Connect with us

Berita Utama

Daftar 10 Bank Dengan Aset Terbesar Menurut OJK

Published

on

10 Bank Dengan Aset Terbesar

Belum lama ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, bahwa hingga Maret 2020, total aset perbankan mencapai Rp8.793,2 triliun dari total 110 bank di seluruh Indonesia.

Dari total tersebut, tercatat 10 bank dengan aset terbanyak dan menguasai 68,4% dari total aset seluruh perbankan di Tanah Air yang dicatat OJK. Diketahui, seluruh aset kesepuluh bank tersebut mencapai Rp6.017,59 triliun per kuartal I-2020.

Terlihat, emapat bank BUMN menempati posisi lima besar dari 10 bank teratas.

Baca Juga:

  1. Prancis Tegaskan Akan Terus Lawan Ekstremisme Islam
  2. Serukan Boikot Produk Prancis, Erdogan Ditantang Tutup Pabrik Renault
  3. Pernyataan Kontroversial Macron Soal Islam, Negara Arab Ramai-ramai Boikot Produk Prancis

Jika ditotalkan, jumlah aset keempat bank, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BNI, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BTN, telah menguasai lebih dari separuh total aset 10 bank, yakni 58,6% sebesar Rp3.529.09 triliun.

Dilasir dari laman Trenasia, Kamis (24/12/20) Berikut daftar peringkat 10 bank dengan aset terbesar berdasarkan riset TrenAsia.com terhadap laporan keuangan bank per triwulan I-2020.

1. Bank BRI

Pada periode ini, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) alias BRI berhasil membukukan aset sebesar Rp1.287,09 triliun. Angka tersebut merupakan perolehan tertinggi dibandingkan dengan sembilan bank lain, yakni menguasai 21,3% dari total Rp6.017,59 triliun.

BRI masih menjadi juara bertahan dalam menempati posisi pertama bank dengan aset terbesar. Sebelumnya, bank yang fokus pada segmen usaha mikro, kecil, dan menegah (UMKM) ini juga menjadi bank teratas dengan total aset senilai Rp1.416.76 trilun per 2019.

Selain itu, majalah Forbes pada tahun lalu juga menempatkan BRI sebagai perusahaan publik terbesar di Indonesia. Melalui Global 2000 The World’s Largest Companies yang dirilis, emiten bersandi BBRI ini menempati peringkat ke-363 dari 2.000 perusahaan publik terbaik di dunia. Pencapaian tersebut didapatkan oleh bank ini sejak tahun 2015 atau lima tahun berturut-turut.

2. Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) berlogo pita kuning ini mencetak total aset sebesar Rp1.130,7 triliun pada triwulan I-2020 atau naik tipis 0,18% dari akhir 2019. Pembukuan aset tersebut mencakup konsolidasi bank konvensional dan syariah.

Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar mengaku, saat pandemi seperti sekarang, perseroan terus berupaya menjaga kualitas aset dan bisnis, salah satunya dengan menjaga kecukupan likuiditas.

“Untuk menghadapi efek pandemi terhadap bisnis, Bank Mandiri berusaha menjaga kecukupan likuiditas, termasuk menerbitkan obligasi rupiah sebesar Rp1 triliun dan emisi global bonds US$500 juta, serta meningkatkan pengumpulan dana murah,” ujarnya dalam keterangan resmi beberapa waktu yang lalu.

3. Bank BCA

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) bersandi BBCA ini masih mempertahankan posisi sebagai bank swasta peringkat tiga besar di antara bank lain di Indonesia.

Total aset yang dimiliki BCA per Maret 2020 tercatat Rp953,7 triliun, naik 5,7% dibandingkan akhir tahun lalu Rp899,03 triliun.

Pada tahun ini, bank milik konglomerat keluarga Hartono ini kembali masuk dalam Top 100 Most Valuable Global Brand menurut BrandZ. Pencapaian tersebut didasarkan oleh nilai merek BCA yang tumbuh 11% dari US$13,43 miliar pada tahun 2019, menjadi US$14,91 miliar atau setara Rp208 triliun pada 2020.

Kali ini, posisi BCA naik sembilan tingkat menjadi peringkat ke-90 dan masuk ke dalam Top 10 BrandZ Regional Bank, bersanding dengan sembilan bank lain dari China, Amerika Serikat, India, dan Kanada.

4. Bank BNI

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) atau BNI yang juga pelat merah ini mampu mencatatkan total aset Rp803,2 triliun pada triwulan I-2020, naik 2,8% dibandingkan dengan akhir tahun senilai Rp780,2 triliun.

Posisi BNI sebagai peringkat keempat kali ini juga masih bertahan atau sama dengan tahun 2019. Belum lama ini, perseroan ini juga meraih penghargaan sebagai bank internasional terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Direktur Tresuri dan Internasional BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, penghargaan itu diberikan oleh majalah investasi Alpha Southeast Asia karena dinilai berperan menjembatani perdagangan Indonesia dengan dunia.

“Kami mendukung perusahaan-perusahaan Indonesia untuk menjadi pebisnis global,” kata dia.

Dalam penghargaan tahunan institusi keuangan terbaik ke-14 kawasan Asia Tenggara, majalah investasi yang bermarkas di Hong Kong itu menganugerahkan BNI dengan gelar Best Trade Finance dan Best International Banking Division.

5. Bank BTN

Kendati masih berada dalam kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) III, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) alias BTN mampu mencatatkan diri di peringkat kelima sebagai bank dengan aset jumbo. Bank dengan spesialis kredit kepemilikan rumah (KPR) ini memiliki total aset sebesar Rp308,1 triliun pada triwulan I-2020.

Pada tahun ini, BTN direncakan naik ke BUKU IV secara organik. Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury. Menurutnya, perseroan memiliki kemampuan tersebut seiring dengan perolehan laba yang membaik.

“Kami memiliki kemampuan untuk tembus ke BUKU IV. Aset kami tergolong besar. Jika laba stabil kurang lebih Rp3 triliun, maka dalam tiga atau empat tahun ke depan, kami sudah masuk ke sana,” ungkapnya di Jakarta pada Maret lalu.

6. Bank CIMB Niaga

PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) asal Malaysia ini menempati peringkat bertahan di urutan keenam dengan total aset Rp271,8 triliun.

Pada tahun ini, CIMB Niaga terpilih sebagai salah satu perusahaan publik di Indonesia yang masuk kategori utama dalam penilaian ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS).

ASEAN Capital Markets Forum (ACMF) mengumumkan, CIMB Niaga menjadi bank yang menduduki Top 3 Indonesia Public Listed Companies dengan perolehan nilai tertinggi di Indonesia. Diketahui, kategori ASEAN Asset Class adalah perusahaan dengan nilai ACGS minimum 97,5.

Direktur Compliance, Corporate Affairs and Legal CIMB Niaga Fransiska Oei mengatakan, penghargaan ini merupakan apresiasi atas konsistensi CIMB Niaga dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG) sesuai standar ASEAN.

“Kami menyampaikan apresiasi atas penghargaan yang menempatkan CIMB Niaga setara dengan perusahaan-perusahaan di ASEAN. Bagi kami, penerapan GCG bukan sekadar untuk memenuhi peraturan (compliance),” ungkapnya di Jakarta.

7. Bank OCBC NISP

PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) yang didirikan di Bandung pada 1941 ini berhasil membukukan total aset Rp191,5 triliun pada triwulan I-2020.

Pada periode ini, OCBC NISP berhasil menggeser Bank Panin dan naik satu peringkat menjadi urutan ketujuh. Sebelumnya, pada tahun 2019 OCBC NISP berada di peringkat delapan dengan total aset Rp180,8 triliun.

Peningkatan aset tersebut paling dominan didukung oleh penyaluran kredit sebesar Rp119,7 triliun dan penjualan surat berharga sebesar Rp24,2 triliun.

Adapun pemegang saham OCBC NISP per 31 Maret 2020, komposisi terbesar dimiliki oleh OCBC Overseas Investment Pte.Ltd sebesar 85,08%, sedangkan 14,92% sisanya dipegang oleh lain-lain.

8. Bank Panin

PT Bank Pan Indonesia Tbk. (PNBN) atau Panin Bank yang dipimpin oleh Herwidayatmo ini mencetak total aset sebesar Rp185,1 triliun pada kuartal I-2020, menurun 2,6% dari total aset per 2019 sebesar Rp190,2 triliun.

Bank yang merupakan hasil merger dari Bank Kemakmuran, Bank Industri Jaya, dan Bank Industri Dagang Indonesia ini merosot satu peringkat menjadi urutan kedepalan kategori 10 aset bank terbesar di Indonesia, tersisih oleh OCBC NISP.

9. Bank BTPN

Setelah menjalni merger antara PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk, Bank BTPN mulai masuk dalam daftar 10 besar perbankan nasional.

Diketahui, dari data perseroan, peleburan tersebut menghasilakan total aset Rp189,92 triliun mencakup bank konvensional dan bank syariah per Desember 2018. Sementara itu, per akhir tahun 2019 total aset bank ini menurun menjadi Rp167,4 triliun dan kembali naik pada triwulan I-2020 menjadi Rp184,9 triliun.

10. Bank Danamon

Pada triwulan I-2020, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) berhasil mencetak total aset Rp178,3 triliun, naik 4,7% dibandingkan dengan akhir tahun lalu Rp169,9 triliun. Danamon juga mendapatkan peringkat di idAAA pada 2019.

Berita Utama

Jokowi: Indonesia Rawan Bencana, Ada Ribuan Gempa Bumi dalam Setahun

Published

on

Presiden Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut Indonesia sebagai negara yang rawan bencana. Kejadian bencana tersebut bahkan hampir setiap tahunnya meningkat secara frekuensi maupun intensitasnya.

Jokowi menyampaikan hal itu saat memberikan pengarahan dalam Rakorbangnas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara virtual, Kamis (29/7/2021).

“Frekuensi dan intensitasnya meningkat, bahkan melompat. Kita bahkan mengalami multibencana dalam waktu bersamaan,” ujarnya.

Baca Juga :

  1. Pengusaha Asal Aceh Beri Bantuan Sosial Senilai Rp2 Triliun
  2. Eko Yuli Irawan Raih Medali Perak Olimpiade Tokyo 2020
  3. Bersikap Diskriminatif di Olimpiade 2020, Stasiun Televisi Korea Selatan Keluarkan Permintaan Maaf Ketiga

Jokowi menyatakan selama periode 2008 sampai 2016, musibah gempa bumi mencapai 5.000 sampai 6.000 dalam setahun. Bahkan, angka itu terus meningkat.

“Pada 2017 meningkat menjadi 7.169 kali dan pada 2019 jumlahnya meningkat signifikan menjadi lebih dari 11.500 kali,” katanya.

Tak hanya itu, Jokowi mengatakan fenomena cuaca ekstrem dan siklon tropis juga terus meningkat secara frekuensi maupun intensitasnya. Pun demikian periode saat fenomena El Nino atau La Nia.

“Periode ulang terjadinya El Nino atau La Nina pada periode 1981 – 2020 cenderung semakin cepat dua sampai tiga tahunan dibandingkan periode 1950 – 1980 yang berkisar 5 sampai 7 tahunan,” tutur Jokowi.

Continue Reading

Berita Utama

Indonesia Punya Stok 4,5 Juta Vaksin Moderna & Belum Tahu Mau Diprioritaskan ke Mana

Published

on

Vaksin Moderna

Indonesia mendapatkan kiriman 4.500.160 dosis vaksin Moderna. Meski demikian, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI belum memutuskan golongan masyarakat non-tenaga kesehatan (nakes) yang menjadi penerima vaksin ini.

Juru Bicara Vaksinasi Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menyatakan vaksin Moderna akan dikirim ke Indonesia dalam dua kali kedatangan. Namun, vaksin ini akan diprioritaskan untuk para nakes yang menjadi garda terdepan dalam penanganan pandemi Covid-19.

Nadia menjelaskan bahwa alur pemberian vaksin Moderna akan didahulukan untuk nakes secara keseluruhan terlebih dahulu, baru kemudian opsi Moderna untuk golongan non-nakes apabila vaksin masih tersedia.

Baca Juga :

  1. Pengusaha Asal Aceh Beri Bantuan Sosial Senilai Rp2 Triliun
  2. Eko Yuli Irawan Raih Medali Perak Olimpiade Tokyo 2020
  3. Bersikap Diskriminatif di Olimpiade 2020, Stasiun Televisi Korea Selatan Keluarkan Permintaan Maaf Ketiga

Adapun jumlah nakes yang menjadi prioritas vaksin sebanyak 1.468.764 orang. Kemenkes juga mencatat masih ada 16.179 nakes yang belum menerima dosis kedua vaksin covid per data Kamis (29/7) pukul 09.00 WIB. Itu artinya masih ada sisa sekitar 3 juta dosis vaksin Moderna untuk sasaran non-nakes.

Adapun perihal rumor mengenai dugaan pemengaruh (influencer) yang mendapat jatah suntikan vaksinasi Covid-19 dosis tiga atau booster, Nadia mengaku pihaknya saat ini masih berkoordinasi dengan Pemprov DKI Jakarta. Pasalnya, dugaan peristiwa tersebut terjadi di Jakarta.

“Jadi tuntas nakes dulu, tapi kita juga siapkan untuk nakes yang masih tertunda dosis kedua, ataupun yang masih baru dosis satu, tapi dia positif covid-19. Soal dugaan influencer ini sedang ditanyakan ke DKI,” kata dia.

Continue Reading

Berita Utama

Cerita Mantan Menteri BUMN Soal Bantuan Dana Sosial Rp2 Triliun

Published

on

Dahlan Iskan

Kisah pengusaha asal Aceh yang viral menyumbang dana bantuan sosial untuk penanganan virus Covid-19 di Palembang, Sumatera Selatan, terdengar sampai telinga mantan Menteri BUMN, Dahlan Iska. Dia pun ingin mengetahui lebih dalam mengenai sosok Almarhum Akidi Tio tersebut.

Mantan Menteri BUMN 2011-2014 berkomentar yang dilakukan keluarga pengusaha itu benar-benar “BUKAN main” dalam artikelnya. Dahlan sengaja memakai huruf kapital karena ingin menggambarkan betapa kagumnya dengan apa yang dilakukan keluarga pengusaha itu. “Hanya itu yang bisa saya tulis.

Kok ada orang menyumbang uang Rp 2 triliun. Orangnya tidak pernah dikenal. Sudah lama pula meninggal dunia,” kata Menteri era SBY ini.

Dahlan menilai nama almarhum yang jarang disebut publik tersebut, apa yang dilakukan keluarga mendiang Tio adalah aksi yang luar biasa dan mencerminkan kerendahan hati.

Meski tidak mengenal langsung Almarhum Akidi Tio, dia mencari tahu siapa sebenarnya keluarga tersebut.

Baca Juga :

  1. Pengusaha Asal Aceh Beri Bantuan Sosial Senilai Rp2 Triliun
  2. Sepi Pembeli, Harga Kios Pasar Tanah Abang Diobral Murah
  3. Menghawatirkan! Komunitas Ini Paling Abai Dalam Prokes

Dalam tulisan lengkap Dahlan Iskan, disway.id situs pribadinya dengan judul “Bantuan 2 T”

BUKAN main. Hanya itu yang bisa saya tulis. Kok ada orang menyumbang uang Rp 2 triliun. Orangnya tidak pernah dikenal. Sudah lama pula meninggal dunia. Saya harus menghubungi Prof Dr dr Hardi Darmawan. Saya tidak punya nomor telepon beliau.

Tapi saya kenal dengan kakak beliau. Yang sejak sebelum pandemi tinggal di Singapura. Saya hubungi sang kakak. Saya pun mendapat nomor telepon Prof Hardi. Saya kirim WA ke beliau. Lalu Prof Hardi yang menelepon saya kemarin sore.

Awalnya beliau saya ajak bicara dalam bahasa Mandarin. Tapi Prof Hardi mengatakan tidak bisa berbahasa ibunya itu. Maka kami pun menggunakan bahasa Indonesia.

“Sumbangan itu betul ya, Prof? Kok fantastis sekali,” kata saya.

“Betul. Saya kenal baik keluarga itu,” jawab beliau.

Prof Hardi lantas bercerita. Tiga hari lalu beliau dihubungi putri pengusaha itu.

“Saya diminta ikut menyaksikan,” ujar Prof Hardi.

Prof Dr dr Hardi Darmawan adalah guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Juga aktivis di gereja Katolik Palembang. Termasuk menjadi pendiri lembaga pendidikan Katolik Caritas. Bahkan pernah mendapat penghargaan dari Sri Paus.

“Resminya bantuan itu nanti untuk kapolda, gubernur, atau Pemprov Sumsel?” tanya saya. “Ke Kapolda Sumsel Pak Eko Indra Heri,” ujar Prof Hardi

“Siapa yang menentukan bahwa bantuan itu untuk kapolda Sumsel? Apakah atas arahan Prof Hardi?” tanya saya lagi. “Bukan arahan saya. Itu langsung keinginan keluarga. Untuk diberikan ke kapolda,” jawab Prof Hardi.

“Bantuan itu nanti bentuknya uang kontan, cek, atau transfer? Atau berbentuk bantuan bahan makanan?”

“Bentuknya uang. Akan ditransfer besok,” jawab Prof Hardi kemarin sore.

Berarti hari ini.

“Apakah boleh ditransfer ke rekening Polda? Juga apakah boleh dikirim ke rekening pribadi kapolda?” tanya saya sambil mengingatkan aturan yang ada.

“Masih diatur. Mungkin disiapkan rekening khusus.”

Ya sudah. Saya tidak ingin bertanya lebih lanjut tentang itu. Ada orang yang ingin menyumbangkan uang besar kok ditanya prosedur. Yang penting diterima dulu.

Semoga yang menyumbang itu bisa menyaksikan dengan bahagia dari surga di atas sana. Akidi Tio, pengusaha yang menyumbang Rp 2 triliun itu, meninggal tahun 2009 lalu.

Saat itu Tio berusia 89 tahun. Berarti 101 tahun hari ini. Beliau meninggal akibat serangan jantung. Makamnya juga di Palembang. Istri Tio sudah meninggal lebih dulu: tahun 2005. Juga di Palembang.

Dalam usia 82 tahun. Mereka punya 7 orang anak. Hanya seorang, putri, yang masih tinggal di Palembang.

Yang lain tinggal di Jakarta. “Semua jadi pengusaha sukses,” ujar Prof Hardi. Tio adalah pasien Prof Hardi. Istri Tio pasien istri Prof Hardi, yang juga seorang dokter. “Saya dan istri akrab dengan keluarga Pak Tio,” ujar Prof Hardi.

Menurut Prof Hardi, keluarga Pak Tio sudah bersahabat dengan Kapolda Irjen Eko Indra Heri jauh ke masa belakang. Yakni ketika Eko masih perwira dan masih bertugas di Direskrim Polda Sumsel.

Ketika Eko pindah tugas menjadi kapolres di Langsa, hubungan itu tetap akrab. Tio adalah orang Aceh. Ia lahir di Langsa, Aceh Timur. Salah satu adiknya punya pabrik di Langsa.

Saya pun menghubungi Bupati Aceh Timur Rocky Hasbalah Thaib. Siapa tahu kenal dengan keluarga Tio. “Beliau sudah lama meninggalkan Langsa. Kami tidak kenal di sini.

Yang jelas di Langsa memang banyak penduduk Tionghoa sejak dulu,” katanya. Dilihat dari marganya (Tio), berarti Akidi dari suku Tiuchu. Di Palembang memang banyak juga suku Tiuchu. Laksamana Cheng Ho -dengan armadanya yang besar- cukup lama singgah di Palembang.

Nama Palembang dalam bahasa Mandarin disebut Ju Gang (巨港) -pelabuhan besar. Sebagian armada Cheng Ho pilih menetap di Palembang -tidak meneruskan pelayaran ke Jawa dan kembali ke Tiongkok. Prof Hardi sendiri lahir, besar, dan sekolah di Palembang.

Pun gelar dokternya dari Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang. Setelah itu dr Hardi memperdalam ilmu penyakit tropik di Amerika Serikat. Yakni di New Orleans. Prof Hardi ingat persis sosok Tio yang rendah hati.

“Setiap datang ke tempat praktik saya selalu hanya mengenakan baju dan celana putih,” ujarnya.

“Tapi mengapa semua teman saya yang Tionghoa di Palembang tidak mengenal Tio?” tanya saya. Itu, katanya, karena Tio sangat rendah hati. Juga tidak mau menonjol. “Beliau banyak sekali menyumbang. Tapi selalu hanya atas nama hamba Tuhan,” ujarnya.

Beliau, katanya, pernah punya pabrik kecap, pabrik mebel, kebun sawit, dan juga kontraktor bangunan. Saya pun menghubungi teman lama. Nihil. “Saya tidak kenal nama itu sama sekali,” jawab Alex Noerdin -dua kali menjadi Gubernur Sumsel yang sukses.

Lalu saya menghubungi seorang mantan menteri asal Palembang. Jawabnya sama. Saya juga menghubungi lima orang pengusaha Tionghoa di sana. Tidak ada yang mengenal nama itu.

Saya hubungi juga seorang Tionghoa bermarga Tio. “Saya tidak tahu siapa beliau. Tapi sebagai sesama marga Tio saya ikut bangga,” katanya.

Berarti pengusaha ini memang luar biasa rendah hatinya. Low profil high profit. Dan yang seperti itu banyak sekali di lingkungan masyarakat Tionghoa. Saya punya banyak teman Tionghoa seperti itu.

Sehari-hari hanya pakai sandal. Bajunya pun lusuh dan dari kain yang biasa-biasa saja. Namanya tidak pernah disebut di mana-mana. Tapi uangnya luar biasa banyaknya. Saya malu kalau pakai baju bagus di depan mereka.

(Dahlan Iskan)

Continue Reading

Trending