Connect with us

Berita Utama

Tiga Harimau Sumatera Mati Mengenaskan di Aceh

Published

on

Harimau Sumatra

Tiga harimau sumatera Panthera Tigris Sumatrae yang terdiri dari induk dan dua anaknya ditemukan mati membusuk karna terjerat jeratan babi di dalam kawasan hutan lindung di Desa le Buebih, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan, Selasa (24/8/2021).

Tiga bangkai harimau tersebut pertama kali ditemukan masyarakat setempat, pada Selasa [24/8/2021]. Kejadian itu kemudian dilaporkan ke Kesatuan Pengelolaan Hutan [KPH] Wilayah VI Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Aceh juga ke personil Balai Konservasi Sumber Daya Alam [BKSDA] Aceh.

Kepala KPH Wilayah VI DLHK Aceh, Irwandi mengatakan, begitu mendapatkan informasi, pihaknya langsung meneruskan ke BKSDA Aceh.

Baca Juga :

  1. Wow! Erigo Wakili Indonesia di New York Fashion Week 2021
  2. Pesona Desa Cibuntu, Desa Wisata Terbaik se-ASEAN
  3. Inilah Syarat Naik KRL di PPKM Level 3

“Saya memerintahkan personil KPH VI untuk segera berangkat, melakukan pengamanan. Sampai saat ini tim masih di lokasi, membantu proses olah tempat kejadian perkara [TKP],” ucapnya Kamis [26/8/2021].

Kepala BKSDA Aceh, Agus Irianto mengatakan, pihaknya segera merespon informasi tersebut. Personil BKSDA Aceh dari Seksi Konservasi Wilayah II langsung dikerahkan. 

“Saat di lokasi tim BKSDA Aceh dibantu tim dari Forum Konservasi Leuser [FKL] dan Wildlife Conservation Society [WCS] menemukan tiga bangkai harimau. Koordinasi dengan kepolisian dan Balai Gakkum Wilayah Sumatera kami jalankan untuk melakukan nekropsi,” ujarnya Kamis [26/8/2021]. 

Agus melanjutkan, berdasarkan indentifikasi tim di lapangan, tiga harimau tersebut terdiri satu induk dan dua anak. Kondisinya telah membusuk. “Sang induk terjerat di leher dan kaki belakang kiri, sementara kaki kiri depannya membusuk,” ungkapnya.

Berita Utama

Gawat! Jakarta & Bali Masuk Daftar Kota Paling Berbahaya untuk Ditinggali

Published

on

DKI Jakarta

Indonesia merupakan negara yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), beragam kekayaan SDA bisa ditemukan di negeri ini. Meski demikian, dua kota besar di Indonesia, DKI Jakarta dan Bali, dinilai tak aman untuk ditinggali.

Ya, belum lama ini Numbeo merilis daftar 21 kota di Asia Tenggara dengan tingkat kejahatan tertinggi dan keamanan terendah untuk tahun 2021.

Numbeo merupakan database global yang bersumber dari kerumunan tentang harga konsumen yang dilaporkan, tingkat kejahatan yang dirasakan, kualitas perawatan kesehatan, dan statistik lainnya.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Jakarta berada di posisi sembilan dengan mendapatkan skor untuk tingkat kejahatan sebesar 53.61 serta skor tingkat keamanan sebesar 46.39.

Ini menjadi kesekian kalinya Jakarta mendapatkan prestasi buruk. Sebelumnya, Jakarta mendapatkan peringkat pertama sebagai kota dengan perencanaan dan tata kota terburuk versi situs arsitek global Rethinking The Future.

Sementara itu, Bali terdapat di urutan 12 pada daftar tersebut dengan mendapatkan skor untuk tingkat kejahatan sebesar 47.58 serta skor tingkat keamanan sebesar 52.42.

Jakarta sendiri hanya menempati peringkat kelima sebagai kota teraman di Asia Tenggara. Berdasarkan data dari Economist Intelligence Unit, Jakarta menempati posisi ke-46 secara global.

DKI Jakarta

Peringkat ini dihitung berdasarkan tiga faktor utama yaitu, perang dan damai, keamanan pribadi, dan risiko bencana alam. Selain itu, kejahatan kriminal dan terorisme juga diperhitungkan oleh Global Finance. Untuk tahun ini, risiko dari pandemi Covid-19 juga masuk ke dalam faktor risiko bencana alam.

Dalam laporan tersebut, Singapura menjadi negara paling aman di Asia Tenggara dengan skor 4,62. Di urutan kedua, terdapat Malaysia dengan skor 8,09 dan Laos di urutan ketiga dengan skor 8,42. Indonesia sendiri berada di peringkat ke-5 dengan skor 9,81.

Filipina tetap berada di bawah peringkat negara teraman Global Finance, sama seperti pada 2019 dan 2017. Hal ini disebabkan tingkat kejahatan dan risiko bencana alam (letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami) yang relatif tinggi tinggi.

Sebagai catatan, seluruh faktor yang diukur dalam peringkat ini diperoleh dari laporan 2020 yang diselesaikan pada 2021. Untuk memastikan data relevan, skor risiko Covid-19 diperoleh dari data per 30 Mei 2021. Lalu, negara yang tidak memiliki data di ketiga faktor utama, tidak akan dimasukkan dalam laporan peringkat.

Continue Reading

Berita Utama

Digitalisasi Koperasi, Solusi Pemulihan Ekonomi Nasional di Masa Pandemi Covid-19

Published

on

Digitalisasi koperasi

Koperasi merupakan salah satu organisasi atau lembaga pembiayaan masyarakat yang telah lama hadir di Indonesia.

Sejumlah stigma minus Koperasi, seperti disampaikan pengamat koperasi yang juga Executive Committe di Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI), Firdaus Putra, harus di-counter dengan sejumlah langkah modernisasi diri, yang diikuti pengawasan yang lebih ketat dari regulator, dalam hal ini Kementerian Koperasi.

Badan usaha koperasi di Tanah Air, yang saat ini berjumlah 127.000 unit usaha, harus ikut serta dalam perburuan pasar milenial demi meningkatkan kembali tingkat partisipasi publik. Ini harus jadi langkah strategis koperasi demi regenerasi kepengurusan, termasuk membawa spirit baru yang lebih progresif dan dinamis, sesuai dengan karakteristik para milenial.

Upaya tersebut juga dipercaya akan memperpanjang daur hidup koperasi, dan kembali menjadikannya andalan bagi pengembangan ekonomi publik.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Pemerintah sendiri punya ‘concern’ yang cukup besar untuk bisa membawa perkoperasian di Tanah Air bisa berkontribusi lebih banyak pada perekonomian nasional.

Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) saat ini menargetkan sektor koperasi bisa berkontribusi 5,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional di tahun 2024, dibandingkan saat ini yang kontribusinya baru 5% dari PDB.

Disampaikan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (MenkopUKM) Teten Masduki pada Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-74 Tahun 2021 yang digelar secara daring, medio Juli lalu (12/7), pemerintah menetapkan target ini dalam rencana pengembangan ekonomi Indonesia lima tahun ke depan. Sejumlah langkah strategis disiapkan untuk mendukung pencapaian target kontribusi 5,5% di 2024.

Dukungan pemerintah diimplementasikan lewat dilansirnya beleid yang akan mengarahkan koperasi untuk melakukan transformasi. Lewat Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 dan PP Nomor 7 Tahun 2021, diusung sejumlah program kemudahan dan peluang bagi koperasi.

Pemerintah juga mendorong terjadinya perubahan mindset entrepreneurship koperasi, khususnya Koperasi Simpan Pinjam, agar mau memperluas cakupan pembiayaannya ke sektor-sektor produktif. Pemerintah juga akan mendorong diterpkannya inovasi melalui digitalisasi dan membangun ekosistem usaha yang aman dan kondusif.

“Dengan langkah-langkah strategis tersebut diharapkan dapat me-rebranding koperasi sebagai entitas bisnis yang modern, kontributif, dan kompetitif,” kata Teten saat itu.

Menanggapi program pemerintah yang akan menggiring koperasi ke pentas utama ekonomi Tanah Air, Firdaus Putra menyebut memang tak ada jalan lain bagi koperasi untuk bertransformasi dan meniti jalur digitalisasi.

Seiring dengan populasi yang makin didominasi generasi milenial dan pasca milenial, koperasi tak punya pilihan lain kecuali mengakomodir semua kultur dan metode yang diinginkan oleh para milenialis agar mereka kepincut ikut membantu pengembangan koperasi.

Meski demikian, ada beberapa tantangan dalam melakukan digitalisasi koperasi di Indonesia.

Rendahnya wawasan terkait koperasi

Mungkin Kawan juga pernah mendengar tentang koperasi, apalagi sewaktu sekolah dasar. Namun, hanya sebatas pemahaman teori saja. Setelah itu tidak ada lagi pengetahuan tentang koperasi. Kecuali, jika Kawan berniat mencari tahu sendiri.

Hal ini tentu membuat koperasi kurang dikenali masyarakat. Tantangan digitalisasi koperasi ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara go online, agar masyarakat bisa lebih kenal dan tahu. Namun, mungkin akan sedikit sulit untuk mendapat marketnya.

Kurangnya Branding

Hampir semua bisnis atau usaha saat ini berupaya melakukan branding yang kuat agar dikenali para konsumen. Berkaitan dengan sebelumnya, koperasi jarang diketahui masyarakat karena pemasaran mereka kurang.

Maka dari itu, ini salah satu tantangan ketika hendak go digital. Branding yang kurang tentu akan mempersulit koperasi ketika go digital.

Digitalisasi koperasi bisa membuat pergerakan ekonomi Indonesia menuju dan menjangkau area yang lebih luas lagi

Continue Reading

Berita Utama

Forest Healing, Tingkatkan Imunitas Lewat Keindahan Hutan

Published

on

Forest Healing

Forest Healing atau hutan pemulihan adalah aktivitas yang dilakukan oleh manusia untuk meningkatkan imunitas tubuh secara mental dengan memanfaatkan berbagai elemen yang ada pada hutan untuk menyembuhkan.

Saat ini, hutan pemulihan tersebut menjadi populer di dunia karena dapat memulihkan stress. Konsep penyembuhan hutan ini memanfaatkan interaksi manusia dengan alam dan membiarkan panca indera manusia terhubung dengan ekosistem sekitar.

Di Jepang, ada konsep serupa bernama shinrin-yoku yang dikenalkan oleh Qing Li, penulis buku “Forest Bathing: How Trees Can Help You Find Health and Happiness” yang mengatakan bahwa berjalan di hutan dan merasakan suasana hijau di alam adalah salah satu cara mengobati penyakit di tubuh dan menenangkan pikiran.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Secara harfiah, shinrin dalam Bahasa Jepang berarti hutan dan yoku berarti mandi. Sederhananya, shinrin-yoku diartikan mandi di hutan, dalam Bahasa Inggris juga disebut sebagai forest bathing.

Pengaplikasian shinrin-yoku bukan benar-benar mandi di hutan, olahraga, hiking, atau jogging. Anda hanya perlu berada di alam dan terhubung dengan alam melalui penglihatan, pendengaran, rasa, penciuman, dan sentuhan. Dengan membuka panca indera, kegiatan ini akan menjadi jembatan antara diri kita dan alam semesta.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno, mengatakan, wisata terapi hutan bahkan sudah mulai menjadi tren dunia. Sebab cara itu dianggap bisa memulihkan stres baik fisik maupun mental.

Forest Healing

“Terapi ini dilakukan dengan cara memasuki sebuah kawasan hutan lalu membiarkan hutan terhubung dengan semua indra kita, seperti indra penciuman, pengecap, penglihatan, pendengaran, perabaan, dan gerakan,” kata Wiratno dalam Planet Tourism Indonesia 2020 yang digelar secara virtual, Rabu (29/70.

Ia mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan kawasan konservasi untuk wisata alam. Setidaknya terdapat 102 titik gunung dan pendakian, 1.200 titik panorama alam, 274 titik gua, 820 air terjun, 160 danau dan 51 wisata bahari.

Dari dari ribuan titik wisata alam di kawasan konservasi itu, 76 persen memiliki akses yang mudah dicapai dan 24 persen masih sulit dicapai.

Wiratno menuturkan, sebelum pandemi Covid-19 datang, tren wisata ke kawasan konservasi pun sudah meningkat. Terutama untuk wisatawan domestik, di mana pada 2018 terdapa 7,38 juta kunjungan dan meningkat menjadi 7,47 juta kunjungan pada 2019. Adapun untuk turis asing jumlahnya menurun dari 515 ribu kunjungan menjadi 466 ribu kunjungan.

“Ini memiliki efek ganda karena ada nilai yang menggerakkan ekonomi masyarakat setempat,” kata Wiratno.

Seiring adanya pandemi Covid-19, Wiratno, pemerintah alhasil terpaksa menutup kawasan konservasi. Hal itu lantas memukul ekonomi perdesaan setempat. Namun karena pemerintah sudah memberlakukan era adaptasi kebiasaan baru, kawasan konservasi mulai dibuka untuk wisata namun dengan protokol kesehatan yang ketat.

“Kita sudah membuka 29 taman nasional di tahap I. Kami mulai dengan 10 persen pembukaan dan dievaluasi tiap minggu. Dasar pertimbangan kami untuk menggerakkan ekonomi di sekitar kawasan wisata sekaligus pemulihan psikologis masyarakat,” kata dia.

Forest Healing

Meski demikian, ia mengatakan karena tren wisata alam, khususnya terapi hutan diyakini menjadi primadona, perlu adanya pengetatan kegiatan konservasi. Hal itu perlu disiapkan sejak dini agar kondisi ekosistem lingkungan tetap terjaga di tengah adanya lonjakan wisata alam.

“Ke depan tidak adalagi rombongan orang masuk tanpa terkontrol. Harus ada kontrol dengan di bawah kapasitas pengunjung. Ini harus diurus hati-hati sekali,” katanya.

Forest healing untuk kesehatan ini sudah banyak dilakukan di beberapa negara. Apakah Cityzen tertarik?

Continue Reading

Trending