Connect with us

CityBoomer

Sunny Dahye, Youtuber Kondang Korsel yang Kini Jadi Kontroversi

Published

on

Sunny Dahye

Nama Youtuber Sunny Dahye baru-baru ini menjadi trending topic di media sosial yang mana menyoroti sikap asli sang YouTuber yang disebut berbohong demi konten hingga menghina orang Indonesia.  Meski belum terbukti benar, tudingan ini memicu kemarahan netizen indonesia.

Sejak umur 4 tahun Youtuber ini sudah tinggal di Indonesia dan pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Bali. Ia juga banyak menempuh pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di Pulau dewata tersebut.

Sunny Dahye alumni fakultas hukum Universitas Gadjah Mada ini juga menilai kalau ia lebih fasih memakai bahasa Indonesia dibandingkan bahasa Korea, karena waktu yang dihabiskannya di Indonesia lebih banyak dibandingkan berada di negaranya sendiri.

Baca Juga :

  1. Resmi, Chelsea Angkut Lukaku dari Inter Milan
  2. Manchester City Resmi Boyong Jack Grealish, Jadikan Pemain Termahal Sedunia
  3. Tidak Hanya di Jakarta, Beberapa Kota di Asia Diprediksi Tenggelam

Sunny mulai membuat konten YouTube pertamanya berjudul LIOELE: silky highlighter bb touch and help me dark circles concealer review, 21 Januari 2011. Selanjutnya dalam vidio yang suka ia buat iamembagikan tips-tips kecantikan, pakaian dan juga operasi plastik.

Usai menyelesaikan pendidikannya di Indonesia, Sunny kembali ke Korea dan melanjutkan kariernya sebagai YouTuber. Memanfaatkan fenomena Hanryu (Korean Wave), ia melanjutkan konten tentang kecantikan, busana dan gaya hidup.

MyCity telah merangkum biodata Youtuber cantik Sunny Dahye.

Nama Lengkap: Dahye Hur

Nama Panggung: Sunny Dahye

Tempat, Tanggal Lahir: Korea Selatan, 17 Mei 1990

Kewarganegaraan: Korea Selatan

Pendidikan: Universitas Gajah Mada, Fakultas Hukum

Agama: –

Zodiak: Taurus

Orang Tua: –

Saudara: –

Suami: Chris Okano (menikah 2021)

Profesi: YouTuber

Hobi: –

Instagram: @sunnydahye

YouTube: SunnydahyeIn

CityBoomer

Catat! Kini Waga Baduy Punya E-KTP

Published

on

Foto Warga Baduy Perekaman EKTP

Pada Sabtu (28/8), Disdukcapil Kabupaten Lebak melakukan perekaman e-KTP terhadap warga baduy dan masyarakat sekitar di Kampung Cijahe, Desa Kebon Cau, Kecamatan Bojongmanik. Adanya pembuatam e-KTP tersebut disambut dengan antusias oleh warga baduy.

Kini, sebanyak 2.183 warga Baduy, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak sudah memiliki e-KTP.

“Kami (Disdukcapil) menargetekan 2.183 warga Baduy yang rekam KTP, semua terakomodir. Ini untuk memudahkan serta membantu masyarakat dalam pelayanan administrasi kependudukan serta pemutakhiran data kependudukan,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Disdukcapil Lebak, Ahmad Najiyullah, Minggu (29/8).

Baca Juga:

  1. Taliban Janji Akan Libatkan Wanita dalam Pemerintahan
  2. Tips Lolos Kartu Prakerja Gelombang 20
  3. Holywings Kemang Dilarang Beroperasi, Bagaimana Nasib Karyawannya?

Najiyullah juga menerangkan bahwa KTP warga Baduy berbeda dengan milik masyarakat umum. Perbedaan tersebut berada pada kolom agama, di mana pada e-KTP milik warga baduy tercantum agama ‘Kepercayaan Terhadap Tuhan yang Maha Esa’.

“Ada 7 ribu lebih warga Baduy yang wajib KTP. Yang terdaftar di kita (Disdukcapil) sebanyak 5.113 orang. Nah, (2.183) ini merupakan sisa dari warga Baduy yang wajib KTP. Hari itu juga, setelah di rekam mereka langsung mendapatkan KTP nya,” ungkapnya.

“Kolom agama itu bukan keinginan warga Baduy, mereka sebelumnya menginginkan Sunda Wiwitan. Namun, setelah keputusan Mahkamah Agung (MK) keluarlah Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa,” sambung Najiyullah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Lebak, Budi Santoso, menjelaskan bahwa administrasi kependudukan sangat penting untuk diri sendir. Sebab, segala hal apapun tetap harus menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK).

“Baduy adalah bagian dari NKRI, karena bagian dari NKRI kita tetap mempertahankan adat dan kearifan lokal suku Baduy. Kita sama sama jaga, tetapi administrasi pemerintahan harus tetap kita ikuti,” tegasnya.

Continue Reading

Berita Utama

Profil Zarifa Ghafari, Walikota Wanita Pertama Afganistan yang Pasrah Dibunuh Taliban

Published

on

Zarifa Ghafari

Siapa yang tidak kenal dengan wanita tangguh yaitu Zarifa Ghafari dikenal merupakan wali kota perempuan pertama di Afghanistan. Sosoknya jadi sorotan lantaran turut bersuara usai Taliban resmi menduduki ibu kota Kabul dan menguasai Afghanistan.

Dirinya bertugas di Kota Maidan Shar, Maidan Wardak ini menuai sorotan di tengah konflik Taliban dan Afganistan. Ia menjadi perbincangan publik lantaran enggan meninggalkan kota tersebut dan kepasrahannya dalam menghadapi kelompok Taliban.

Zarifa Ghafari adalah salah satu wali kota wanita pertama di Afghanistan. Wanita 29 tahun ini memimpin kota konservatif Maidan Shar, barat daya Kabul.

Baca Juga :

  1. Wow! Erigo Wakili Indonesia di New York Fashion Week 2021
  2. Pesona Desa Cibuntu, Desa Wisata Terbaik se-ASEAN
  3. Inilah Syarat Naik KRL di PPKM Level 3

Zarifa Ghafari merupakan anak seorang Jenderal Afganistan, Abdul Wasi Ghafari. Ia lahir pada 1992 di kota Paktia. Zafira merupakan anak tertua dari delapan bersaudara.

Zafira pernah bersekolah di Halima Khazan Highschool, Gardez, Provinsi Paktia (2007-2009) dan kemudian ke Universitas Punjab, Delhi, India, di mana ia dianugerahi gelar BA. dan MA Ekonomi (2009-2015).

Wanita 29 tahun ini, sebelum menjabat sebagai wali kota, pernah berprofesi sebagai wirausaha dan memiliki sebuah stasiun radio populer yang ditujukan untuk wanita di Wardak, Afganistan. Ia memenangkan pemilihan walikota pada 2018. Sosoknya disorot lantaran menjadi wanita pertama dan termuda dalam sejarah yang memenangkan pemilihan wali kota di Afganistan.

Selain itu Zarifa Ghafari pernah terpilih sebagai International Woman of Courage oleh Menteri Luar Negeri AS pada 2020. Lebih lanjut, BBC memasukkan Ghafari sebagai salah satu dari 100 Inspiring Influential Women dari seluruh dunia pada 2019.

Continue Reading

CityBoomer

Menyedihkan Korban Pendaki Gunung Rian Meninggal di Bawakareng Hanya Ditutupi Jaket

Published

on

Tim Sar

Telah dikabarkan Kamis (19/8/2021) pagi, sebanyak 3 pendaki Gunung Bawakaraeng Gowa sudah ditemukan Tim SAR Gabungan dalam keadaan meninggal dunia. Pada awalnya rekan dari korban tidak jujur bahwa temannya meninggal.

Tim SAR gabungan geram. Rekan-rekan korban pendaki Gunung Bawakaraeng yang meninggal tak jujur. Ternyata bukan dua temannya yang meninggal. Tapi 3 orang. Yang dilaporkan, hanya Steven William Frets (21) dan Muhammad Rian (21). Ada lagi satu yang tak dilaporkan, yakni Zainal (21).

Hal Ini terungkap saat rekan-rekan korban yang lima orang, BR, OC, UD, AR, dan PA menyebutkan bahwa jenazah yang dievakuasi terakhir bukanlah Rian, melainkan Zainal alias Enal.

Sedangkan Rian juga meninggal. Jasadnya hanya ditutupi jaket oleh rekan korban baru ditinggalkan. Terpaksa, Tim SAR gabungan kembali naik untuk mengevakuasi jasad Rian. “Jadi teman korban yang selamat ini tidak melapor, tidak menyampaikan ke kita bahwa ada satu lagi temannya yang meninggal,” ucap Kasi Ops Basarnas Makassar Rizal.

Baca Juga :

  1. Resmi, Chelsea Angkut Lukaku dari Inter Milan
  2. Manchester City Resmi Boyong Jack Grealish, Jadikan Pemain Termahal Sedunia
  3. Tidak Hanya di Jakarta, Beberapa Kota di Asia Diprediksi Tenggelam

“Kita kan tidak tahu identitasnya kan. Jadi saya sempat tanyakan, temannya yang selamat bilang ‘ini Pak teman saya Steven, yang itu Rian, Pak,” ucap Rizal.

Namun polisi yang berkoordinasi dengan pihak keluarga korban meninggal, justru mendapatkan fakta yang berbeda. Pihak keluarga menyebut korban atas nama Rian belum ditemukan.

“Keluarga korban bilang itu bukan Rian Pak. Nah kita tanya sebenarnya itu siapa, (teman korban jawab) itu Enal, Pak, terus Rian itu mana?” ucap Rizal mengulas pengakuan rekan korban.

Setelah didalami lebih lanjut, rekan-rekan korban membuat pengajuan yang membuat para petugas SAR geger. Sebab, pendaki atas nama Rian ternyata juga telah meninggal namun ditinggal di jalur pendakian.

“Katanya Rian tadi subuh sama kami Pak, dia meninggal. Saya hanya tutup jaket di jalur di dekat batu,” ungkap Rizal mengutip pernyataan salah seorang rekan korban.

Tim SAR gabungan geram. Rekan-rekan korban pendaki Gunung Bawakaraeng yang meninggal tak jujur. Ternyata bukan dua temannya yang meninggal. Tapi 3 orang. Yang dilaporkan, hanya Steven William Frets (21) dan Muhammad Rian (21). Ada lagi satu yang tak dilaporkan, yakni Zainal (21).

Ini terungkap saat rekan-rekan korban yang lima orang, BR, OC, UD, AR, dan PA menyebutkan bahwa jenazah yang dievakuasi terakhir bukanlah Rian, melainkan Zainal alias Enal.

Sedangkan Rian juga meninggal. Jasadnya hanya ditutupi jaket oleh rekan korban baru ditinggalkan.

Terpaksa, Tim SAR gabungan kembali naik untuk mengevakuasi jasad Rian. “Jadi teman korban yang selamat ini tidak melapor, tidak menyampaikan ke kita bahwa ada satu lagi temannya yang meninggal,” ucap Kasi Ops Basarnas Makassar Rizal.

“Kita kan tidak tahu identitasnya kan. Jadi saya sempat tanyakan, temannya yang selamat bilang ‘ini Pak teman saya Steven, yang itu Rian, Pak,” ucap Rizal.

Namun polisi yang berkoordinasi dengan pihak keluarga korban meninggal, justru mendapatkan fakta yang berbeda. Pihak keluarga menyebut korban atas nama Rian belum ditemukan.

“Keluarga korban bilang itu bukan Rian Pak. Nah kita tanya sebenarnya itu siapa, (teman korban jawab) itu Enal, Pak, terus Rian itu mana?” ucap Rizal mengulas pengakuan rekan korban.

Setelah didalami lebih lanjut, rekan-rekan korban membuat pengajuan yang membuat para petugas SAR geger. Sebab, pendaki atas nama Rian ternyata juga telah meninggal namun ditinggal di jalur pendakian.

“Katanya Rian tadi subuh sama kami Pak, dia meninggal. Saya hanya tutup jaket di jalur di dekat batu,” ungkap Rizal mengutip pernyataan salah seorang rekan korban.

Continue Reading

Trending