Connect with us

CityProperty

Tren Desain Rumah di Masa New Normal Covid-19

Published

on

Desain rumah di masa New Normal

Kalangan pengembang menawarkan desain rumah postpandemic untuk menawarkan beberapa adaptasi new normal terkait desain rumah saat pandemi Covid-19. Berbagai upaya ini terus dilakukan seiring permintaan pasar akan konsep rumah yang lebih sehat.

Adaptasi dan berbagai perubahan karena pandemi Covid-19 sangat berpengaruh pada desain produk properti yang dipasarkan pengembang. Ada banyak adaptasi new normal yang diterapkan pada produk hunian seiring berubahnya kebiasaan khususnya dengan lebih banyak aktivitas seseorang di rumah untuk menghindari penularan virus.

Menurut Managing Director Sinar Mas Land (SML) Alim Gunadi, ada banyak perubahan terkait desain yang diterapkan pada produk-produk residensial maupun komersial yang diterapkan SML di berbagai proyeknya. Misalnya, penerapan sanitizing room, inspiring room, hingga productive corner untuk memudahkan penghuni rumah terkait berbagai perubahan kebiasaan saat pandemi.

Baca Juga:

  1. Saat Buka Puasa, Sebaiknya Tak Konsumsi 5 Makanan Ini Secara Berlebihan
  2. Hindari 5 Kebiasaan Tak Sehat Ini Saat Berbuka Puasa
  3. Catat! Ini 5 Cara Makan untuk Hindari Asam Lambung Saat Puasa

“Berbagai adaptasi ini telah kami terapkan khususnya untuk mengonsep sebuah produk hunian yang bisa menjamin kebersihan dan kesehatan seluruh penghuninya. Saat ini masyarakat juga membutuhkan rumah yang multifungsi dan bisa digunakan untuk banyak hal terkait banyaknya adaptasi baru saat pandemi dan itu sudah kami terapkan di beberapa klaster BSD City,” ujarnya.

Berbagai konsep desain baru yang diterapkan saat pandemi ini juga diikuti dengan infrastruktur jaringan internet kecepatan tinggi untuk mendukung berbagai aktivitas pekerjaan maupun belajar online dari rumah. Begitu juga fasilitas mulai dari kawasan klaster yang didesain untuk menyesuaikan dengan kebutuhan penghuni khususnya untuk menjamin penghuni tetap sehat.

Di kawasan Tabebuya BSD City misalnya, SML bahkan telah mendesain konsep postpancemic dengan menyediakan berbagai fasilitas seperti contemplating area untuk berjemur, semi outdoor gym, hingga roooftop terrace. Konsep postpandemic ini juga dihadirkan dengan berbagai fitur di dalam rumah seperti smart function, smart furniture, smart tech, dan smart healthy.

Smart function merupakan fitur yang bisa mengubah ruangan dari kamar tidur menjadi ruang kerja, ruang belajar, maupuan productive space lainnnya. Smart furniture diterapkann dengan penggunaan aneka perabot yang diaplikasikan dengan fungsi-fungsi khusus maupun multi fungsi.

Smart tech diterapkan dengan konsep smart home system yang memungkinkan mengakses berbagai fitur di rumah melalui smartphone. Sementara smart healthy diaplikasikan dengan menciptakan area untuk mensterilkan setiap orang dari luar sebelum masuk ke dalam rumah.

CityProperty

Program Bedah Rumah Sasar 500 Rumah di Bali

Published

on

Program Bedah Rumah di Bali

Program bedah rumah terus dikerjakan ke berbagai wilayah dan kali ini dilaksanakan di desa-desa di tujuh kabupaten Provinsi Bali. 500 unit rumah yang tadinya tidak layak dibedah dengan dana stimulan Rp20 juta sehingga menjadi lebih sehat dan layak huni.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mendorong program penataan rumah tidak layak huni (RTLH) menjadi lebih sehat dan layak huni. Program pengentasan RTLH atau kerap disebut program bedah rumah ini dilaksanakan di banyak wilayah Indonesia untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Kali ini program bedah rumah dilaksanakan di tujuh kabupaten di Provinsi Bali yang merupakan kawasan wisata. Program bedah rumah dilaksanakan melalui program bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) Kementerian PUPR dengan total anggaran mencapai Rp10 miliar.

Baca Juga:

  1. Streaming Piala Sudirman 2021 Indonesia VS Rusia
  2. Sadar Pascaoperasi, Tukul Arwana Komunikasi Lewat Mata
  3. Masih di ICU, Ventilator Tukul Arwana Telah Dilepas

“Program BSPS ini merupakan salah satu program Kementerian PUPR yang manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat karena tempat tinggal yang tadinya tidak layak huni begitu tersentuh dengan program ini menjadi lebih baik dan layak huni,” ujar Khalawi Abdul Hamid, Dirjen Perumahan Kementerian PUPR.

Rumah layak huni merupakan kebutuhan dasar masyarakat seperti juga sandang dan pangan. Terlebih di masa pandemi Covid-19, kebutuhan sebuah sarana hunian yang sehat mutlak diperlukan untuk menghindari kita dari terpapar virus. Hunian yang layak dan nyaman juga dibutuhkan karena kita lebih banyak berkegiatan dari rumah.

Program BSPS merupakan bantuan yang sifatnya stimulan yang diberikan kepada masyarakat. Dengan bantuan stimulan ini bisa mendorong masyarakat melakukan perbaikan rumahnya secara bergotong royong. Jumlah bantuannya sendiri tidak terlalu besar, sekitar Rp20 juta per unit rumah dengan perincian Rp17,5 juta untuk biaya pembelian bahan bangunan dan Rp2,5 juta untuk biaya upah tukang.

Adapun ketujuh wilayah di Provinsi Bali yang mendapatkan program ini jumlahnya mencapai 500 unit rumah. Lokasinya tersebar di Kabupaten Buleleng, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Bangli, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Krangasem masing-masing 70 unit dan Kabupaten Gianyar 75 unit.

Ni Ketut Nasa, salah satu penerima program bedah rumah dari Desa Tajen di Kabupaten Tabanan mengatakan, dirinya mendapatkan bantuan program BSPS sebesar Rp20 juta ditambah dengan dana tabungan sendiri sebesar Rp19 juta untuk membuat rumahnya menjadi lebih layak huni.

“Saya merasa senang dan gembira sekarang rumah saya sudah bagus dan jauh lebih nyaman dibandingkan yang dulu. Tentunya saya sangat berterima kasih kepada Kementerian PUPR dengan adanya program seperti ini sehingga rumah saya bisa diperbaiki dengan cepat,” katanya.

Continue Reading

CityProperty

Dear Millenials, Harga Rumah Sehat di Legok Cuma Rp300 Jutaan

Published

on

Rumah Sehat

Pengembang terus menghadirkan hunian yang mengusung konsep desain rumah sehat. Pengembang GNA Group untuk proyek yang kesekian kalinya menawarkan rumah sehat tapak di Legok, Tangerang, dengan menawarkan konsep itu untuk menggaet pasar milenial.

Pandemi yang telah menerpa seluruh dunia telah merubah pola pikir dan gaya hidup masyarakat, termasuk hunian. Satu hal yang tetap pasti dan tidak akan pernah berubah adalah fakta bahwa setiap orang masih butuh hunian untuk tempat tinggal. Di sisi lain, pandemi juga telah memengaruhi masyarakat dalam memilih hunian.

Jika sebelumnya faktor lokasi menjadi faktor penentu utama, maka kini imbas dari pandemi banyak konsumen yang lebih memilih hunian yang memiliki lingkungan dan aspek kesehatan yang tinggi. Konsumen memprioritaskan pemilihan wilayah yang bisa menyatu dengan alam untuk mengahadirkan kawasan yang sehat dan terbebas dari virus.

Baca Juga:

  1. Kupas Tuntas Marital Rape atau Pemerkosaan dalam Pernikahan
  2. 13 Tempat di Seluruh Indonesia Gelar Vaksinasi Merdeka Serentak
  3. BEM SI Ultimatum Jokowi dan Siap Turun ke Jalan

Kesadaran dan permintaan masyarakat akan kawasan hunian yang sehat ini akhirnya dijadikan oleh pengembang untuk menghadirkann hunian yang cocok dengan kebutuhan pasar itu. Rumah dengan desain yang bisa memaksimalkan penghawaan alami hingga ke dalam rumah yang ditunjang dengan vegetasi di kawasan menjadi lebih banyak dicari.

Karena itu pengembang GNA Group kembali menghadirkan konsep hunian seperti itu. Dengan pengalaman 15 tahun di industri properti, GNA Group telah merancang banyak proyek perumahan dengan konsep hijau dan asri yang kuat seperti di Golden Park 1, 2, 3, Golden Park, Golden Cikeas, Golden Karawang City, dan sebagainya.

Kali ini GNA Group menghadirkan Golden Flower di kawasan Legok, Tangerang, Banten, seluas 3,1 hektar yang akan dibangun sebanyak 219 unit rumah satu dan dua lantai. Tipe rumahnya mulai 21/50, 31/50, 36/72, 47/84, 48/60, 53/60, dan 62/60 seharga mulai Rp300 juta. Kawasan perumahannya memiliki kontur yang cukup ekstrim dengan iklim relatif sejuk sehingga cocok untuk mengusung kawasan hunian yang hijau dan asri.

GNA Group dalam setiap pengembangan proyeknya selalu menghadirkan kawasan yang modern dengan berbagai fasilitas penunjangnya namun tetap menghadirkan harga affordable untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi kalangan yang lebih luas khususnya milenial.

Kawasan Golden Flower menghadirkan bulevar yang lebar dan luas dengan kontur dinamis. Fasilitas di dalam perumahannya ada sport club dan taman tengah yang menghadirkan banyak vegitasi untuk paru-paru kawasan. Golden Flower diharapkan bisa menghadirkan pilihan hunian dengan standar yang baik untuk wilayah Legok.

Menurut Direktur Utama GNA Group Gregorius Gunho, konsep yang dihadirkan di Golden Flower ini untuk mengusung lifestyle kaum urban. Karena itu desain rumah mengusung fasad terbuka untuk akses luas terhadap cahaya maupun udara alami dari luar ke dalam. Fasadnya juga menggunakan kombinasi material homogeneus tile bercorak earthy hingga color scheme yang hangat.

“Kami sangat antusias untuk terus memberikan produk hunian yang bisa memberikan kontribusi hunian yang sehat seperti yang kami tawarkan. Dalam setiap pengembangan proyek, kami selalu berupaya unutk menghadirkan rumah yang sehat, asri, dan itu ditunjang dengan berbagai sarana di kawasannya,” ujarnya.

Selain produk hunian maupun kualitas pelayanan yang terus ditingkatkan, Gunho menyebut produk rumah untuk milenial yang mencari produk properti pertama juga bisa dijadikan investasi yang sangat menarik. Terlebih segmen rumah tapak telah menjadi penopang bisnis banyak kalangan pengembang saat situasi pandemi dan di sisi lain membuktikan kalau kebutuhan dan pasar properti kita sangat besar.

Golden Flower juga berada di kawasan dengan fasilitas yang sudah sangat lengkap. Penghuni akan dimudahkan mobilitasnya karena lokasi perumahannya dekat dengan Stasiun Cisauk dan Stasiun Parung Panjang. Aksesnya juga mudah karena dekat ke exit tol Legok yang tersambung ke berbagai jalan tol lain seperti Jakarta-Tangerang maupun JORR. Kawasannya juga menyediakan fasilitas pendidikan mulai pendidikan dasar hingga universitas.

“Kami berupaya untuk menghadirkan sarana hunian yang sesuai dengan lifestyle pekerja milenial dan bisa merasakan ambience yang hangat dan hommy namun dengan harga yang terjangkau. Golden Flower juga berada di pusat pengembangan koridor timur yang ke depannya akan terus berkembang sehingga unit rumah ini juga bisa menjadi instrumen investasi yang sangat menguntungkan,” beber Gunho.

Continue Reading

CityProperty

Pandemi Covid-19, Minat Milenial Mencari Properti Secara Online Meningkat Pesat

Published

on

Ilustrasi properti

Teknologi telah memudahkan pemasaran properti sehingga masyarakat yang mencari informasi juga dimudahkan untuk mendapatkan informasi awal terkait perumahan yang diinginkannya. Pencarian hingga pemesanan rumah dari online ini juga meningkat pesat khususnya dari kalangan milenial.

Kalangan milenial telah menjadi pasar utama yang mencari produk properti secara online. Hal ini tidak aneh karena milenial yang cenderung serba praktis dan simpel sudah sangat tech minded sehingga konsep online yang saat ini banyak ditawarkan cukup sukses merangsang kalangan ini untuk lebih aware dengan kebutuhan huniannya ketimbang memenuhi lifestyle yang cenderung boros.

Gelaran expo properti virtual yang diselenggarakan perusahaan BUMN PT Sarana Multigriya Finansial (Persero/SMF) misalnya, telah sukses menarik perhatian dari segmen milenial hingga melakukan pemesanan produk properti mencapai 1.175 unit hanya dalam satu bulan penyelenggaraan expo bertajuk ‘Jangan Tunda Punya Rumah di Masa Pandemi’ itu.

Baca Juga:

  1. Kupas Tuntas Marital Rape atau Pemerkosaan dalam Pernikahan
  2. 13 Tempat di Seluruh Indonesia Gelar Vaksinasi Merdeka Serentak
  3. BEM SI Ultimatum Jokowi dan Siap Turun ke Jalan

Selama satu bulan penyelenggaraan expo sejak 18 Agustus hingga 19 September 2021 itu juga telah menyedot lebih dari 25 ribu pengunjung dengan rata-rata kunjungan per hari mencapai 840 orang dari seluruh Indonesia. SMF juga menggandeng 75 perusahaan developer yang menampilkan ratusan perumahan dari Sabang hingga Merauke dan 12 bank penyalur KPR.

Bukti lain kalau expo online seperti ini diminati oleh milenial, sebanyak 33,5 persen pengunjung dari kalangan usia 25-34 tahun disusul usia 18-24 tahun yang disebut generasi Z sebanyak 27,5 persen. Sisanya baru dari kalangan yang lebih matang yaitu rentang usia 45-65 tahun.

Menurut Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo, dari jumlah kunjungan ini terjadi peningkatan hingga empat kali lipat dari kegiatan serupa yang digelar tahun sebelumnya. Sementara dari sisi yang mengajukan booking sebanyak 1.175 unit rumah dan jika ini terealisasi menjadi pembelian maka total transaksinya mencapai hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu yang hanya mencapai 400 transaksi.

“Dari capaian ini bisa kita simpulkan kalau milenial tengah mendominasi pasar dan ini juga menunjukan meningkatnya antusiasme masyarakat sehingga menunjukan optimisme kendati kondisinya masih dalam situasi pandemi. Masyarakat yang mencari rumah dari kalangan anak muda sangat besar dan ini tentunya menjadi tren positif yang harus kita optimalkan,” ujarnya.

Tren positif dari kesadaran anak muda untuk memenuhi sarana huniannya harus dijadikan momentum seluruh stakeholder memaksimalkan penjualan unit rumahnya. Ini juga menjadi potential market di tengah bonus demografi dari kalangan anak muda yang menjadi pasar utama di Indonesia.

Peningkatan penjualan produk properti dari segmen anak muda ini juga harus dioptimalkan untuk terus memberikan multiplayer effect yang besar sehingga meningkatkan perekonomian nasional melalui penyerapan tenaga kerja dan bergeraknya berbagai industri di bawah properti.

“Di masa yang akan datang kami masih akan melanjutkan kegiatan expo seperti ini dan untuk itu kami meminta kepada seluruh stakeholder khususnya kalangan pengembang dan perbankan untuk terus mempererat sinergi dengan menciptakan berbagai inovasi produk dan skema pembiayaan yang menarik. Ini juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bisa mendapatkan hunian dengan cara yang lebih mudah,” beber Ananta.

Continue Reading

Trending