Connect with us

CityHeritage

Mustatil, Batu Yang Sempat Disembah dan Dipuja

Published

on

Mustatil, monumen kuno yang ditemukan di Kerajaan Arab Saudi

Sebuah monumen kuno ditemukan oleh arkeolog Arab Saudi di barat laut negaranya. Monumen yang diberi nama Mustatil ini diperkirakan berusia lebih dari 7000 tahun.

Mustatil sendiri adalah sebuah monumen yang memiliki struktur kompleks, hal ini dikarenakan panjang satu mustatil dengan mustatil lainnya berbeda. Dimulai dari panjang 20 meter hingga ada yang memiliki panjang 600 meter. Lokasinya pun tersebar di beberapa daerah. Mustatil ditemukan di wilayah Al Ula dan Khaybar.

“Kami mencatat lebih dari 1.000 struktur ini melingkupi area 200 ribu kilometer persegi. Ini luar biasa jika kita mempertimbangkan bahwa struktur Neolitik ini berusia 7.000 tahun.” ungkap Arkeologi Aerial di kerajaan Saudi Arabia via Twitter. (AAKSA)

Baca Juga:

  1. Makin Parah, Kasus Harian Covid-19 di India Tembus 400 Ribu
  2. Kondisi Pandemi Covid-19 di India Makin Mencekam, Ini Komentar Bos WHO
  3. Diperkirakan Meningkat 10 Kali Lipat, Kematian Akibat Covid-19 di India Meroket

Pertanyaannya adalah, apakah Mustatil ini adalah bekas sembahan atau dimanfaatkan untuk hal lain seperti tempat ternak dan kembala?

Para arkeolog berspekulasi Mustatil tidak mungkin dijadikan lahan ternak atau tempat mengembala, karena kecilnya pintu masuk yang hanya sebesar 30 sampai 50cm.

“Mustatil di barat laut Arab mewakili lanskap ritual monumental berskala besar pertama di dunia mana pun. Mendahului Stonehenge yang selama lebih dari 2.500 tahun,” kata asisten direktur proyek Arkeologi Udara di Kerajaan Arab Saudi (AAKSA), Melissa Kennedy.

Yang semakin membuat heran adalah posisi Mustatil itu sendiri, ia ditemukan di lereng gunung berapi. Penempatan Mustatil ini semakin mebuat yakin para arkeolog bahwa ia dipakai sebagai penanda teritorial untuk memuja dewa-dewa saat itu.

“Yang sangat menarik adalah beberapa mustatil sangat kelihatan, sementara yang lain hampir tersembunyi. Tampaknya hampir tidak ada konsistensi dalam penempatannya, yang sangat tidak biasa,” kata Hugh Thomas direktur proyek.

Advertisement

Berita Utama

Ragam Rumah Adat Papua & Keunikannya

Published

on

Rumah Adat Papua

Rumah adat merupakan rumah yang dibangun dengan cara tradisional yang memiliki fungsi soial dan ragam yang menjadi identitas sebuah daerah. Rumah adat merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan agar terus bisa diketahui generasi penerus bangsa.

Pe,bangunan rumah adat pun tidak mudah. Umumnya, pembangunan rumah ada melibatkan upacara atau ritual yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat.

Indonesia sendiri memiliki banyak sekali rumah adat. Bahkan, satu daerah bisa memiliki beberapa rumah ada dengan ciri khas masing-masing.

Contohnya dalah Papua. Daerah ini memiliki beberapa rumah ada yang bisa dibedakan dari segi arsitektur dan fungsinya. Berikut MyCity telah merangkumnya.

Rumah Honai

Rumah Honai


Rumah Honai umumnya dibangun di area pegunungan dan memiliki bentuk unik seperti jamur. Bentuk dasar lingkaran dibuat dengan dinding kayu susun dan bagian atapnya terbuat dari jerami. Uniknya, rumah adat ini sengaja dibuat pendek dan tidak memiliki jendela. Rumah ini pun sebenarnya hanya boleh dihuni para laki-laki.

Tinggi rumah Honai hanya sekitar 2,5 meter dan ukurannya sempit. Bukan tanpa alasan, modelnya dibuat seperti itu karena bertujuan untuk menahan hawa dingin di pegunungan. Di bagian tengah rumah pun biasanya ada tempat pembakaran api unggun sebagai penghangat ruangan.

Meski dari luar tampak mungil, sebenarnya rumah Honai punya dua lantai. Lantai pertama berfungsi sebagai tempat tidur sedangkan lantai atas digunakan untuk bersantai, makan, dan aktivitas keluarga.

Rumah Ebei

Rumah Ebei

Bila rumah Honai dihuni laki-laki, para perempuan akan tinggal di rumah Ebei. Biasanya, rumah adat ini juga digunakan untuk mendidik perempuan yang beranjak dewasa tentang hal-hal terkait pernikahan. Sebenarnya, anak laki-laki juga tinggal di rumah ini untuk sementara. Ketika ia sudah mulai beranjak dewasa, ia akan pindah ke rumah Honai.

Ciri khas rumah Ebei adalah atapnya yang berbentuk bulan dan dibuat dari alang-alang atau jerami. Sedangkan untuk bagian tiang-tiang rumah menggunakan bahan kayu atau papan dan dikombinasikan dengan rotan, akar, atau tali hutan.

Rumah Ebei pun mencerminkan kebudayaan dan nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat Suku Dani. Bentuknya yang bulat dan melingkar dianggap sebagai pemersatu kelompok. Rumah Ebei juga dijadikan dasar bagi Suku Dani untuk selalu satu tujuan, sehati, dan sepemikiran dalam pekerjaan sehari-hari. Selain itu, sebagai status harga diri karena martabat dan harga diri merupakan hal penting bagi Suku Dani.

Rumah Rumsram

Rumah Rumsram

Kemudian, ada rumah Rumsram yang menjadi rumah adat Suku Biak Numfor di pantai utara Papua. Rumah setinggi enam-delapan meter ini dibangun khusus untuk laki-laki dan difungsikan sebagai tempat mendidik anak laki-laki remaja belajar memahat, membuat perisai, perahu, dan belajar teknik peperangan.

Bangunan rumah Rumsram berbentuk persegi dan atapnya seperti perahu terbalik, mengingat latar belakang Suku Biak Numfor merupakan pelaut. Untuk bahan-bahan yang digunakan dalam membangun rumah antara lain kulit kayu untuk lantai, bambu air untuk dinding, dan daun sagu kering untuk atap.

Rumah Pohon

Rumah Pohon

Bila saat ini banyak rumah pohon dibangun untuk spot foto di objek wisata, Suku Korowai di Papua sejak lama memang benar-benar tinggal di rumah pohon. Bahkan, rumah mereka bisa dibangun di atas pohon setinggi 50 meter dari permukaan tanah.

Suku Korowai hidup di hutan hujan tropis dan mereka membangun rumahnya di atas pohon dengan alasan agar terhindar dari binatang buas dan roh jahat. Mereka percaya mitos soal laleo atau sosok iblis kejam yang sering berkeliaran malam hari. Menurut kepercayaan mereka, semakin tinggi rumah, maka semakin aman dari gangguan laleo.

Pondasi rumah berasal dari pohon-pohon besar dan kokoh. Biasanya bagian pucuk pohon akan ditebang dan dijadikan dasar rumah. Semua material rumah ini pun terbuat dari batang kayu, pohon sagu, kulit pohon, ilalalng, pelepah sagu, rotan, akar, ranting, dan dedaunan lebar.

Rumah Kariwari

Rumah Kariwari

Rumah adat Kariwari merupakan bangunan sakral bagi Suku Tobati-Enggros yang bermukim di sekitaran Teluk Yofeta dan Danau Sentani. Keunikan rumah adat ini adalah bentuknya limas segi delapan dan bangunannya terbuat dari bambu, kayu, dan daun sagu hutan.

Selain itu, rumah adat pun dihiasi dengan berbagai ornamen sarat budaya Papua seperti lukisan, ukiran, dan patung. Tak lupa ada kerangka hewan hasil buruan seperti taring babi hutan, kerangka kangguru, tempurung penyu atau kura-kura, atau burung cendrawasih.

Tak seperti rumah adat lain yang berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah Kariwari biasanya dijadikan ruangan untuk edukasi dan tempat ibadah. Di rumah ini, remaja laki-laki akan menempuh pendidikan untuk mengenal kehidupan orang dewasa di masa depan, seperti belajar mencari nafkah dan bertanggung jawab pada keluarga. Adapun keterampilan yang biasa diajarkan seperti berburu, memahat, bercocok tanam, membuat senjata, hingga teknik perang.

Continue Reading

CityHeritage

Kembalinya Tiga Artefak Indonesia ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Published

on

Tiga Obyek Diduga Cagar Budaya  (ODCB) Indonesia telah diserahterimakan dari pihak New York County District Attorney, Mr. Cyrus Vance, Jr. kepada pemerintah Indonesia. Penyerahan itu diwakili oleh Konsul Jenderal RI New York, Dr. Arifi Saiman pada Rabu (21/7/2021) di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).

Pengembalian tiga artefak ODCB Indonesia melalui serangkaian proses penyidikan dan penyelidikan oleh Antiquities Trafficking Unit, New York Country District Attorney’s Office bersama dengan Homeland Secutiry AS.

Hasil dari peyidikan dan penyelidikan ditemukan bahwa tiga artefak yakni Shiva, Parvati, dan Ganesha dicuri oleh warga negara asing Amerika Serikat keturunan India. Orang tersebut terlibat dalam jaringan perdagangan ilegal barang antik.

Sejak tahun 2011 sampai dengan 2020, Kantor District Attorney dan Homeland Security, terdapat lebih dari 2.500 artefak dari Indonesia, Sri Lanka, India, Pakistan, Afghanistan, Kamboja, Nepal, Myanmar, dan negara lainnya yang diperdagangkan secara ilegal oleh Kapoor. Estimasi nilai bendar-benda cagar budaya itu diperkirakan lebih dari US$143 juta.

Ungkapan terima kasih dan apresiasi disampaikan perwakilan Indoensia terhaadap jasa New York County District Attorney, Mr. Cyrus Vance, Jr dan Deputy Special Agent in Charge, Erik Rosenblatt, Homeland Security Investigations beserta jajarannya.

“Kami akan selalu mendukung upaya penyelidikan artefak-artefak lainnya yang diduga diselundupkan dari Indonesia sehingga pada akhirnya dapat dikembalikan kepada Pemerintah Indonesia,” ujar Konsul Jenderal Republik Indonesia (RI) New York.

Continue Reading

CityHeritage

Melihat Lebih Dekat Istana Maimun

Published

on

Istana Maimun.

Rasanya kurang lengkap jika kita ke Medan tapi tidak berkunjung ke Istana Maimun. Istana yang terkenal karena sejarah dan juga keindahannya ini sekarang dijadikan sebagai tempat wisata bahkan menjadi ikon utama di kota Medan. Istana Maimun dibangun oleh sultan Deli, Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah.

Pembangunan istana ini dimulai pada 26 Agustus 1888 dan selesai 18 Mei 1891 didesain langsung oleh arsitek Capt. Theodoore van Erp. Dia adalah seorang tentara Kerajaan Belanda.

Pembangunan istana ini atas perintah Sultan Deli kala itu, Sultan Ma’mun Al Rasyid.  Pembangunan ini menghabiskan dana setara satu juta gulden jika dikurskan dengan mata uang Belanda, konsep arsitekturnya unik, cantik, dan memiliki karakter unsur tradisiononal yang khas Indonesia dengan sentuhan Melayu, baik bentuk maupun ornamennya dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan, antara lain Melayu, Islam, Spanyol, china, India dan Italia.

Baca Juga :

  1. Pesona Keindahan Wisata Alam dan Edukasi Gosari (Wagos) Gresik
  2. 5 Hotel Paling Angker di Indonesia Versi MyCity!
  3. 5 Curug Paling Indah di Kota Bogor
Ruang Istana Maimun.

Bangunan ini juga didominasi dengan warna kuning keemasan yang identik dengan etnis Melayu denga luas 2.772 meter persegi dengan 30 ruangan yang tersebar di dua lantai. Keindahan Istana Maimun memang tidak terbantahkan. Meski berusia ratusan tahun, keindahan yang memancar dari setiap sudut ruangannya serasa tak lekang. Hingga kini Istana Maimun masih menjadi bukti atas kemegahan dari Kesultanan Deli pada masanya.  

Continue Reading

Trending