Connect with us

Berita Utama

Daftar 10 Bank Dengan Aset Terbesar Menurut OJK

Published

on

10 Bank Dengan Aset Terbesar

Belum lama ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, bahwa hingga Maret 2020, total aset perbankan mencapai Rp8.793,2 triliun dari total 110 bank di seluruh Indonesia.

Dari total tersebut, tercatat 10 bank dengan aset terbanyak dan menguasai 68,4% dari total aset seluruh perbankan di Tanah Air yang dicatat OJK. Diketahui, seluruh aset kesepuluh bank tersebut mencapai Rp6.017,59 triliun per kuartal I-2020.

Terlihat, emapat bank BUMN menempati posisi lima besar dari 10 bank teratas.

Baca Juga:

  1. Prancis Tegaskan Akan Terus Lawan Ekstremisme Islam
  2. Serukan Boikot Produk Prancis, Erdogan Ditantang Tutup Pabrik Renault
  3. Pernyataan Kontroversial Macron Soal Islam, Negara Arab Ramai-ramai Boikot Produk Prancis

Jika ditotalkan, jumlah aset keempat bank, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN, telah menguasai lebih dari separuh total aset 10 bank, yakni 58,6% sebesar Rp3.529.09 triliun.

Dilasir dari laman Trenasia, Kamis (24/12/20) Berikut daftar peringkat 10 bank dengan aset terbesar berdasarkan riset TrenAsia.com terhadap laporan keuangan bank per triwulan I-2020.

1. Bank BRI

Pada periode ini, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) alias BRI berhasil membukukan aset sebesar Rp1.287,09 triliun. Angka tersebut merupakan perolehan tertinggi dibandingkan dengan sembilan bank lain, yakni menguasai 21,3% dari total Rp6.017,59 triliun.

BRI masih menjadi juara bertahan dalam menempati posisi pertama bank dengan aset terbesar. Sebelumnya, bank yang fokus pada segmen usaha mikro, kecil, dan menegah (UMKM) ini juga menjadi bank teratas dengan total aset senilai Rp1.416.76 trilun per 2019.

Selain itu, majalah Forbes pada tahun lalu juga menempatkan BRI sebagai perusahaan publik terbesar di Indonesia. Melalui Global 2000 The World’s Largest Companies yang dirilis, emiten bersandi BBRI ini menempati peringkat ke-363 dari 2.000 perusahaan publik terbaik di dunia. Pencapaian tersebut didapatkan oleh bank ini sejak tahun 2015 atau lima tahun berturut-turut.

2. Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) berlogo pita kuning ini mencetak total aset sebesar Rp1.130,7 triliun pada triwulan I-2020 atau naik tipis 0,18% dari akhir 2019. Pembukuan aset tersebut mencakup konsolidasi bank konvensional dan syariah.

Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar mengaku, saat pandemi seperti sekarang, perseroan terus berupaya menjaga kualitas aset dan bisnis, salah satunya dengan menjaga kecukupan likuiditas.

“Untuk menghadapi efek pandemi terhadap bisnis, Bank Mandiri berusaha menjaga kecukupan likuiditas, termasuk menerbitkan obligasi rupiah sebesar Rp1 triliun dan emisi global bonds US$500 juta, serta meningkatkan pengumpulan dana murah,” ujarnya dalam keterangan resmi beberapa waktu yang lalu.

3. Bank BCA

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) bersandi BBCA ini masih mempertahankan posisi sebagai bank swasta peringkat tiga besar di antara bank lain di Indonesia.

Total aset yang dimiliki BCA per Maret 2020 tercatat Rp953,7 triliun, naik 5,7% dibandingkan akhir tahun lalu Rp899,03 triliun.

Pada tahun ini, bank milik konglomerat keluarga Hartono ini kembali masuk dalam Top 100 Most Valuable Global Brand menurut BrandZ. Pencapaian tersebut didasarkan oleh nilai merek BCA yang tumbuh 11% dari US$13,43 miliar pada tahun 2019, menjadi US$14,91 miliar atau setara Rp208 triliun pada 2020.

Kali ini, posisi BCA naik sembilan tingkat menjadi peringkat ke-90 dan masuk ke dalam Top 10 BrandZ Regional Bank, bersanding dengan sembilan bank lain dari China, Amerika Serikat, India, dan Kanada.

4. Bank BNI

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) atau BNI yang juga pelat merah ini mampu mencatatkan total aset Rp803,2 triliun pada triwulan I-2020, naik 2,8% dibandingkan dengan akhir tahun senilai Rp780,2 triliun.

Posisi BNI sebagai peringkat keempat kali ini juga masih bertahan atau sama dengan tahun 2019. Belum lama ini, perseroan ini juga meraih penghargaan sebagai bank internasional terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Direktur Tresuri dan Internasional BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, penghargaan itu diberikan oleh majalah investasi Alpha Southeast Asia karena dinilai berperan menjembatani perdagangan Indonesia dengan dunia.

“Kami mendukung perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menjadi pebisnis global,” kata dia.

Dalam penghargaan tahunan institusi keuangan terbaik ke-14 kawasan Asia Tenggara, majalah investasi yang bermarkas di Hong Kong itu menganugerahkan BNI dengan gelar Best Trade Finance dan Best International Banking Division.

5. Bank BTN

Kendati masih berada dalam kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) III, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) alias BTN mampu mencatatkan diri di peringkat kelima sebagai bank dengan aset jumbo. Bank dengan spesialis kredit kepemilikan rumah (KPR) ini memiliki total aset sebesar Rp308,1 triliun pada triwulan I-2020.

Pada tahun ini, BTN direncakan naik ke BUKU IV secara organik. Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury. Menurutnya, perseroan memiliki kemampuan tersebut seiring dengan perolehan laba yang membaik.

“Kami memiliki kemampuan untuk tembus ke BUKU IV. Aset kami tergolong besar. Jika laba stabil kurang lebih Rp3 triliun, maka dalam tiga atau empat tahun ke depan, kami sudah masuk ke sana,” ungkapnya di Jakarta pada Maret lalu.

6. Bank CIMB Niaga

PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) asal Malaysia ini menempati peringkat bertahan di urutan keenam dengan total aset Rp271,8 triliun.

Pada tahun ini, CIMB Niaga terpilih sebagai salah satu perusahaan publik di Indonesia yang masuk kategori utama dalam penilaian ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS).

ASEAN Capital Markets Forum (ACMF) mengumumkan, CIMB Niaga menjadi bank yang menduduki Top 3 Indonesia Public Listed Companies dengan perolehan nilai tertinggi di Indonesia. Diketahui, kategori ASEAN Asset Class adalah perusahaan dengan nilai ACGS minimum 97,5.

Direktur Compliance, Corporate Affairs and Legal CIMB Niaga Fransiska Oei mengatakan, penghargaan ini merupakan apresiasi atas konsistensi CIMB Niaga dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) sesuai standar ASEAN.

“Kami menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang menempatkan CIMB Niaga setara dengan perusahaan-perusahaan di ASEAN. Bagi kami, penerapan GCG bukan sekadar untuk memenuhi peraturan (compliance),” ungkapnya di Jakarta.

7. Bank OCBC NISP

PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) yang didirikan di Bandung pada 1941 ini berhasil membukukan total aset Rp191,5 triliun pada triwulan I-2020.

Pada periode ini, OCBC NISP berhasil menggeser Bank Panin dan naik satu peringkat menjadi urutan ketujuh. Sebelumnya, pada tahun 2019 OCBC NISP berada di peringkat delapan dengan total aset Rp180,8 triliun.

Peningkatan aset tersebut paling dominan didukung oleh penyaluran kredit sebesar Rp119,7 triliun dan penjualan surat berharga sebesar Rp24,2 triliun.

Adapun pemegang saham OCBC NISP per 31 Maret 2020, komposisi terbesar dimiliki oleh OCBC Overseas Investment Pte.Ltd sebesar 85,08%, sedangkan 14,92% sisanya dipegang oleh lain-lain.

8. Bank Panin

PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) atau Panin Bank yang dipimpin oleh Herwidayatmo ini mencetak total aset sebesar Rp185,1 triliun pada kuartal I-2020, menurun 2,6% dari total aset per 2019 sebesar Rp190,2 triliun.

Bank yang merupakan hasil merger dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia ini merosot satu peringkat menjadi urutan kedepalan kategori 10 aset bank terbesar di Indonesia, tersisih oleh OCBC NISP.

9. Bank BTPN

Setelah menjalni merger antara PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Bank BTPN mulai masuk dalam daftar 10 besar perbankan nasional.

Diketahui, dari data perseroan, peleburan tersebut menghasilakan total aset Rp189,92 triliun mencakup bank konvensional dan bank syariah per Desember 2018. Sementara itu, per akhir tahun 2019 total aset bank ini menurun menjadi Rp167,4 triliun dan kembali naik pada triwulan I-2020 menjadi Rp184,9 triliun.

10. Bank Danamon

Pada triwulan I-2020, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) berhasil mencetak total aset Rp178,3 triliun, naik 4,7% dibandingkan dengan akhir tahun lalu Rp169,9 triliun. Danamon juga mendapatkan peringkat di idAAA pada 2019.

Berita Utama

KADIN Bandara Shia Siap Jembatani Para Pelaku UMKM

Published

on

Kadin

Setelah resmi menahkodai Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bandara Soekarno Hatta International Airport (KADIN Bandara SHIA), Hj. Aam Maryamah menegaskan, pihaknya akan lebih menjembatani para pengusaha yang belum bisa masuk ke ranah Bandara.

“Satu contoh para UKM susah masuk ke Bandara, susahnya para UKM mengetahui alur yang benar dan apa yang harus di tempuh oleh mereka masuk ke ranah kawasan bandara. Itu kami akan hadir sebagai Kadin Bandara SHIA. Kami akan lebih berkordinasi, akan lebih mengkondusifkan diri bersama para UKM,” ujarnya dalam acara Tasyakuran dan Peresmian Kantor KADIN BANDARA SHIA di Aeropolis Tangerang, Banten, Rabu, (20/10/2021).

“Dan kami sudah menyusun setrategi di bidang masing – masing para anggota yang ikut bergabung di Kadin Shia hari ini adalah para pengusaha yang memang profesional dibidangnya dan saya yakin kedepan nya mereka sudah bisa langsung action,” tambahnya.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Pada saat yang sama, Dessy Natalia Kristanty selaku Wakil Ketua Bidang Promosi dan Media Massa Kadin Bandara Soekarno Hatta International Airport (SHIA) mengaku siap menjalankan program kerja yang sudah disiapkan agar Kadin Bandara SHIA menjadi Pelopor UMKM di Soekarno Hatta International Airport.

“untuk merangkul pelaku UMKM di wilayah hukum Bandara Soekarno Hatta international airport tidak hanya itu tetapi seluruh Pelaku UMKM di Wilayah Tangerang Banten,”jelasnya.

Dalam Acara Tasyakuran dan Peresmian Kantor Kadin Bandara SHIA tersebut, perempuan yang akrab disapa Dessy tersebut juga menyebutkan, Wakil Ketua Bidang IT harap bersiap untuk mendata seluruh Pelaku UMKM dan diberikan Platform Digital agar mempermudah para pelaku UMKM memperkenalkan Produk yang dimiliki nya kepada Masyarakat Luas.

“Semoga Kadin Bandara SHIA selalu dihati Pelaku Ekonomi agar tetap dapat eksis di masa pandemi ini,”katanya.

Continue Reading

Berita Utama

Tragedi Kelam Bintaro & Kisah Pilu Masinis Selamet

Published

on

Tragedi Bintaro

Kemarin, Selasa (19/10/2021), merupakan peringatan 34 tragedi Bintaro, yang merupakan tragedi kecelakaan kereta api terkelam dalam sejarah Indonesia.

Pada 19 Oktober 1987, terjadi kecelakaan antara Kereta Api (KA) 225 Merak dengan Kereta Api (KA) 220 Rangkas di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan.

KA Rangkas dan KA Merak bertabrakan dengan posisi saling menghadap satu sama lain atau adu banteng. Kedua kereta sama-sama ringsek karena benturan keras.

Kereta api Patas Merak KA 220 jurusan Tanah Abang – Merak berangkat dari Stasiun Kebayoran. Sedang kereta api Lokal Rangkas KA 225 jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota berangkat dari Stasiun Sudimara.

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Tercatat ada 139 korban meninggal dunia dengan 113 teridentifikasi, dan 26 tidak teridentifikasi. Sedangkan korban yang mengalami luka-luka sebanyak 254 orang.

Terdapat 2 versi kronologi terjadinya tragedy Bintaro I ini yakni kronologi yang diketahui dari masinis kereta api dan versi PJKA.

Menurut versi PJKA dijelaskan jika saat itu KA 225 dijadwalkan tiba di Stasiun Sudimara pukul 06.40 utuk bersilang dengan KA 220 pukul 06.49.

Di Stasiun Sudimara memiliki 3 jalur kereta api yang saat itu penuh semua termasuk KA 225.

Karena Stasiun Sudimara tidak dapat menerima persilangan kereta api, maka KA 225 harus melanjtukan perjalanan ke Stasiun selanjutnya yakni Stasiun Kebayoran.

Namun ada beberapa peraturan dari dinas untuk Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) Sudimara yang harus dilakukan. Yakni meminta izin kepada PPKA Kebayoran dan mengirim surat Pemindahan Tempat Persilangan (PTP) yang diserahkan ke masinis dan kondektur KA 225.

Tragedi Bintaro

Dari peraturan yang seharusnya wajib dilakukan sesuai prosedur, namun surat PTP itu diserahkan tanpa sepengetahuan PPKA Kebayoran.

Karena sudah terlanjur diserahkan ke yang bersangkutan, PPKA Sudimara bergegas menelepon PPKA Kebayoran untuk pindah tempat persilangan.

Saat itu PPKA Kebayoran beganti tugas dari shift malam ke ke shift pagi. PPKA sebelumnya memberi tahu ke PPKA shift pagi bahwa KA 251, 225, dan 1035 belum tiba.

Sedangkan KA 251 sedang melaju ke arah Kebayoran untuk bersilang dengan KA 220. Begitu KA 251 tiba, PPKA meminta izin memberangkatkan KA 220 ke Sudimara.

Saat itu, PPKA Sudimara mengatakan jika ada kereta api yang berangkat dari Sudimara ke Kebayoran. Begitu komunikasi ditutup, PPKA Kebayoran justru memberangkatkan KA 220 dengan asumsi jika persilangan tetap dilakukan di Sudimara.

PPKA Kebayoran menelepon PPKA Sudimara telah memberangkatkan KA 220. PPKA Sudimara kebingungan karena PTP sudah diberikan ke masinis KA 225.

Karena miss komunikasi ini, PPKA Sudimara mengakali dengan melangsir KA 225 dari jalur 3 ke jalur 1 Stasiun Sudimara.

PPKA Sudimara menyuruh petugas untuk melangsir, dengan sigap petugas itu mengambil bendera merah dan slompret. Namun masinis tidak dapat melihat semboyan dari petugas itu karena terhalang penumpang dan tiba-tiba kereta bergerak tanpa perintah slompret.

Karena telah berangkat, petugas melaporkan ke PPKA Sudimara, dan dengan sigap PPKA Sudimara ke Kebayoran tapi tidak bisa menghentikan kereta KA 220.

Saat itu kecelakaan pun tak dapat dihindari, masinis KA 225 melihat KA 220 yang berada satu jalur kereta api. Meski sudah menarik tuas rem, tabrakan pun terjadi.

Sementara itu, menurut masinis KA 225, Slamet Suradio yang masih selamat memberikan kesaksiannya.

Kisah pilu kepala masinis Slamet

Slamet

Nasi memang telah menjadi bubur, selain para korban, perjalanan hidup Slamet menjadi begitu pilu. Kecelakaan terkelam dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia itu telah memporak-porandakan hidupnya.

Slamet mendapatkan hukuman 5 tahun penjara di Lapas Cipinang buntut Tragedi Bintaro. Dia diputuskan bersalah karena dianggap lalai sebagai masinis sehingga menjatuhkan banyak korban jiwa.

Dalam tragedi ini, Slamet dituduh memberangkatkan kereta api tanpa instruksi sehingga berakhir kecelakaan. Namun, hal itu dibantah olehnya.

“Jadi kalau ada orang mengatakan berangkat sendiri itu bohong, apa untungnya saya memberangkatkan kereta sendiri,” ujar Slamet yang dikutip dari Suara, Rabu (20/10/2021).

Saat terjadi tabrakan, Slamet tergencet oleh badan lokomotif. Dalam keadaan bersimbah darah, dia diantar seorang wanita dengan mobilnya ke rumah sakit, saat itu PTP masih berada dalam genggamannya.

Dalam keadaan PTP yang masih memiliki bekas bercak darah, Slamet berhasil membuktikan kepada hakim di pengadilan bahwa dirinya tergencet dan tidak melompat, dan menuding bahwa orang yang menuliskan berita tersebut adalah ‘orang fitnah’.

“Jadi hakim percayanya saya tidak loncat itu karena ada bercak darah. Makanya (isu) di internet itu yang buat siapa? Saya bingung itu, sedangkan hakim sendiri mengatakan (saya) enggak loncat. Ada katanya saya loncat, itu bohong sekali, itu orang fitnah, jelas fitnah,” papar Slamet.

Slamet keluar dari penjara pada tahun 1993. Setahun berselang dia dipecat dari jabatannya sebagai masinis, bahkan Nomor Induk Pegawai Perkeretaapiannya juga dicabut pada 1996 oleh Departemen Perhubungan Indonesia.

Tak sampai disitu, Slamet juga dipaksa untuk menandatangani surat pengakuan bahwa dia tetap menjalankan kereta tanpa intruksi dari PPKA. Saat menolak, dia mendapat ancaman dari pihak kepolisian.

Pemecatan itu membuat dirinya tidak mendapat uang pensiun. Alhasil, dia harus menyambung hidup dengan pulang kampung dan berjualan rokok di kampung halamannya, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Kisah pilunya terus berlanjut. Sang istri, Kasni memutuskan meninggalkan dirinya saat proses persidangan berlanjut, lalu menikah dengan masinis lain.

Continue Reading

Berita Utama

Asal-usul Pengemis, Tradisi Sedekah Pakubuwono X di Hari Kamis

Published

on

asal usul pengemis

Pengemis atau ngemis adalah beberapa orang yang bekerja mencari nafkah dengan cara meminta dengan muka memelas.

Mereka biasanya berkeliaran di tempat keramaian, memakai pakaian compang–camping dan sebagian tampak cacat (entah itu kaki pincang atau ada bekas luka disebagian tubuh). Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, mereka rela membawa anak – anak mereka untuk mengemis.

Akan tetapi, apakah Cityzen tahu asal-usul dari kata pengemis atau ngemis?

Baca Juga:

  1. Pulang dari Rumah Sakit, Tukul Jalani Fisioterapi
  2. Ikuti Tren, Kepolisian Mumbai Bikin Iklan Layanan Masyarakat Pakai Boneka Squid Game
  3. Rachel Vennya Bakal Dijadikan Duta Covid-19, Satgas: Itu Tak Benar!

Sejarah dari dua kata tersebut berawal dari seorang raja yang sedang melihat–lihat keadaan rakyatnya. Raja Paku Buwono berjalan keluar Istana menuju Masjid Agung pada hari Kamis bersama pengawal dan ajudannya. Saat berjalan, banyak masyarakat yang sudah berjejer rapi di samping kanan dan kiri Raja sambil menengadahkan tangannya berharap diberikan sedekah dari sang raja.

Pada saat itu, Raja Paku Buwono tidak menyia–nyiakan kesempatan yang ada. Ia memberikan sedekah untuk masyarakat yang ada di sana. Kebiasaan ini terus–menerus dilakukan hingga akhirnya masyarakat menyebutnya Ngemis atau meminta berkah dan rezeki pada hari Kamis (dari bahasa jawa Kamis = Kemis). Sedangkan pengemis berarti orang yang meminta setiap hari Kemis saat itu.

Namun kata pengemis rupanya telah masuk salah satu kosa kata bahasa Indonesia yang tentunya kata dasarnya bukan emis tapi Kemis (Kamis), ternyata sebutan peminta-minta kalah populer dengan istilah pengemis.

Padahal, kata pengemis kalau diurai dan diambil dari kata dasarnya yakni kemis atau emis mungkin tidak dikenal dalam kosa kata bahasa indonesia kecuali kalau ada tambahan awalan pe sehingga muncul istilah “Pengemis”.

Lain halnya dengan kata peminta-minta kata dasarnya adalah minta yang artinya jelas bahkan bisa berdiri sendiri tanpa ada awalan pe.

Praktik bersedekah sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu, yakni pada masa Hindu dan Buddha di Nusantara yaitu pada abad ke-5 Masehi. Praktik derma yang sudah menjadi budaya Hindu dan Buddha ini disebut dengan dana yaitu pemberian atau ritual memberi sesuatu pada orang-orang suci.

“Pada masa Majapahit, pemberian dari raja untuk alasan-alasan politis maupun agama merupakan suatu kebiasaan yang ditemukan pada periode pra-Islam, sedekah ini diberikan kepada pendeta dan masyarakat,” jelas Resianita Carlina dalam artikel berjudul Pengemis dalam Tradisi Paku Buwono X Tahun 1893-1939.

Tindakan bederma dihargai sebagai perbuatan yang mulia dalam agama Hindu dan Buddha, dan dianjurkan untuk dilakukan tanpa mengharapkan balas budi dari pihak yang menerimanya.

Asal usul pengemis

Sejumlah pujangga Abad Pertengahan mengemukakan bahwa tindakan berderma sebaiknya dilakukan dengan srada (rasa percaya), yang diartikan dengan berniat baik, riang gembira, menyambut si penerima derma, dan bederma tanpa anasuya (mencari-cari kesalahan si penerima).

“Para cerdik pandai Hindu ini menyiratkan bahwa kedermawanan akan sangat efektif bilamana dilakukan dengan senang hati, suatu “keramahtamahan tanpa ragu-ragu”, di mana berderma menafikan kelemahan-kelemahan jangka pendek serta keadaan si penerima dan menggunakan cara pandang jangka panjang,” ucapnya.

Sejarah budaya filantropi atau bersedekah ini masih terus berjalan sampai masuknya Islam di Indonesia yang dibawa oleh para pedagang muslim pada abad ke-7 Masehi. Dalam agama Islam kita mengenal adanya rukun Islam.

Zakat termasuk salah satu dari lima rukun Islam, sumbangan ini bisa diberikan pada siapa saja yang dirasa membutuhkan, termasuk juga memberikan zakat dan sedekah pada non-muslim sebagai strategi dakwah Islam.

Pasca terbelahnya kerajaan Mataram Islam dengan ditandainya Perjanjian Giyanti tahun 1755. Tradisi Bersedekah tetap berlanjut ke dua kerajaan Besar di Ngayogkarta dan Surakarta.

Tradisi untuk bersedekah dan memberi makan orang-orang miskin ini berlanjut di Keraton Surakarta yang ketika itu dipimpin oleh Pakubuwono (PB) X (1893-1939 Masehi).

Selama menduduki jabatan sebagai raja, PB X memiliki kebiasaan yang patut untuk ditiru sebagai seorang pemimpin. Kebiasan PB X adalah memberikan sedekah kepada kaum fakir miskin pada hari kamis.

Dari situlah muncul sebutan bagi orang-orang yang menerima pemberian dari PB X dengan nama wong kemisan, secara perlahan sebutan itu menjadi wong ngemis. Sebutan itu kemudian dipersingkat dan diakui dalam bahasa Indonesia menjadi kata pengemis.

Dahulu kata pengemis tidak dikenal sebagai konotasi kata peminta-minta. Kata pengemis baru muncul setelah pertama kali muncul dalam Koran Bromartani pada tahun 1895.

Istilah ini bermula ketika laporan Raden Samingoen Nitiprodjo seorang wartawan Bromartani meliput kegiatan PB X yang suka memunculkan diri pada Kamis sore untuk bersiap mengaji pada Jumat Malam, dirinya berangkat dari Keraton-nya jalan kaki menuju ke Masjid Gede Solo.

Asal Usul pengemis

“Selama perjalanan ini dia dirubungi banyak orang yang menyembah, dalam perjalanan seringkali pengiringnya yaitu: abdi dalem para Bupati Keraton, Tumenggung Keraton dan Lurah Keraton membagikan kepingan,” catat Raden Samingoen.

Dalam pembagian inilah disebut sedekah Sinuwun. Dalam perjalanan istilah ini disebut Raden Samingoen sebagai kemisan dari sinilah kemudian muncul istilah ngemisan atau pengemis untuk mencari berkah.

Sementara itu berdasarkan Serat Sri Karongron Jilid III disebutkan bahwa pada hari kamis siang sang raja keluar mengelilingi keraton untuk melihat keadaan rakyatnya. Ketika mendengar suara dari kereta yang dinaiki raja, rakyat bergegas keluar rumah dan segera berbaris disepanjang jalan menanti raja menyebar uang sebagai sedekah dari sang raja.

“Para kawula atau orang-orang diperkampungan yang rumahnya dipinggir jalan besar. Setiap sudah mendengar suara kereta, dikira pasti sang raja. Segeralah mereka keluar dan berjongkok dipinggir jalan membawa obor yang diacungkan menanti uang disebar,” tulis dalam catatan itu.

Continue Reading

Trending