Connect with us

CityReligi

Izinkan Perusahaan Larang Karyawan Kenakan Jilbab, Pengadilan Tinggi Uni Eropa Tuai Beragam Kecaman

Published

on

Jilbab

Beragam kecaman ditujukan kepada Pengadilan Tinggi Uni Eropa setelah memutuskan bahwa seseorang atau perusahaan dapat melarang karyawannya mengenakan jilbab dalam kondisi tertentu.

Seperti dilansir dari Reuters, Sabtu (17/7/2021), Putusan tersebut dikeluarkan oleh Pengadilan Tinggi Uni Eropa (EJC) pada Kamis (15/7/2021) waktu setempat. Hal itu merujuk adanya dua laporan kasus dari Jerman tentang pemakaian jilbab pada saat bekerja.

Larangan tersebut dapat diberlakukan jika pihak perusahaan menganggap perlu menampilkan citra netral terhadap pelanggan atau untuk mencegah perselisihan sosial. Demikian putusan dari EJC.

Baca Juga:

  1. Syarat dan Alur Pendaftaran Pengisian Tabung Oksigen Gratis di Pemkot Tangerang
  2. Korlantas Siapkan 1.065 Titik Penyekatan di Wilayah Jawa, Bali, dan Lampung Jelang Idul Adha
  3. 5 Kandungan Skincare yang Wajib Dihindari Ibu Hamil

Keputusan ini sontak langsung mendapatkan kritik dari berbagai pihak. Banyak yang menganggapnya sebagai serangan terhadap Islam dan mengurangi hak Muslim di Eropa.

Mehreen Khan, koresponden UE Financial Times, mengatakan keputusan itu secara terbuka dirayakan oleh sayap kanan. Dia menyoroti tweet dari anggota parlemen Belgia, Theo Francken, yang mengungkapkan jika parlemen mendukung putusan pengadilan tersebut.

Dalam cuitan lainnya, Francken mengungkapkan jika putusan tersebut dapat menegakkan hak perusahaan untuk tidak mempekerjakan wanita Muslim jika mereka pikir itu buruk untuk bisnis mereka.

Sementara itu, sejumlah warganet mengklaim UE munafik karena mendiskriminasi umat Muslim dengan melarang jilbab di tempat kerja dan membawa Hungaria ke pengadilan karena mendiskriminasi komunitas LGBTQ+.

“Uni Eropa pergi ke Afghanistan untuk membebaskan perempuan tetapi ingin menindas sebagian perempuan di rumahnya sendiri,” tulis seorang warganet.

Sebelumnya, dua wanita yang bekerja di sebuah toko obat di Jerman diminta untuk tak mengenakan jilbab demi menjaga netralitas.

CityReligi

Masjid yang Dihancurkan Pemerintah China Kini Dibangun Hotel

Published

on

Masjid di Hotan

Masjid yang berada di lingkungan muslim Uighur di kawasan Hotan dirubuhkan oleh Pemerintah China pada 2018 lalu. Kini, bangunan masjid yang sudah diratakan itu dibangun menjadi hotel oleh Hilton Worldwide.

Seperti dinukil dari Reuters, Jumat (17/9/2021), alhasil rencana pembangunan hotel itu mendapatkan protes lebih dari 40 organisasi hak sipil.

Bahkan, mereka mengumumkan akan melakukan kampanye untuk memboikot Hilton Worldwide atas apa yang mereka sebut sebagai rencana perusahaan untuk membangun sebuah hotel di lokasi masjid Uighur yang dibulldozer.

Baca Juga:

  1. Kisah Cucu, Wanita Asal Bandung Yang Tidak Bisa Tidur Sejak 2014
  2. Puncak Berlakukan Ganjil-Genap Pekan Ini
  3. 5 Urutan Skincare Untuk Kulit Berminyak

Organisasi garis depan yang meginisiasikan boikot, Council on American-Islamic Relations (CAIR), menegaskan bahwa mereka telah bernegosiasi secara tidak langsung dengan grup hotel untuk membatalkan rencana konstruksi. Namun, pembicaraan itu tidak berhasil.

“Hari ini, kami mengumumkan kampanye boikot global terhadap Hilton,” kata direktur eksekutif CAIR Nihad Awad.

“Anda dan saya memiliki pilihan untuk memilih ke mana harus pergi dalam perjalanan Anda atau melakukan pertemuan bisnis atau mengadakan acara, pernikahan atau perjamuan,” dia menambahkan.

Awad juga menyatakan proyek tersebut merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang berkontribusi pada penghancuran budaya dan kepercayaan Uighur.

China selama ini dituduh melakukan kampanye panjang melawan penduduk Uighur, yang sebagian besar muslim, dengan penahanan massal, sterilisasi paksa, memisahkan anak-anak dari keluarga dan menghancurkan lokasi agama dan budaya. Namun, Beijing berkali-kali telah membantah klaim tersebut.

Continue Reading

Berita Utama

Yenny Wahid Komentari Video Anak Pesantren Tutup Telinga Saat Dengar Musik

Published

on

Komentar Yenny Wahid Terkait Video Anak Pesantren yang Viral – voi.id

Yenny Wahid, meminta orang-orang tidak seenaknya memberi stigma atau melebeli cap radikal pada para santri yang menutup telinga saat mendegar musik.

Putri dari Presiden keempat Republik Indoensia (RI) Gus Dur itu mengatakan rekaman video viral yang menunjukkan para santri duduk menutup telinga saat alunan musik popular yang dimainkan live terdengar.

Menurutnya, aksi para santri itu tidak menjadi indikator yang menunjukkan mereka terpapar radikalisme.

Baca Juga:

  1. Kisah Cucu, Wanita Asal Bandung Yang Tidak Bisa Tidur Sejak 2014
  2. Puncak Berlakukan Ganjil-Genap Pekan Ini
  3. 5 Urutan Skincare Untuk Kulit Berminyak

“Jadi kalau anak-anak ini oleh gurunya diprioritaskan untuk fokus pada penghafalan Alquran dan diminta untuk tidak mendengar musik, itu bukanlah indikator bahwa mereka radikal,” ujar Yenny pada melalui laman Instagram resmi miliknya @Yennywahid.

Selain itu, Yenny menyatakan narasi-narasi yang menyematkan label cap kepada orang lain dengan mudah itu justru malah makin memperuncing perpecahan di antara rakyat Indonesia.

Demikian, ia pun mengajak masyarakat untuk saling belajar dan memahami satu sama lain.

“Yuk, kita lebih proporsional dalam menilai orang lain. Janganlah kita dengan gampang memberi cap seseorang itu radikal, seseorang itu kafir dan lain-lain,” kata Yenny.

Video Anak Pesantren Tutup Telinga Saat Diperdengarkan Musik – instagram.com (yennywahid)

Rekaman video yang memperlihatkan para santri duduk di kursi berjarak sambil menutup telinga itu diduga terjadi saat mereka mengantri kegiatan vaksinasi . Lalu, pada saat itu terdengar musik yang dimainkan secara langsung, hal itu diduga sebagai kegiatan hiburan di anatara kegiatan tersebut.

Continue Reading

Berita Utama

Mnet Respons Kontroversi Suara Azan di Program Dance

Published

on

Mnet merespons kontroversi penggunaan suara azan pada bagian Intro program Street Woman Fighter. Hal tersebut disampaikan melalui Instagram resmi Mnet Dance @mnet-dance, Rabu (8/9/2021).

Sebelumnya, Mnet mendapat kecaman karena gunakan suara azan pada bagian opening ‘Street Woman Fighter. Setelah ditelusuri, suara tersebut berasal dari lagu berjudul “Azan” milik band Inggris LOSERS.

Azan merupakan panggilan ibadah khusus untuk umat Muslim. Oleh karena itu, pemirsa dan netizen yang beragama Islam pun merasa geram. Mereka tidak terima azan dipadukan dengan program hiburan dan dibuat versi remix.

Baca Juga:

  1. Kisah Cucu, Wanita Asal Bandung Yang Tidak Bisa Tidur Sejak 2014
  2. Puncak Berlakukan Ganjil-Genap Pekan Ini
  3. 5 Urutan Skincare Untuk Kulit Berminyak

Peristiwa ini pun menjadi trending di media sosial. Mnet akhirnya merilis pernyataan resmi berisi permintaan maaf.

“Penonton yang terhormat. Atas nama tim produksi StreetWoman Fighter, kami menyampaikan permintaan maaf yang tulus terkait soundtrack yang digunakan dalam pembukaan episode pertama Street Woman Fighter,” tulis Mnet pada lama resminya, Rabu (8/9/2021).

Permintaan Maaf Mnet Terkait Suara Azan – instagram.com (at.mnet_dance)

Pada pernyataanya, Mnet menyampaikan bahwa suara tersebut berasal dari soundtrack elektronik yang terdaftar resmi di situs streaming resmi.

“Lagu tersebut merupakan soundtrack elektronik yang terdaftar di situs streaming resmi. Tim produksi berpendapat bahwa suara elektronik dari lagu tersebut cocok untuk digunakan sebagai musik latar program. Tentu kami tidak memiliki niat lain,” sambung Mnet.

Kemudian, Mnet pun menjelaskan bahwa mereka akan lebih berhati-hati di masa depan. Mnet juga akan mengganti suara azan tersebut dengan musik yang lain.

“Kami dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh kemungkinan mengingat sajak tertentu. Untuk menghargai kitik Anda, video akan diunggah ulang setelah mengganti musik latar. Mnet akan terus mendegarkan pendapat pemirsa di seluruh dunia. Kami menghargai minat Anda pada program Mnet Street Woman Fighter,” ungkapnya.

Continue Reading

Trending