Connect with us

CityHealth&Beauty

Jangan Salah, Ini Perbedaan Sunblock dan Sunscreen!

Published

on

Perbedaan Sunblock dan Sunscreen (Source: anessa.id)

Sunblock dan Sunscreen merupakan dua skincare yang berfungsi untuk melindungi kulit wajah dari paparan sinar matahari langsung. Namun, tahukah anda bahwa keduanya memiliki perbedaan?

Sunscreen merupakan lotion pelindung dari sinar matahari yang dapat menyerap dalam lapisan teratas kulit untuk menyerap sinar matahari yang telah masuk ke dalam kulit. Biasanya, sunscreen dapat melindungi kulit dari sinar UVB saja.

Sedangkan sunblock memiliki fungsi yaitu mampu mencegah adanya sinar UVA dan UVB yang masuk ke dalam kulit melalui perlindungan diatas permukaan kulit.

Baca Juga:

  1. Sering Makan Buah Membuat Wajah Mulus?
  2. 3 Cara Mengatasi Jerawat dengan Skincare Herbal
  3. 5 Kandungan Skincare yang Wajib Dihindari Ibu Hamil

Selain itu, dari segi kandungan keduanya memiliki basic bahan yang berbeda. Jika sunscreen biasanya memiliki bahan kandungan kimia aktif seperti Octocrylene, mexoryl xl, SPF, dan PA. Sedangkan Sunblock biasanya memiliki kandungan mineral seperti titanium dioxide.

Dari segi cara kerja pada keduanya pun berbeda. Sunscreen memiliki kandungan yang membutuhkan waktu agar dapat menyerap ke dalam kulit dan bekerja maksimal melindungi kulit dari paparan sinar matahi.

Sedangkan Sunblock dapat langsung bekerja sesaat setelah diratakan keseluruh wajah. Hal ini yang menyebabkan sunblock lebih mudah menyerap dibanding Sunscreen yang perlu membutuhkan waktu setelah diratakan.

CityHealth&Beauty

3 Efek Negatif Kejiwaan jika Terlalu Sering Main HP

Published

on

Main HP

Pandemi Covid-19 memaksa semua orang lebih banyak beraktivitas di rumah. Otomatis, penggunaan internet juga semakin meningkat. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun menjadi lebih aktif dalam menggunakan intenet.

Kebiasaan menggunakan gadget terlalu lama bisa berdampak negatif yang berujung gangguan kesehatan. Terjadinya dampak negatif HP tergantung pada intensitas penggunaannya. Semakin tinggi tingkat penggunaan, semakin tinggi pula risiko gangguan kesehatan yang ditimbulkan.

Ragam gangguan akibat terlalu lama menggunakan gadget adalah trigger thumb atau jempol menekuk. Trigger thumb terjadi akibat penebalan pada pembungkus tendon ibu jari. Pada kondisi ini, ibu jari menjadi kaku dan tetap dalam keadaan bengkok meski sedang tidak menggunakan HP.

Baca Juga:

  1. Streaming Piala Sudirman 2021 Indonesia VS Rusia
  2. Sadar Pascaoperasi, Tukul Arwana Komunikasi Lewat Mata
  3. Masih di ICU, Ventilator Tukul Arwana Telah Dilepas

Jika dipaksa untuk kembali pada posisi lurus, ibu jari yang kaku ini akan menimbulkan bunyi gemeretak dan rasa sakit pada sendi.

Kemudian, ada Cubital tunnel syndrome atau kesemutan dan nyeri yang menjalar dari siku, kelingking, dan jari manis. Kemudian, menggunakan HP secara berlebihan cenderung membuatmu terlalu banyak menengok ke bawah. Kebiasaan ini lama-kelamaan dapat menyebabkan ketegangan pada otot-otot leher, sehingga leher terasa kaku dan sakit. Nyeri yang ditimbulkan bahkan bisa menjalar hingga bahu dan lengan.

Lantas, apa saja gangguan kejiwaan yang bakal Cityzen alami jika terlalu lama menggunakan gadget. Berikut MyCity telah merangkumnya untuk Anda.

Sering mengalami stres

Munculnya stres bisa terjadi ketika smartphone sangat sepi atau ramai. Tidak hanya itu, saat jaringan tidak stabil, baterai hp mau habis, kamu juga akan merasa pusing akan hal itu.

Di era pandemi Covid-19 ini telah membuat orang-orang untuk sering berinteraksi dengan gadget mereka masing-masing, hingga waktu untuk istirahat mereka akan terganggu. Orang yang sering bermain gadget maka, efek yang akan ditimbulkan seperti terganggunya indera penglihatan, timbulnya sakit kepala, sakit leher, text claw atau rasa sakit kram.

Merasa kehilangan kedamaian diri

Untuk menemukan kedamaian pada batin, maka seseorang perlu untuk melakukan me time. Sebab, me time merupakan waktu yang sangat tepat untuk merefleksi diri, memperoleh jiwa yang tenang, memberi kesempatan istirahat pada otak, mengurangi stres, sekaligus me-revitalisasi tubuh. Maka dari itu, kamu harus bisa menghindari gadget sedikit demi sedikit, agar me time yang kamu lakukan itu dapat berjalan optimal.

Membuat orang semakin malas untuk berinteraksi sosial

Dikutip dari jurnal ‘Pengaruh Gadget Terhadap Pola Interaksi Sosial dan Komunikasi Siswa’ karya Dindin Syahyudin dari hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa dampak negatif penggunaan gadget yang dialami siswa seperti malas melakukan kegiatan, lelah fisik, menambah pengeluaran uang untuk membeli pulsa, berkurangnya konsentrasi belajar serta bentuk kenakalan yang lain.

Dampak negatif yang paling tinggi yaitu kemalasan siswa dalam kegiatan sosial sebesar 81,81% dan daya konsentrasi siswa berkurang hingga mencapai 100% dari total siswa yang menggunakan gadget yang diberikan kuesioner. Terkait dengan hal itu, dari diri kita sendiri harus memiliki kesadaran untuk menggunakan gadget dan sejenisnya dengan cerdas agar terhindar dari bahaya penggunaan gadget.

Continue Reading

Berita Utama

Hindari Makanan Ini, Jika Tidak Ingin Alami Pendarahan Otak Seperti Tukul

Published

on

By

Foto Ilustrasi Tukul Arwana.

Komedian Tukul Arwana mengalami pendarahan otak baru-baru ini menjadi perbincangan publik. Karenanya, banyak masayarakat yang bertanya-tanya penyebab dan cara mencegah pendarahan otak.

Beberapa jenis makanan ini disarankan untuk dihindari diduga menjadi penyebab pendarahan otak dan mesti dihindari.

Baca Juga:

  1. Kisah Cucu, Wanita Asal Bandung Yang Tidak Bisa Tidur Sejak 2014
  2. Puncak Berlakukan Ganjil-Genap Pekan Ini
  3. 5 Urutan Skincare Untuk Kulit Berminyak

Karena, jika sudah terserang penyakit pendarahan otak maka berakibat fatal untuk kesehatan anda.

Pastinya kita semua sepakat mencegah terjadinya pendarahan otak jauh lebih baik daripada mengobati. Lantas bagaimana cara mencegah pendarahan otak?

Berdasarkan penyebabnya, perdarahan subarachnoid bisa dibagi ke dalam dua jenis, yaitu perdarahan subarachnoid traumatik dan non-traumatik.

Pada perdarahan subarachnoid traumatik, biasanya terjadi karena adanya cedera kepala yang bersifat berat. Misalnya, kecelakaan lalu lintas, terjatuh, ataupun tertimpa dengan keras di bagian kepala.

Sedangkan untu perdarahan subarachnoid non-traumatik, perdarahan biasanya muncul secara tiba-tiba dan tidak didahului cedera.

Melansir dari laman TaboolaSponsored Links, penyebab terjadinya perdarahan subarachnoid non-traumatik paling sering adalah pecah aneurisma otak yang kemudian menyebabkan pembengkakan dan menipisnya dinding pembuluh pembuluh darah.

Alhasil, pembuluh darah dapat pecah dan menyebabkan perdarahan, serta membentuk gumpalan darah di ruang subarachnoid selaput meningen.

Selain makanan, ada sejumlah hal yang sebaiknya juga dihindari untuk mencegah terjadinya pendarahan otak.

Misalnya hindari kebiasaan merokok, tekanan darah yang terlalu tinggi, kecanduan alkohol, hingga riwayat penyakit yang sama pada keluarga.

Namun jangan khawatir, ternyata mengatur pola makan bisa menjadi salah satu cara terbaik untuk mencegah pendarahan otak terjadi.

Berikut ini sejumlah makanan yang bisa memicu serangan sehingga sebaiknya dihindari.

Makanan Olahan

Penyakit hipertensi alias tekanan darah tinggi bisa menjadi faktor risiko seseorang terserang peradarahan subarachnoid.

Maka dari itu, sangat penting untuk menghindari jenis makanan yang bisa menyebabkan tekanan darah meningkat, misalnya makanan olahan dan jenis makanan kalengan.

Pasalnya, jenis makanan ini memiliki kandungan garam dalam jumlah yang tinggi.

Terlalu banyak mengonsumsi garam bisa menyebabkan tekanan darah meningkat secara drastis dan memicu hipertensi.

Kopi dan Kafein

Agar lebih sehat dan terhindar dari perdarahan subarachnoid, mulailah untuk membatasi asupan kopi dan makanan lain yang banyak mengandung kafein.

Nyatanya, mengonsumsi kafein secara berlebihan bisa menyebabkan hipertensi dan mengganggu kesehatan secara keseluruhan.

Selain hipertensi, kebiasaan mengonsumsi alkohol juga disebut dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami perdarahan subarachnoid.

Maka dari itu, sangat penting membatasi, bahkan menjauhi alkohol.

Nyatanya, kebiasaan mengonsumsi alkohol bisa memicu berbagai penyakit berbahaya, termasuk perlemakan hati alias fatty liver.

Nah jika Anda mengalami gejala seperti ini, sebaiknya berhati-hati karena bisa jadi terkena pendarahan otak:

Sakit kepala parah yang tiba-tiba

Kelemahan pada lengan atau kaki

Mual, muntah

Kesulitan berbicara atau mengerti pembicaraan

Kesulitan menelan

Kesulitan menulis atau membaca

Gangguan pada penglihatan pada salah satu atau kedua mata

Kehilangan keseimbangan dan koordinasi, pusing

Apatis, mengantuk

Kehilangan kesadaran

Linglung, mengigau

Indera pengecap yang tidak berfungsi normal.

Continue Reading

CityHealth&Beauty

Inilah Dampak Fisik & Psikologis Korban Marital Rape

Published

on

Marital rape

Marital rape atau pemerkosaan dalam pernikahan seringkali dianggap remeh oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Padahal, marital rape dapat menimbulkan dampak psikologis besar untuk korbannya.

Ya, sebagian orang menertawakan istilah marital rape. Sebab, mereka berpikir tak mungkin ada pemerkosaan dalam pernikahan. Penting untuk diingat bahwa setuju untuk menikah tidak sama dengan setuju untuk mengikuti kemauan semua pasangan.

Setiap individu memiliki otoritas untuk dirinya sendiri, bukan orang lain, termasuk pasangannya.

Baca Juga :

  1. Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara Jadi Bahan Pergunjingan Malaysia
  2. PBB Siapkan Dana 45 Juta Dolar AS untuk Bantuan Sistem Perawatan Kesehatan Afganistan
  3. AS Menangguhkan Bantuan Dana Kubah Besi Israel Senilai $1 Miliar

Terkait marital rape, perempuan sebenarnya memiliki otoritas untuk menolak atau menyetujuinya. Perlindungan hukum terkait marital rape ini yakni terdapat pada UU Nomor 23 Tahun 2004 mengenai Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Segala bentuk kekerasan, paksaan atau bahkan ancaman tanpa persetujuan kedua belah pihak yang terjadi dalam ranah rumah tangga termasuk kategori KDRT.

Namun, nyatanya di Indonesia sendiri banyak sekali kasus marital rape. Menurut catatan tahunan yang dipaparkan oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), perkosaan dalam perkawinan atau marital rape mencapai 195 kasus pada tahun 2018. Yang sebenarnya terjadi mungkin lebih banyak, hanya saja tidak dilaporkan.

Lantas, apa saja dampak negatif dari marital rape? Marital rape dapat menimbulkan dampak fisik dan psikologis bagi korban. Untuk dampak fisik, antara lain adalah cedera pada daerah vagina dan anus, nyeri, memar, otot robek, laserasi (luka dalam atau sobekan pada kulit), kelelahan, dan muntah.

Korban yang menolak hubungan seks terkadang dipukuli dan bukan tak mungkin mengalami patah tulang, hidung berdarah, mata lebam, hingga luka akibat benda tajam.

Tak jarang, korban mengalami dampak dari sisi ginekologi, seperti peregangan vagina, radang panggul, infeksi kandung kemih, penyakit menular seksual, kehamilan yang tidak diinginkan, keguguran, dan infertilitas.

Lantas, apa saja dampak psikologis bagi korban marital rape? Efek jangka psikologis jangka pendek yang dirasakan adalah shock, ketakutan yang intens, kecemasan, gangguan strespasca trauma (PTSD), depresi, hingga pikiran untuk bunuh diri.

Tak berhenti sampai di situ, korban juga merasakan efek jangka panjang, seperti gangguan tidur, gangguan makan, citra diri negatif, disfungsi seksual, masalah keintiman, dan depresi.

Berdasarkan studi berjudul “A Review of Marital Rape” yang diterbitkan di jurnal Aggression and Violent Behavior tahun 2007, korban marital rape umumnya mengalami PTSD, depresi, masalah ginekologis, dan kesehatan fisik yang negatif.

Untuk mencegah marital rape, baik pihak perempuan maupun laki-laki perlu mendapat edukasi yang memadai. Keduanya harus tahu batas fisiologis dan tidak memaksakan hubungan seks, misalnya saat sedang menstruasi, kelelahan, atau ketika memang tidak menginginkannya.

Ingat, kita punya otoritas atas tubuh kita sendiri dan berhak menolak hubungan seks jika tidak ingin. Sementara itu, pasangan pun harus menghormati keputusan tersebut dan tidak memaksakan kehendaknya, apalagi disertai dengan ancaman dan tindakan kekerasan.

Ikatan pernikahan bukanlah legitimasi untuk memaksakan hubungan seks. Hubungan seks bersifat mutualisme, di mana kedua pihak saling menyetujui dan tidak ada paksaan atau tekanan dari salah satu pihak.

Baik suami atau istri harus menyadari bahwa pasangannya adalah manusia yang memiliki hak dan free will, bukan objek atau benda yang bisa dipakai sewaktu-waktu. Sehingga, mereka perlu menerima dengan lapang dada jika ditolak melakukan hubungan seks karena alasan tertentu.

Continue Reading

Trending