Connect with us

CityCulinary

Tahu Bungkeng, Cikal Bakal Tahu Sumedang yang Berusia Seabad

Published

on

Tahu Bungkeng

Cityzen tentunya sudah mengenal Tahu Sumedang. Namun dari sekian banyak penjual Tahu Sumedang, ada satu nama yang amat tersohor yakni Tahu Bungkeng. Apa istimewanya?

Sejarah tahu Bungkeng berawal pada tahun 1917. Kala itu, Ong Kino warga keturunan China menetap di Lingkungan Tgalkalong, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang.

Ong Kino kemudian membuat tahu untuk dikonsumsi oleh oleh keluargana. Terkadang tahu (tofu) juga dihidangkan kepada tetangga, kerabat, dan tamu yang datang ke rumahnya. Rasa dan bentuk tahu yang dibuat Ong Kino berbeda dengan negara asalnya yakni China. Tahu buatan Ong Koino yang dikenal dengan Babah Eno kemudian dikenal banyak orang.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Ong Kino menggeluti usaha produksi tahu dari tahun 1917 dan usahanya diteruskan oleh sang anak, Ong Bung Keng. Sejak tahun 2019, Tahu Bungkeng telah dikelola oleh generasi keempat yaitu Ong Che Ciang atau Suriadi. Meski sudah beda generasi, kualitas Tahu Bungkeng nyatanya tak pernah berubah.

Dikatakan Suridadi, usaha tahu milik keluarganya ini tetap bertahan karena menggunakan kedelai berkualitas jenis lurik yang memiliki pati banyak.

Tahu Bungkeng

Ia pun mengatakan bahwa salah satu rahasia kenikmatan Tahu Bungkeng adalah penggunaan sumber mata air langsung dari tanah. Sederhananya, jika kualitas air yang dipakai untuk mengolah tahu kondisinya baik, ini juga akan berpengaruh pada hasil akhir tahu.

Tahu Sumedang yang dirintis Bungkeng 1917 itu kini menjadi ciri khas Sumedang. Saat ini tercatat lebih dari 400 pengusaha tahu yang memperkerjakan ratusan bahkan ribuan orang.

Tahu Bungkeng

Bukan hanya yang mengolah tahu tapi juga yang menggoreng sampai menjajakan dan pedagang tahu Sumedang di kios-kios kecil pinggir jalan sampai asongan di bus.

Bahkan saat lebaran, rata-rata setiap hari bisa terjual tahu Sumedang di atas 2 juta biji.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Utama

Kenalan dengan Puthu Lanang Legendaris Malang, Sudah Ada dari Zaman Penjajahan

Published

on

Puthu Lanang

Jika Cityzen berkunjung atau berwisata ke Malang, sepatutnya kalian menikmati kuliner legendaris Puthu Lanang. Tak hanya rasanya yang lezat, kue putu di tempat ini juga tak pernah sepi sejak awal berdiri tahun 1935 silam.

Puthu Lanang Celaket adalah salah satu gerai makanan tertua di Malang ini, didirikan pada 1935 oleh seorang Ibu Soepijah. Kemudian, operasional bisnis ini diturunkan kepada anak laki-lakinya, Siswoyo sejak 20 tahun lalu.

Di bawah kepemimpinannya, gerai Puthu Lanang Celaket tetap menjadi penjaja kue putu yang terbaik dan paling populer di Malang. Dapat dilihat dari jumlah pelanggan yang kerap memenuhi gerai ini, yang terletak di gang kecil di Jalan Jaksa Agung Suprapto setiap harinya.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Toko ini buka setiap hari pada pukul 17.30. Sebaiknya Anda datang ke sana lebih awal karena para pelanggan setia sudah berdatangan.

Selain kue putu, Anda juga bisa menemukan camilan manis tradisional lainnya, termasuk cenil dan lupis. Seporsi dihargai Rp10.000 dan pelanggan diberikan kebebasan untuk mengombinasikan ketiganya.

Hal ini membuat kue puthu terasa lebih nikmat dan harum yang khas. Kedai yang telah berusia 86 tahun ini selalu ramai pengunjung, baik penduduk asli Malang maupun para wisatawan domestik. Bahkan, dalam sehari kue puthu lanang ini terjual 700 hingga 800 porsi.

Puthu Lanang

Kue putu yang disajikan di kedai ini, jika dikunyah akan terasa pulen dan tidak buyar layaknya kue putu yang di jual di tempat lain. Parutan kelapa yang digunakan segar dan bersih.

Puthu Lanang juga menggunakan gula merah asli tanpa dicampur apapun serta memiliki tekstur yang kental dan legit. Biasanya putu di berbagai tempat cenderung menyajikan gula merah yang encer.

iswoyo bercerita bahwa ia kerap membantu sang ibu berjualan dulu kala. Siswoyo sangat gesit dalam menerima dan membungkus pesanan.

Siswoyo sempat galau ketika ingin meneruskan usaha ibunya ini, lantaran saat itu masih muda dan telah mengenyam pendidikan tinggi. Namun, akhirnya Siswoyo tetap melanjutkan meneruskan usaha kue sang ibu.

Siswoyo tak hanya meneruskan usaha ibunya, namun juga mengembangkannya. Siswoyo kalau pagi menyiapkan pesanan kue untuk katering, restoran, dan hotel. Pada saat malam hari, barulah ia berjualan untuk umum. Siswoyo mengakui bahwa ia kerap kewalahan dan tidak sanggup untuk menerima pesanan lagi.

Selain kue puthu, kedai ini juga menjual kudapan manis tradisonal lainnya yang tak kalah nikmat. Di sini, Cityzen juga dapat mencicipi lupis, cenil, dan klepon. Lupis terbuat dari beras ketan yang dibungkus dalam daun pisang, layaknya lontong.

Puthu Lanang

Lupis ini direbus selama 10 jam, sehingga mampu bertahan 4-5 hari. Dalam sehari, kedai ini mampu menghabiskan hingga 25 kg beras ketan. Lain halnya dengan cenil, olahan dari tepung tapioka yang diberi pewarna merah berbentuk uliran yang kenyal ketika digigit. Dalam sehari, kedai ini menghabiskan 15 kg tepung tapioka untuk membuat cenil.

Terakhir, terdapat jajanan pasar klepon. Jajanan ini terbuat dari tepung beras ketan, berbentuk bulat dengan isian parut gula merah yang ditaburi parutan kelapa. Rasanya yang manis legit khas gula merah ini sangat nikmat ketika digigit dalam mulut.

Continue Reading

Berita Utama

Binte Biluhuta, Sup Jagung Khas Gorontalo Pemersatu 2 Kerajaan

Published

on

Binte biluhuta

Binte biluhuta merupakan masakan khas Provinsi Gorontalo yang kaya akan sejarah. Masakan ini mampu memersatukan dua kerajaan yang kerap bertikai di masa lalu.

“Binde biluhuta, diyaluo tou weo, binde biluhuta, bome to hulondalo (jagung yang dikuah, tidak ada di tempat lain, jagung yang dikuah, hanya ada di Gorontalo).”

Kalimat ini merupakan penggalan lirik lagu Binde Biluhuta yang dipopulerkan Eddy Silitonga pada era 1980-an.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Ia seakan ingin menceritakan kepada kita bagaimana sensasi yang dirasakan saat makan kuliner asal Gorontalo tadi.

Ya, hidangan berkuah Binte biluhuta memang menjadi favorit bagi sebagian masyarakat. Sajian yang mampu menghangatkan dan cocok di berbagai situasi ini memang memiliki cita rasa yang lezat nan gurih.

Binte biluhuta

Secara etimologi kata ‘binte’ atau ‘milu’ memiliki arti ‘jagung’ serta ‘biluhuta’ bermakna ‘disiram’. Sehingga, binte biluhuta dapat dimaknai sebagai kuliner berbahan dasar jagung yang dimasak bercampur kuah atau yang disebut juga sebagai sup jagung. Sajian ini juga kerap disebut dengan “milu siram”.

Sajian ini akan memanjakan lidah penikmatnya dengan tiga macam rasa, yakni pedas, asam, dan manis. Sup ini memiliki tiga cita rasa nikmat tersebut dengan berbagai bumbu di dalamnya, seperti bawang merah, bawang putih,merica, cabai, garam, kelapa parut, daun kemangi, tomat, dan perasaan jeruk nipis.

Bahan utamanya adalah jagung, ikan cakalang atau udang. Jagung yang digunakan pun juga tak sembarang jagung. Sajian ini menggunakan jagung pulut, salah satu varietas asli Gorontalo. Jagung ini memiliki tekstur pipilan putih serta rasanya yang gurih kenyal membuat hidangan binte biluhuta semakin nikmat.

Menurut penuturan Mansoer Pateda, penulis buku Jejak Kuliner Indonesia yang terbit pada tahun 2010, binte biluhuta sudah ada sejak abad ke-15. Saat itu beberapa kerajaan di Sulawesi kerap bertikai, seperti Kerajaan Gorontalo dan Limboto.

Binte biluhuta

Salah satu cara untuk mendamaikannya adalah dengan diplomasi kuliner. Secara filosofi, pipilan jagung yang tercerai-berai dari bonggolnya akibat bertikai lalu dipersatukan dalam hidangan yang penuh kenikmatan.

Sejatinya, di dalam semangkuk binte biluhuta ini terdapat cita rasa asam, pedas, dan manis. Semua bersumber dari pertempuran berbagai bumbu dalam proses pembuatan kuahnya.

Harga Binte biluhuta pun terbilang cuku murah. Jika Cityzen berkunjung ke Gorontalo, kalian bisa mendapatkan masakan ini dengan harga antara Rp10 ribu sampai Rp15 ribu.

Continue Reading

Berita Utama

Ragit, Kuliner Khas Palembang yang Kalahkan Pempek di Bulan Ramadhan

Published

on

Ragit Palembang

Meskipun terkenal dengan kuliner pempeknya, Palembang punya kuliner khas lain yang diburu saat bulan Ramadan. Kuliner itu adalah Ragit.

Ragit jalo ini sepintas memiliki bentuk jaring-jaring seperti roti jala India. Dari bentuknya, inilah yang membuat masyarakat setempat menamainya sebagai ragit jalo. Ragit jalo biasanya dikreasikan menjadi bentuk lipat segitiga atau digulung.

Sensasi rasa akan hadir ketika ragit disiramkan dengan kuah kari yang kaya akan rempah, lalu ditaburi bawang goreng ditambah cabai hijau yang dipotong-potong kecil. Seketika, ragit berlumur kari akan menghadirkan rasa gurih, lezat, pedas, dan sedikit asam begitu menyentuh indra pengecap kita.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Kudapan yang satu ini memiliki kemiripan dengan kudapan lainnya khas Indonesia. Seperti roti jala khas Medan yang bentuknya juga mirip dengan ragit. Tidak hanya roti jala, ragit jalo juga mempunyai kemiripan dengan ragit mi yang namanya sama-sama ragit. Namun, ragit mi berasal dari Indramayu, Jawa Barat.

Namun, Ragit sangat susah ditemukan pada hari biasa. Itu karena Ragit hanya dijual oleh pedagang komunitas Arab di Palembang, seperti di Kota Baru, Pasar Kuto, atau daerah Sayangan. Namun, ketika bulan Ramadan tiba pun kepopuler Ragit sebagai takjil berbuka diklaim mengalahkan pempek.

Ragit Palembang

Beberapa pusat kuliner atau pasar dadakan ketika Ramadan di Palembang pun banyak yang menjajakan Ragit.

Di Palembang, terdapat dua jenis Ragit, yakni Ragit Gulung yang berbentuk segitiga dan Ragit Rajut yang dibentuk seperti dadar gulung.

Ragit sendiri terbuat dari terigu, telur, dan garam. Bahan-bahan tersebut kemudian diolah dengan cara didadar layaknya telur dadar. Kemudian, dipadukan dengan kuah yang berisi kentang, daging sapi, santan kelapa, dan bumbu kari.

Ragit Palembang

Kuah dari Ragit biasanya dimasak belakangan seperti menggulai kari biasa. Sebelum disantap, Ragit disiram dahulu dengan kuah kari, kemudian ditaburi dengan bawang goreng dan cabai hijau panjang yang dipotong kecil-kecil.

Ragit memiliki tekstur yang lembut dengan rasa gurih, pedas dan asam, kaya dengan rempah kari yang menggugah selera. Selain itu, sajian ini juga cukup mengenyangkan, cocok dijadikan santapan saat berbuka.

Continue Reading

Trending