Connect with us

CityMarket

Gara-Gara Squid Game, Saham Media di Korea Selatan Melonjak

Published

on

Serial Drama Squid Game (Source: Brilio.net)

Siapa yang tidak mengenal serial drama asal Korea yang satu ini? Ya, Squid Game. Serial yang mulai tayang pada Jum’at (17/9/2021) ini disebut menjadi tayangan dengan rating tertinggi di Netflix. Tidak heran, tayangan ini seringkali menjadi trending dan tengah menjadi perbincangan publik di seluruh dunia.

Squid Game merupakan drama yang menceritakan mengenai masyarakat yang memiliki kesulitan dan terpaksa harus mengikuti sebuah kompetisi permainan anak-anak tradisional Korea. Dengan hadiah uang milayaran rupiah, mereka harus mempertaruhkan nyawa sebagai jaminannya.

Serial yang disutradarai oleh Hwang Dong-hyuk ini berhasil mengalahkan Money Heist dan serial Sex Education yang lebih dulu masuk ke dalam daftar TOP TV Show Netflix pada 23 dan 24 September 2021.

Baca Juga:

  1. Benny Simanjuntak Sebar Foto KDRT Dhena Devanka Kepada Jonathan Frizzy, Warganet: Kasian Ijonk!
  2. Gatot Sebut TNI Disusupi PKI, Panglima Kostrad: Itu Tudingan Keji!
  3. Season 2 Film Squid Game Segera Tayang?

Dilansir dari pikiranrakyat.com Squid Game merupakan serial drama yang sukses menduduki urutan ke 1 di acara TV Netflix di seluruh dunia selama dua hari berturut-turut. Selain itu, serial Squid game juga ada di ebebrapa dari 83 negara yang berhasil memecahkan rekor peringkat AS tertinggi.

Bahkan, tingginya rating Squid Game diseluruh dunia berimbas kepada naiknya saham media di Korea Selatan. Seperti Bucket Studio Co pemegang saham agency yang mewakili aktor utama Squid Game, Lee Jung-Jae, telah melesat 90 persen dalam tiga sesi perdagangan Senin.

Selain itu, Showbox Corp juga mengalami kenaikan saham lebih dari 50 persen. Saham-saham rumah produksi TV Series dan film korea berpotensi outperform pada dua hingga tiga tahun ke depan. Dilansir dari bisnis.com melejitnya saham rumah produksi series TV dan Korea disebabkan oleh permintaan global terhadap konten asal Negeri Gingseng saat ini.

Berita Utama

Mantap, Harga Bitcoin Rp905 Juta Sekeping

Published

on

Bitcoin

Bitcoin menembus harga tertinggi hari ini, Kamis (21/10/2021). Menurut pantauan MyCity di situs Indodax, harga uang kripto mencapai Rp905 juta.

Adapun menurut CNN International, bitcoin dijual pada harga 66.000 dolar AS atau Rp930 juta. Harga ini melonjak 50% dibandingkan bulan lalu sebesar 44.000 dolar AS.

Kenaikan harga ini menimbulkan harapan agar regulator di Amerika Serikat (AS) tidak akan menindak uang kripto. Dukungan dari investor besar seperti George Soros dan peluncuran dana yang diperdagangkan di bursa berjangka jadi sentimen positif.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Beberapa investor memprediksi kenaikan yang lebih besar untuk Bitcoin di tengah kritik terhadap uang kripto oleh CEO JPMorgan Chase (JPM) Jamie Dimon yang baru-baru ini menyebut Bitcoin tidak berharga.

“Mengingat momentum harga yang kami lihat di balik ETF Bitcoin, kami percaya bahwa Bitcoin dapat dengan mudah mencapai (US$ 100.000) pada akhir tahun ini,” kata Naeem Aslam, kepala analis pasar AvaTrade.

Kenaikan harga ini konon dipicu oleh dana bursa berjangka (ETF) berbasis Bitcoin pertama di dunia, ProShares Bitcoin Strategy (BITO), yang baru saja melantai di bursa saham New York Stock Exchange (NYSE) pada Selasa (19/10/2021).

Continue Reading

Berita Utama

Jokowi: AS Hingga China Krisis Energi, Indonesia Untung

Published

on

Presiden Jokowi

Dalam peresmian pembukaan Apkasi Otonomi Expo Tahun 2021 yang digelar di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/10/2021), Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo (Jokowi) buka suara terkait krisis energi yang menimpa sejumlah negara.

“Karena dunia global sekarang ini betul-betul penuh dengan keragu-raguan, penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan kompleksitas masalah yang sebelumnya tidak pernah terjadi,” katanya.

Jokowi menegaskan bahwa tak ada yang pernah menduga bahwa Eropa dan China bakal mengalami krisis energi. Namun menurut Jokowi, hal itu juga berdampak positif untuk Indonesia karena harga komoditas naik.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

“Saya kira daerah yang memiliki kelapa sawit, yang memiliki batu bara seneng semuanya atau yang memiliki nikel atau yang memiliki tembaga semuanya seneng karena ekonomi di daerah penghasil komoditas itu pasti akan merangkak naik. Insya Allah akan merangkak naik,” ujar Jokowi.

Akibat krisis energi, banyak negara yang kesulitan mendapatkan pasokan energi. Seperti China yang merupakan pengekspor energi dunia kini sedang melakukan pembicaraan dengan perusahaan pengembang dan eksportir gas alam cair asal Amerika.

Demi memenuhi kebutuhan energi akibat langkanya batu bara, China saat ini juga telah mengupayakan menahan kenaikan harga. Termasuk meningkatkan produksi batubara domestik dan memangkas pasokan ke industri yang konsumsi listriknya besar.

Sebagai informasi, krisis batu bara di China telah menyebabkan krisis listrik dan mengakibatkan listrik padam di beberapa daerah di China.

Hujan lebat yang berujung pada banjir di sejumlah wilayah China telah memaksa setidaknya 60 tambang batu bara di provinsi Shanxi tutup. Padahal tambang batu bara di provinsi ini merupakan salah satu pusat pertambangan batu bara terbesar di China.

Selain krisis energi, Dody menyebut pertemuan juga membahas inflasi tinggi yang terjadi di AS. Namun kondisi ini disebut hanya sementara dan diprediksi berlangsung hingga pertengahan tahun 2022.

Inflasi AS memang menjadi perhatian berbagai kalangan karena kondisi ini disebut-sebut bisa berlangsung lama. Kondisi ini bisa mempengaruhi besaran suku bunga bank sentral.

Continue Reading

Berita Utama

Krisis Evergrande China & Dampaknya bagi Industri Properti Indonesia

Published

on

Evergrande Group

Pasar keuangan China diramaikan dengan munculnya kabar potensi default raksasa properti asal China, Evergrande Group. Perusahaan ini gagal membayar utang senilai 300 miliar dolar AS atau sekitar Rp4.275 triliun.

Arus kas perusahaan disebutkan saat ini tengah berada dalam tekanan yang besar. Bahkan perusahaan baru-baru ini menyebutkan bahwa dua anak usahanya telah gagal memenuhi kewajiban penjaminan untuk produk manajemen senilai 145 juta dolar AS atau setara Rp2 triliun yang dikeluarkan pihak ketiga.

Kepala Divisi Pendapatan Tetap (Fixed Income) Matthews International Capital Management, LLC (Matthew Asia), Teresa Kong mengatakan China Evergrande diduga telah melakukan dua dosa besar kepada investornya yang berakibat krisis utang.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Sementara itu kas atau setara kas Evergrande hanya sepersepuluh dari jumlah tersebut, menyebabkan likuiditas perusahaan benar-benar seret dan tidak bisa melunasi pembayaran kepada investor atas surat utang yang diterbitkan.

Hingga saat ini perusahaan telah melewatkan tiga kali kewajiban pembayaran atas obligasi berdenominasi dolar kepada investor di luar China daratan, dengan total mencapai 281 juta dolar AS atau setara Rp 4 triliun terhadap surat utang luar negerinya.

Utang jatuh tempo ini memiliki masa tenggang (grace period) 30 hari untuk terlewatkan pembayaran pertama yang akan segera jatuh tempo pada akhir pekan ini.

Kondisi yang dirasakan Evergrande tidak eksklusif disebabkan oleh buruknya manajemen perusahaan, akan tetapi diperparah juga oleh sistem yang bobrok yang telah lama dianut demi mengejar profit dan dibiarkan oleh pemerintah negeri Xi Jinping untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi dari sektor tersebut.

Menanggapi hal itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa ancaman gagal bayar utang yang dialami oleh pengembang properti terbesar China, Evergrande tidak berdampak kepada industri properti di Indonesia.

“Assessment kami, kondisi properti (di Indonesia) masih jauh dari yang dikatakan boom atau bubble. Karena ketersediaan supply jauh lebih besar dari kenaikan permintaan,” jelas Perry.

Kendati demikian, kata Perry saat ini permintaan properti terus tumbuh, terlihat dari kredit kepemilikan rumah (KPR) yang tumbuh 8,67% per September 2021.

“Jadi kredit KPR naik lebih tinggi, demikian juga kredit kepada UMKM 2,97%, ini menunjukkan sektor-sektor itu terus tumbuh,” ujarnya.

“Tapi, kondisi properti pasokannya jauh lebih besar dari permintaan,” kata Perry melanjutkan.

Meskipun, Evergrande tidak berdampak negatif terhadap sektor properti di Indonesia secara keseluruhan, namun ada pengaruhnya terhadap kondisi pasar keuangan, terutama pada surat berharga negara (SBN) dan pasar saham tanah air, namun saat ini sudah kembali pulih.

Setelah terjadinya fenomena Evergrande, aliran modal asing baik dari penanaman modal asing maupun investasi portofolio kembali pulih.

Pada Kuartal III-2021, aliran investasi portofolio mencatat net inflows sebesar 1,3 miliar dolar AS. Aliran investasi portofolio tersebut terus berlanjut dari tanggal 1 Oktober 2021 hingga 15 Oktober 2021 dengan mencatat inflows sebesar US$ 0,2 miliar.

Untuk diketahui, efek yang ditimbulkan dari potensi gagal bayar Evergrande menyebabkan penurunan kekayaan dari sejumlah investor besar properti di China. Tercatat, semenjak diterpa kabar tersebut, saham Evergrande sudah rontok 17%.

Lembaga pemeringkat S&P menurunkan peringkat utang Evergrande dari CC menjadi CCC dengan outlook negatif. Fitch, lembaga pemeringkat lainnya, juga menurunkan rating Evergrande dari CC menjadi CCC+.

Continue Reading

Trending