

Baca Juga:

  1. Ada yang Laku Hingga Rp61 Miliar, Begini Cara Beli Tanah di Metaverse
  2. Elon Musk Kirim Sindiran Pedas untuk Metaverse
  3. Bill Gates: Bakal Banyak Orang Berkantor di Metaverse

Dedy menyatakan pengawasan itu dilakukan untuk memantau dan menindaklanjuti jika adanyanya pelanggaran yang dilakukan PSE. Pihaknya khawatir ada tranaksi jual beli porno dalam NFT tersebut.

Sementara itu, pihaknya tidak melakukan pengawasan terhadap spesifik transaksinya. Ia menyebut, hal itu merupakam kewenangan dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Dia menuturkan pelanggaran terhadap ketentuan transaksi aset kripto dan kegiatan serupa dapat dilakukan oleh Bappebti.

Sebelumnya, Ghozali Everyday (22) tidak menyangka foto selfie dalam bentuk non-fungible token (NFT) ada peminatnya. Ghozali pun meraup cuan sekitar Rp1,5 miliar dari jual foto NFT.

Continue Reading

Trending