Connect with us

Berita Utama

13 Tempat di Seluruh Indonesia Gelar Vaksinasi Merdeka Serentak

Published

on

Vaksinasi Merdeka

Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) gelar vaksinasi merdeka, serentak di 13 titik seluruh indonesia berjalan dengan lancar.

Ketua Umum PB SEMMI, Bintang Wahyu Saputra menerangkan acara tersebut berjalan lancar di seluruh titik.

“Ini mengikuti arahan Kapolri dalam membantu dan bersinergi menyelenggarakan vaksinasi berjalan dengan lancar,” ujarnya dalam keterangan pers.

Bintang mengatakan PB SEMMI selalu siap membantu masyarakat dan mendukung pemerintah dalam melawan pandemi Covid-19.

Baca Juga :

  1. Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara Jadi Bahan Pergunjingan Malaysia
  2. PBB Siapkan Dana 45 Juta Dolar AS untuk Bantuan Sistem Perawatan Kesehatan Afganistan
  3. AS Menangguhkan Bantuan Dana Kubah Besi Israel Senilai $1 Miliar

“Bangsa Indonesia bisa merdeka karena kolaborasi dan sinergi semua pihak. Oleh sebab itu, dalam penanganan pandemi ini saya yakin Indonesia pasti bisa menang melawan Covid-19,” imbuhnya.

Menurut Bintang, masyarakat harus bersatu padu untuk mendukung gerakan vaksin merdeka. Sebab, dengan melakukan vaksin, maka ikut membantu pemerintah dalam upaya melawan Covid-19.

“Kami berterima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah suka rela ikut melakukan vaksin. Dan tak lupa ucapan terima kasih juga kami haturkan kepada Presiden Jokowi serta Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang mendukung acara vaksinasi PB di 13 titik seluruh Indonesia,” tutup Bintang.

Adapun, 13 titik yang menjadi tempat vaksinasi PB SEMMI adalah Aceh, Pekanbaru, Padang, Palembang, Lampung, Depok, Bogor, Indramayu, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Kutai Kartanegara dan Palu.

Sedangkan, acara vaksinasi merdeka PB SEMMI yang di kota Padang, tepatnya di kampus Universitas Negeri Padang (UNP) disapa secara virtual oleh Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

Berita Utama

Sejarah Pecel, Hidangan untuk Sunan Kalijaga yang Sudah Ada Sejak Abad ke-9

Published

on

Pecel

Pecel merupakan salah satu hidangan yang paling terkenal di Indonesia. Ternyata, hidangan ini sudah ada sejak abad ke-9.

Mengolah pecel, cukup terbilang sederhana. Berbagai jenis daun atau sayuran hanya direbus dan dimakan dengan saus kacang yang berbumbu kencur, asem, garam dan cabai. Saus kacang inilah yang menjadi kunci dalam menentukan nikmat dari rasa pecel.

Sayuran dalam pecel dapat berupa, kacang panjang, tauge, kangkung, daun singkong, daun pepaya hingga kol. Pecel memiliki rasa yang gurih, sedikit pedas dan juga sensasi segar dari ragam sayuran yang ada.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Selain rasanya yang nikmat, pecel memiliki keunggulan yakni kaya akan gizi, Dalam satu porsi sajian pecel, Cityzen akan mendapatkan serat, antioksidan dan berbagai vitamin yang menyehatkan. Di balik kenikmatan dan terkenalnya sajian pecel ini, ternyata memiliki sejarah tersendiri.

Dalam beberapa kitab kuno pecel bahkan tertulis secara gamblang. Jika ditarik kesimpulan, pecel termasuk makanan kuno yang tetap bertahan dan eksis di era modern seperti saat ini.

Adalah Wira Hardiyansyah, seorang praktisi sekaligus pemerhati kuliner Indonesia yang menjabarkan sejarah perkembangan pecel berdasarkan literasi temuannya. Wira berpendapat, pecel kemungkinan sudah ada sebelum Masehi.

“Dalam literatur sejarah, pecel pertama kali di mention dalam Kakawin Ramayana, yang ditulis pada abad 9 era Mataram Kuno/Mataram Hindu dibawah raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-930 M),” tulis Wira pada unggahan Instagramnya.

“Semua jenis hidangan yang disiapkan dalam bambu panas, daging cincang yang dicampur dengan sayuran, pêcêl (salad sayuran) murni. Letakkan perasan jeruk (saat memakannya). Mintalah nasi sepuasnya,” bunyi kitab Kakawin Ramayana.

Pecel

Dalam buku yang berjudul Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Ki Gede Pamanahan beristirahat di Dusun Taji saat melakukan perjalanan ke Tanah Mataram. Di dusun tersebut, Ki Ageng Karang Lo menyiapkan jamuan untuk Ki Gede Pamanahan, yakni nasi pecel, daging ayam, dan sayur menir (bayam).

Setelah selesai menyantap, Ki Gede Pamahanan berkata, “Terima kasih Ki Sanak, hidangannya enak sekali. Saya sungguh berhutang budi pada Ki Sanak. Semoga kelak saya dapat membalasnya”.

pecel

Ketika ditanya hidangan yang disajikan itu apa, Ki Ageng Karang Lo menjawab, “Puniko ron ingkang dipun pecel”. Artinya adalah dedaunan yang direbus dan diperas airnya. Sejak saat itu, sajian tersebut dikenal dengan nama pecel.

Dapat disimpulkan, bahwa pecel termasuk makanan kuno yang tetap bertahan, eksis dan diminati hingga era modern saat ini. Saat ini, Cityzen dapat mencicipi ragam dan jenis pecel dari beberapa daerah. Mulai dari pecel Madiun, pecel pincuk, pecel Blitar hingga pecel Tumpang.

Continue Reading

Berita Utama

Berapa Total Jumlah Bahasa Daerah di Indonesia? Ini Jawabannya

Published

on

Bahasa Daerah

Indonesia memiliki beragam bahasa daerah yang harus dilestarikan. Tetapi keragaman bahasa Indonesia terancam punah atau hilang. Penyebabnya karena semakin berkurangnya penutur bahasa daerah asli.

Pemerintah terus berupaya melestarikan bahasa lokal di daerah yang statusnya kritis atau terancam punah karena berkurangnya jumlah penutur. Salah satunya melalui upaya revitalisasi yang dilakukan balai bahasa yang berada di berbagai wilayah.

“Konservasi dalam konteks pelindungan bahasa merupakan upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan bahasa agar tetap dipergunakan oleh masyarakat penuturnya,” kata Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTT, Syaiful Bahri Lubis dalam rangkaian peringatan Bulan Bahasa dan Sastra 2021.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Kemajemukan Indonesia di berbagai sisi sudah menjadi nilai yang dikenal luas, termasuk kemajemukan dalam sisi bahasa. Indonesia memiliki lebih dari 600 bahasa daerah yang tersebar di penjuru nusantara yang dipersatukan melalui bahasa Indonesia.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa Kemendikbud) telah memetakan dan memverifikasi 652 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah tersebut tidak termasuk dialek dan subdialek pada 2018 lalu.

“Dari tahun 1991 sampai 2017 kami telah memetakan dan memverifikasi bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Jumlahnya saat ini 652 bahasa daerah, yang tentunya bisa berubah seiring waktu,” kata Dadang Sunendar, dikutip kemdikbud.go.id (23/7/18).

Adapun laporan terbaru berjudul Statistik Kebahasaan 2019 dari Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jumlah bahasa daerah di indonesia yang terverifikasi sejumlah 668 (terverifikasi dan termutakhir menurut dialektologi) dan ada 750 bahasa daerah yang dihitung dari akumulasi persebaran bahasa berdasarkan provinsi (terverifikasi dan termutakhir menurut sosiolinguistik).

Berdasarkan laporan tersebut, jumlah bahasa daerah di indonesia dapat dihitung berdasarkan persebaran bahasa di tiap provinsi indonesia. Dalam hal ini, Papua menjadi provinsi dengan jumlah bahasa daerah terbanyak, yakni ada 299 bahasa daerah atau hampir separuh dari jumlah bahasa daerah yang tercatat di pusat data dan statistik pendidikan dan kebudayaan.

Provinsi dengan bahasa daerah terbanyak ke-2 adalah Papua Barat dengan 96 bahasa daerah dan provinsi dengan bahasa daerah terbanyak ke-3 adalah Nusa Tenggara Timur dengan jumlah bahasa daerah sebanyak 69 bahasa.

Dapat dilihat bahwa wilayah timur indonesia memiliki banyak bahasa daerah yang cukup banyak. Meski demikian, dikutip dari laman resmi kemendikbud.go.id dikatakan bahwa Bahasa-bahasa di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat belum semua teridentifikasi. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan akan adanya penambahan jumlah bahasa daerah di wilayah-wilayah tersebut jika dilakukan penelitian mendatang.

Hal tersebut juga dikarenakan adanya perbedaan jumlah bahasa daerah di indonesia dari beberapa penelitian yang dilakukan serta pengelompokkan bahasa daerah dengan indikator yang berbeda.

Contohnya adalah jumlah bahasa daerah yang terdata dalam laporan oleh Summer Institute of Linguistics. Dalam laporan tersebut jumlah bahasa di Indonesia sebanyak 719 bahasa daerah dan 707 di antaranya masih aktif dituturkan.

Sementara itu, UNESCO baru mencatatkan 143 bahasa daerah di Indonesia berdasarkan status vitalitas atau daya hidup bahasa.

Mengacu pada laporan statistik kebahasaan yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, jumlah bahasa daerah di indonesia ada sebanyak 668 bahasa yang terverifikasi menurut dialektologi.

Continue Reading

Berita Utama

Di Bawah Guyuran Hujan, Mahasiswa Demo Kritisi 7 Tahun Kepemimpinan Jokowi

Published

on

Deonstrasi mahasiswa

Mahasiwa dari aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi demonstrasi untuk mengritisi kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama tujuh tahun di Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (21/10/2021).

Massa BEM SI mulai berdatangan sejak pukul 11.00 WIB. Mereka mulai bergerak menuju Patung Kuda dari titik kumpul di Perpustakaan Nasional.

Massa aksi juga datang membawa satu mobil komando. Mereka turut membawa bendera asal kampus dan menggunakan almamater dari universitas masing-masing.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Pelbagai atribut aksi juga dibawa oleh massa mahasiswa seperti poster dan bendera putih. Massa aksi turut menggunakan masker untuk menjaga protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Sempat terlihat pelaku menggunakan almater berwarna merah. Mereka membakar ban bekas tak jauh dari massa aksi BEM SI yang sedang berorasi.

demonstrasi mahasiswa

Melihat adanya kepulan asap, seorang polisi menggunakan pengeras meminta anggotanya untuk segera memadamkan api. Menggunakan apar, api langsung dipadamkan. Sosok orang yang membakar terlihat langsung meninggalkan lokasi.

Orator BEM SI dari mobil komando meminta massanya untuk merapat ke barisan.

“Masuk barisan (kawan-kawan), jangan ada yang keluar barisan,” teriak orator mengingatkan massanya.

Demonstrasi mahasiswa

Di bawah guyuran hujan, massa mahasiswa tetap menggelar unjuk rasa untuk menyampaikan tuntutan mereka. Koordinator Pusat BEM SI Nofrian Fadil Akbar mengatakan aksi unjuk rasa ini dilakukan dalam rangka mengkritisi tujuh tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

“Tujuh tahun pemerintahan Jokowi ramai isu-isu yang diperbincangkan, namun ternyata tidak banyak membawa terobosan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di Indonesia,” kata Nofrian melalui keterangan tertulis.

Continue Reading

Trending