Connect with us

CityView

Diperkirakan Menelan Biaya Hingga Rp150 Miliar, Tower Penajam Jadi Sorotan Masyarakat Kabupaten PPU

Published

on

Menara Penajam dan Tugu Monas – penajam.kotaku.co.id

Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, berencana mendirikan Tower Penajam. Menara tersebut direncanakan memiliki tinggi lebih dari Monas yang ada di  Jakarta.

Tower Penajam diperkirakan menelan biaya pembangunan hingga Rp150 miliar. Tingginya pun nantinya mencapai 150 meter, melebihi tinggi Tugu Monas di Jakarta yang berkisar 132 meter.

Pembangunan Tower Penajam yang diperkirakan menelan anggaran hingga ratusan miliar rupiah itu menjadi sorotan masyarakat Kabupaten Penajam Paser Utama. Proyek pembangunan tersebut direncanakan pada saat kondisi keuangan pemerintah kabupaten setempat yang sedang tidak baik.

Baca Juga :

  1. Lagi, Jokowi Beri Jabatan Baru untuk Luhut Binsar Pandjaitan
  2. Pantai Marunda, Lokasi Asyik Melihat Migrasi Burung di Utara Jakarta
  3. Asal Usul Sagu Porno dari Kepulauan Sangihe

“Pembangunan tower adalah kewenangan pemerintah kabupaten, tapi dengan kondisi keuangan saat ini diutamakan yang bersifat prioritas,” kata ketua DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara, Jon Kenedi, dikutip dari Antara, Selasa (31/8/2021).

Pemerintah kabupaten diminta berfokus pada kegiatan yang dapat dilaksanakan sesuai ketersediaan anggaran di kas daerah. Jon Kenedi menyampaikan pembangunan Tower Penajam harus mempertimbangkan kondisi keuangan yang ada di kas Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara.

“Kalau anggaran tidak memadai jangan dipaksakan, karena masih membutuhkan dana untuk membiayai kegiatan lainnya yang prioritas,” ungkapnya.

Tugu Monas – goodnewsfromindonesia.id

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Penajam Paser Utara, Edi Hasmoro, mengatakan pembangunan Tower Penajam ditaksir membutuhkan anggaran sampai Rp150 miliar.

Pembangunan Tower Penajam di kawasan Stadion Penajam di Kilometer 9 Nipah-Nipah Kecamatan Penajam tersebut dibebankan dengan skema anggaran tahun jamak (multiyears).

Pengumuman Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Penajam Paser Utara mengatakan perencanaan pembangunan Tower Penajam dianggarkan pada tahun 2021.

Anggaran dalam harga perkiraan sendiri (HPS) lelang paket kegiatan perencanaan pembangunan Tower Penajam sekitar Rp3,7 miliar, dan lelan dimenangkan oleh PT Pandu Perkasa dengan nilai sekisar Rp2,9 miliar.

Berita Utama

Kemang, Tempat Jin Buang Anak yang Menjelma Jadi Kawasan Elite

Published

on

Kemang

Pada tahun 1950-1n, Kemang hanyalah kawasan perkebunan. Kini, kawasan ini menjelma menjadi satu di antara daerah elite di Jakarta.

Kenapa kawasan ini dinamakan Kemang? Itu karena dulunya pohon yang paling banyak dijumpai di daerah ini adalah Pohon Kemang (Mangifera Kemanga Caecea). Pohon Kemang mirip dengan Pohon Mangga, namun buahnya memiliki wangi yang menusuk.

Sejarawan Betawi, Alwi Shihab, dalam salah satu kumpulan esai sejarahnya tentang Jakarta, Robinhood Betawi: kisah Betawi tempo doeloe (2001) menyatakan bahwa Kemang dulunya adalah daerah udik.

Baca Juga:

  1. Seruan Puan Maharani ke Jokowi Soal Kapal China Masuk ke Natuna
  2. Patroli di Laut Natuna Utara, TNI AL Pastikan Tak Menemukan Kapal Asing!
  3. GNPF, FPI & PA 212: Waspada Bangkitnya PKI, Komunis Itu Nyata

“Kemang, pada masa Betawi tempo doeloe, dan ini menurut cerita orang-orang tua, merupakan daerah udik, yang ketika itu disebut Betawi pinggiran. Daerah ini, di samping penghasil buah-buahan, juga pusat usaha peternakan sapi,” ujarnya.

Alwi Shihab menambahkan, kawasan Kemang dulunya amat sepi dan dijuluki tempat jin buang anak. Bahkan, akses untuk keluar dan masuk Kemang dulunya amat sulit.

Kemang dahulunya dikenal sebagai penghasil susu. Udara yang sejuk membuat daerah ini cocok untuk peternakan sapi. Susu hasil perahan didistribusikan ke sejumlah wilayah Jakarta.

“Dahulu di Kemang setiap pagi dan sore hari ratusan orang mengantar susu hasil peternakan,” tulis Alwi.

Kemang, serta Mampang Prapatan, adalah pemasok susu terbesar untuk daerah Jakarta. Saat itu hampir seluruh penduduknya, mencari pendapatan dari bercocok tanam, dan beternak sapi.

Namun sekarang peternakan sapi plus kebun-kebun sudah berubah menjadi rumah-rumah. Nyaris tak berbekas. Peternakan yang dulu merupakan penghasilan rakyat juga ikut sirna.

“Sudah tidak terdengar lagi sapi-sapi yang melenguh di pagi hari. Di tengah-tengah gemerlapnya Kemang dengan berbagai tempat hiburan, yang tersisa bagi warga Betawi hanya identitas keagamaan mereka,” ungkap Alwi.

Berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) Jakarta tahun 1965-1985, Kemang difungsikan sebagai daerah resapan air. Dalam artian, tidak diperbolehkan ada banyak bangunan yang yang menutupi permukaan tanah.

Namun dalam waktu hanya puluhan tahun, Kemang berubah menjadi hunian yang begitu padat. Hal ini setelah ragam bisnis tiap tahunnya selalu bertambah berkat diizinkannya Kemang menjadi wilayah komersial sekitar tahun 1999 silam.

Tak hanya warga Jakarta dari daerah lain, sejumlah warga asing juga memilih tinggal di daerah ini. Sejumlah sumber menyebut, kehadiran ekspatriat di Kemang bahkan telah berlangsung sebelum 1990.

“Di sini Anda akan biasa melihat tulisan “For Rent” (disewakan) di antara rumah-rumah mewah dengan pekarangan luas dan berpagar tinggi. Dan transaksi sewa-menyewa rumah di kawasan ini, jangan heran, biasa dipatok dengan harga dolar,” tulis Alwi.

“Kawasan ini merupakan tempat tinggal orang-orang asing dan berduit,” sambung dia.

Sejumlah bangunan baru pun terus bermunculan. Kemang perlahan menjadi kota satelit yang dikelilingi permukiman mewah dan bangunan modern lainnya. Sekitar 50 persen orang Betawi di Kemang sudah hijrah ke selatan Jakarta.

“Sebagian besar dari mereka pindah ke Ciganjur, Jagakarsa, Srengseng Sawah, Cileduk, bahkan ada yang ke Bogor,” ucapnya.

Pada medio 2000 an, kawasan Kemang kemudian dikenal menjadi daerah ‘anak nongkrong Jakarta’. Saking terkenalnya, sampai-sampai ada ungkapan “kalau belum kongkow-kongkow di Kemang, belum gaul.”

Anak-anak muda tersebut mengisi kegiatan di Kemang dengan bersantai di café-café, restoran, dan sejenak menenangkan pikiran di ragam hiburan malam yang tersedia.

Continue Reading

Berita Utama

Cikini Akan Disulap Jadi Urban Tourism Zaman Kolonial

Published

on

Stasiun Cikini

Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, terus berbenah diri. Rencananya,kawasan ini akan menampilkan konsep seni dan budaya. Para wisatawan akan disuguhkan konsep kolonial.

Ya, dahulu kala Cikini memang dikenal sebagai kawasan wisata untuk orang-orang Belanda. Terkait hal itu, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta pun merencanakan pengembangan kawasan ini sebagai wisata perkotaan (urban tourism).

“Wisata perkotaan merupakan sebuah aktivitas pariwisata yang mengambil tempat di perkotaan dengan segala karakteristiknya. Destinasi wisata perkotaan menawarkan beragam pengalaman melalui produk budaya, arsitektur, teknologi, sosial dan alam yang luas dan dimiliki oleh suatu kota untuk liburan dan juga kegiatan bisnis,” ujar Gumilar Ekalaya, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta.

Baca Juga:

  1. Seruan Puan Maharani ke Jokowi Soal Kapal China Masuk ke Natuna
  2. Patroli di Laut Natuna Utara, TNI AL Pastikan Tak Menemukan Kapal Asing!
  3. GNPF, FPI & PA 212: Waspada Bangkitnya PKI, Komunis Itu Nyata

Dia menambahkan, Cikini memiliki warisan budaya yang bisa berperan sebagai rumah bagi komunitas kreatif, seperti Dewan Kesenian Jakarta serta komunitas seniman/budayawan lainnya. Selain itu, aksesibilitas transportasi umum sudah memadai.

“Dengan adanya Metro Trans, KAI, serta BRT. Selain itu, taman-taman, trotoar, street furniture dan tactile paving juga sudah tersebar di seluruh Kawasan Cikini sehingga menciptakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan,” sambung dia.

Pemprov DKI memang mengharapkan dengan pengembangan wisata perkotaan akan mendongkrak jumlah kedatangan wisatawan. Terutama mengembalikan ekonomi pariwisata yang cukup terpukul karena dampak pandemi.

“Sehingga mampu membangkitkan kembali perekonomian pascapandemik COVID-19 yang hingga saat ini memberikan dampak signifikan terhadap sektor pariwisata di wilayah provinsi DKI Jakarta, baik itu terhadap pelaku usaha maupun pekerjanya,” pungkas Gumilar.

Continue Reading

Berita Utama

5 Kota dengan Biaya Hidup Termahal di Indonesia

Published

on

By

Foto Ilustrasi Kota Jakarta.

Jika pemasukan dan pengeluaran seimbang, tidak ada yang perlu ditakutkan dari hal ini.

Tapi, untuk orang-orang yang memiliki penghasilan yang pas-pasan, terkadang hidup sehari-hari bisa terasa mencekik.

Baca Juga:

  1. Kisah Cucu, Wanita Asal Bandung Yang Tidak Bisa Tidur Sejak 2014
  2. Puncak Berlakukan Ganjil-Genap Pekan Ini
  3. 5 Urutan Skincare Untuk Kulit Berminyak

Sebenarnya, di mana saja kota termahal di Indonesia untuk tinggal?

Untuk menghitung besarannya, Survei Biaya Hidup (SBH) bisa menjadi patokannya.

Survei yang biasa dilakukan 5 tahun sekali oleh Badan Pusat Statistik (BPS) ini menentukan Indeks Harga Konsumen (IHK).

1.Jakarta

Jakarta menjadi kota dengan biaya hidup termahal, dan jadi pusat dari segala kegiatan perekonomian bisnis, politik, hingga insfrastruktur kota yang lengkap.

Nilai IHK Rp 7.500.726/bulan.

2. Jayapura

Ibu Kota provinsi Papua, Jayapura menempati urutan ke-2 dari 10 kota termahal. Hal ini dikarenakan tidak memproduksi kebutuhan bahan pokok sendiri.

Nilai IHK Rp 6.939.057/bulan.

3. Ternate

Ternate menjadi kota termahal di urutan ke-3 di Indonesia, biaya hidup yang tinggi karena alasan tidak bisa memproduksi bahan pokok dan beli dari luar.

Nilai IHK Rp 6.427.357/bulan.

4. Depok

Salah satu tetangga dari Ibu Kota Jakarta, daerah Depok berada di urutan ke-4 kota termahal di Indonesia, biaya hidupnya tidak beda jauh dari Jakarta.

Nilai IHK Rp 6.330.690/bulan

5. Batam

Salah satu penyebab di kota Batam memiliki biaya yang tinggi itu karena lahan di daerah ini tidak subur untuk menamam sayuran dan beras.

Nilai IHK Rp 6.307.136/bulan.

Continue Reading

Trending