Connect with us

CityHistory

Keunikan Candi Dadi Dan Misteri Kutukan Jomblo

Published

on

Candi Dadi

Candi Dadi di Tulungagung merupakan peninggalan kerajaan Majapahit sekitar akhir abad XIV hingga akhir abad XV. Candi ini disebut-sebut dibangun oleh rakyat Majapahit yang beragama Hindu-Budha yang mengasingkan diri dari kerajaan. Candi ini terletak Dusun Mojo, Desa Wajak Kidul, kecamatan Boyolangu.

Komplek Candi Dadi ini berada di ketinggian 360 mdpl, bangunannya terdapat di area kehutanan di lingkungan RPH Kalidawir. Candi Dadi adalah satu-satunya candi di Indonesia yang memiliki lubang sumur di atasnya. Selain itu sejak awal berdiri, candi ini belum pernah mengalami pemugaran, jadi Candi Dadi masih sama dengan zaman dulu.

Selain candi dadi kalian juga akan melihat beberapa candi yang dekat dengan lokasi candi dadi seperti  Candi Buto dan Candi Gemali dibalik candi tersebut candi ini juga menyimpan cerita yaitu Misteri “jomblo” dalam pembangunan Candi Dadi.

Baca Juga :

  1. Tiga Harimau Sumatera Mati Mengenaskan di Aceh
  2. Bikin Nagih, Ini Sambai Oen Peugaga Legenda yang Dibuat dari 44 Daun
  3. Wow! Erigo Wakili Indonesia di New York Fashion Week 2021

Candi Dadi menyimpan misteri tentang asal muasal pembangunannya. Masyarakat sekitar percaya bahwa candi ini bermula ketika salah seorang pangeran melamar seorang putri dusun Kedungjalin. Kemudian putri tersebut mau menerima lamaran dengan syarat dibuatkan empat candi dalam satu malam. Pangeran pun menyetujui persyaratan tersebut dan dimulailah pembuatannya.

Maka ketika keempat candi hampir jadi, dan waktu masih cukup, maka putri yang sejatinya ingin menolak lamaran pangeran tersebut mencari akal untuk menggagalkan pembuatan candi yaitu dengan menyuruh beberapa ibu desa membunyikan suara lesung.

Maka candi yang keempat pun belum selesai dibuat karena pangeran mengira waktu sudah pagi. Candi yang keempat ini selanjutnya oleh masyarakat dinamakan candi Urung, karena bentuknya yang tidak sempurna.

Setelah pangeran tahu tipu muslihat itu, maka ia marah dan mengutuk para perempuan di desa itu, mereka tidak akan mendapatkan jodoh melainkan setelah usianya menginjak tua.

Berita Utama

Pohon Dewandaru, Pembawa Wahyu Dewa dari Karimun Jawa

Published

on

Pohon Dewandaru

Apakah Cityzen pernah mendengan tentang Pohon Dewandaru? Tanaman ini banyak dijumpai dalam kisah pewayangan, dalam bahasa jawa kuno, atau sansekerta.

Kata dewandaru sendiri dalam bahasa Jawa berarti pembawa pesan dari para dewa. Pohon ini terkenal karena ada banyak mitos yang berkaitan dengan pohon dewandaru ini.

Pohon dewandaru dikenal pula sebagai tumbuhan cermai londo. Meski menghasilkan buah kecil yang enak dimakan, tak banyak masyarakat yang mau menanamnya.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Hal ini karena dewandaru memiliki beragam mitos seram yang mengiringinya.Pohon dewandaru adalah tumbuhan perdu atau semak yang besar.

Tingginya bisa mencapai 5-8 meter dengan buah yang berwarna merah jika sudah matang. Daunnya yang berwarna hijau serta merupakan daun tunggal, tersebar, berbentuk lonjong, dengan ujung dan pangkal meruncing.

Pohon ini dapat tumbuh di mana saja, termasuk di halaman rumah. Banyak berita menyebutkan bahwa orang yang menanam pohon ini di rumah, akan terus mendapat keberkahan.

Salah satu cerita yang disebarkan dari mulut ke mulut adalah pohon dewandaru yang terletak di Gunung Kawi, Jawa Timur. Pohon dewandaru di Gunung Kawi terletak di kompleks makam Kiai Imam Sudjono dan Raden Mas Zakaria II.

Dewandaru

Pohon yang sudah ada sejak tahun 1871 ini tumbuh menjulang tinggi dan kini berbatas pagar besi setinggi 2 meter dengan lebar 0,5 meter tiap sisinya. Mitosnya, barang siapa melakukan semadi di bawah pohon dewandaru selama tiga hari dan tidak sengaja kejatuhan salah satu bagian pohon, entah itu ranting, daun, atau buah, dia akan mendapatkan kekayaan.

Setiap bulan September, pohon dewandaru di Gunung Kawi ini akan berbuah. Saat itu lah banyak orang berlomba-lomba mendapatkan “jimat” keberuntungan. Sebagian orang bahkan rela menginap dan tidur di bawah pohon dewandaru, demi mendapatkan ranting, daun, atau buah yang terjatuh.

Setiap bagian tersebut memiliki arti masing-masing. Jika yang terjatuh adalah daun, beberapa orang percaya akan mendapat rezeki berupa uang. Maka biasanya, daun ini disimpan dalam dompet sebagai jimat. Jika buahnya yang terjatuh, ini menandakan datangnya rezeki yang lebih besar.

Mitos ini membuat orang sampai rela menanam pohon dewandaru di depan rumah, berharap bisa kaya mendadak. Mitos ini juga membuat masyarakat sekitar Gunung Kawi melarang siapa pun memetik buah dan menggoyang pohon dewandaru.

Sementara itu mitos yang dipercaya oleh masyarakat Karimunjawa, pohon dewandaru ditanam oleh Sunan Nyamplungan yang merupakan putra dari Sunan Muria. Fungsinya untuk menjaga Karimunjawa tetap asri dan terhindar dari gangguan-gangguan yang dapat merusak.

Hal ini membuat pohon dewandaru tidak boleh dirusak atau dibawa keluar dari Karimunjawa. Siapa pun yang merusak pohon Dewandaru pasti akan terkena musibahnya.

Misalnya kisah Kapal Motor Tongkol IV yang tenggelam di perairan Karimunjawa pada 11 Oktober 1983, yang menewaskan 16 orang, 18 hilang, dan 48 selamat. ternyata, salah seorang penumpang diketahui menyembunyikan ranting pohon dewandaru yang diambil diam-diam dari makam Nyamplungan.

Kekeramatan itu makin dikukuhkan karena di ruang tunggu lapangan terbang Dewandaru di Karimunjawa terpampang tulisan dilarang membawa pohon/dahan/ranting dewandaru. Petugas lapangan terbang juga memeriksa barang-barang bawaan penumpang yang hendak meninggalkan Karimunjawa.

Khasiat Pohon Dewandaru

Dewandaru

Pohon dewandaru adalah tanaman obat. Beberapa bagian dari tanaman ini dipercaya bisa menyembuhkan beberapa jenis penyakit.

Warna oranye dan merah pada buah dewandaru menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat kandungan senyawa golongan karotenoid. Senyawa ini merupakan antioksidan yang bekerja melawan radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh manusia.

Biji buah dewandaru bisa digunakan sebagai obat diare. Katanya biji buah ini mengandung protein tertentu yang bisa menghambat pertumbuhan kuman penyebab diare.

Daun dewandaru mengandung minyak atsiri. Minyak atsiri merupakan analgesik atau penghilang rasa sakit.

Continue Reading

Berita Utama

Sejarah Pecel, Hidangan untuk Sunan Kalijaga yang Sudah Ada Sejak Abad ke-9

Published

on

Pecel

Pecel merupakan salah satu hidangan yang paling terkenal di Indonesia. Ternyata, hidangan ini sudah ada sejak abad ke-9.

Mengolah pecel, cukup terbilang sederhana. Berbagai jenis daun atau sayuran hanya direbus dan dimakan dengan saus kacang yang berbumbu kencur, asem, garam dan cabai. Saus kacang inilah yang menjadi kunci dalam menentukan nikmat dari rasa pecel.

Sayuran dalam pecel dapat berupa, kacang panjang, tauge, kangkung, daun singkong, daun pepaya hingga kol. Pecel memiliki rasa yang gurih, sedikit pedas dan juga sensasi segar dari ragam sayuran yang ada.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Selain rasanya yang nikmat, pecel memiliki keunggulan yakni kaya akan gizi, Dalam satu porsi sajian pecel, Cityzen akan mendapatkan serat, antioksidan dan berbagai vitamin yang menyehatkan. Di balik kenikmatan dan terkenalnya sajian pecel ini, ternyata memiliki sejarah tersendiri.

Dalam beberapa kitab kuno pecel bahkan tertulis secara gamblang. Jika ditarik kesimpulan, pecel termasuk makanan kuno yang tetap bertahan dan eksis di era modern seperti saat ini.

Adalah Wira Hardiyansyah, seorang praktisi sekaligus pemerhati kuliner Indonesia yang menjabarkan sejarah perkembangan pecel berdasarkan literasi temuannya. Wira berpendapat, pecel kemungkinan sudah ada sebelum Masehi.

“Dalam literatur sejarah, pecel pertama kali di mention dalam Kakawin Ramayana, yang ditulis pada abad 9 era Mataram Kuno/Mataram Hindu dibawah raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898-930 M),” tulis Wira pada unggahan Instagramnya.

“Semua jenis hidangan yang disiapkan dalam bambu panas, daging cincang yang dicampur dengan sayuran, pêcêl (salad sayuran) murni. Letakkan perasan jeruk (saat memakannya). Mintalah nasi sepuasnya,” bunyi kitab Kakawin Ramayana.

Pecel

Dalam buku yang berjudul Babad Tanah Jawi diceritakan bahwa Ki Gede Pamanahan beristirahat di Dusun Taji saat melakukan perjalanan ke Tanah Mataram. Di dusun tersebut, Ki Ageng Karang Lo menyiapkan jamuan untuk Ki Gede Pamanahan, yakni nasi pecel, daging ayam, dan sayur menir (bayam).

Setelah selesai menyantap, Ki Gede Pamahanan berkata, “Terima kasih Ki Sanak, hidangannya enak sekali. Saya sungguh berhutang budi pada Ki Sanak. Semoga kelak saya dapat membalasnya”.

pecel

Ketika ditanya hidangan yang disajikan itu apa, Ki Ageng Karang Lo menjawab, “Puniko ron ingkang dipun pecel”. Artinya adalah dedaunan yang direbus dan diperas airnya. Sejak saat itu, sajian tersebut dikenal dengan nama pecel.

Dapat disimpulkan, bahwa pecel termasuk makanan kuno yang tetap bertahan, eksis dan diminati hingga era modern saat ini. Saat ini, Cityzen dapat mencicipi ragam dan jenis pecel dari beberapa daerah. Mulai dari pecel Madiun, pecel pincuk, pecel Blitar hingga pecel Tumpang.

Continue Reading

Berita Utama

Tragedi Kelam Bintaro & Kisah Pilu Masinis Selamet

Published

on

Tragedi Bintaro

Kemarin, Selasa (19/10/2021), merupakan peringatan 34 tragedi Bintaro, yang merupakan tragedi kecelakaan kereta api terkelam dalam sejarah Indonesia.

Pada 19 Oktober 1987, terjadi kecelakaan antara Kereta Api (KA) 225 Merak dengan Kereta Api (KA) 220 Rangkas di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan.

KA Rangkas dan KA Merak bertabrakan dengan posisi saling menghadap satu sama lain atau adu banteng. Kedua kereta sama-sama ringsek karena benturan keras.

Kereta api Patas Merak KA 220 jurusan Tanah Abang – Merak berangkat dari Stasiun Kebayoran. Sedang kereta api Lokal Rangkas KA 225 jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota berangkat dari Stasiun Sudimara.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Tercatat ada 139 korban meninggal dunia dengan 113 teridentifikasi, dan 26 tidak teridentifikasi. Sedangkan korban yang mengalami luka-luka sebanyak 254 orang.

Terdapat 2 versi kronologi terjadinya tragedy Bintaro I ini yakni kronologi yang diketahui dari masinis kereta api dan versi PJKA.

Menurut versi PJKA dijelaskan jika saat itu KA 225 dijadwalkan tiba di Stasiun Sudimara pukul 06.40 utuk bersilang dengan KA 220 pukul 06.49.

Di Stasiun Sudimara memiliki 3 jalur kereta api yang saat itu penuh semua termasuk KA 225.

Karena Stasiun Sudimara tidak dapat menerima persilangan kereta api, maka KA 225 harus melanjtukan perjalanan ke Stasiun selanjutnya yakni Stasiun Kebayoran.

Namun ada beberapa peraturan dari dinas untuk Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) Sudimara yang harus dilakukan. Yakni meminta izin kepada PPKA Kebayoran dan mengirim surat Pemindahan Tempat Persilangan (PTP) yang diserahkan ke masinis dan kondektur KA 225.

Tragedi Bintaro

Dari peraturan yang seharusnya wajib dilakukan sesuai prosedur, namun surat PTP itu diserahkan tanpa sepengetahuan PPKA Kebayoran.

Karena sudah terlanjur diserahkan ke yang bersangkutan, PPKA Sudimara bergegas menelepon PPKA Kebayoran untuk pindah tempat persilangan.

Saat itu PPKA Kebayoran beganti tugas dari shift malam ke ke shift pagi. PPKA sebelumnya memberi tahu ke PPKA shift pagi bahwa KA 251, 225, dan 1035 belum tiba.

Sedangkan KA 251 sedang melaju ke arah Kebayoran untuk bersilang dengan KA 220. Begitu KA 251 tiba, PPKA meminta izin memberangkatkan KA 220 ke Sudimara.

Saat itu, PPKA Sudimara mengatakan jika ada kereta api yang berangkat dari Sudimara ke Kebayoran. Begitu komunikasi ditutup, PPKA Kebayoran justru memberangkatkan KA 220 dengan asumsi jika persilangan tetap dilakukan di Sudimara.

PPKA Kebayoran menelepon PPKA Sudimara telah memberangkatkan KA 220. PPKA Sudimara kebingungan karena PTP sudah diberikan ke masinis KA 225.

Karena miss komunikasi ini, PPKA Sudimara mengakali dengan melangsir KA 225 dari jalur 3 ke jalur 1 Stasiun Sudimara.

PPKA Sudimara menyuruh petugas untuk melangsir, dengan sigap petugas itu mengambil bendera merah dan slompret. Namun masinis tidak dapat melihat semboyan dari petugas itu karena terhalang penumpang dan tiba-tiba kereta bergerak tanpa perintah slompret.

Karena telah berangkat, petugas melaporkan ke PPKA Sudimara, dan dengan sigap PPKA Sudimara ke Kebayoran tapi tidak bisa menghentikan kereta KA 220.

Saat itu kecelakaan pun tak dapat dihindari, masinis KA 225 melihat KA 220 yang berada satu jalur kereta api. Meski sudah menarik tuas rem, tabrakan pun terjadi.

Sementara itu, menurut masinis KA 225, Slamet Suradio yang masih selamat memberikan kesaksiannya.

Kisah pilu kepala masinis Slamet

Slamet

Nasi memang telah menjadi bubur, selain para korban, perjalanan hidup Slamet menjadi begitu pilu. Kecelakaan terkelam dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia itu telah memporak-porandakan hidupnya.

Slamet mendapatkan hukuman 5 tahun penjara di Lapas Cipinang buntut Tragedi Bintaro. Dia diputuskan bersalah karena dianggap lalai sebagai masinis sehingga menjatuhkan banyak korban jiwa.

Dalam tragedi ini, Slamet dituduh memberangkatkan kereta api tanpa instruksi sehingga berakhir kecelakaan. Namun, hal itu dibantah olehnya.

“Jadi kalau ada orang mengatakan berangkat sendiri itu bohong, apa untungnya saya memberangkatkan kereta sendiri,” ujar Slamet yang dikutip dari Suara, Rabu (20/10/2021).

Saat terjadi tabrakan, Slamet tergencet oleh badan lokomotif. Dalam keadaan bersimbah darah, dia diantar seorang wanita dengan mobilnya ke rumah sakit, saat itu PTP masih berada dalam genggamannya.

Dalam keadaan PTP yang masih memiliki bekas bercak darah, Slamet berhasil membuktikan kepada hakim di pengadilan bahwa dirinya tergencet dan tidak melompat, dan menuding bahwa orang yang menuliskan berita tersebut adalah ‘orang fitnah’.

“Jadi hakim percayanya saya tidak loncat itu karena ada bercak darah. Makanya (isu) di internet itu yang buat siapa? Saya bingung itu, sedangkan hakim sendiri mengatakan (saya) enggak loncat. Ada katanya saya loncat, itu bohong sekali, itu orang fitnah, jelas fitnah,” papar Slamet.

Slamet keluar dari penjara pada tahun 1993. Setahun berselang dia dipecat dari jabatannya sebagai masinis, bahkan Nomor Induk Pegawai Perkeretaapiannya juga dicabut pada 1996 oleh Departemen Perhubungan Indonesia.

Tak sampai disitu, Slamet juga dipaksa untuk menandatangani surat pengakuan bahwa dia tetap menjalankan kereta tanpa intruksi dari PPKA. Saat menolak, dia mendapat ancaman dari pihak kepolisian.

Pemecatan itu membuat dirinya tidak mendapat uang pensiun. Alhasil, dia harus menyambung hidup dengan pulang kampung dan berjualan rokok di kampung halamannya, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Kisah pilunya terus berlanjut. Sang istri, Kasni memutuskan meninggalkan dirinya saat proses persidangan berlanjut, lalu menikah dengan masinis lain.

Continue Reading

Trending