Connect with us

International

Palestina Meradang 2 Intelijen Dibunuh Tentara Israel

Published

on

Tentara intelijen Palestina

Setelah memutuskan untuk melakukan gencatan senjata, perseteruan antara Israel dan Palestina semakin memanas. Teranyar, dua anggota intelijen Palestina tewas usai terlibat baku tembak dengan pasukan khusus Israel yang menyamar.

Kejadian ini membuat Pemerintah Otoritas Palestina berang bukan kepalang. Nabil Abu Rudeineh, juru bicara Presiden PA Mahmoud Abbas, mengatakan Israel wajib bertanggung jawab penuh atas insiden ini.

Dua anggota intelijen militer Otoritas Palestina (PA) dan seroang anggota kelompok Jihad Islam Palestina (PIJ) tewas dalam baku tembak dengan sejumlah tentara Israel semalam di Jenin.

Baca Juga:

  1. Saat Buka Puasa, Sebaiknya Tak Konsumsi 5 Makanan Ini Secara Berlebihan
  2. Hindari 5 Kebiasaan Tak Sehat Ini Saat Berbuka Puasa
  3. Catat! Ini 5 Cara Makan untuk Hindari Asam Lambung Saat Puasa

Laporan media Palestina yang dikutip Jerusalem Post mengatakan para tentara Israel menyusup masuk ke Jenin, wilayah Palestina di Tepi Barat, dengan menyamar sebagai warga sipil untuk mengejar dua anggota Brigade Al-Quds, PIJ, bernama Jamil al-Amouri dan Wissam Abu Zaid.

Melihat aksi para tentara Zionis Israel yang menyamar di Jenin, dua intelijen militer PA langsung mengumbar tembakan. Baku tembak kedua kubu pun tak terhindarkan.

Dua anggota intelijen militer PA yang tewas adalah Adham Yasser Eleiwi dan Tayseer Ayasa.

Muhammad Samer Al-Bazour, anggota lain intelijen militer PA, terluka parah.

Dua anggota Brigade Al-Quds, Jamil al-Amouri dan Wissam Abu Zaid, ditangkap dan ditahan. Namun, al-Amouri meninggal karena luka-luka yang diderita dalam baku tembak.

Army Radio pada Kamis (10/6/2021) melaporkan pasukan rahasia Israel memasuki kota Jenin untuk mengejar dua orang yang mereka sebut “teroris bersenjata” Palestina.

Pasukan Israel terlihat meninggalkan kota Jenin sambil menarik mobil sipil setelah insiden tersebut.

International

Pasukan Revolusi Iran Sita 34 Pistol Beserta Amunisi Milik Teroris

Published

on

Quds IRGC

Pangkalan Quds IRGC (Korps Garda Revolusi Iran) mengumumkan penemuan sejumlah senjata perang dari teroris di wilayah tenggara Iran.  

Dikutip dari Sepah News, Kamis (29/7/2021),  menurut Humas dan propaganda pangkalan Quds pasukan IRGC di wilayah tenggara, para pasukan pangkalan ini berhasil menyita 34 pistol beserta amunisi di daerah perbatasan Saravan.

Baca Juga :

  1. Ragam Penyakit yang Mengintai jika Kamu Terlalu Banyak Duduk
  2. 4 Tips Jitu Supaya Anak Mau Disuntik Vaksin Covid-19
  3. Rumah Tapak Jadi Andalan Properti Indonesia di Masa Pandemi Covid-19

Kelompok teroris tersebut bermaksud menggunakan senjata ini untuk mengacaukan kawasan. Namun, aksi tersebut gagal berkat kewaspadaan para militer di pangkalan Quds IRGC.

senjata teroris yang ditemukan oleh pasukan IRGC di wilayah tenggara Iran

Berdasarkan Council on Foreign Relations (CFR), Al-Quds merupakan satu dari delapan pasukan Islamic Revoluntionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran.

Organisasi yang saat ini dipimpin oleh Ali Khamenei ini memiliki kurang lebih 125 ribu pasukan militer. Pasukan Al-Quds dikatakan aktif perang di beberapa wilayah di Timur Tengah, seperti di Lebanon.

Pasukan Al-Quds juga terlibat dalam pembentukan Popular Mobilization Force (PMF) di Irak. Tak hanya itu, di Gaza, Palestina, pasukan Al-Quds juga mendukung Hamas.

Al-Quds dibentuk usai terjadinya revolusi Iran pada tahun 1979. Pasukan khusus ini membela dan mendukung pemerintahan Republik Islam Iran.

Basis utama pasukan ini berada di Teheran dan terbagi menjadi beberapa grup di wilayah negara tetangga. Wilayah basis pasukan yang aktif beraksi sejak awal 1980-an ini berada di Afghanistan, Irak, Lebanon, Suriah dan Palestina.

Continue Reading

International

Malaysia Cabut Status Darurat Covid-19 Awal Agustus

Published

on

By

Foto Ilustrasi Status Darurat Covid-19 di Malaysia.

Malaysia memutuskan mencabut stastus darurat pandemi Covid-19 di negaranya pada 1 Agustus 2021 nanti. Hal itu disampaikan Menteri Hukum Malaysia Takiyuddin Hassan di Kantor Perdana Menteri Malaysia, setelah pemerintah tidak akan mengusulkan perpanjangan stastus darurat kepada Raja Malaysia yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah.

Dinukil dari Reuters, Rabu (28/7/2021), Takiyuddin mengatakan, pemerintah juga mencabut peraturan yang mulai berlaku selama masa darurat.

Baca Juga:

  1. Jokowi Buka Suara Soal Kritik dan Julukan dari BEM UI
  2. Penjualan Hewan Kurban di Tengah Pandemi Covid-19, Sepi Pengunjung
  3. Jokowi: Polri Harus Berwajah Ramah & Mengayomi Masyarakat

“Pemerintah telah memutuskan berdasarkan Pasal 150 (3) Konstitusi Federal untuk mencabut peraturan yang mulai berlaku selama keadaan darurat. Dengan demikian, masalah pembatalan tidak lagi relevan. Enam peraturan telah dicabut efektif 21 Juli,” kata Takiyuddin saat rapat bersama parlemen Malaysia.

Namun, pernyataan Takiyuddin tersebut membuat sebagian anggota parlemen dari kubu oposisi mempertanyakan keputusan pemerintah mencabut aturan. Karena di saat menerapkan Penguncian Wilayah (Lockdown), penularan Covid-19 Malaysia semakin buruk dan infeksi harian Covid-19 di Negeri Jiran terus melesat tinggi hingga menyentuh angka 10 ribu lebih.

Minggu kemarin, Malaysia mencatat rekor kasus harian Covid-19 tertinggi sejumlah 17.045 sehingga total kasus melampaui 1 juta orang. Diketahui Malaysia menerapkan Penguncian Wilayah (Lockdown) secara nasional pada 12 Mei lalu dan baru akan mencabutnya jika jumlah kasus berada di bawah angka 4.000 per hari.

Continue Reading

International

Didakwa Atas Kasus Korupsi, Eks Menteri Termuda Malaysia Dapat Pembelaan Warga

Published

on

Syed Saddiq, Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Malaysia, terjerat kasus hukum setelah diduga melakukan korupsi senilai 1 juta ringgit atau sekitar 3,4 miliar rupiah. Eks menteri termuda dalam kabinet pemerintah Malaysia itu didakwa melanggar Undang-Undang Anti-Pencucian Uang dan UU Anti-Pendanaan Terorisme dan Perbuatan Melanggar Hukum di Pengadilan Johar Bahru.

Korupsi itu diduga dilakukan saat Syed Saddiq menjabat sebagai Ketua Oraganisasi Pemuda Bersatu.

Kommisi Anti-Korupsi Malayasia mulai melakukan penyelidikan sejak Juni 2020 lalu. Kasus bermula dari pelaporan hilangnya uang milik pria kelahiran 1992 itu sejumlah 25 ringgit hilang.

Baca Juga:

  1. Kim Jae Wook dan Krystal Jung Dapat Tawaran Bintangi Drama Romantis “Crazy Love”
  2. 5 Soundtrack Drama Korea dengan Penonton Terbanyak di YouTube
  3. Keponakan Perempuan Putri Diana, Lady Kitty Spencer Menikah dengan Miliarder Asal Afrika Selatan

Kasus itu menjadi sorotan di Malaysia. Netizen Malaysia pun diketahui membela eks menteri termuda itu. Mereka melakukan urunan untuk membayar uang jaminan sebesar 330.000 ringgit atau sekitar 1,1 miliar rupiah.

Melalui Twitter miliknya, Saddiq mengatakan total sumbangan yang dikumpulkan untuknya telah melebihi total uang jaminan yang harus dibayarkan.  Jumlah uang yang kini terkumpul mencapai 715.573 ringgit atau sekitar Rp2,4 miliar.

“Saya berutang nyawa kepada Malaysia. Dalam 24 jam, 9.836 orang telah berdonasi. Terima kasih. Saya berutang budi selamanya,” ujar Saddiq pada Sabtu (24/7).

Saddiq menceritakan tentang seorang pria tua yang bersusuah payah datang ke kantor demi menemuinya. Dia pada awalnya mengira pria itu datang karena membutuhkan bantuan. Namun, yang mengejutannya ternyata pria itu jsutru memberikannya 100 ringgit.

“Saya seperti ingin menangis. Di saat-saat seperti ini, saya teringat mengapa saya terjun ke dunia politik. Bukan soal posisi atau uang, tapi untuk membangun Malaysia yang maju dan bermartabat,” terangnya.

Continue Reading

Trending