Connect with us

CityBusiness

Mulai Oktober, 14 Channel Asing Berhenti Siaran di Indonesia

Published

on

Foto Ilustrasi 14 Channel.

Beberapa kanal TV di Indonesia dikabarkan akan berhenti siaran. Hal ini berlaku bagi pengguna Indihome, dan ini merupakan kabar buruk.

Dalam waktu beberapa hari lagi 14 kanal TV berbayar milik Indihome ini tak bisa lagi disaksikan.

Baca Juga:

  1. Kisah Cucu, Wanita Asal Bandung Yang Tidak Bisa Tidur Sejak 2014
  2. Puncak Berlakukan Ganjil-Genap Pekan Ini
  3. 5 Urutan Skincare Untuk Kulit Berminyak

Selain milik Indihome, penutupan 14 kanal TV ini juga akan terjadi pada berbagai perusahaan TV satelit di Indonesia seperti Nextmedia, MNC Vision, Transvision, dan lainnya.

Apa yang akan terjadi pada 14 kanal TV tersebut?

Dikutip dari situs IndiHome pada Jumat, 24 September 2021, kanal TV yang akan hilang meliputi Fox, Fox Action Movie, Fox Sports, Fox Sports 2, dan Fox Sports 3.

Selain kanal-kanal TV di atas, masih ada lagi banyak kanal TV yang akan berhenti beroperasi di Indonesia.

Untuk Indihome, pemberhentian tayangan tersebut akan dimulai pada 1 Oktober 2021.

“Sehubungan dengan kebijakan dari Disney Group, maka kami beritahukan bahwa per tanggal 1 Oktober 2021, terdapat 14 channel milik Disney Group yang akan dihentikan untuk seluruh wilayah Asia Tenggara.

“Termasuk Indonesia dan berdampak juga pada layanan IndiHome TV dan UseeTV GO,” tulis Indihome dalam keterangan resminya.

Berikut ini adalah 14 Kanal TV yang akan berhenti siaran di Indonesia pada 1 Oktober 2021:

Fox

Fox Crime

Fox Life

Channel V

Fox Action Movies

Fox Family Movies

Fox Movies

Star Chinese Movies Legend

Fox Sports

Fox Sports 2

Fox Sports 3

Disney Junior

Nat Geo People

Perlu diketahui kalau siaran TV diatas merupakan kanal TV milik grup Disney.

Disney memutuskan untuk menarik siarannya dari program TV berbayar, karena siaran-siaran tersebut akan dimasukan ke dalam aplikasi milik mereka yakni Disney Plus.

Disney Plus sendiri disiapkan oleh Disney, untuk bisa bersaing dengan kompetitor mereka yakni Netflix.

Tak hanya Indonesia saja yang mengalami kebijakan ini tapi ada beberapa negara Asia lainnya yang akan mendapatkan tindakan serupa.

Negara tersebut antara lain Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya.

Berita Utama

KADIN Bandara Shia Siap Jembatani Para Pelaku UMKM

Published

on

Kadin

Setelah resmi menahkodai Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bandara Soekarno Hatta International Airport (KADIN Bandara SHIA), Hj. Aam Maryamah menegaskan, pihaknya akan lebih menjembatani para pengusaha yang belum bisa masuk ke ranah Bandara.

“Satu contoh para UKM susah masuk ke Bandara, susahnya para UKM mengetahui alur yang benar dan apa yang harus di tempuh oleh mereka masuk ke ranah kawasan bandara. Itu kami akan hadir sebagai Kadin Bandara SHIA. Kami akan lebih berkordinasi, akan lebih mengkondusifkan diri bersama para UKM,” ujarnya dalam acara Tasyakuran dan Peresmian Kantor KADIN BANDARA SHIA di Aeropolis Tangerang, Banten, Rabu, (20/10/2021).

“Dan kami sudah menyusun setrategi di bidang masing – masing para anggota yang ikut bergabung di Kadin Shia hari ini adalah para pengusaha yang memang profesional dibidangnya dan saya yakin kedepan nya mereka sudah bisa langsung action,” tambahnya.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Pada saat yang sama, Dessy Natalia Kristanty selaku Wakil Ketua Bidang Promosi dan Media Massa Kadin Bandara Soekarno Hatta International Airport (SHIA) mengaku siap menjalankan program kerja yang sudah disiapkan agar Kadin Bandara SHIA menjadi Pelopor UMKM di Soekarno Hatta International Airport.

“untuk merangkul pelaku UMKM di wilayah hukum Bandara Soekarno Hatta international airport tidak hanya itu tetapi seluruh Pelaku UMKM di Wilayah Tangerang Banten,”jelasnya.

Dalam Acara Tasyakuran dan Peresmian Kantor Kadin Bandara SHIA tersebut, perempuan yang akrab disapa Dessy tersebut juga menyebutkan, Wakil Ketua Bidang IT harap bersiap untuk mendata seluruh Pelaku UMKM dan diberikan Platform Digital agar mempermudah para pelaku UMKM memperkenalkan Produk yang dimiliki nya kepada Masyarakat Luas.

“Semoga Kadin Bandara SHIA selalu dihati Pelaku Ekonomi agar tetap dapat eksis di masa pandemi ini,”katanya.

Continue Reading

Berita Utama

Digitalisasi Koperasi, Solusi Pemulihan Ekonomi Nasional di Masa Pandemi Covid-19

Published

on

Digitalisasi koperasi

Koperasi merupakan salah satu organisasi atau lembaga pembiayaan masyarakat yang telah lama hadir di Indonesia.

Sejumlah stigma minus Koperasi, seperti disampaikan pengamat koperasi yang juga Executive Committe di Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI), Firdaus Putra, harus di-counter dengan sejumlah langkah modernisasi diri, yang diikuti pengawasan yang lebih ketat dari regulator, dalam hal ini Kementerian Koperasi.

Badan usaha koperasi di Tanah Air, yang saat ini berjumlah 127.000 unit usaha, harus ikut serta dalam perburuan pasar milenial demi meningkatkan kembali tingkat partisipasi publik. Ini harus jadi langkah strategis koperasi demi regenerasi kepengurusan, termasuk membawa spirit baru yang lebih progresif dan dinamis, sesuai dengan karakteristik para milenial.

Upaya tersebut juga dipercaya akan memperpanjang daur hidup koperasi, dan kembali menjadikannya andalan bagi pengembangan ekonomi publik.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Pemerintah sendiri punya ‘concern’ yang cukup besar untuk bisa membawa perkoperasian di Tanah Air bisa berkontribusi lebih banyak pada perekonomian nasional.

Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) saat ini menargetkan sektor koperasi bisa berkontribusi 5,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di tahun 2024, dibandingkan saat ini yang kontribusinya baru 5% dari PDB.

Disampaikan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (MenkopUKM) Teten Masduki pada Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-74 Tahun 2021 yang digelar secara daring, medio Juli lalu (12/7), pemerintah menetapkan target ini dalam rencana pengembangan ekonomi Indonesia lima tahun ke depan. Sejumlah langkah strategis disiapkan untuk mendukung pencapaian target kontribusi 5,5% di 2024.

Dukungan pemerintah diimplementasikan lewat dilansirnya beleid yang akan mengarahkan koperasi untuk melakukan transformasi. Lewat Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 dan PP Nomor 7 Tahun 2021, diusung sejumlah program kemudahan dan peluang bagi koperasi.

Pemerintah juga mendorong terjadinya perubahan mindset entrepreneurship koperasi, khususnya Koperasi Simpan Pinjam, agar mau memperluas cakupan pembiayaannya ke sektor-sektor produktif. Pemerintah juga akan mendorong diterpkannya inovasi melalui digitalisasi dan membangun ekosistem usaha yang aman dan kondusif.

“Dengan langkah-langkah strategis tersebut diharapkan dapat me-rebranding koperasi sebagai entitas bisnis yang modern, kontributif, dan kompetitif,” kata Teten saat itu.

Menanggapi program pemerintah yang akan menggiring koperasi ke pentas utama ekonomi Tanah Air, Firdaus Putra menyebut memang tak ada jalan lain bagi koperasi untuk bertransformasi dan meniti jalur digitalisasi.

Seiring dengan populasi yang makin didominasi generasi milenial dan pasca milenial, koperasi tak punya pilihan lain kecuali mengakomodir semua kultur dan metode yang diinginkan oleh para milenialis agar mereka kepincut ikut membantu pengembangan koperasi.

Meski demikian, ada beberapa tantangan dalam melakukan digitalisasi koperasi di Indonesia.

Rendahnya wawasan terkait koperasi

Mungkin Kawan juga pernah mendengar tentang koperasi, apalagi sewaktu sekolah dasar. Namun, hanya sebatas pemahaman teori saja. Setelah itu tidak ada lagi pengetahuan tentang koperasi. Kecuali, jika Kawan berniat mencari tahu sendiri.

Hal ini tentu membuat koperasi kurang dikenali masyarakat. Tantangan digitalisasi koperasi ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara go online, agar masyarakat bisa lebih kenal dan tahu. Namun, mungkin akan sedikit sulit untuk mendapat marketnya.

Kurangnya Branding

Hampir semua bisnis atau usaha saat ini berupaya melakukan branding yang kuat agar dikenali para konsumen. Berkaitan dengan sebelumnya, koperasi jarang diketahui masyarakat karena pemasaran mereka kurang.

Maka dari itu, ini salah satu tantangan ketika hendak go digital. Branding yang kurang tentu akan mempersulit koperasi ketika go digital.

Digitalisasi koperasi bisa membuat pergerakan ekonomi Indonesia menuju dan menjangkau area yang lebih luas lagi

Continue Reading

Berita Utama

Menelisik Sektor Ekonomi Kreatif, Kekuatan Baru Perekonomian Indonesia

Published

on

Ekonomi kreatif

Ekonomi kreatif saat ini menjadi sektor esensial baru dalam pengembangan perekonomian Indonesia. Ekonomi kreatif merupakan sektor yang berfokus pada kreatifitas sebuah produk atau layanan.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menekankan pada pena,mbahan nilai barang lewat daya pikir serta kreativitas manusia. Oleh karenanya, sektor ini digadang-gadang sebagai kekuatan baru ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, sektor ekonomi kreatif merupakan salah satu atu tulang punggung perekonomian Indonesia. Kontribusi sektor ekraf mencapai 8 persen PDB Indonesia dan menyumbang 13 persen ekspor nasional.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Terlebih, mayoritas pelaku ekraf nasional adalah UMKM. Hal ini memperkokoh peran penting sektor ini sebagai salah satu sumber lapangan pekerjaan. Karenanya, penguatan daya saing dan ketahanan sektor ekraf merupakan salah satu prioritas yang penting bagi Indonesia.

Berdasarkan UU No.24 tahun 2019, ekraf adalah “perwujudan nilai tambah dari kekayaan intelektual yang bersumber dari kreativitas manusia yang berbasis warisan budaya, ilmu pengetahuan, dan/atau teknologi”.

Banyak pelaku usaha, termasuk pelaku ekraf dan UMKM, yang kurang memberikan perhatian terhadap KI sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnis. Hal ini merupakan akibat dari miskonsepsi bahwa KI adalah isu teknis dan legal yang dianggap tidak ada hubungannya dengan strategi bisnis.

Miskonsepsi lain terkait KI adalah anggapan bahwa KI adalah urusan perusahaan besar, oleh karena itu pelaku ekraf dan UMKM tidak harus mempedulikan KI sebagai bagian dari strategi bisnisnya.

Salah satu sebab dari berbagai miskonsepsi di atas adalah pemikiran bahwa istilah “inovasi” dan “kreativitas” adalah jargon semata, hanya konsep abstrak yang banyak digunakan oleh pembicara, pelaku bisnis, dan pejabat di berbagai seminar atau konferensi.

Padahal, KI adalah perwujudan konkret dari konsep abstrak “inovasi” dan “kreativitas” yang biasa kita anggap sebagai jargon semata.

Di sinilah muncul pentingnya KI sebagai bagian dari strategi bisnis bagi seluruh pelaku ekonomi. KI ada dan nyata di hampir semua kegiatan ekonomi, baik untuk perusahaan besar, UMKM, hingga untuk pekerja kreatif perorangan.

Sejarah Perkembangan Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif

Ekonomi kreatif mulai dikembangkan pada 2006 saat presiden masa jabatan 2004-2014, Susilo Bambang Yudhoyono, mengembangkan konsep ekonomi kreatif. Salah satu Perkembangan konsep ekonomi ini masih terus berlanjut hingga Presiden Joko Widodo mendirikan BEKRAF pada 2015 dan kini telah disatukan dengan Kemenparekraf.

Adapun sampai Juni 2019, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah pelaku usaha kreatif terbanyak di Indonesia, yaitu sebanyak 1.504.103 usaha ekonomi kreatif. Selanjutnya, Jawa Timur di posisi ke-2 dengan jumlah usaha ekonomi kreatif sebanyak 1.495.148 dan Jawa Tengah sebanyak 1.410.155.

Di sisi lain, pandemi Covid-19 memang memberikan tekanan yang besar pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Meskipun demikian, terdapat beberapa subsektor ekonomi kreatif yang tumbuh positif dan disebut sebagai pandemic winner oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno.

Subsektor tersebut di antaranya televisi dan radio serta aplikasi dan game developer yang digabung menjadi istilah AGD. Ketika seluruh subsektor ekonomi kreatif mengalami pertumbuhan negatif sepanjang 2020, subsektor televisi dan radio berhasil tumbuh 10,48 persen. Lalu, subsektor AGD tumbuh 4,47 persen.

Sandiaga juga menambahkan bahwa industri film Indonesia memang kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp3 triliun saat masa pembatasan sosial. Namun, di sisi lain, jumlah pelanggan over the top (OTT) seperti Netflix, Vidio, atau Disney Hotstar meningkat.

Kemudian, industri gim juga disebut sebagai modal untuk kebangkitan ekonomi kreatif di tengah pandemi. Pasalnya, AGD berada di posisi ke-7 penyumbang PDB ekonomi kreatif Indonesia terbesar.

“Sebesar Rp24,88 triliun atau sekitar 2,19 persen (merupakan) sumbangan subsektor aplikasi dan game developer untuk PDB nasional. Ini juga sejalan dengan janji Presiden Joko Widodo untuk mengembangkan e-sport dan industri gaming yang menjadi salah satu modal bangsa,” kata Sandiaga dalam pernyataan resmi di laman web Kemenparekraf.

Adapun subsektor kuliner merupakan penyumbang terbesar PDB ekonomi kreatif. Hal tersebut disampaikan Sandiaga pada webinar “Inovasi Bisnis F&B Tahunan Mitra Grabfood” yang diselenggarakan pada Jumat (6/8/2021) lalu.

Sandiaga menyatakan subsektor kuliner menyumbang Rp455,44 triliun atau sekitar 41 persen dari total PDB ekonomi kreatif sebesar Rp1.134 triliun pada 2020. Tak hanya itu, subsektor ini juga menyerap tenaga kerja paling banyak dibandingkan subsektor lain.

Subsektor Ekonomi Kreatif

Ekonomi kreatif

Pengembang Permainan (game developer), subsektor kekinian yang didorong masuk ke dalam dunia pendidikan dan diperkuat dengan kebijakan proteksi untuk membangun ekosistem yang sehat dan berkontribusi dalam ekonomi kreatif.

Arsitektur, subsektor ekonomi kreatif yang memiliki peran penting dalam menampilkan karakter budaya bangsa, serta berperan dalam pembangunan sebuah kota.

Desain Interior, masyarakat mulai mengapresiasi estetika ruangan secara lebih baik. Penggunaan jasa desainer interior untuk merancang estetika interior hunian, hotel, dan perkantoran pun semakin meningkat.

Musik, industri yang cukup menjanjikan dalam dunia showbiz. Besarnya minat dan antusiasme para musisi muda untuk terjun ke dalam bidang ini menunjukkan bahwa musik punya potensi menjadi industri yang lebih besar.

Seni Rupa, Indonesia memiliki potensi seni rupa terbesar di Asia Tenggara baik secara kualitas, kuantitas, pelaku kreatif, produktivitas, serta potensi pasar.

Desain Produk, desain produk merupakan proses kreasi sebuah produk yang menggabungkan unsur fungsi dengan estetika sehingga bermanfaat dan memiliki nilai tambah bagi masyarakat.

Fesyen, subsektor industri kreatif ini berjalan sangat dinamis karena tren fashion bermunculan setiap tahun yang diiringi peningkatan daya saing signifikan di tingkat global.

Kuliner, subsektor ini berkontribusi besar dalam pendapatan pariwisata dan ekonomi kreatif, juga berpotensi besar mempromosikan Indonesia yang beraneka ragam ke dunia internasional.

Film, Animasi dan Video, memiliki potensi menjadi lebih besar dengan peraturan hak karya intelektual, investasi dan permodalan, serta akses penonton yang lebih luas.

Fotografi, perkembangan subsektor ini didukung oleh meningkatnya minat anak muda terhadap fotografi seiring perkembangan media sosial dan peralatan yang makin terjangkau.
D
esain Komunikasi Visual, berperan mendukung pertumbuhan bisnis hingga bahkan kelancaran program-program pemerintah yang diiringi pertumbuhan praktisi lokal kompeten.

Televisi dan Radio, di tengah arus informasi digital yang masif, peranan kedua industri ini cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan dalam penyerapan tenaga kerja.

Kriya, salah satu subsektor yang menjadi ciri khas Bangsa Indonesia dan sangat dekat dengan industri pariwisata dan ekonomi kreatif.

Periklanan, subsektor ekonomi kreatif yang karyanya memiliki daya sebar paling tinggi. Hal ini tak lepas dari peran sinergi para pemilik modal yang ingin memasarkan produk dan jasa mereka dengan media yang dimanfaatkan.

Seni Pertunjukan, Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman seni dan tradisi pertunjukan, seperti wayang, teater, tari, dan lain sebagainya yang telah diakui dan mendapatkan apresiasi dunia internasional.

Penerbitan, berperan dalam membangun kekuatan intelektual bangsa dan terus berupaya untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Aplikasi, seiring dengan semakin meningkatnya penetrasi smartphone, industri pengembangan aplikasi semakin meningkat dan menjadi subsektor yang berpotensi besar ke depannya.

Continue Reading

Trending