Connect with us

CityProperty

Pandemi Covid-19, Kaveling Residensial Jadi Primadona di Bali

Published

on

Views : 3

Foto Kaveling Residensial

Properti untuk segmen wisata mulai pulih dengan pesatnya penjualan kaveling residensial di destinasi wisata Bali. Pengembang Teratai Group sukses memasarkan kaveling di kawasan Canggu dari 55 bidang kaveling langsung terjual 85 persen sebelum diluncurkan secara resmi.

Pengembang kian confident melakukan ekspansi usaha dengan peluncuran produk-produk baru termasuk untuk segmen wisata yang disebut paling terpukul saat pandemi Covid-19. Pengembang Teratai Group, developer yang fokus pada pengembang proyek-proyek properti di daerah wisata Bali, meluncurkan proyek Teratai Grand Village yang berlokasi di Canggu, Bali.

Proyek seluas 2,5 hektar ini yang akan dibangun menjadi produk residensial hanya di lahan seluas 1,5 hektar dan sisa 1 hektar digunakan untuk area komersial sebagai fasilitas penghuni. Teratai Grand Village menawarkan unit dalam bentuk kaveling berukuran 120 m2 (8×15 m) yang dipasarkan seharga Rp9 jutaan/m2. Saat ini dari 55 bidang kaveling sudah terjual mencapai 85 persen.

Baca Juga:

  1. Mulai Besok! Ini Aturan Baru & Syarat Naik KRL
  2. Tips Lolos Kartu Prakerja Gelombang 20
  3. Taliban Larang Perempuan Afghanistan Berolahraga

“Ternyata minat properti khususnya kaveling seperti ini sangat luar biasa dengan sudah terjual mencapai 85 persen sebelum dilakukan launching resminya. Penerapan PPKM di Bali tidak mengurangi minat masyarakat untuk tetap mengakses produk properti sehingga saat ini kami tinggal memasarkan 15 persen,” ujar I Gede Arya Wijaya, Direktur PT Teratai Agung Kencana, pengembang Teratai Grand Village.

Sebelum meluncurkan Teratai Grand Village ini, Teratai Group telah meluncurkan Villa Teratai Residence yang lokasinya berdekatan dan hingga saat ini penjualannya mencapai 80 persen. Kedua proyek ini dikembangkan saat sudah ada pandemi namun tidak mengurangi minat masyarakat untuk membeli.

Teratai Group juga berkomitmen penuh untuk mengembangkan proyek Teratai Grand Village ini. Komitmen itu ditunjukan dengan progres pembangunan yang sangat pesat dalam waktu tiga bulan yang dikerjakan lebih cepat dari jadwal. Arya juga mengklaim menjadi developer yang menjual kaveling dengan harga terbaik di wilayah Bali sebagai destinasi utama wisata global.

“Pada tanggal 9 September 2021 kami membangun gerbang Teratai Grand Village sebagai penanda launching resmi proyek ini. Kami juga telah menggandeng banyak agen properti untuk memudahkan konsumen dari Jakarta, Surabaya, Makassar, dan kota lainnya bisa memiliki properti di Bali,” imbuhnya.

Andy K Natanael dari AKN Group yang bertindak sebagai advisor dari proyek Teratai Grand Village mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat penjualan Teratai Grand Village sangat baik. Antara lain, sebagai kawasan pariwisata internasional Pulau Dewata Bali masih menjadi incaran konsumen baik lokal maupun luar daerah dan itu terbukti karena meskipun ada pandemi tidak menyurutkan minat masyarakat untuk ingin memiliki properti di Bali.

“Faktor lainnya, Canggu telah menjelma menjadi salah satu kawasan spot atraktif yang memikat para wisatawan domestik maupun mancanegara di pulau Bali. Kawasan ini terletak di Kabupaten Badung, Bali, dan terkenal dengan panorama alamnya yang indah serta keunikan karakter pantainya, makanya Canggu menjadi salah satu kawasan primadona dengan tingkat kunjungan wisatawan terbanyak di Bali,” jelasnya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CityProperty

300 Rumah Instan Sehat Dibangun di Perbatasan Timorleste

Published

on

Rumah Instan Sehat

Kementerian PUPR terus mendorong pembangunan hunian untuk masyarakat yang berhak di berbagai wilayah. Salah satunya di wilayah perbatasan negara dengan Timor Leste yang dibangun hunian dengan teknologi rumah instan sehat Risha sebanyak 300 unit.

Pembangunan untuk memperbanyak sarana hunian terus dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Ada berbagai program dari Kementerian PUPR untuk fasilitas hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) seperti bedah rumah, pembangunan prasarana sarana utilitas (PSU), rumah susun (Rusun), dan sebagainya.

Salah satunya Kementerian PUPR membangun fasilitas hunian berupa pembangunan rumah khusus (Rusus) untuk masyarakat di wilayah perbatasan tepatnya di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupaka wilayah perbatasan negara Indonesia dengan Timor Leste. Rusus ini digunakan untuk para WNI eks pengungsi Timor Timur.

Baca Juga:

  1. Kisah Cucu, Wanita Asal Bandung Yang Tidak Bisa Tidur Sejak 2014
  2. Puncak Berlakukan Ganjil-Genap Pekan Ini
  3. 5 Urutan Skincare Untuk Kulit Berminyak

Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, pembangunan proyek Rusus ini merupakan komitmen pemerintah untuk penyediaan hunian yang layak bagi masyarakat sekaligus untuk terus mendorong program sejuta rumah. Ini juga bagian dari pemerataan hasil-hasil pembangunan di seluruh pelosok negeri khususnya wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

“Pembangunan sarana hunian khususnya untuk masyarakat di kawasan 3T menjadi bukti dan komitmen pemerintah dalam penyediaan hunian yang layak bagi masyarakat. Dengan sarana hunian yang baik diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat karena telah memiliki rumah yang layak, sehat, dan nyaman,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Belu sendiri sebelumnya telah mengusulkan untuk pembangunan Rusus ini sebanyak 450 unit. Hunian sebanyak ini sebanyak 400 unit untuk di daerah perbatasan dan 50 unit untuk asrama Brimob. Dari usulan ini telah dilaksanakan proses pembangunan sejumlah 300 unit yang dilakukan bertahap sejak tahun 2020 lalu.

Pembangunan 300 unit Rusus ini dibagi dalam tiga tahap dengan masing-masing 100 unit setiap tahapnya. Ke-300 unit Rusus ini juga dibangun menggunakan teknologi rumah instan sederhana sehat (Risha) hasil pengembangan Kementerian PUPR. Tipe rumahnya 36 m2 dan tahap pertamanya dibangun di Desa Tohe, Kecamatan Raihat, dan saat ini pembangunannya telah selesai dan sudah mulai dihuni.

Untuk tahap kedua dibangun di lokasi yang sama dan saat ini proses konstruksinya telah mencapai 65,6 persen. Sedangkan tahap ketiga masuk ke dalam paket program pemulihan ekonomi nasional (PEN) 2021 dan saat ini masih dalam proses lelang. Pembangunan tahap ketiga ini rencananya dilakukan di Desa Rafae, Kecamatan Raimanuk.

“Pemerintah akan terus mendorong dan memperbanyak program fasilitas hunian baik berupa Rusun, Rusus, bedah rumah, dan lainnya. Pihak pemerintah daerah juga bisa mengusulkan masyarakatnya yang huniannya tidak layak maupun kawasan kumuh untuk disinergikan dengan program perumahan pemerintah pusat,” imbuh Basuki.

Continue Reading

CityProperty

Dear Millenials, Banyak Rumah Harga Rp300 Jutaan di Bogor

Published

on

Arco Green Park

Pengembang terus memenuhi pasar untuk segmen rumah menangah seharga Rp300 jutaan yang pasarnya sangat besar. Segmen ini cocok untuk pekerja milenial bergaji Rp7 jutaan dengan cicilan KPR Rp3 jutaan per bulannya seperti yang dipasarkan di perumahan Arco Green Park.

Segmen kalangan muda yang mencari rumah pertama sangat besar di Indonesia dan segmen ini yang terus disasar oleh banyak perusahaan developer. PT Sedaya Indah Selaras misalnya, kembali meluncurkan perumahan Arco Green Park untuk menyasar segmen besar itu dengan produk perumahan yang terjangkau.

Berlokasi di Jalan Kiyu, Arco Raya, Ragamukti, Citayam, Kabupaten Bogor, wilayah ini juga merupakan salah satu kawasan favorit segmen pekerja milenial karena masih menawarkan rumah yang cukup affordable. Arco Green Park dibangun di atas lahan seluas 2 hektar yang dikonsep 10 blok untuk sekitar 156 unit rumah dan beberapa unit ruko.

Baca Juga:

  1. Kisah Cucu, Wanita Asal Bandung Yang Tidak Bisa Tidur Sejak 2014
  2. Puncak Berlakukan Ganjil-Genap Pekan Ini
  3. 5 Urutan Skincare Untuk Kulit Berminyak

PT Sedayu Indah Selaras juga sebelumnya sukses mengembangkan beberapa perumahan yang semuanya menyasar segmen menengah. Portofolionya tersebar di Puri Laras 1, Puri Laras 2, Grand Puri Laras Ciputat, Serpong Green Park, Serpong Green Park 2, dan Pamulang Green Residence.

“Kami menyasar generasi milenial yang membutuhkan perumahan dan untuk itu kami menyasar produk dengan berbagai skema cara bayar yang akan memudahkan kalangan ini. Kami memasarkan rumah tipe 42/65 hingga yang terbesar 55/126 dengan harga Rp300 jutaan hingga Rp700 jutaan dan bisa dibeli dengan berbagai program kemudahan,” ujar Afief Abdullah, Direktur PT Sedayu Indah Selaras.

Kemudahan pembayaran ini bisa didapatkan melalui program KPR dari bank yang telah bekerja sama dengan perumahan Arco Green Park. Ada banyak tawaran suku bunga ringan dengan tenor yang panjang sehingga cicilannya bisa lebih ringan dan ini cocok untuk kalangan pekerja milenial.

Hunian dengan desain kontemporer ini menyediakan fasilitas kredit atau KPR dari beberapa bank nasional di Indonesia dengan suku bunga rendah dan masa cicilan atau tenor cukup panjang, maksimal bisa 20-25 tahun ditentukan sesuai umur konsumen saat melakukan transaksi pembelian secara KPR.

Terlebih PT Sedayu Indah Selaras juga menerapkan kemudahan pembelian dengan cukup membayar booking Rp2,5 juta kemudian langsung bisa akad kredit dengan uang muka ringan 5 persen atau bagi yang memenuhi syarat bisa tanpa uang muka. Rumah ini bisa dicicil sebesar Rp3 jutaan per bulan sehingga cocok untuk pekerja yang bergaji Rp7 juta per bulan.

“Kami juga bukan hanya menjual gambar karena berbagai infrastruktur seperti jalan beton, turap, drainase, dan lainnya kami bangun lebih dulu. Ini untuk menjadi bukti keseriusan kami dalam pengembangan proyek ini dari sekadar membangun rumah contoh. Kawasannya juga menyediakan fasilitas yang lengkap seperti sarana pendidikan, rumah sakit, pasar tradisional, dan sebagainya,” imbuh Afief.

Continue Reading

Berita Utama

1.799 Unit Homestay di Danau Toba Selesai Dibangun

Published

on

homestay di kawasan wisata Danau Toba

Program pembangunan Sarhunta atau homestay yang membuat rumah-rumah masyarkat yang tidak layak huni dijadikan homestay terus didorong. Sebanyak 1.799 unit homestay di kawasan wisata Danau Toba telah selesai dibangun sehingga masyarakat tidak lagi menjadi penonton tapi ikut menikmati kue pariwisata.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR telah menyelesaikan pembangunan 1.799 unit sarana hunian pariwisata (Sarhunta) di destinasi wisata super prioritas (DWSP) Danau Toba di Sumatera Utara. Danau Toba merupakan bagian dari lima DWSP yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk terus digenjot progresnya.

Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, progam pembangunan rumah wisata ini juga masuk ke dalam daftar proyek strategis nasional (PSN) sesuai Perpres No. 109 Tahun 2020 untuk meningkatkan kualitas rumah warga sekitar kawasan pariwisata menjadi lebih layak huni sekaligus bisa dimanfaatkan untuk usaha pondok wisata (homestay) dan usaha pariwisata lainnya sehingga bisa mendorong perekonomian masyarakat lokal.

Baca Juga:

  1. Apple Rilis iPhone 13 pada 14 September 2021
  2. Kemenkes Pastikan Data Masyarakat di eHAC Tak Bocor
  3. Dapatkan Diamond Secara Cuma-Cuma, Ikuti Advance Server FF

“Pemerintah meyakini bahwa sektor ekonomi utama yang dapat rebound dengan cepat adalah sektor pariwisata. Terkait hal ini, Kementerian PUPR terus melaksanakan program renovasi rumah warga agar layak untuk dijadikan homestay di kawasan wisata sehingga masyarakat setempat bukan hanya jadi penonton tetapi bisa menikmati kue pariwisata,” katanya.               

Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul Hamid menambahkan, homestay dan usaha pariwisata lainnya dalam mendukung pengembangan PSN 2020 dilaksanakan di lima destinasi pariwisata prioritas yang terdiri atas Danau Toba, Borobudur, Lombok-Mandalika, Labuan Bajo dan Manado-Likupang.

Sebagai informasi, program Sarhunta ini dilaksanakan oleh Satuan Kerja Penyediaan Perumahan Provinsi Sumatera Utara Balai P2P Sumatera II Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR sejak 2020 dengan alokasi bantuan pada tahun anggaran (TA) 2020 berjumlah Rp121,9 miliar di Danau Toba. Pelaksanaanya dilakukan di enam daerah yakni Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Humbang Hasudutan, dan Kabupaten Dairi.

Sementara itu, Kepala Balai P2P Sumatera II Rusli mengatakan, program Sarhunta di Danau Toba sudah terlaksana 100 persen dengan rincian pembangunan 596 unit homestay, 1 unit workshop, 4 unit toko, 30 unit usaha kuliner, 1.192 unit koridor, dan 3 unit fungsi properti lainnya.

“Dalam pembangunan program Sarhunta ini masyarakat ikut dilibatkan dan ikut merencanakan desain hunian untuk homestay di Danau Toba. Setelah selesai masyarakat juga ikut dibimbing agar bisa dan siap untuk menerima tamu para wisatawan yang akan datang berkunjung di homestay mereka,” jelasnya.

Continue Reading

Trending