Connect with us

CityReligi

Syekh Palestina : Kisah Abdullah bin Mas’ud, Orang Keenam yang Masuk Islam & Sahabat Sandal Rasul

Published

on

Berita Utama

Arab Saudi Longgarkan Aturan Berbikini

Published

on

Kondisi di Arab Saudi

Arab Saudi melonggarkan beberapa aturan soal bersikap, yang selama ini diayur amat ketat sesuai syariat Islam.

Seperti dilansir AFP, Selasa (19/10/2021), Arab Saudi membuka kawasan pesisir di King Abdullah Economic City. Kawasan ini berbatasan langsung dengan Laut Merah. Turis diizikan untuk datang berpasangan.

Bahkan, Turis boleh memakai pakain renang. Ada pula turis yang memakai bikini di kompleks hotel.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Baik di kompleks hotel atau jalanan, alunan musik boleh diperdengarkan selain di waktu azan, sebuah suasana langka hingga tahun 2017.

“Saya merasa bahwa saya tidak lagi harus bepergian (ke luar negeri) untuk bersenang-senang karena semuanya ada di sini,” kata Dima, seorang pengusaha muda Arab Saudi, sambil bergoyang mengikuti musik.

King Abdullah Economic City berlokasi 125 kilometer dari Jeddah. Pangeran Mohammed bin Salman menetapkan kawasan itu sebagai destinasi wisata sejak empat tahun lalu, demi mengatasi ketergantungan kawasannya dengan minyak.

Dulu, hanya pebisnis dan jemaah haji/umrah yang bisa datang ke Arab Saudi. Sejak tahun 2019, orang dengan visa turis juga boleh pelesir.

Sisi baiknya, orang-orang sudah boleh berlaku seperti turis di luar kawasan Mekkah dan Madinah – bahkan wanita sudah boleh menyetir mobil.

Namun sisi buruknya, pemerintahan MBS disebut masih menghalau keberadaan aktivis dan jurnalis yang berkoar soal hak asasi manusia.

Bilal Saudi, kepala acara di King Abdullah Economic City, mengatakan pantai di kawasan itu menargetkan kedatangan “wisatawan domestik dan mancanegara”.

Staf di pantai mengatakan mereka tidak tahu apakah turis berpasangan yang datang sudah menikah atau belum. Baru dua tahun yang lalu, turis mancanegara yang belum menikah diizinkan untuk berbagi kamar hotel.

Continue Reading

Berita Utama

Paparan Lengkap Soal Puasa Kafarat

Published

on

Puasa Kafarat

Agama Islam mengajarkan umatnya untuk mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika seorang Muslim melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah, maka akan ada kafarat yang dibebankan kepadanya.

Kafarat merupakan perbuatan-perbuatan yang dapat menghapus dan menutupi beberapa dosa. Adapun perbuatan-perbuatan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya menunaikan puasa kirafat.

Puasa kifarat dimaksudkan untuk memenuhi denda atau tebusan atas sesuatu yang telah dilanggar. Dengan demikian, tidak ada sisa dosa dari perbuatan tersebut yang dapat mengakibatkan seseorang dihukum di dunia ataupun di akhirat.

Baca Juga:

  1. NATO Pecat Setengah Diplomat Rusia
  2. Israel Akan Bangun 10 Ribu Unit Rumah di Yerusalem Timur
  3. Pemerintah India Berikan Santunan Rp9,5 Juta untuk Korban Meninggal Akibat Covid-19

Puasa kifarat sendiri termasuk puasa yang hukumnya wajib dikerjakan. Ada beberapa hal yang membuat seseorang harus puasa kifarat.

Lantas, apa saja yang dimaksud dengan kafarat? Syaikh Ahmad bin Ahmad Al Mahamili daam Al Luhab fil Fiqhis Syafi’i mengatakan bahwa kafarat ada empat yaitu kafarat zhihar, kafarat hubungan badan di bulan Ramadhan, kafarat pembunuhan, dan kafarat yamin.

Tapi, dalam kitab ulama lain seperti kitab Al-Majmu‘ Syarhul Muhadzab, empat kafarat tersebut ditambah dengan kafarat pelanggaran haji. Masing-masing pelanggaran memiliki aturannya sendiri terkait jumlah hari puasa kafarat yang disangsikan. Bentuk kafarat bukan hanya puasa saja, tapi ada wujud lain seperti memerdekakan budak atau memberi makan orang miskin. Dan, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan pilihan kafarat yang memungkinkan untuk dilaksanakan pelanggarnya sesuai kemampuan.

  1. Kafarat zhihar

Kafarat ini merupakan penebusan akibat seorang suami menyamakan punggung istrinya dengan punggung ibunya. Misalnya suami mengatakan,”Bagiku, engkau seperti punggung Ibuku.” Kalimat seperti ini dalam Al Quran surah Al Mujadilah ayat 2 termasuk perkataan mungkar dan dusta karena menyerupakan istri sebagai ibunya si suami.

Pada zaman jahiliyah, zhihar adalah salah satu cara menceraikan istri dan ini adalah perbuatan haram. Jika melakukannya, seorang suami dapat bertaubat dengan kafarat memerdekan seorang budak perempuan muslim, atau berpuasa dua bulan berturut-turut tanpa adanya persetubuhan dengan istri. Namun jika tidak mampu, maka memberi makan 60 orang miskin.

  1. Kafarat bersebutuh di bulan Ramadhan

Bersetubuh di siang hari saat puasa bulan Ramadan adalah haram. Kafarat untuk pelanggaran ini adalah memerdekakan hamba sahaya perempuan beriman, atau puasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan 60 orang miskin sebanyak satu mud.

  1. Kafarat pembunuhan

Pembunuhan dalam hal ini adalah yang tidak disengaja. Apabila pembunuhan dilakukan sengaja maka hukumannya adalah qisas atau diyat tunai yang ditanggung si pembunuh. Pada kasus pembunuhan tanpa sengaja maka kafaratnya adalah membayar diyat, ditambah memerdekakan seorang budak perempuan mukmin atau puasa dua bulan berturut-turut.

  1. Kafarat yamin

Ini adalah kafarat yang diperuntukkan karena melanggar sumpah atau melakukan sumpah palsu. Kafaratnya berupa memberi makan 10 orang miskin, memberi mereka pakaian, memerdekakan budak, atau puasa tiga hari. Jenis kafarat tersebut pilihan yang bisa dilakukan sesuai kemampuan.

  1. Kafarat haji

Kafarat haji yang berkaitan dengan munculnya kafarat berpuasa yaitu jika jamaah membunuh hewan buruan. Kafaratnya adalah bersedekah pada fakir miskin senilai hewan yang diburu atau berpuasa. Sementara itu, apabila jamaah tidak ihram dari iqat dan tidak kembali ke salah satu miqat, maka kafaratnya menyembelih seekor kambing, atau berpuasa 10 hari dengan rincian 3 hari puasa di masa haji dan 7 hari di luar masa haji.

Continue Reading

Berita Utama

Akhirnya! Arab Saudi Beri Lampu Hijau Umrah bagi Jamaah Indonesia

Published

on

Foto: Jamaah Haji Indonesia

Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi mengumumkan Kerajaan Arab Saudi membuka jalur umrah bagi Indonesia karena penanganan Covid-19 di Indonesia semakin baik.

Sebelumnya, Arab Saudi menutup penyelenggaraan ibadah umrah pada Februaru 2020 karena pandemic Covid-19. Kemudian pada awal November 2020 Saudi membuka kembali ibadah umrah dengan protocol kesehatan dan persyaratan khusus.

Namun, kerajaan Arab Saudi menutup kembali akses masuk ke wilayahnya bagi 20 negara, termasuk Indonesia pada Februari 2021. Sejak saat itu belum ada jamaah Indonesia diberangkatkan umrah.

Baca Juga :

  1. Iran Kirim Bantuan Kemanusiaan untuk Afganistan
  2. Dubes: Australia Siap Bantu Indonesia Pulih dari Covid-19
  3. PM Pakistan: Taliban Kelompok Terbaik Lawan ISIS

Akhirnya, pemerintah Arab Saudi memberikan lampu hijau untuk kedatangan jamaah Umrah Indonesia karena kasus Covid-19 di Indonesia menunjukkan penurunan. Pemerintah Arab Saudi melalui nota diplomatik dari Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta menyatakan bahwa pemerintah Arab Saudi membuka jalur ibadah umroh bagi jamaah Indonesia.

“Kedutaan telah menerima informasi dari pihak berkompeten di Kerajaan Arab Saudi perihal pengaturan dimulainya kembali pelaksanaan umrah bagi jamaah Indonesia,” kata Menlu pada konfrensi pers di Jakarta.

Dia juga mengatakan bahwa Arab Saudi akan mempertimbangkan penetapan masa karantina selama lima hari bagi para jamaah umrah yang tidak memenuhi standar kesehatan yang dipersyaratkan. Kedua Negara tersebut sedang bekerja sama berbagi informasi terkait latar belakang kesehatan para jamaah untuk mempermudah masuk ke Arab Saudi.

Syarat jamaah umrah datang ke Arab Saudi adalah sudah divaksin dan memiliki sertifikat vaksin. Bagi jamaah penerima vaksin Sinovac dan Sinopharm wajib melakukan booster atau vaksin ketiga. Ada empat jenis vaksin yang diterima pemerintah Arab Saudi yaitu AstraZeneca, Pfizer, Johnson&Johnson, dan Moderna.

Continue Reading

Trending