Connect with us

CityCulture

Mengupas Akar Tradisi Pawang Hujan, Sang Pengendali Cuaca

Published

on

Pawang Hujan

Jasa Pawang Hujan amat dibutuhkan ketika kita ingin menggelar hajatan, seperti hajatan pernikahan, selamatan, sunatan, dsb. Profesi Pawang Hujan sendiri sudah mengakar kuat dalam tradisi di Tanah Air.

Istilah Pawang Hujan berbeda-beda untuk tiap wilayah. Pada zaman dahulu, masyarakat Betawi telah mengenal istilah dukun pangkeng, mereka disebut selalu ada dalam acara hajatan.

Istilah dukun pangkeng ini muncul karena saat melakukan kegiatannya mereka duduk di dalam sebuah kerangkeng bambu. Sang dukun ini akan melakukan ritualnya dalam kamar yang tertutup rapat.

Baca Juga:

  1. Lawang Sakepeng, Tradisi Dayak Ngaju untuk Putus Malapetaka Pernikahan
  2. Iran Bertekad Cegah Israel Rusak Hubungan Antar Negara Tetangga
  3. Taliban Ancam Balik Amerika Serikat

Adapun dalam ritual itu, si empunya hajat harus menyajikan sesajen seperti kopi pahit dan kopi manis, kembang turuh rupa, telur ayam kampung, aneka jajanan pasar, hingga pendupaan.

Ya, jasa Pawang Hujan di perkotaan mungkin sudah tak lagi dibutuhkan. Namun, di desa-desa, masih banyak orang yang menggunakan jasa Pawang Hujan untuk memperlancar jalannya hajatan.

Terkadang, Pawang Hujan juga harus beradu sakti. Dia harus melawan pawang hujan lainnya bila dalam satu wilayah berdekatan terdapat acara dan pesta. Siapa yang menang ditentukan dari langit yang paling cerah.

Masyarakat Jawa mengenal orang-orang pintar yang dianggap bisa memindahkan hujan. Mereka adalah para sesepuh yang dimintai doa oleh orang-orang yang memiliki hajatan. Para sesepuh itu tidak perlu datang ke tempat acara.

Pawang Hujan

Biasanya, mereka enggan meminta bayaran. Sebab, jika meminta upah kesaktian mereka akan dicabut oleh sang Mahakuasa. Mereka yakin, zat yang tak kasat mata itu berpengaruh terhadap kelangsungan kehidupan manusia.Dalam tradisi keraton di Jawa, pawang hujan bahkan memiliki kedudukan yang prestisius.

Hingga kini, tak diketahui kapan awal mula munculnya profesi Pawang Hujan. Beberapa hanya bisa dilihat dari beragam tradisi pada setiap daerah.

Semisal dalam cerita rakyat Betawi, tentang dewa-dewi yang diturunkan ke bumi, mereka dikenal sebagai nenek dan aki Bontot. Pasangan tua itu mengajari manusia mengelola Bumi, mengenali tanda-tanda alam dan hewan, serta memperkenalkan dengan alam gaib.

Cerita ini dituturkan secara turun menurun dan tetap lestari di tengah masyarakat Betawi. Kisah nenek dan aki Bontot juga menjadi dasar eksistensi dari profesi unik yang ada dalam masyarakat Betawi, yakni pawang hujan.

Tak cuma di masyarakat Betawi atau Jawa, di berbagai tempat lain berlaku pula hal serupa. Sebagai contoh di Bali, masyarakat menggunakan jasa pawang hujan yang disebut Nerang Hujan. Sementara, di Riau pawang hujan dikenal dengan istilah Bomoh.

Pawang Hujan

Konsepsi para pawang hujan memang tidak menghilangkan hujan. Dia hanya bermain-main dalam konteks waktu, menunda, mempercepat, atau mengalihkannya.

Selain itu pawang hujan, terutama di Jawa, hadir sebagai antitesis dari ritual-ritual mendatangkan hujan yang tersebar di berbagai penjuru negeri.

Misalnya tradisi meminta hujan dengan Tari Gundala-Gundala, pada masyarakat Karo, Sumatra Utara (Sumut), atau Tradisi Gebug Ende, Karangasem, Bali yang harus saling pukul dengan rotan untuk mendatangkan hujan.

Memasuki zaman teknologi, profesi pawang hujan mulai ditinggalkan. Manusia kini memang tak butuh pawang hujan. Mereka tahu kapan hujan akan datang lewat ramalan cuaca yang terpampang di layar handphone.

Selain itu profesi ini pun tak menjanjikan pamrih ekonomi. Akibatnya, hampir semua pawang hujan berusia senja, melayani dengan tulus demi kebaikan kepada sesamanya. Seorang pawang hujan menempa dirinya dengan berbagai kearifan, terutama ikhtiar menjaga alam dan lingkungan sekitar.

Berita Utama

Berapa Total Jumlah Bahasa Daerah di Indonesia? Ini Jawabannya

Published

on

Bahasa Daerah

Indonesia memiliki beragam bahasa daerah yang harus dilestarikan. Tetapi keragaman bahasa Indonesia terancam punah atau hilang. Penyebabnya karena semakin berkurangnya penutur bahasa daerah asli.

Pemerintah terus berupaya melestarikan bahasa lokal di daerah yang statusnya kritis atau terancam punah karena berkurangnya jumlah penutur. Salah satunya melalui upaya revitalisasi yang dilakukan balai bahasa yang berada di berbagai wilayah.

“Konservasi dalam konteks pelindungan bahasa merupakan upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan bahasa agar tetap dipergunakan oleh masyarakat penuturnya,” kata Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT, Syaiful Bahri Lubis dalam rangkaian peringatan Bulan Bahasa dan Sastra 2021.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Kemajemukan Indonesia di berbagai sisi sudah menjadi nilai yang dikenal luas, termasuk kemajemukan dalam sisi bahasa. Indonesia memiliki lebih dari 600 bahasa daerah yang tersebar di penjuru nusantara yang dipersatukan melalui bahasa Indonesia.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa Kemendikbud) telah memetakan dan memverifikasi 652 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah tersebut tidak termasuk dialek dan subdialek pada 2018 lalu.

“Dari tahun 1991 sampai 2017 kami telah memetakan dan memverifikasi bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Jumlahnya saat ini 652 bahasa daerah, yang tentunya bisa berubah seiring waktu,” kata Dadang Sunendar, dikutip kemdikbud.go.id (23/7/18).

Adapun laporan terbaru berjudul Statistik Kebahasaan 2019 dari Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah bahasa daerah di indonesia yang terverifikasi sejumlah 668 (terverifikasi dan termutakhir menurut dialektologi) dan ada 750 bahasa daerah yang dihitung dari akumulasi persebaran bahasa berdasarkan provinsi (terverifikasi dan termutakhir menurut sosiolinguistik).

Berdasarkan laporan tersebut, jumlah bahasa daerah di indonesia dapat dihitung berdasarkan persebaran bahasa di tiap provinsi indonesia. Dalam hal ini, Papua menjadi provinsi dengan jumlah bahasa daerah terbanyak, yakni ada 299 bahasa daerah atau hampir separuh dari jumlah bahasa daerah yang tercatat di pusat data dan statistik pendidikan dan kebudayaan.

Provinsi dengan bahasa daerah terbanyak ke-2 adalah Papua Barat dengan 96 bahasa daerah dan provinsi dengan bahasa daerah terbanyak ke-3 adalah Nusa Tenggara Timur dengan jumlah bahasa daerah sebanyak 69 bahasa.

Dapat dilihat bahwa wilayah timur indonesia memiliki banyak bahasa daerah yang cukup banyak. Meski demikian, dikutip dari laman resmi kemendikbud.go.id dikatakan bahwa Bahasa-bahasa di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat belum semua teridentifikasi. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan akan adanya penambahan jumlah bahasa daerah di wilayah-wilayah tersebut jika dilakukan penelitian mendatang.

Hal tersebut juga dikarenakan adanya perbedaan jumlah bahasa daerah di indonesia dari beberapa penelitian yang dilakukan serta pengelompokkan bahasa daerah dengan indikator yang berbeda.

Contohnya adalah jumlah bahasa daerah yang terdata dalam laporan oleh Summer Institute of Linguistics. Dalam laporan tersebut jumlah bahasa di Indonesia sebanyak 719 bahasa daerah dan 707 di antaranya masih aktif dituturkan.

Sementara itu, UNESCO baru mencatatkan 143 bahasa daerah di Indonesia berdasarkan status vitalitas atau daya hidup bahasa.

Mengacu pada laporan statistik kebahasaan yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, jumlah bahasa daerah di indonesia ada sebanyak 668 bahasa yang terverifikasi menurut dialektologi.

Continue Reading

CityCulture

Ampyang Maulid, Cara Leluhur Berintropeksi Diri di Perayaan Maulid Nabi

Published

on

Continue Reading

Berita Utama

Tradisi Marosok, Etika Berdagang Sapi yang Unik dari Tanah Minang

Published

on

Tradisi Marosok

Menjelang Hari Raya Idul Adha, ada kegiatan menarik di Sumatera Barat soal jual-beli. Hal yang membuat menarik adalah cara tawar-menawarnya, atau yang biasa dikenal dengan sebutan tradisi marosok.

Ya, Belajarlah etika berdagang dari pedagang sapi di Ranah Minang. Kalimat tadi sering disebut-sebut ketika membahas tata cara berdagang hewan ternak yang baik. Selama melakukan transaksi jual beli, antara penjual dan pembeli tetap menjaga kerahasiaan harga yang disepakati.

Kerahasiaan harga ini menggambarkan nilai saling menghargai. Tak ada satu pun orang yang tahu berapa harga yang disepakati kecuali penjual dan pembeli itu sendiri.

Marosok jika diartikan ke bahasa Indonesia artinya meraba, kemudian marosok adalah tradisi berjabat tangan antara penjual dan pembeli ternak, kemudian tangan tersebut ditutup dengan kain. Selanjutnya, mereka tawar menawar dengan cara marosok.

Tawar menawar dalam proses pembelian hewan ternak pun terjadi tanpa adanya komunikasi verbal, kesepakatan akan terjadi dengan kedua tangan yang berjabat itu.

Marosok menjadi tradisi hampir di seluruh pasar ternak daerah Sumbar, beberapa daerah yang menjalankan tradisi ini adalah Kabupaten Padang Pariaman, Tanah Datar, Kota Payakumbuh, Kabupaten Solok, Limapuluh Kota, dan Agam.

Sejarah Tradisi Marosok

Tradisi Marosok

Hingga sekarang memang belum ada yang mengetahui pasti awal mula tradisi unik dari Minangkabau ini. Kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang harus dilestarikan.

Walau begitu secara budaya, tradisi marosok erat kaitan dengan rasa malu dan sopan santun. Pada zaman dahulu hewan ternak, seperti sapi atau kerbau berasal dari peninggalan harta pusaka yang diturunkan dari leluhur suatu kaum keluarga.

Dalam pandangan masyarakat Minang adalah hal yang memalukan dan menjadi aib apabila suatu kaum terpaksa menjual harta pusakanya. Namun berbeda bila ada keperluan mendesak, seperti sakit, kematian, kebutuhan biaya pernikahan, biaya pendidikan dan lain sebagainya.

Pihak keluarga terpaksa menjual harta pusaka mereka. Namun mereka tetap berusaha menjaga rahasia agar penjualan harta pusaka berupa hewan ternak tadi tidak diketahui orang kampung.

“Sebab jika harga murah mereka dianggap mengobral harta pusaka, namun jika harga tinggi mereka dianggap mencari keuntungan dengan menjual harta peninggalan nenek moyang mereka sendiri. Maka untuk menjaga kerahasian itulah tradisi marosok ini lahir,” jelas Ade Rikka Umassari dalam artikel berjudul Interaksi Simbolik dalam Proses Komunikasi Jual Beli Ternak Marasok di Pakayumbuh Sumatera Barat.

Tradisi Marosok

Selain sebagai rahasia dagang, marosok merupakan bentuk etika yang dijadikan upaya menjaga hubungan baik antar sesama pedagang ternak di Minangkabau. Etika yang dimaksud adalah rasa tenggang rasa antar sesama pedagang dalam hal tawar-menawar ternak.

Sifat tenggang rasa dianggap sebagai salah satu sifat yang paling dijunjung tinggi oleh masyarakat Minangkabau. Unsur etika atau rasa tenggang rasa pada masyarakat Minangkabau terkenal dengan konsep raso jo pareso.

Secara harfiah, raso jo pareso berarti “rasa dan periksa”. Artinya, seseorang di Minangkabau yang dikatakan sebagai orang yang beretika atau berbudi baik adalah seseorang yang mengerti dengan apa akibat dari suatu perbuatannya.

Konsep hidup raso jo pareso tersebut sudah mengakar pada para pedagang ternak di Pasar Ternak Simpang Tigo Ophir. Penerapan raso jo pareso akan menumbuhkan rasa saling menghormati dalam hal tawar-menawar ternak.

Continue Reading

Trending