Connect with us

National

Hari Jadi Bogor ke-539, Bupati Bogor : Masa yang Berat

Published

on

Bupati Bogor, Ade Yasin.

Pemkot dan Pemkab Bogor memperingati Hari Jadi Bogor ke-539 pada Hari ini, Kamis 3 Juni 2021. Dua daerah bertetangga ini, melalui kepala daerahnya menyampaikan pesan dan harapan.

Bupati Bogor Ade Yasin mengatakan di masa saat ini adalah masa yang penuh tantangan dan berat, bahkan melelahkan dalam perjuangan melawan pandemi COVID-19.

“Pandemi berdampak pada kesulitan ekonomi dan keuangan serta perubahan besar pada kehidupan kita sehari-hari. Namun demikian sekalipun di tengah keterbatasan, realisasi program pembangunan, bisa dikatakan cukup baik bahkan memuaskan,” katanya.

Baca Juga:

  1. Saat Buka Puasa, Sebaiknya Tak Konsumsi 5 Makanan Ini Secara Berlebihan
  2. Hindari 5 Kebiasaan Tak Sehat Ini Saat Berbuka Puasa
  3. Catat! Ini 5 Cara Makan untuk Hindari Asam Lambung Saat Puasa

Tak hanya itu, Ade juga menyampaikan bahwa pihaknya telah mengentaskan 41 desa tertinggal menjadi berkembang, sehingga dari 45 desa tertinggal, kini hanya tersisa 4 desa tertinggal.

Di bidang perpajakan, perolehan pajak Kabupaten Bogor di masa pandemi melebihi target.

“Kemudian Pemkab Bogor menerima penghargaan Innovative Government Award (IGA) 2020 dari Kementrian Dalam Negeri, sebagai pemerintah daerah terinovatif di Indonesia, dari total 360 kabupaten, Kabupaten Bogor meraih posisi ketiga dengan 329 inovasi,” ujarnya.

“Dan baru-baru ini Kabupaten Bogor berhasil meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan tahun 2020, sehingga dengan demikian Kabupaten Bogor telah berhasil meraih predikat WTP selama 6 tahun berturut-turut, dan lain-lain,” lanjut Ade Yasin.

Wali Kota Bogor Bima Arya juga menyampaikan pesan dan harapan yang hampir senada pada Hari Jadi Bogor ke-539.

“Perang melawan COVID-19 belum selesai. Mari kita terus bersama-sama meningkatkan kewaspadaan agar tetap berada dalam kesehatan dan keselamatan. Jagatara Waluya, semuanya waspada untuk kemajuan bersama,” kata Bima.

Peringatan Hari Jadi Bogor ini oleh masing-masing duo Bogor ini diawali dengan rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Tak hanya Bima Arya dalam video yang ditayangkan di awal rapat paripurna tersebut juga terlihat sejumlah tokoh dan akademisi yang mengucapkan Selamat Ulang Tahun ke-593, Dirgahayu Bogor.

Tak hanya dirinya, Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto pun mengucapkan hal yang sama. Menurutnya, menginjak usia ke- 539 merupakan perjalanan yang panjang perlu disyukuri.

“Semoga Bogor ke depan semakin maju, sejahtera masyarakatnya, sehat warganya, dan nyaman kotanya,” lanjutnya.

Pejabat atau pimpinan instansi/lembaga yang ada di Kota Bogor pun turut mengucapkan selamat Hari Jadi Bogor ke- 539. Selain ucapan, mereka juga memberikan pesan dan harapan untuk Kota Bogor dan warganya.

Berita Utama

Tidak Main-Main, Pemerintah Beri Sanksi Tegas untuk Pelanggar Protokol Covid-19

Published

on

By

Foto Ilustrasi Pelanggar Protokol Covid-19.

Pemerintah sudah menetapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di wilayah Jawa dan Bali sejak 03 Juli kemarin. Untuk mengantisipasi adanya pelanggaran, pemerintah dan Kemendagri telah menyiapkan sanksi pidana bagi pelanggar protokol Covid-19.

Kementerian Dalam Negri, Tito Karnavian, menjelaskan sanksi pidana yang digunakan untuk pelanggar protokol Covid-19 mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP Pasal 212 dan Pasal 218, serta Pasal 14 UU Nomer 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan Pasal 93 UU Nomer 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Baca Juga:

  1. Jokowi Buka Suara Soal Kritik dan Julukan dari BEM UI
  2. Penjualan Hewan Kurban di Tengah Pandemi Covid-19, Sepi Pengunjung
  3. Jokowi: Polri Harus Berwajah Ramah & Mengayomi Masyarakat

Selanjutnya pelanggar yang menimbulkan kerumunan dalam jumlah besar dapat dipidana, sesuai dengan ketentuan UU yang ada.

“Tetap digunakan undang-undang yang ada. Misalnya UU yang terkait dengan masalah penegakan protokol kesehatan pandemi itu adalah UU Kekarantinaan Kesehatan, kemudian UU tentang Wabah Penyakit Menular. Semuanya itu ada sanksi pidananya,” ujar Tito.

Bagi pelanggar protokol Covid-19 terdapat sanksi dengan pidana penjara paling lama 1 tahun dan atau denda paling banyak Rp 100 Juta. Sanksi itu terdapat di dalam Pasal 93 UU NO 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Untuk menjerat para pelanggar kebijakan PPKM Darurat, terdapat pula Pasal 14 UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular, yang memenuhi penilaian telah sengaja menghalangi pelaksanaan penanggulangan wabah diancam dengan pidana penjara selama-lamanya 1 tahun dan atau denda setinggi-tingginya Rp 1 juta.

Itu karena kealpaannya mengakibatkan terhalangnya pelaksanaan penanggulangan wabah diancam pidana kurungan selama-lamanya 6 bulan dan atau denda setinggi-tingginya Rp500 ribu.

Continue Reading

Berita Utama

Jokowi: Indonesia Rawan Bencana, Ada Ribuan Gempa Bumi dalam Setahun

Published

on

Presiden Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Indonesia sebagai negara yang rawan bencana. Kejadian bencana tersebut bahkan hampir setiap tahunnya meningkat secara frekuensi maupun intensitasnya.

Jokowi menyampaikan hal itu saat memberikan pengarahan dalam Rakorbangnas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara virtual, Kamis (29/7/2021).

“Frekuensi dan intensitasnya meningkat, bahkan melompat. Kita bahkan mengalami multibencana dalam waktu bersamaan,” ujarnya.

Baca Juga :

  1. Pengusaha Asal Aceh Beri Bantuan Sosial Senilai Rp2 Triliun
  2. Eko Yuli Irawan Raih Medali Perak Olimpiade Tokyo 2020
  3. Bersikap Diskriminatif di Olimpiade 2020, Stasiun Televisi Korea Selatan Keluarkan Permintaan Maaf Ketiga

Jokowi menyatakan selama periode 2008 sampai 2016, musibah gempa bumi mencapai 5.000 sampai 6.000 dalam setahun. Bahkan, angka itu terus meningkat.

“Pada 2017 meningkat menjadi 7.169 kali dan pada 2019 jumlahnya meningkat signifikan menjadi lebih dari 11.500 kali,” katanya.

Tak hanya itu, Jokowi mengatakan fenomena cuaca ekstrem dan siklon tropis juga terus meningkat secara frekuensi maupun intensitasnya. Pun demikian periode saat fenomena El Nino atau La Nia.

“Periode ulang terjadinya El Nino atau La Nina pada periode 1981 – 2020 cenderung semakin cepat dua sampai tiga tahunan dibandingkan periode 1950 – 1980 yang berkisar 5 sampai 7 tahunan,” tutur Jokowi.

Continue Reading

Berita Utama

Cerita Mantan Menteri BUMN Soal Bantuan Dana Sosial Rp2 Triliun

Published

on

Dahlan Iskan

Kisah pengusaha asal Aceh yang viral menyumbang dana bantuan sosial untuk penanganan virus Covid-19 di Palembang, Sumatera Selatan, terdengar sampai telinga mantan Menteri BUMN, Dahlan Iska. Dia pun ingin mengetahui lebih dalam mengenai sosok Almarhum Akidi Tio tersebut.

Mantan Menteri BUMN 2011-2014 berkomentar yang dilakukan keluarga pengusaha itu benar-benar “BUKAN main” dalam artikelnya. Dahlan sengaja memakai huruf kapital karena ingin menggambarkan betapa kagumnya dengan apa yang dilakukan keluarga pengusaha itu. “Hanya itu yang bisa saya tulis.

Kok ada orang menyumbang uang Rp 2 triliun. Orangnya tidak pernah dikenal. Sudah lama pula meninggal dunia,” kata Menteri era SBY ini.

Dahlan menilai nama almarhum yang jarang disebut publik tersebut, apa yang dilakukan keluarga mendiang Tio adalah aksi yang luar biasa dan mencerminkan kerendahan hati.

Meski tidak mengenal langsung Almarhum Akidi Tio, dia mencari tahu siapa sebenarnya keluarga tersebut.

Baca Juga :

  1. Pengusaha Asal Aceh Beri Bantuan Sosial Senilai Rp2 Triliun
  2. Sepi Pembeli, Harga Kios Pasar Tanah Abang Diobral Murah
  3. Menghawatirkan! Komunitas Ini Paling Abai Dalam Prokes

Dalam tulisan lengkap Dahlan Iskan, disway.id situs pribadinya dengan judul “Bantuan 2 T”

BUKAN main. Hanya itu yang bisa saya tulis. Kok ada orang menyumbang uang Rp 2 triliun. Orangnya tidak pernah dikenal. Sudah lama pula meninggal dunia. Saya harus menghubungi Prof Dr dr Hardi Darmawan. Saya tidak punya nomor telepon beliau.

Tapi saya kenal dengan kakak beliau. Yang sejak sebelum pandemi tinggal di Singapura. Saya hubungi sang kakak. Saya pun mendapat nomor telepon Prof Hardi. Saya kirim WA ke beliau. Lalu Prof Hardi yang menelepon saya kemarin sore.

Awalnya beliau saya ajak bicara dalam bahasa Mandarin. Tapi Prof Hardi mengatakan tidak bisa berbahasa ibunya itu. Maka kami pun menggunakan bahasa Indonesia.

“Sumbangan itu betul ya, Prof? Kok fantastis sekali,” kata saya.

“Betul. Saya kenal baik keluarga itu,” jawab beliau.

Prof Hardi lantas bercerita. Tiga hari lalu beliau dihubungi putri pengusaha itu.

“Saya diminta ikut menyaksikan,” ujar Prof Hardi.

Prof Dr dr Hardi Darmawan adalah guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Juga aktivis di gereja Katolik Palembang. Termasuk menjadi pendiri lembaga pendidikan Katolik Caritas. Bahkan pernah mendapat penghargaan dari Sri Paus.

“Resminya bantuan itu nanti untuk kapolda, gubernur, atau Pemprov Sumsel?” tanya saya. “Ke Kapolda Sumsel Pak Eko Indra Heri,” ujar Prof Hardi

“Siapa yang menentukan bahwa bantuan itu untuk kapolda Sumsel? Apakah atas arahan Prof Hardi?” tanya saya lagi. “Bukan arahan saya. Itu langsung keinginan keluarga. Untuk diberikan ke kapolda,” jawab Prof Hardi.

“Bantuan itu nanti bentuknya uang kontan, cek, atau transfer? Atau berbentuk bantuan bahan makanan?”

“Bentuknya uang. Akan ditransfer besok,” jawab Prof Hardi kemarin sore.

Berarti hari ini.

“Apakah boleh ditransfer ke rekening Polda? Juga apakah boleh dikirim ke rekening pribadi kapolda?” tanya saya sambil mengingatkan aturan yang ada.

“Masih diatur. Mungkin disiapkan rekening khusus.”

Ya sudah. Saya tidak ingin bertanya lebih lanjut tentang itu. Ada orang yang ingin menyumbangkan uang besar kok ditanya prosedur. Yang penting diterima dulu.

Semoga yang menyumbang itu bisa menyaksikan dengan bahagia dari surga di atas sana. Akidi Tio, pengusaha yang menyumbang Rp 2 triliun itu, meninggal tahun 2009 lalu.

Saat itu Tio berusia 89 tahun. Berarti 101 tahun hari ini. Beliau meninggal akibat serangan jantung. Makamnya juga di Palembang. Istri Tio sudah meninggal lebih dulu: tahun 2005. Juga di Palembang.

Dalam usia 82 tahun. Mereka punya 7 orang anak. Hanya seorang, putri, yang masih tinggal di Palembang.

Yang lain tinggal di Jakarta. “Semua jadi pengusaha sukses,” ujar Prof Hardi. Tio adalah pasien Prof Hardi. Istri Tio pasien istri Prof Hardi, yang juga seorang dokter. “Saya dan istri akrab dengan keluarga Pak Tio,” ujar Prof Hardi.

Menurut Prof Hardi, keluarga Pak Tio sudah bersahabat dengan Kapolda Irjen Eko Indra Heri jauh ke masa belakang. Yakni ketika Eko masih perwira dan masih bertugas di Direskrim Polda Sumsel.

Ketika Eko pindah tugas menjadi kapolres di Langsa, hubungan itu tetap akrab. Tio adalah orang Aceh. Ia lahir di Langsa, Aceh Timur. Salah satu adiknya punya pabrik di Langsa.

Saya pun menghubungi Bupati Aceh Timur Rocky Hasbalah Thaib. Siapa tahu kenal dengan keluarga Tio. “Beliau sudah lama meninggalkan Langsa. Kami tidak kenal di sini.

Yang jelas di Langsa memang banyak penduduk Tionghoa sejak dulu,” katanya. Dilihat dari marganya (Tio), berarti Akidi dari suku Tiuchu. Di Palembang memang banyak juga suku Tiuchu. Laksamana Cheng Ho -dengan armadanya yang besar- cukup lama singgah di Palembang.

Nama Palembang dalam bahasa Mandarin disebut Ju Gang (巨港) -pelabuhan besar. Sebagian armada Cheng Ho pilih menetap di Palembang -tidak meneruskan pelayaran ke Jawa dan kembali ke Tiongkok. Prof Hardi sendiri lahir, besar, dan sekolah di Palembang.

Pun gelar dokternya dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Setelah itu dr Hardi memperdalam ilmu penyakit tropik di Amerika Serikat. Yakni di New Orleans. Prof Hardi ingat persis sosok Tio yang rendah hati.

“Setiap datang ke tempat praktik saya selalu hanya mengenakan baju dan celana putih,” ujarnya.

“Tapi mengapa semua teman saya yang Tionghoa di Palembang tidak mengenal Tio?” tanya saya. Itu, katanya, karena Tio sangat rendah hati. Juga tidak mau menonjol. “Beliau banyak sekali menyumbang. Tapi selalu hanya atas nama hamba Tuhan,” ujarnya.

Beliau, katanya, pernah punya pabrik kecap, pabrik mebel, kebun sawit, dan juga kontraktor bangunan. Saya pun menghubungi teman lama. Nihil. “Saya tidak kenal nama itu sama sekali,” jawab Alex Noerdin -dua kali menjadi Gubernur Sumsel yang sukses.

Lalu saya menghubungi seorang mantan menteri asal Palembang. Jawabnya sama. Saya juga menghubungi lima orang pengusaha Tionghoa di sana. Tidak ada yang mengenal nama itu.

Saya hubungi juga seorang Tionghoa bermarga Tio. “Saya tidak tahu siapa beliau. Tapi sebagai sesama marga Tio saya ikut bangga,” katanya.

Berarti pengusaha ini memang luar biasa rendah hatinya. Low profil high profit. Dan yang seperti itu banyak sekali di lingkungan masyarakat Tionghoa. Saya punya banyak teman Tionghoa seperti itu.

Sehari-hari hanya pakai sandal. Bajunya pun lusuh dan dari kain yang biasa-biasa saja. Namanya tidak pernah disebut di mana-mana. Tapi uangnya luar biasa banyaknya. Saya malu kalau pakai baju bagus di depan mereka.

(Dahlan Iskan)

Continue Reading

Trending