Connect with us

CityHistory

Sejarah Berdirinya Perpustakaan Nasional

Published

on

Perpustakaan Nasional

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) berdiri sejak tahun 1980. Setelah diresmikan Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas baru oleh Jokowi pada 14 September 2017 lalu, Perpusnas menjelma menjadi perpustakaan tertinggi dengan 126,3 meter.

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, dunia perpustakaan juga mengalami perubahan dan perkembangan. Era pasca kemerdekaan ini dapat dimulai dari tahun 1950-an, ketika berdirinya perpustakaan Yayasan Bung Hatta dengan koleksi yang berfokus pada pengelolaan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Indonesia, tepatnya pada 25 Agustus 1950.

Selanjutnya, Lembaga Kebudayaan Indonesia diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia pada 1962 dengan pengubahan nama menjadi Museum Pusat. Nama ini kemudian berubah lagi menjadi Museum Nasional, sedangkan perpustakaannya dikenal dengan Perpustakaan Museum Nasional.

Baca Juga:

  1. Kupas Tuntas Marital Rape atau Pemerkosaan dalam Pernikahan
  2. 13 Tempat di Seluruh Indonesia Gelar Vaksinasi Merdeka Serentak
  3. BEM SI Ultimatum Jokowi dan Siap Turun ke Jalan

Pada tahun 1980 Perpustakaan Museum Nasional dilebur ke Pusat Pembinaan Perpustakaan. Perubahan terjadi lagi pada tahun 1989, ketika Pusat Pembinaan Perpustakaan dilebur sebagai bagian dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Perpustakaan Nasional

Pihak Keraton Mangkunegoro ikut mendirikan perpustakaan keraton, sedangkan keraton Yogyakarta mendirikan Radyo Pustoko. Sebagian besar koleksi perpustakaan tersebut adalah naskah kuno. Meskipun koleksi ini tidak dipinjamkan, masyarakat tetap boleh membaca dan mempelajari manuskrip-manuskrip tersebut di tempat.

Pada tahun 1995, Perpustakaan Nasional Republik (Perpusnas) Indonesia di Jakarta dan Rijksmuseum di Amsterdam memulai adanya kerjasama dalam pelestarian warisan budaya bangsa. Secara resmi, Perpustakaan Nasional berdiri di pertengahan 1980, dengan integrasi keseluruhan secara fisik pada Januari 1981.

Perpustakaan Nasional

Perpustakaan Nasional RI kini menjadi perpustakaan yang berskala nasional dalam arti yang sesungguhnya. Sebuah lembaga yang tidak hanya melayani anggota suatu perkumpulan ilmu pengetahuan tertentu, tetapi juga melayani anggota masyarakat dari semua lapisan dan golongan.

Kini, selain perpustakaan umum yang didirikan oleh pemerintah, kita juga kerap menjumpai perpustakaan yang dilahirkan oleh pihak-pihak swasta maupun organisasi non profit. Selain itu, tak jarang juga Kawan akan menemukan konsep perpustakaan merangkap cafe yang menjadi tempat nyaman untuk bersantai.

Kemudahan mengakses perpustakaan baik secara fisik, maupun digital menjadi sesuatu yang perlu kita syukuri dan manfaatkan sebaik mungkin. Akses terhadap pengetahuan ini adalah salah satu kunci penting untuk membangun bangsa.

Advertisement

Berita Utama

Sejarah Pecel, Hidangan untuk Sunan Kalijaga yang Sudah Ada Sejak Abad ke-9

Published

on

Pecel

Pecel merupakan salah satu hidangan yang paling terkenal di Indonesia. Ternyata, hidangan ini sudah ada sejak abad ke-9.

Mengolah pecel, cukup terbilang sederhana. Berbagai jenis daun atau sayuran hanya direbus dan dimakan dengan saus kacang yang berbumbu kencur, asem, garam dan cabai. Saus kacang inilah yang menjadi kunci dalam menentukan nikmat dari rasa pecel.

Sayuran dalam pecel dapat berupa, kacang panjang, tauge, kangkung, daun singkong, daun pepaya hingga kol. Pecel memiliki rasa yang gurih, sedikit pedas dan juga sensasi segar dari ragam sayuran yang ada.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Selain rasanya yang nikmat, pecel memiliki keunggulan yakni kaya akan gizi, Dalam satu porsi sajian pecel, Cityzen akan mendapatkan serat, antioksidan dan berbagai vitamin yang menyehatkan. Di balik kenikmatan dan terkenalnya sajian pecel ini, ternyata memiliki sejarah tersendiri.

Dalam beberapa kitab kuno pecel bahkan tertulis secara gamblang. Jika ditarik kesimpulan, pecel termasuk makanan kuno yang tetap bertahan dan eksis di era modern seperti saat ini.

Adalah Wira Hardiyansyah, seorang praktisi sekaligus pemerhati kuliner Indonesia yang menjabarkan sejarah perkembangan pecel berdasarkan literasi temuannya. Wira berpendapat, pecel kemungkinan sudah ada sebelum Masehi.

“Dalam literatur sejarah, pecel pertama kali di mention dalam Kakawin Ramayana, yang ditulis pada abad 9 era Mataram Kuno/Mataram Hindu dibawah raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-930 M),” tulis Wira pada unggahan Instagramnya.

“Semua jenis hidangan yang disiapkan dalam bambu panas, daging cincang yang dicampur dengan sayuran, pêcêl (salad sayuran) murni. Letakkan perasan jeruk (saat memakannya). Mintalah nasi sepuasnya,” bunyi kitab Kakawin Ramayana.

Pecel

Dalam buku yang berjudul Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Ki Gede Pamanahan beristirahat di Dusun Taji saat melakukan perjalanan ke Tanah Mataram. Di dusun tersebut, Ki Ageng Karang Lo menyiapkan jamuan untuk Ki Gede Pamanahan, yakni nasi pecel, daging ayam, dan sayur menir (bayam).

Setelah selesai menyantap, Ki Gede Pamahanan berkata, “Terima kasih Ki Sanak, hidangannya enak sekali. Saya sungguh berhutang budi pada Ki Sanak. Semoga kelak saya dapat membalasnya”.

pecel

Ketika ditanya hidangan yang disajikan itu apa, Ki Ageng Karang Lo menjawab, “Puniko ron ingkang dipun pecel”. Artinya adalah dedaunan yang direbus dan diperas airnya. Sejak saat itu, sajian tersebut dikenal dengan nama pecel.

Dapat disimpulkan, bahwa pecel termasuk makanan kuno yang tetap bertahan, eksis dan diminati hingga era modern saat ini. Saat ini, Cityzen dapat mencicipi ragam dan jenis pecel dari beberapa daerah. Mulai dari pecel Madiun, pecel pincuk, pecel Blitar hingga pecel Tumpang.

Continue Reading

Berita Utama

Tragedi Kelam Bintaro & Kisah Pilu Masinis Selamet

Published

on

Tragedi Bintaro

Kemarin, Selasa (19/10/2021), merupakan peringatan 34 tragedi Bintaro, yang merupakan tragedi kecelakaan kereta api terkelam dalam sejarah Indonesia.

Pada 19 Oktober 1987, terjadi kecelakaan antara Kereta Api (KA) 225 Merak dengan Kereta Api (KA) 220 Rangkas di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan.

KA Rangkas dan KA Merak bertabrakan dengan posisi saling menghadap satu sama lain atau adu banteng. Kedua kereta sama-sama ringsek karena benturan keras.

Kereta api Patas Merak KA 220 jurusan Tanah Abang – Merak berangkat dari Stasiun Kebayoran. Sedang kereta api Lokal Rangkas KA 225 jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota berangkat dari Stasiun Sudimara.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Tercatat ada 139 korban meninggal dunia dengan 113 teridentifikasi, dan 26 tidak teridentifikasi. Sedangkan korban yang mengalami luka-luka sebanyak 254 orang.

Terdapat 2 versi kronologi terjadinya tragedy Bintaro I ini yakni kronologi yang diketahui dari masinis kereta api dan versi PJKA.

Menurut versi PJKA dijelaskan jika saat itu KA 225 dijadwalkan tiba di Stasiun Sudimara pukul 06.40 utuk bersilang dengan KA 220 pukul 06.49.

Di Stasiun Sudimara memiliki 3 jalur kereta api yang saat itu penuh semua termasuk KA 225.

Karena Stasiun Sudimara tidak dapat menerima persilangan kereta api, maka KA 225 harus melanjtukan perjalanan ke Stasiun selanjutnya yakni Stasiun Kebayoran.

Namun ada beberapa peraturan dari dinas untuk Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) Sudimara yang harus dilakukan. Yakni meminta izin kepada PPKA Kebayoran dan mengirim surat Pemindahan Tempat Persilangan (PTP) yang diserahkan ke masinis dan kondektur KA 225.

Tragedi Bintaro

Dari peraturan yang seharusnya wajib dilakukan sesuai prosedur, namun surat PTP itu diserahkan tanpa sepengetahuan PPKA Kebayoran.

Karena sudah terlanjur diserahkan ke yang bersangkutan, PPKA Sudimara bergegas menelepon PPKA Kebayoran untuk pindah tempat persilangan.

Saat itu PPKA Kebayoran beganti tugas dari shift malam ke ke shift pagi. PPKA sebelumnya memberi tahu ke PPKA shift pagi bahwa KA 251, 225, dan 1035 belum tiba.

Sedangkan KA 251 sedang melaju ke arah Kebayoran untuk bersilang dengan KA 220. Begitu KA 251 tiba, PPKA meminta izin memberangkatkan KA 220 ke Sudimara.

Saat itu, PPKA Sudimara mengatakan jika ada kereta api yang berangkat dari Sudimara ke Kebayoran. Begitu komunikasi ditutup, PPKA Kebayoran justru memberangkatkan KA 220 dengan asumsi jika persilangan tetap dilakukan di Sudimara.

PPKA Kebayoran menelepon PPKA Sudimara telah memberangkatkan KA 220. PPKA Sudimara kebingungan karena PTP sudah diberikan ke masinis KA 225.

Karena miss komunikasi ini, PPKA Sudimara mengakali dengan melangsir KA 225 dari jalur 3 ke jalur 1 Stasiun Sudimara.

PPKA Sudimara menyuruh petugas untuk melangsir, dengan sigap petugas itu mengambil bendera merah dan slompret. Namun masinis tidak dapat melihat semboyan dari petugas itu karena terhalang penumpang dan tiba-tiba kereta bergerak tanpa perintah slompret.

Karena telah berangkat, petugas melaporkan ke PPKA Sudimara, dan dengan sigap PPKA Sudimara ke Kebayoran tapi tidak bisa menghentikan kereta KA 220.

Saat itu kecelakaan pun tak dapat dihindari, masinis KA 225 melihat KA 220 yang berada satu jalur kereta api. Meski sudah menarik tuas rem, tabrakan pun terjadi.

Sementara itu, menurut masinis KA 225, Slamet Suradio yang masih selamat memberikan kesaksiannya.

Kisah pilu kepala masinis Slamet

Slamet

Nasi memang telah menjadi bubur, selain para korban, perjalanan hidup Slamet menjadi begitu pilu. Kecelakaan terkelam dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia itu telah memporak-porandakan hidupnya.

Slamet mendapatkan hukuman 5 tahun penjara di Lapas Cipinang buntut Tragedi Bintaro. Dia diputuskan bersalah karena dianggap lalai sebagai masinis sehingga menjatuhkan banyak korban jiwa.

Dalam tragedi ini, Slamet dituduh memberangkatkan kereta api tanpa instruksi sehingga berakhir kecelakaan. Namun, hal itu dibantah olehnya.

“Jadi kalau ada orang mengatakan berangkat sendiri itu bohong, apa untungnya saya memberangkatkan kereta sendiri,” ujar Slamet yang dikutip dari Suara, Rabu (20/10/2021).

Saat terjadi tabrakan, Slamet tergencet oleh badan lokomotif. Dalam keadaan bersimbah darah, dia diantar seorang wanita dengan mobilnya ke rumah sakit, saat itu PTP masih berada dalam genggamannya.

Dalam keadaan PTP yang masih memiliki bekas bercak darah, Slamet berhasil membuktikan kepada hakim di pengadilan bahwa dirinya tergencet dan tidak melompat, dan menuding bahwa orang yang menuliskan berita tersebut adalah ‘orang fitnah’.

“Jadi hakim percayanya saya tidak loncat itu karena ada bercak darah. Makanya (isu) di internet itu yang buat siapa? Saya bingung itu, sedangkan hakim sendiri mengatakan (saya) enggak loncat. Ada katanya saya loncat, itu bohong sekali, itu orang fitnah, jelas fitnah,” papar Slamet.

Slamet keluar dari penjara pada tahun 1993. Setahun berselang dia dipecat dari jabatannya sebagai masinis, bahkan Nomor Induk Pegawai Perkeretaapiannya juga dicabut pada 1996 oleh Departemen Perhubungan Indonesia.

Tak sampai disitu, Slamet juga dipaksa untuk menandatangani surat pengakuan bahwa dia tetap menjalankan kereta tanpa intruksi dari PPKA. Saat menolak, dia mendapat ancaman dari pihak kepolisian.

Pemecatan itu membuat dirinya tidak mendapat uang pensiun. Alhasil, dia harus menyambung hidup dengan pulang kampung dan berjualan rokok di kampung halamannya, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Kisah pilunya terus berlanjut. Sang istri, Kasni memutuskan meninggalkan dirinya saat proses persidangan berlanjut, lalu menikah dengan masinis lain.

Continue Reading

Berita Utama

Asal-usul Pengemis, Tradisi Sedekah Pakubuwono X di Hari Kamis

Published

on

asal usul pengemis

Pengemis atau ngemis adalah beberapa orang yang bekerja mencari nafkah dengan cara meminta dengan muka memelas.

Mereka biasanya berkeliaran di tempat keramaian, memakai pakaian compang–camping dan sebagian tampak cacat (entah itu kaki pincang atau ada bekas luka disebagian tubuh). Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, mereka rela membawa anak – anak mereka untuk mengemis.

Akan tetapi, apakah Cityzen tahu asal-usul dari kata pengemis atau ngemis?

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Sejarah dari dua kata tersebut berawal dari seorang raja yang sedang melihat–lihat keadaan rakyatnya. Raja Paku Buwono berjalan keluar Istana menuju Masjid Agung pada hari Kamis bersama pengawal dan ajudannya. Saat berjalan, banyak masyarakat yang sudah berjejer rapi di samping kanan dan kiri Raja sambil menengadahkan tangannya berharap diberikan sedekah dari sang raja.

Pada saat itu, Raja Paku Buwono tidak menyia–nyiakan kesempatan yang ada. Ia memberikan sedekah untuk masyarakat yang ada di sana. Kebiasaan ini terus–menerus dilakukan hingga akhirnya masyarakat menyebutnya Ngemis atau meminta berkah dan rezeki pada hari Kamis (dari bahasa jawa Kamis = Kemis). Sedangkan pengemis berarti orang yang meminta setiap hari Kemis saat itu.

Namun kata pengemis rupanya telah masuk salah satu kosa kata bahasa Indonesia yang tentunya kata dasarnya bukan emis tapi Kemis (Kamis), ternyata sebutan peminta-minta kalah populer dengan istilah pengemis.

Padahal, kata pengemis kalau diurai dan diambil dari kata dasarnya yakni kemis atau emis mungkin tidak dikenal dalam kosa kata bahasa indonesia kecuali kalau ada tambahan awalan pe sehingga muncul istilah “Pengemis”.

Lain halnya dengan kata peminta-minta kata dasarnya adalah minta yang artinya jelas bahkan bisa berdiri sendiri tanpa ada awalan pe.

Praktik bersedekah sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu, yakni pada masa Hindu dan Buddha di Nusantara yaitu pada abad ke-5 Masehi. Praktik derma yang sudah menjadi budaya Hindu dan Buddha ini disebut dengan dana yaitu pemberian atau ritual memberi sesuatu pada orang-orang suci.

“Pada masa Majapahit, pemberian dari raja untuk alasan-alasan politis maupun agama merupakan suatu kebiasaan yang ditemukan pada periode pra-Islam, sedekah ini diberikan kepada pendeta dan masyarakat,” jelas Resianita Carlina dalam artikel berjudul Pengemis dalam Tradisi Paku Buwono X Tahun 1893-1939.

Tindakan bederma dihargai sebagai perbuatan yang mulia dalam agama Hindu dan Buddha, dan dianjurkan untuk dilakukan tanpa mengharapkan balas budi dari pihak yang menerimanya.

Asal usul pengemis

Sejumlah pujangga Abad Pertengahan mengemukakan bahwa tindakan berderma sebaiknya dilakukan dengan srada (rasa percaya), yang diartikan dengan berniat baik, riang gembira, menyambut si penerima derma, dan bederma tanpa anasuya (mencari-cari kesalahan si penerima).

“Para cerdik pandai Hindu ini menyiratkan bahwa kedermawanan akan sangat efektif bilamana dilakukan dengan senang hati, suatu “keramahtamahan tanpa ragu-ragu”, di mana berderma menafikan kelemahan-kelemahan jangka pendek serta keadaan si penerima dan menggunakan cara pandang jangka panjang,” ucapnya.

Sejarah budaya filantropi atau bersedekah ini masih terus berjalan sampai masuknya Islam di Indonesia yang dibawa oleh para pedagang muslim pada abad ke-7 Masehi. Dalam agama Islam kita mengenal adanya rukun Islam.

Zakat termasuk salah satu dari lima rukun Islam, sumbangan ini bisa diberikan pada siapa saja yang dirasa membutuhkan, termasuk juga memberikan zakat dan sedekah pada non-muslim sebagai strategi dakwah Islam.

Pasca terbelahnya kerajaan Mataram Islam dengan ditandainya Perjanjian Giyanti tahun 1755. Tradisi Bersedekah tetap berlanjut ke dua kerajaan Besar di Ngayogkarta dan Surakarta.

Tradisi untuk bersedekah dan memberi makan orang-orang miskin ini berlanjut di Keraton Surakarta yang ketika itu dipimpin oleh Pakubuwono (PB) X (1893-1939 Masehi).

Selama menduduki jabatan sebagai raja, PB X memiliki kebiasaan yang patut untuk ditiru sebagai seorang pemimpin. Kebiasan PB X adalah memberikan sedekah kepada kaum fakir miskin pada hari kamis.

Dari situlah muncul sebutan bagi orang-orang yang menerima pemberian dari PB X dengan nama wong kemisan, secara perlahan sebutan itu menjadi wong ngemis. Sebutan itu kemudian dipersingkat dan diakui dalam bahasa Indonesia menjadi kata pengemis.

Dahulu kata pengemis tidak dikenal sebagai konotasi kata peminta-minta. Kata pengemis baru muncul setelah pertama kali muncul dalam Koran Bromartani pada tahun 1895.

Istilah ini bermula ketika laporan Raden Samingoen Nitiprodjo seorang wartawan Bromartani meliput kegiatan PB X yang suka memunculkan diri pada Kamis sore untuk bersiap mengaji pada Jumat Malam, dirinya berangkat dari Keraton-nya jalan kaki menuju ke Masjid Gede Solo.

Asal Usul pengemis

“Selama perjalanan ini dia dirubungi banyak orang yang menyembah, dalam perjalanan seringkali pengiringnya yaitu: abdi dalem para Bupati Keraton, Tumenggung Keraton dan Lurah Keraton membagikan kepingan,” catat Raden Samingoen.

Dalam pembagian inilah disebut sedekah Sinuwun. Dalam perjalanan istilah ini disebut Raden Samingoen sebagai kemisan dari sinilah kemudian muncul istilah ngemisan atau pengemis untuk mencari berkah.

Sementara itu berdasarkan Serat Sri Karongron Jilid III disebutkan bahwa pada hari kamis siang sang raja keluar mengelilingi keraton untuk melihat keadaan rakyatnya. Ketika mendengar suara dari kereta yang dinaiki raja, rakyat bergegas keluar rumah dan segera berbaris disepanjang jalan menanti raja menyebar uang sebagai sedekah dari sang raja.

“Para kawula atau orang-orang diperkampungan yang rumahnya dipinggir jalan besar. Setiap sudah mendengar suara kereta, dikira pasti sang raja. Segeralah mereka keluar dan berjongkok dipinggir jalan membawa obor yang diacungkan menanti uang disebar,” tulis dalam catatan itu.

Continue Reading

Trending