Connect with us

CityBusiness

Dukung Pemulihan Ekonomi UMKM, Lion Parcel Luncurkan Layanan Pengiriman Murah

Published

on

Jagopack

Lion Parcel (PT. Lion Express) meluncurkan layanan terbaru JAGOPACK sebagai bentuk kontribusinya dalam pemulihan produktivitas dan ekonomi masyarakat.

Peluncuran JAGOPACK ini juga merupakan inisiatif Lion Parcel yang melihat kebutuhan para pelanggan yang terus berkembang dan bagaimana layanan logistik kini telah memiliki peran penting dalam aktivitas masyarakat yang serba terbatas di tengah pandemi.

Terbukti selama Januari-Agustus 2021, Lion Parcel berhasil mencatat kenaikan volume jumlah pengiriman sebesar 55% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini memungkinkan Lion Parcel untuk mempertahankan jumlah tonase pengiriman di bulan September 2021 sebesar 4.000 ton, sama seperti pencapaian pada periode Ramadan 2021.

Baca Juga:

  1. Lawang Sakepeng, Tradisi Dayak Ngaju untuk Putus Malapetaka Pernikahan
  2. Iran Bertekad Cegah Israel Rusak Hubungan Antar Negara Tetangga
  3. Taliban Ancam Balik Amerika Serikat

“Kami memahami bahwa selain layanan pengiriman yang cepat dan andal, mudah diakses, dan memiliki jangkauan luas, para pelanggan juga menjadikan ongkir murah sebagai salah satu pertimbangan utama dalam menentukan jasa logistik yang hendak mereka gunakan. Oleh karena itu, JAGOPACK kami hadirkan untuk menjawab kebutuhan dan ekspektasi tersebut,” ungkap Farian Kirana, Chief Executive Officer Lion Parcel.

Didukung oleh layanan pengantaran yang telah menjangkau 98% kecamatan di 34 provinsi Tanah Air, JAGOPACK akan memberikan kemudahan akses dan kenyamanan pengiriman paket bagi para pelanggan,” dia menambahkan.

JAGOPACK ditawarkan dengan ongkir mulai dari Rp4.500 untuk pengiriman luar kota yang tersedia di lebih dari 40.000 rute. Dengan adanya ongkir yang murah ini, JAGOPACK diharapkan dapat semakin memacu percepatan roda transaksi ekonomi khususnya di kalangan pelaku bisnis UMKM guna mendukung produktivitas pengiriman barang mereka dengan lancar, efektif, dan efisien secara biaya.
Dengan demikian, mereka dapat mengembangkan jangkauan distribusi produk-produknya secara lebih luas lagi di seluruh penjuru Tanah Air bersama Lion Parcel.

Kenny Kwanto selaku Chief Marketing Officer Lion Parcel menambahkan, “Semakin menguntungkan lagi, JAGOPACK hadir dengan dilengkapi promo SIKAT (Setengah Kilo Hemat), dimana berlaku kebijakan pembulatan ke bawah dan tanpa perhitungan dimensi (volumetrik). Sebagai contoh, apabila pelanggan mengirimkan paket dengan berat tanggung 1,9kg, maka ongkir yang dibayarkan hanya untuk 1,5kg.”

“Kami harap layanan ini dapat 1 dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat luas, terutama para pelaku UMKM dalam mengakselerasi pengembangan serta pertumbuhan bisnisnya. Dengan roda transaksi yang makin bergulir, dan pasar yang makin luas, diharapkan perekonomian nasional yang tengah terdampak pandemi dapat segera pulih kembali,” tambah dia.

CityBusiness

Jalankan OPTIMUS, Optimasi Biaya di Subholding Upstream Capai 358 Juta Dolar AS

Published

on

PT. Pertamina

Setelah selesai tahapan LegalEstablishment Subholding Upstream Pertamina dilakukan, berbagai upaya transformasi menjadi perusahaan energi nasional berkelas dunia terus dilakukan.

Salah satu langkah terobosan yang dilakukan adalah melalui programOPTIMUS, yaitusebuah strategi optimisasi biaya melalui efisiensi operasi, implementasi teknologi tepat guna, integrasi procurement dan penggunaan fasilitas bersama.

Hingga Agustus 2021, telah berhasil dilaksanakan 136program optimisasi yang diimplementasikan di seluruh grup Subholding Upstream Pertamina dan diharapkan dapat memenuhi target sebanyak 190 program pada akhir 2021.

Baca Juga :’

  1. Kementerian PUPR Bangun Rumah Susun untuk Gelandangan di Bekasi
  2. Mahasiswa Siap Kembali ke Jalan jika Tuntutannya Tak digubris Jokowi
  3. Digitalisasi Koperasi, Solusi Pemulihan Ekonomi Nasional di Masa Pandemi Covid-19

“Kami bersyukur karena hingga Agustus 2021kami dapat melakukan optimisasi biaya sebesar 358 juta USD atau  sudah melebihi 115% dari target optimisasi biaya tahun 2021 sebesar 310 Juta USD. Optimisasi biaya ini diperoleh dari 136programyang telah terlaksana. Salah satu program tersebut  adalah MAXTER atau Optimisasi MaterialEx Lapangan Terminasi, dimana melalui Maxter ini kami bisa mengoptimalkan material pemboran dari lapangan ex terminasi untuk keperluan operasi di lapangan lainnya. Hingga Agustus 2021, Maxter mampu mencatatkan optimisasi biaya hingga 11 Juta USD”, jelas JohnH Simamor, Direktur Perencanaan Strategis dan PengembanganBisnis Pertamina Hulu Energi. 

Selain itu, ada program optimasi biaya yang diterapkan di lapangan Pertamina Hulu Mahakam, yakni Low Operations Cost of Mahakam to Achieve Effectiveness and Efficiencies (Locomotive8)Yang merupakan bagian dari proyek Optimus. Beberapa contoh inisiatif utama yang telah berhasil dilaksanakan melalui proyek Locomotive-8 ini adalah optimasi kegiatan Well Intervention dan optimasi pemanfaatan material eks terminasi.

“Program Optimasi Well Intervention Locomotive-8 telah mampu menjaga level produksi minyak dan gas Blok Mahakam sesuai target perusahaan dengan pencapaian biaya operasi yang lebih rendah sehingga mampu menghasilkan optimasi biaya hingga 5,2 juta USD,” tambah John.

yang berlangsung sejak Januari 2021 ini dilakukan bertujuan untuk menjaga keberlanjutan operasi, kemampuan berinvestasi dan menciptakan laba di Subholding Upstream Pertamina.

“Dengan kondisi organisasi yang baru ini, Subholding Upstream terus melakukan langkah – langkah terobosan agar keberlangsungan bisnis dapat terus berjalan dan bertumbuh menjawab tantangan perubahan zaman”, ujar John.

Lebih lanjut, John menambahkan bahwa hal ini merupakan wujud capaian yang positif dari implementasi Holding-Subholding, dimana kami bertransformasi menjadi organisasi yang lebih agile, lean, dan efisien dalam menjalankan tugas. Perjalanan Subholding Upstream masih panjang, dan kami membutuhkan dukungan dari seluruh pihak terkait.  

“Tentunya kami membutuhkan dukungan dari seluruh pihak agar transformasi Pertamina berjalan lancar dan kami mampu untuk berkontribusi positif pada target nasional  1 Juta BOPD dan 12 MMSCFD pada 2030”, pungkasnya.

Continue Reading

CityBusiness

Pandemi Covid-19, Unilever Justru Raup Untung Rp4,4 Triliun

Published

on

Foto: Logo Unilever

PT Unilever Indonesia, Tbk. (“Perseroan”) mengumumkan laporan kinerja keuangan untuk tahun berjalan September 2021 (tidak diaudit). Meski pertumbuhan penjualan domestik melambat sebesar 7,4% pada tahun berjalan September 2021, Perseroan tetap berhasil mencatat penjualan bersih sebesar Rp30 triliun. Kategori Foods & Refreshment menjadi penopang utama pertumbuhan dengan membukukan pertumbuhan penjualan sebesar 9,8% di Kuartal III 2021.

Kuartal III 2021 merupakan periode yang masih menantang akibat gelombang II kasus Covid19 dan ditemukannya varian Delta, mengakibatkan penerapan Pemberlakuan Pembatas Kegiatan Masyarakat (PPKM) di berbagai wilayah di Indonesia. Meski menghadapi tantangan periode PPKM pada kuartal III 2021 yang tidak dihadapi pada kuartal sebelumnya, Perseroan tetap mampu menjaga kestabilan nilai penjualan dan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 4,4 triliun.

Baca Juga :

  1. Tragedi Kelam Bintaro & Kisah Pilu Masinis Selamet
  2. Bendera Merah Putih Tak Berkibar Usai Indonesia Raih Thomas Cup, Ini Penyebabnya
  3. Mahasiswa Siap Kembali ke Jalan jika Tuntutannya Tak digubris Jokowi

 “Pasar FMCG kembali menghadapi tantangan pada kuartal III dengan terjadinya gelombang kedua pandemi di Indonesia yang diikuti dengan pemberlakuan PPKM di sebagian besar wilayah nusantara. Selain itu, kenaikan harga komoditas juga masih berlanjut dan semakin mempengaruhi biaya produk. Berbagai tantangan tersebut mempengaruhi konsumen dalam pemilihan pola konsumsi di berbagai kategori, dan mempengaruhi tingkat pertumbuhan perseroan,” kata Presiden Direktur PT Unilever Indonesia, Tbk ira Noviarti.

“Kenaikan biaya produk dikarenakan kenaikan harga komoditas tidak dapat dibarengi langsung dengan kenaikan harga produk Unilever secara optimal karena mempertimbangkan kondisi masyarakat yang masih memiliki keterbatasan dalam daya beli selama situasi pandemi,” tambah dia.

Meski demikian, Ira menegaskan bahwa strategi Perseroan di 2022 dibangun untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut dengan tepat sasaran.

“Sebagai turunan dari strategi jangka panjang 2025, ada lima strategi prioritas Unilever Indonesia di tahun 2022 untuk meningkatan pertumbuhan perseroan yaitu: 1) Memperkuat dan unlock potensi penuh dari brand-brand besar dan produk utama melalui inovasi yang terdepan dan menstimulasi konsumsi konsumen; 2) Memperluas dan memperkaya portfolio ke value dan premium segment; 3) Memperkuat kepemimpinan di channel utama (GT dan Modern Trade) dan channel masa depan (e-Commerce); 4) Memimpin di Digital & Data Driven capabilities; 5) Tetap menjadi yang terdepan dalam penerapan bisnis yang berkelanjutan.”

Selama Kuartal III 2021, PT Unilever Indonesia Tbk. telah meluncurkan beberapa inovasi yang sejalan dengan strategi prioritas perseroan dalam hal perluasan portfolio ke segmen premium dan value, diantaranya:

  • Rangkaian Ponds Skin Cooling (Berry Glow dan Matcha Clear) yang diformulasikan dengan skin cooling technology sehingga dapat menurunkan suhu kulit hingga 5 derajat Celsius dengan tekstur creamy seperti es krim;
  • Vaseline Hijab Bright yang diformulasikan khusus bagi perempuan yang menggunakan hijab untuk kulit cerah selama 12 jam, cooling dan bebas gerah
  • Molto Spray Anti Kusut yang secara instan menghilangkan kusut hanya dengan usapan tanpa perlu menyetrika;
  • Sunlight Spray Disinfektan untuk alat makan

Disamping itu perseroan terus memastikan keberadaan dari produk-produk dengan kemasan dan harga yang terjangkau (IDR 500, IDR 1,000, IDR 2,000) dari brand-brand besar seperti Royco, Bango, Rinso, Sunlight, Sunsilk, dan Clear.

Sementara itu, implementasi dari strategi Memimpin di Digital & Data Driven Capabilities mencakup efisiensi dan simplifikasi pada operational perseroan yang didukung oleh otomasi digital. Salah satu perwujudannya adalah dengan membangun ekosistem berbasis teknologi yang future-fit dan tahan banting dengan jangkauan yang lebih luas di semua lini, termasuk produksi, pengiriman, dan penjualan.

Lebih jauh Ira menjelaskan bahwa Perseroan tetap berkomitmen kuat untuk membantu pemerintah dan masyarakat untuk bangkit pasca pandemi melalui berbagai upaya baik yang dilakukan secara kolaboratif maupun secara mandiri. Di kuartal tiga 2021 Perseroan mencatatkan 100% karyawan yang memenuhi syarat telah mendapatkan vaksinasi pertama melalui dukungan Perseroan pada program Vaksinasi Gotong Royong dari pemerintah. Di samping itu, Perseroan juga membantu pelaksanaan vaksinasi untuk pemulung di beberapa titik, serta mengikutsertakan ajakan vaksinasi di berbagai komunikasi brand.

“Mempertimbangkan kondisi yang kita semua hadapi di kuartal tiga, situasi masih akan menantang karena membutuhkan waktu transisi yang tidak sebentar sebelum konsumen dapat kembali ke purchasing behaviour sebelum pandemi. Meski demikian, kami optimis bahwa dengan strategi kami, Perseroan sudah di jalur yang tepat untuk kembali menuju pertumbuhan yang konsisten dan berkelanjutan. Kami berharap bahwa situasi akan terus membaik, perekonomian Indonesia akan kembali bangkit, demikian pula halnya dengan Perseroan,” tutup Ira.

Continue Reading

Berita Utama

Industri Keramik, Ladang Cuan Ekonomi Kreatif Baru Indonesia

Published

on

Industri keramik

Ada tiga subsektor yang diusung Pemerintah Indonesia dalam program ekonomi kreatif. Ketiganya adalah fesyen, kriya, dan kuliner. Ketiganya memiliki kontribusi terbesar untuk Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Salah satu produk yang berada di bawah naungan subsektor kriya adalah produk keramik. Para perajin keramik di Indonesia banyak yang menjadi anggota ASAKI (Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia).

ASAKI pertama kali didirikan pada 17 November 1972, yang kemudian berbadan hukum pada 30 April 1993. ASAKI Meliputi empat bidang industri keramik yaitu: tile, tableware, sanitary, roof tile, dan pemasok bahan baku dan mesin.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

ASAKI memaparkan bahwa dari 4 bidang industri keramik tersebut, bidang saniter dan tableware merupakan bidang yang memiliki potensi tinggi sebagai produk ekspor. Untuk produk bidang saniter misalnya, ASAKI menyebutkan bahwa 25 persen dari produksi keramik saniter diekspor ke negara-negara di ASEAN, Jepang, Australia, dan Amerika.

“Sebagian besar merek produk ini sudah dikenal masyarakat seperti merek TOTO dan American Standard yang memproduksi kloset, wastafel, urinal dll. Kapasitas produksi sekitar 5.6 juta pcs/tahun.

Sebagian besar kebutuhan dalam negeri sudah dapat dipenuhi produsen kita. Keramik saniter, 75 persen dipergunakan pasar lokal, sedangkan ekspor kira-kira 25 persen dengan tujuan negara ekspor terbesar Amerika, Jepang, Australia, dan ASEAN”, dikutip dari laman resmi ASAKI.

Hal itu yang membuat Kementerian Perindustrian memprediksi bahwa industri keramik akan terus mengilap karena Indonesia memiliki ketersediaan bahan baku dan sumber energi gas yang melimpah.

Selain itu, Indonesia juga didukung dengan deposit tambang sebagai bahan baku keramik yang cukup besar dan tersebar di berbagai daerah seperti ball clay, feldspar, dan zircon, maupun ketersediaan energi gas yang melimpah sebagai bahan bakar proses produksinya.

Industri keramik

“Selama 30 tahun terakhir, perkembangan industri keramik nasional menjadi salah satu industri unggulan dalam negeri dan prospek industri keramik nasional memiliki peluang cukup besar untuk jangka waktu yang cukup panjang,” ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Haris Munanda.

pada 2014 industri keramik Indonesia memiliki kapasitas 1,8 juta m2/hari dan produksi 1,6 juta m2/hari. Hasil produksi 87% diserap pasar lokal dan 13%diekspor. Nilai penjualan industri keramik mencapai Rp 30 triliun dan diproyeksikan pada tahun 2015 mencapai Rp 36 triliun. Saat ini produsen keramik lantai dan dinding berjumlah 35 perusahaan dengan jumlah pabrik keseluruhan 95 unit Secara keseluruhan industri keramik mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 200.000 orang.

“Industri keramik nasional masih berpeluang untuk dikembangkan, mengingat konsumsi keramik perkapita yang masih rendah sekitar 1 m2 dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya sudah di atas 2m2,” kata Haris. Bahkan, dengan jumlah penduduk 250 juta serta didukung prospek pembangunan properti dan konstruksi di Indonesia, peluang pasar itu diharapkan dapat dimanfaatkan dengan baik.

“Dalam rangka menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN dan globalisasi tahun 2015, Pemerintah terus berupaya meningkatkan daya saing di beberapa sektor industri termasuk salah satunya adalah industri keramik,” tegas Haris. Pemerintah juga terus berupaya mengembangkan industri keramik nasional dengan melakukan pengembangan kemampuan SDM di bidang desain dan rekayasa produk.

Selama ini Kementerian Perindustrian telah melakukan beberapa langkah strategis dalam upaya pengembangan industri keramik nasional, antara lain: meningkatkan program peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) dan pengawasan pelaksanaan standar nasional Indonesia (SNI) wajib bagi keramik yang beredar di pasar dalam negeri.

“Dalam kesempatan ini, saya menaruh harapan besar Kepada Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) agar dapat membantu dalam meningkatican pangsa pasar produk keramik nasional yang berkualitas dan inovatif, baik di tingkat nasional maupun internasional, sebagaijalan untuk membawa industri keramik nasional bersaing di pasar global,” papar Haris.

Sementara itu, Balai Besar Keramik (BBK) Bandung memiliki peran strategis dalam menjawab peluang dan tantangan guna pengembangan industri keramik nasional melalui kegiatan litbang teknologi, serta pelayanan jasa teknis industri berupa bimbingan teknis serta pengujian terhadap mutu produk keramik. “Selain itu BBK juga senantiasa melakukan inovasi, terhadap bahan baku/penolong, proses, teknologi dan desain produk yang melahirkan ide-ide baru/cemerlang yang mampu meningkatkan kualitas dan mutu produk keramik,” tuturnya.

Kerjasama penelitian dan pelayanan jasa teknis yang dilakukan oleh BBK dengan industri keramik nasional telah membuahkan berbagai hasil yang dapat diaplikasikan langsung oleh industri keramik nasional, mulai dari pengendalian mutu bahan baku, produk (standarisasi, kalibrasi dan sertifikasi), peningkatan efisiensi di dalam proses produksi, pengendalian lingkungan (internal dan eksternal), serta pembangunan dan pengembangan kapasitas industri (produk dan sumberdaya manusia).

Haris juga mengingatkan, tantangan ke depan akan semakin berat. Mau tidak mau kemandirian dan daya saing industri nasional harus ditingkatkan agar industri dapat terus tumbuh dan dapatdiandalkan untuk

mewujudkan ekonomi nasional yang tangguh. Pen-capaian tersebut dapat direalisasikan apabila didukung dengan program dan kegiatan litbang yang terarah sesuai dengan kebutuhan, berkualitas tinggi serta bertumpu pada dan sekaligus mendayagunakan potensi/keunggulan dalam negeri.

Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas dan efektifitas litbang dengan mengupayakan: (1) penelitian yang bukan sekedar untuk memenuhi angka kredit tapi juga untuk memberikan solusi bagi persoalan di industri, (2) peningkatan koordinasi dan kerjasama yang sinergi diantara berbagai institusi litbang, dan (3) keterbukaan dunia usaha untuk bekerja sama dengan institusi penelitian. Saya percaya acara ini merupakan salah satu bentuk dari upaya tersebut.

Industri Keramik

Haris mengharapkan terjalinnya hubungan kemitraan yang saling menguntungkan antara masyarakat industri keramik dengan Balai Besar Keramik dan Lembaga Litbang lainnya, sehingga menjadi suatu kekuatan yang mampu memecahkan dan menjawab berbagai tantangan dan permasalahan, terutama dalam mendukung pengembangan industri keramik nasional.

Setiap tahunnya, nilai impor keramik yang dilakukan Indonesia selalu lebih banyak ketimbang nilai ekspor keramik, hal tersebut juga terjadi di masa pandemi di saat berbagai wilayah membatasi akses mobilitas.

Menjadi bagian dari subsektor kriya, industri keramik diharapkan dapat kembali bangkit dan tidak kalah di pasar global mengingat Secara kapasitas dan kemampuan, industri keramik Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan nasional. Namun, juga terus mendorong pemanfaatan teknologi modern guna menciptakan produk yang inovatif dan kompetitif.

Continue Reading

Trending